Meugang part 2

”Hari ini banyak yang makan daging,” kata Indra. Ya, hari ini masyarakat Aceh tengah melakukan tradisi meugang. ”Apa tuh meugang, Ndra?” tanyaku pada Indra yang pernah jadi orang gunung alias kombatan ini.

Bagi masyarakat Aceh, tradisi meugang dilakukan untuk menghormati hari besar Islam. Setiap tahunnya, meugang tidak hanya dilakukan sekali. Selain untuk menyambut bulan Ramadhan, meugang juga dilakukan untuk menyambut Idul Fitri dan Idul Adha. Untuk keduanya, biasanya diadakan dua hari menjelang hari H.

Saat meugang seperti sekarang, masyarakat biasanya memakan daging sapi atau kerbau sebagai santapan utama pendamping nasi. ”Daging sapi bisa dimasak apa saja. Gulai, rendang…,” ujar bang Putra yang asli Trumon, Aceh Selatan.

Daging yang hendak dimasak bisa disembelih beramai-ramai bersama warga gampong (kampung) ataupun dibeli di pasar. Tetapi untuk di Tapaktuan ini saya kurang tahu darimana warga mendapatkan daging. Sebab, ketika tadi pagi aku bersama Ida ke pasar, tidak ada satupun pedagang menggelar dagangannya di pasar Inpres ini. Bisa jadi daging didapatkan dari membeli di pasar pada dua hari lalu.

Padahal, kata Indra, gang sendiri berarti pasar. Lalu hubungannya dengan meugang apa? ”Ya, kalau saat meugang banyak orang pergi ke pasar. Lebih banyak dari hari-hari biasa,” kata seorang kawan. Makanya sampai ada istilah makmu gang nyan (Makmur, pasar itu). Di hari meugang, masyarakat akan berbondong-bondong membeli daging. ”Ow, tidak heranlah jika disebutkan di koran, harga daging terus merangkak naik,” gumanku sendiri. Namun, mengapa pasar satu-satunya di kota kabupaten ini malah sunyi senyap yah? Entahlah.

Berbagi

Bisa jadi benar ketika ada cerita, meugang adalah saat istimewa karena masyarakat bisa menikmati lauk yang berbeda dari hari-hari biasanya. Jika hari-hari biasa makan ikan, dua hari sebelum puasa, mereka bisa menikmati daging sapi, kerbau, atau kambing.

Aku ingat betul kata-kata Ida, kawanku yang berasal dari Meulaboh. Kata dia, ”Kami ni kalau tak makan ikan rasanya ada yang kurang.” Perkataannya diamini oleh Farida yang tinggal sekamar dengannya. Setiap hari katanya, mereka makan ikan. Persis yang kukatakan pada mereka, ”Serasa hampa jika makan tanpa ada tempe,” hehehehe….

Tidak hanya itu, meugang menjadi istimewa karena orang-orang kembali diingatkan untuk berbagi, terlebih berbagi rezeki bagi kaum papa. Di beberapa wilayah, kudengar malah seperti Idul Adha, menyembelih, lalu membagi-bagikan daging pada kaum miskin. Ada yang dibagi-bagikan usai dimasak, juga dengan makan bersama. Meski demikian, di kota kecil ini aku tidak menemukan cerita itu.

Pojok ruang di bawah jendela, 21 Agustus 2009 : 12.44

Sejuk dengan Peusejuk

Berderet dua orang dua orang kebelakang, kami diarak menuju lapangan. Dentuman musik menambah panas suasana yang memang terik. Pak Dar yang memakai baju paling rapi di antara rombongan, plus peci bertuliskan ‘Nanggroe Aceh Darussalam’, serta Didik berdiri pada urutan paling depan. Penampilan Didik yang coordinator tim pemuda itu sungguh berbeda dengan Pak Dar. Ia hanya mengenakan kaos oblong warna hitam kesukaannya, serta sandal jepit yang berwarna hitam pula. Klop, semua serba hitam melengkapi kulitnya yang juga legam.

Tak sampai sepuluh meter kami berjalan, gadis-gadis kecil yang cantik bersiap menari. Kala musik diputar, gemulai tangan-tangan mungilpun mengikuti iramanya. Gadis-gadis ini menarikan Raneup Lampuan. Kata Ida yang asli Meulaboh, tarian ini dilakukan untuk menyambut tamu kehormatan. ”Wah, senangnya!” ujarku senang.

Penarinya berjumlah tujuh orang. Enam orang berada di posisi kanan kiri. Mereka berenam membawa baki berisi berbagai macam bunga. Dalam benakku, sudah pasti bunga-bunga itu diambil di desa mereka sendiri. Berenam mereka berbaju kuning mengkilat, berserempang merah di dadanya, sekaligus sebagai tali rok yang mereka kenakan. Seorang lagi, seperti pemimpinnya, membawa baki berukuran lebih besar. Saat kudekati, baki itu berisi daun sirih yang dilipat menyesuaikan alur tengah daun, kapur serta pinang.

”Siapkan uang!” kata Ida yang membuatku panik. Panik karena aku memang tidak membawa uang sama sekali.

”Bagaimana ini?” malu juga aku. Lalu, mas Yoppie memberiku uang seribuan untuk jadi ’pegangan’.

Lebih dari sepuluh menit kami berdiri dan menikmati tarian Raneup Lampuan yang indah. Kelak setelah acara ini selesai, baru kutahu ternyata pelatihnya adalah kak Murni, ketua pemudi desa ini, Desa Kampung Paya, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan. Usai dilempar bunga, kami dipersilakan menuju tenda tamu.

Tak berselang lama, gadis kecil yang kala menari membawa baki berisi perlengkapan menginang mendatangi kami, juga perangkat desa yang duduk bersama kami.

Satu persatu ia datangi kami. Lalu, recehan uang kertas diselipkan dalam baki, di bawah daun sirih. Agak malu juga jika ingat aku tidak membawa uang sama sekali. Kata Adi, usai memberikan uang, kita sebaiknya mengambil sirih, kapur, dan buah pinang.

”Trus? Untuk?” tanyaku patah-patah.

”Ya dikunyah,” ujar Adi cepat.

Ketan Pulut

Usai sambutan-sambutan, tujuh orang yang dikomandoi pak Dar mewakili tim JRS untuk naik ke panggung. Kami duduk berjajar menghadap ke hadirin. Persis di pojok panggung bagian pinggir terdapat dua nampan. Satu nampan berisi ketan yang dihias dengan kelapa yang dicampur gula merah. Bagi masyarakat Aceh, ketan itu biasa disebut pulut. Nampan  satu lagi lebih tinggi bentuknya, serta balutan hiasan khas Aceh berwarna merah berisi seperangkat peusejuk. Nampan berhias itu berisi beras berwarna kuning, jagung yang sudah digoreng tanpa minyak. Ia mengingatkanku dengan ’makanan khas’ saat kita nonton film di bioskop, popcorn! Satu mangkuk air putih, yang kemudian kutahu berfungsi untuk cuci jari. Semangkuk lagi berisi air yang didalamnya telah diberi dedaunan yang diiris-iris tipis. Di dalam mangkuk ini pula terdapat sabut yang dibuat dari daun. Sayang, aku lupa menanyakan daun apa itu.

Pak Tengku Imam Chik adalah orang pertama yang didaulat untuk mempeusejuki kami, beserta beberapa perangkat desa. Usai komat-kamit melafalkan doa, ia mengambil jagung ’pop’ dan mencampurnya di piring berisi beras kuning. Sesaat kemudian, campuran keduanya ditaburkan ke kepala dan tubuh kami. Aku tersenyum senang. Ada sensasi tersendiri ketika butiran beras itu terhempas di tanganku.

Lalu, ia mengambil mangkuk yang berisi air dan dedaunan. Sabutnya dicelup-celupkan untuk memastikan air dalam sabut daun itu benar-benar ada. Air dan daun dalam sabut itu lantas diberikan ke telapak kami yang terbuka. Segar terasa. Prosesi ini di setiap desa terkadang berbeda caranya. Kadang, air serupa diberikan dengan cara diciprat-cipratkan seperti ditaburkan. Sengaja lebih tinggi di atas kepala.

Usai melakukan prosesi itu, Tengku Imum kemudian mencelup tangannya ke mangkuk berisi air. Kemudian ia mengambil ketan, dijimpitnya pula gula kelapa, lalu diberikan pada kami sejimpit-jimpit. Untuk menghormati, ketan tersebut harus dimakan kata seorang kawan. Dan, nyammmm, enak juga!

Biasanya pada acara peusejuk ini, prosesi seperti di atas biasanya dilakukan oleh para perangkat desa dan hukum.

Erat, rekat, dingin

Kita semua tentu tahu, jika sudah menjadi makanan alias dimasak, ketan yang bentuknya seperti beras itu terasa lengket. Jika aku pulang ke Solo, penjual sego liwet (nasi liwet) yang biasanya juga menjual ketan, selalu memberi taburan kelapa parut di atas ketan. Untuk apa, ya supaya tidak lengket di tangan.

Ketan atau pulut menjadi simbol eratnya hubungan, bersahabatan, kekerabatan, persaudaraan. Itu pula salah satu alasan prosesi peusejuk memakai ketan, dan diberikan pada orang yang terlibat dalam acara tersebut. Cipratan atau pemberian air pada telapak tangan menjadi simbol kesejukan.

Nah, lantas peusejuk sendiri apa. Menurut sejumlah orang, ya kawan, ya para pemangku adat, peusejuk sendiri berarti awal yang sejuk. “Ketika kita masuk atau memulai kegiatan apapun dengan peusejuk, harapannya akan sejuk hingga kegiatan tersebut selesai dikerjakan. Sama halnya ketika kita memulai bekerja dengan hati yang sejuk, senang, tidak ada dendam, tidak ada amarah, maka semua akan selesai dengan baik. Semoga bermanfaat untuk semuanya,” tutur Pak Sekretaris Desa Kampung Paya.

Hmmm, jadi ingat mas Windi pernah mereka-reka, peusejuk dimaknai dalam penggalan bahasa Inggris “Peace” atau damai. Bisa juga. Sesuatu yang dimulai damai sehingga damai abadi. Berharap, bumi Serambi Mekah ini tidak lagi ada perang. Perang dengan siapapun.

Lantai Dua, menjelang 6 Agustus 2009

Meugang part 1

Jalan Tengku Ben Mahmud, Lhok Keutapang senyap. Hari ini tak ada suara motor pemekak telinga lewat di jalan depan mess putri, yang bertetangga dengan kantor Palang Merah Indonesia untuk wilayah Aceh Selatan itu. Tidak juga ada angkutan umum yang kerap ngebut hingga saat ngerem menimbulkan bunyi berderit. Atau dentuman musik pendegup jantung dari mobil-mobil travel jurusan Meulaboh-Medan.

Hari ini masyarakat Aceh Selatan (karena aku lagi di sini) tengah melaksanakan tradisi meugang. Sejak kemarin, warung sebelah kantor tidak menyajikan sayuran beragam seperti biasanya. Tidak juga ada tempe atau tahu lauk kesukaanku. Bahkan kemarin ada kabar, The young man Roy Purba tidak mendapat makan siang untuk teman-teman tim komunitas. “Nggak ada yang jualan,” kata bang Putra mengisahkan sulitnya Roy cari makan siang.

Sangat berbeda memang suasana hari ini dengan hari-hari biasa. Jalanan yang senyap, tidak ada satupun anak sekolah dan para Pegawai Negeri Sipil yang bekerja. Jalanan lengang ini hanya dilewati segelintir orang. Para penghuni wilayah berbukit ini rasanya tengah bersembunyi di balik bukit menjulang. Pagi tadi, aku, mbak Nur dan Ida meminta tolong pada pak Rasidi saat menjemput kami untuk mampir ke warung yang biasa jualan sayur. Hasilnya, Ida hanya mendapat gambas alias oyong.

Setiba di kantor, masih sepi seperti jalanan yang telah kami lewati. Ida mengajak ke Pasar Inpres yang sering disebut sebagai Pasar Pajak. Aku sendiri kurang tahu mengapa orang menyebut Pasar Pajak. Kalau menyebut ”pasar” saja, kita akan diantar ke komplek pertokoan di jalan Merdeka. Jika berjalan lurus –jalan satu arah, kita akan ketemu dengan pelabuhan yang terlihat dari Bukit Hatta.

Pasar Pajak sepi nyenyet. Kulihat, hanya satu orang penjual dengan satu pembeli pula. Dari kejauhan, nampaknya ia berjualan ikan. Ehmmm…. terjawab sudah mengapa di berbagai belahan warung-warung penjual sayur tak ada satupun yang berjualan sayur segar! Pasar ilang kumandange!

Meski demikian, tidak semua orang berhenti bekerja. Selain kami, para polisi yang berkantor di Polres Aceh Selatan tampak mulai berseliweran di jalanan untuk bertugas. Seorang polisi yang mendahului aku dan Ida ngeloyor membawa map berisi berkas-berkas yang entah hendak dibawa kemana.

Meugang hari ini tidak selamanya membawa hati sepi. Nena dan kak Marwiyah kemarin membawa lemang dan tape ketan. Manis tapenya. Lemangnya pun ada dua macam, satu macam dari ketan, satu lagi berbahan singkong. Enak. ”Jangan bilang nggak enak! Gratisan mo bilang nggak enak, lebih baik nggak makan,” candaku pada Indra. Hari ini, entah siapa lagi yang membawa lemang. Aku ikut menikmati barang secuil lemang singkong.

Lalu, apa itu meugang? Kerja dulu ah….

Pojok ruang sebelah jendela, 21 Agustus 2009, 09:09

males…

menyebalkan jika malas menyergapku seperti sekarang. seperti dendam, rasanya harus terbayarkan. padahal, aku juga nggak tahu berdendam dengan apa atau siapa, juga kapan dan dimana tentang apa. malas ngapa-ngapain selain memuntahkan kemalasan ini sendiri. ya, hanya lewat media ini.

beberapa hari merasa muak, jumud. hanya ingin bermain ke sana-kemari, bercengkrama dengan orang-orang yang mungkin baru kukenal ketika kujumpa saat itu. malas, malas…

jumud.

kuberkhayal saat ini kubersama ucok yang kocak itu. ya, ucok berjanji padaku akan mengajakku bermain, memandikan, memberi makan gajah di taman nasional tesso nilo usai lebaran nanti. hmmm…seberapa takut ya aku kala anak gajah lucu tapi nakal itu mengejarku. hahaha, ucok saja takut dikejar! badannya besar kala kulihat foto yang dikirim heri. senang rasanya bisa menyusuri daun-daun basah berpenghuni pacet itu. lalu, “ups, berhenti bentar, ada pacet di kakimu!” indahnya tatoan tubuhku oleh unok yang bertebaran di antara semak.

ucokkkkkkkkkkkkkkkkkkk, bawa aku ke sana!!!!!!!

betapa segar udara di rimba sana. hidung tak mancungku namun peka rindu bau busuk dedaunan. goresan warna coklat bercampur kehitaman pada tanah, di sana pula beraneka makhluk kecil namun raksasa jika dibandingkan saudaranya di kota, bertebaran di mana-mana. kaki seribu yang entah berapa ribu kali besarnya dari kaki seribu yang hidup di perkotaan. subur tubuhnya oleh alam yang memanjakannya.

rimba, ya rimba, aku tengah merindukannya…

mandi di sungai

mandi di sungai

seperti foto ini, mandi di sungai lagi. wuih, kalau beruntung, sambil menyelam nembak ikan. yup, bukan pakai peluru tapi pakai semacam tombak. hmmmmm, khayalanku sudah sampai sungai kejasung godong di taman nasional bukit duabelas, jambi. tiap hari kudiberi ikan beraneka warna. dari ukuran kecil hingga segede pahamu. hak hak hak, ya pahamu karena pahaku kurang besar untuk menggambarkan gedenya si ikan. besar-besar di sungai nan jernih itu!

kelak jika aku ke sana, sepertinya lebih asyik mandi telanjang seperti yang biasa kulakukan di sungai toruyon. air dingin terasa memudakan kulit kala ia tak tersentuh oleh kain sarung basahan. hihihihi…tapi harus ngumpet di balik rerimbunan daun.

eaah, belum-belum kok takut! bukankah kamu telah belajar bersama orang rimba, nuk? tak ada ketakutan bersama mereka…

ahhhhhh, jalan-jalan, ayo jalan-jalan!

Radio

“Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu….”

Suara serak Gombloh kembali memenuhi ruangan kamarku yang bercat putih. Ia berdendang dari speaker laptop saat kubaca beberapa dokumen.

Usai mendengar lagu Gombloh, tiba-tiba aku merasa sangat rindu pada sapaan penyiar. Rindu? Padahal beberapa hari lalu saat kumasih di Medan, setiap kuberada dalam mobil, suara orang-orang yang tidak pernah kukenal itu menyapa telingaku. Hari-hari lalu, diantara kepenatan agenda pertemuan project, aku merasa senang karena bisa menikmati lagi sapaan penyiar radio pada para pendengar setianya. “Tomi di Medan Baru mengirimkan salam untuk Lila, ‘Tunggu aku ya say…’ Tomi meminta lagu dari…”

Khas arrangement radio tak lagi kudengar jika aku berada di wilayah berbukit-bukit ini. Bang Asri, salah satu driver pernah bercerita bahwa di kota kecil ini pernah ada stasiun radio. Ada benarnya juga karena dari sampul blocknote KBR 68H disebutkan ada dua stasiun radio di sini. “SIT FM dan Tasfa FM. Ada juga Kofa FM,” ujar bang Asri. Tetapi ntah mengapa dua nama ini masih tertuliskan sementara mereka telah bubar sejak bertahun-tahun lalu.

Kata bang Asri, biaya operasionalnya terlalu besar. “Orang itu –pemilik radio mungkin maksudnya- nggak sanggup membiayai siaran. Mahal kali biayanya. Sementara pemerintah daerah tidak mau membantu.”

Meski menurut bang Asri, radio di kota kecil ini bisa menjadi alternative bagi masyarakat untuk memperoleh informasi ataupun hiburan. “Tahu lah mbak, acara tv kita banyak yang tidak mendidik. Lagi pula kalau ada radio, di jalan begini kita bisa tetap memperoleh informasi seperti siaran radio biasa tu, diselingi lagu-lagu. Nggak bosan kita di jalan,” tambah bang Asri.

Kondisi geografis Kabupaten Aceh Selatan yang berbukit-bukit memang menyebabkan biaya operasional stasiun radio sangat mahal. Bahkan, sekalipun ia mencoba merelay acara-acara dari Jakarta sekalipun, pemilik radio akhirnya menyerah juga. Sehingga, ya kalau ingin mendengar radio, aku harus ke Meulaboh, atau sekalian ke Medan untuk bisa mendengar siaran yang lebih beragam.

Padahal tahun lalu ketika kumasih bekerja sebagai reporter di KBR 68H Jakarta, yang dulu bernama Utan Kayu, tidak pernah lowong sekalipun kudengar siaran radio. Hehehe, meski aku sendiri merasa kurang perlu mendengar siaran radio tempatku bekerja.

Aku lebih suka mendengar siaran Lite FM dengan lagu-lagunya yang asyik dan dengan penyiar yang tidak berlebihan omong. “Lite audience, Anda tentu ingat….” Atau mendengar sapaan Farhan yang kocak tapi cerdas lewat Delta FM. Sedangkan salah satu acara favoritku adalah siaran lagu-lagu daerah, dengan penyiar berbahasa daerah menyesuaikan tema daerah. Ia diputar di radio Kayu Manis FM yang ‘bertetangga’ dengan stasiun radio tempatku bekerja. Lucunya minta ampun jika lagu-lagu pesisir disiarkan. Bahasa Tegal dan sekitarnya yang ngapak-ngapak mampu membuatku tertawa ngakak di kamar kostku, di bilangan Jalan Utan Kayu.

lewat radio ini kudengar lagu sampai informasi penting

lewat radio ini kudengar lagu sampai informasi penting

Lalu, ingatanku melayang pada belasan tahun silam. Radioku yang super besar di atas kotak televisi telesonic kunoku, kerap dirubung mas-masku, mbakku, juga para tetanggaku. Waktu itu, kami semua keranjingan mendengar sandiwara radio, yang entah diputar oleh stasiun radio apa. Sebelum akhirnya berdesakan nonton filmnya di bioskop murahan Cemani Theater, tuntas kudengarkan kisah Brama Kumbara dalam Saur Sepuh. Kisah si Raja yang memiliki ajian serat jiwa ini kudengarkan tiga kali sehari dengan kisah bersambung. Ingatanku, putaran terakhir disiarkan pukul 21. Jika terlewat satu siaran saja, sudahlah, kecewanya beribu ampun! Nggak seru rasanya mendengar cerita dari orang lain selain langsung mendengarkannya dari kotak ajaib itu. Ehm, lewat siaran sandiwara radio Saur Sepuh, aku jadi sangat ingin jalan ke Tibet! Alamak, masak kalah sama kakak Mantili si Pedang Setan itu!

Seperti ketika orang keranjingan dengan telenovela di tv, sandiwara radio menjadi ajang cerita di sana-sini. Setiap ketemu kawan, selalu saja saling bertanya dan saling bercerita serunya jalannya episode demi episode.

Saat-saat sekarang jika aku pulang ke Solo, tak pernah lupa kudengar siaran wayang kulit semalam suntuk lewat radio. Kalender ’versi Jawa’ dengan tampilan wuku dan weton kucheck. Sabtu Legi atau Setu Legen adalah siaran ’wajib’ radio Swara Slenk FM – 92.5 MHz., radionya dalang Ki Warseno Slenk Harjodarsono, untuk wayangan ’live’ sampai pagi. Toh kalau ternyata di hari-hari liburku di Solo tidak menemukan Rabu Legi, wayang kulit bisa kudengarkan dari stasiun radio lain, terlebih di frekuensi AM.

Aku sangat rindu mendengar radio meski sepertinya tulisan ini hendak berakhir. Seraya ngobrol dengan Nuskan, kawan dari Pekanbaru, Riau, kuperoleh ide untuk mendengarkan siaran radio lewat handphone. Caranya, kutelpon kawan, entah nanti Nuskan sendiri, atau Ucok yang lucu, atau juga Heri Cimeng, untuk mendengar siaran radio dari handphone mereka. Tak mengapa Nuskan menyebut ideku ini gila, lucu atau apalah, asal aku bisa mendengar sapaan penyiar radio.

So I listen to the radio and all the songs we use to know

So I listen to the radio remember where we use to go

Penuh, Merah Putih

Kaca kurang dari dua meter, dari mobil yang dibawa bang Hendri tampak penuh. Mobil melaju tak begitu kencang kala kami memasuki wilayah Aceh, dari arah Medan, Sumatera Utara. Pada kanan kiri jalan, hanya penuh oleh dua warna, merah dan putih. Entah mengapa di mataku justru dwiwarna tampak ganjil. Kuamati, mataku terasa penuh dan jenuh.

Seingatku, kibaran dwiwarna yang dipasang di rumahku, kala bulan kemerdekaan negara ini datang, tak semarak di sini. Satu bendera saja cukup. Bahkan seingatku lagi, terakhir kulihat warna merahnya telah pudar menjadi sedikit orange. Tetapi tak ada niat untuk beli lagi. Aku juga tak begitu tahu mengapa. Pernah saat kami telat memasangnya, tetanggaku yang pendatang dari Purwodadi, Nurhadi mengatakan keluargaku tidak nasionalis. Entah apa maksud omongannya itu. Kutidak tertarik juga untuk menanyakan mengapa ia berpendapat seperti itu. Cinta negeri hanya sebatas pada bendera, pikirku dulu

Balik lagi di sini, di Aceh, disepanjang jalan ini, pada setiap sudut berjajar puluhan bendera. Satu rumah kuhitung lebih dari dua bendera terpasang. Bentuknya berbelah berjajar panjang lebih dari satu meter. Dua warna kain menjadi satu ini tegak oleh bambu tanpa dibelah. Di wilayah Bakongan, rumah-rumah sederhana di pinggiran Samudra Hindia, dengan tanaman yang apa adanya itu juga tertutup oleh puluhan pasang sang saka. Lebih banyak yang terlihat baru ketimbang warna merah yang telah berubah merah keruh.

Ketika berangkat ke Medan dari Tapaktuan minggu lalu, bang Asri sempat bercerita tentang dua warna kebanggaan negeri itu. Kata bang Asri, dulu semasa konflik pecah antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) –pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka di tahun 2001-2004, masyarakat diwajibkan memasang bendera. ”Tidak hanya bulan Agustus saja,” ujar bang Asri seraya menyetir.

Wajib pasang bendera diberlakukan oleh TNI pada masyarakat tanpa pandang bulu. ”Orang itu tidak peduli kita ini punya uang untuk beli bendera atau tidak. Pokoknya disuruh beli dan pasang terus,” lanjut bang Asri.

Cerita bang Asri mengingatkanku pada seorang gadis dari Desa Silolo, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan. Menurut Nur (ia hanya menyebut namanya demikian), jika akhir bulan Juli datang, para warga masyarakat dipaksa untuk segera memasang bendera di halaman rumah masing-masing. Bagi mereka yang tidak menjalankan perintah, apapun bisa jadi hukuman. ”Kadang, untuk beli beras saja kurang, kita dipaksa beli bendera,” kata Nur.

Perempuan lulusan SMP ini menambahkan, satu rumah diharuskan memasang lebih dari satu bendera. ”Oh pantesan ya bang, satu rumah bisa memasang lebih dari satu bendera,” kataku pada bang Asri.

Semarak dwiwarna ini ternyata juga bisa dirasakan saat masuk ke Tapaktuan, masih Kabupaten Aceh Selatan. Bentuknya tetap sama, memanjang ke atas bawah. Bendera yang berbentuk mendatar horisontal malah jarang dipasang. Kalaupun ia dipasang, pasti hanya satu, itupun tidak setiap rumah memasangnya. Merah putih sepanjang jalan. Di bumi Cut Nyak Dien ini, merah putih semoga membawa kedamaian sepanjang jaman.

17 Agustus 2009

Merdeka (bukan) untuk Kita Semua

Mobil yang dikendarai bang Asri berhenti lebih dari satu menit kala merah traffic light menyala. Wajah-wajah di dalam mobil masih ceria meskipun tubuh kecapekan untuk beberapa hari pertemuan.

Persimpangan jalan ini tampak semrawut. Kumengatakan pada diriku sendiri, aku tidak akan mau lagi seandainya harus mengulangi hidup di kota besar. Delapan bulan di ruwetnya Jakarta rasanya menyesakkan jiwa. Medan, toh tidak ada bedanya dengan Jakarta. Pengamen di sana-sini. Bukan aku terganggu dengan lentingan suara mereka, tetapi memang aku sungguh tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu mereka. Sekeping uang tidak juga menyelesaikan masalah.

Kala kepalaku menegok ke kanan, persis di trotoar setelah jalan ke arah yang berlawanan, mataku menangkap gerakan tangan pada tong sampah. Seorang ibu, dengan kerudung putih kotor di kepalanya, memasukkan sesuatu berwarna coklat ke mulutnya. Benda warna coklat seperti gorengan, lebih besar dari jempolku dikunyahnya. Makanan sampah. Ya makanan dari tong sampah. Seraya mengunyah, tangannya trampil mengambil botol-botol air mineral yang juga ada dalam tong sampah. Dimasukkannya dalam karung yang berdiri persis di sebelah kiri tubuhnya. Lalu lalang orang-orang berpenampilan rapi tidak tertanggu oleh adegan sesaat tadi.

Di sana, di pojokan jalan persis di seberang jalan perempuan penelan makanan dalam tong sampah itu tertulis spanduk ”Merdeka untuk kita semua….”

« Older entries