dalam lembaran surat anak rimba


“….akeh kinia hopi lagi sekolah di dusun. (Saat ini saya tidak lagi bersekolah –formal- di desa)

Kinia aku suda masuk ke dalam rimba. (Sekarang saya sudah masuk rimba lagi)

Benyok nian mensala waketu akeh sekolah podo dusun yoya. (Banyak sekali masalah ketika saya bersekolah di desa)

Kantikeh galonye urang dusun yoi betik cakop jehat samo keh. (Teman-teman saya yang semuanya orang desa sering berkata tidak baik padaku –mengolok)

Sebab lah sodah godong akeh lagi mansi kelas 2 SD. (Sebab, sudah sebesar ini saya masih kelas 2 SD)

Uje kanti akeh haruy lah sodah SMP bukon SD mumpa kinia apolagi lagi kelas 2. (Kata teman, saya seharusnya sudah SMP, bukan lagi SD seperti sekarang. Apalagi masih kelas 2)

Kantikeh lagi kecik galo Ibu. (Teman-temanku memang masih kecil-kecil semua, Ibu)

Akeh bae nang paling godong. (Hanya saya yang paling besar)

Dulu kememaluon lamo-lamo betambah pula kememaluon. (Dulu –waktu masuk- malu, lama-lama semakin malu)

Guru betik marasi pula waketu hopi tentu pelajoron mensalah ugamo. (Guru sering marah ketika saya tidak tahu palajaran agama)

Poning kepalokeh Ibu. (Pusing kepala saya, Ibu)

Tolobih poning sebab hopi katek sen kalu sekolah podo dusun yoya. (Tidak punya uang juga kalau saya bersekolah di desa)

Akeh hopi bisa begawe sehonggonye jedi misekin. (Tidak bisa bekerja sehingga tak memiliki penghasilan)

Kememaluon kalu ndok jajan bae haruy minta podo bepak… (Malu jika mau jajan saja harus minta bapak…)”

Tulisan yang ditulis vertikal setiap kalimatnya di atas merupakan cuplikan surat Bekangga (13) kepada saya yang ditulisnya di Belukor Sejelai, Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Jambi, tertanggal 11 Februari 2007 silam. Bekangga merupakan anak rimba anggota rombong (kelompok) Bepak Betenda di Sungai Toruyon, TNBD. Tahun 2006 lalu, ia diangkat anak oleh salah seorang staf Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, yang kemudian disekolahkan di sekolah formal (SD) di desa terdekat rimba.
Ketika masuk SD, Angga, panggilan barunya di desa, oleh guru langsung dimasukkan ke Kelas 2. Beberapa bulan sebelumnya, anak yang bepak induknya (ayah ibu) telah bercerai itu pernah mengikuti sekolah alternatif bersama saya di dalam rimba. Saat tes baca tulis hitung (BTH) masuk SD (sekolah formal) dilakukan, ia sudah sangat lancar BTH dibanding kawan-kawan -orang- desa.

Lain Bekangga, lain pula dengan Sergi (14), Tembuku (14), Jujur (13), Berayat (14), dan Bekinya (13). Anak-anak rimba yang kesemuanya pernah belajar bersama saya ini pernah mendapat tawaran dari seorang guru SD untuk ikut belajar di SD tempat guru tersebut mengajar. Pelajaran diberikan bersamaan dengan waktu belajar anak-anak yang bersekolah di sana. Sekolah formal yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Sarolangun Bangko (sekarang Sarolangun) ini pada awalnya diperuntukkan bagi Orang Rimba yang terjaring dalam program PKMT (Pemukiman Kembali Masyarakat Terasing). SDN 191/VII Pematang Kabau Kecamatan Air Hitam ini hanya memiliki dua ruang kelas dengan bangunan permanen. Namun, rupanya sekolah tersebut tidak begitu menarik minat anak-anak rimba. Ada banyak alasan dikemukakan anak-anak bercawat ini.

Sergi yang anak Tumenggung (ketua kelompok) Nggrip di Makekal Hulu dalam suratnya mengisahkan, “…sogon lamo-lamo ibu akeh belajor podo sekolahon iyoi(.) galo mato budak nang belajor ngoli kami(.) waketu kamia nuliy galo urang ngoli ndok tentu(.) apo tokang apo hopi(.) ado nang togok belakong(,) podo kanon kiri(.) guru suruh kami baco galo tetawo meseki piado nang saloh…(Lama-lama saya malu, Ibu, belajar di sekolah desa. Semua mata anak yang belajar melihat aneh ke arah kami. Ketika kami sedang menulis, semua orang melihat, ingin tahu apa yang saya tulis, apakah bisa atau tidak. Ada yang tegak berdiri di belakang, di sebelah kanan dan kiri. Ketika guru menyuruh kami membaca, semuanya menertawakan kami meskipun tidak ada yang salah…).”

Apabila Bekangga memiliki pengalaman dimarahi guru karena belum paham pelajaron mensala ugamo (pelajaran agama), Tembuku, Begendang (8) dan Mulau (7) memiliki pengalaman berbeda ketika mereka melihat proses belajar di salah satu SD di Satuan Pemukiman I (SPI). Hal ini terkait tindakan represif seorang guru terhadap muridnya.

Pindok akeh belajor podo sekolahon dusun kalu piado tokang pelajo’on guru tukul murid. Kaji kami Urang Rimba ngoli iyoy jehat nian. Kami belajor yoya sebab piado tukang. Kalu piado tukang kamia jedi murid ditukul, ye’, guru yoya jehat. Todo kami hopi tokang teruy, ibo, Ibu? (Saya tidak mau belajar di sekolah desa –baca : formal- jika belum mengerti pelajaran lantas guru main pukul murid. Kami Orang Rimba memahaminya sebagai perbuatan yang sangat kejam. Kami belajar karena memang belum bisa. Apabila belum mengerti murid lantas dipukul, guru itu sangat jahat. Nantinya kami justru tidak bisa terus, ya kan, Ibu?).”

Lebih memprihatinkan lagi Berayat dan keponakannya Nelikat (11). Dalam suratnya Berayat bercerita, oleh orangtua dan para penghulu (pemangku adat) ia tidak diperbolehkan lagi mengikuti kegiatan sekolah karena bertentangan dengan adat yang berlaku di rimba. Berbagai alasan dikemukakan. Dengan bersekolah di dusun, anak-anak yang sejak dini biasa diajar menjadi manusia kuat, survive, dan mandiri otomatis tidak dapat bekerja mencari hasil hutan non kayu. Berbeda jika mereka bersekolah di rimba karena waktu belajar menyesuaikan dengan kegiatan sehari-hari mereka. ‘Pulang hari’ tidak mungkin dilakukan karena jarak antara sekolah desa dengan rumah mereka tidak bisa dibilang dekat. Namun, menginap di desa juga bukan solusi yang mereka inginkan sebab perkembangan anak tidak dapat dipantau orangtua sebagai upaya transfer dan regenerasi pengetahuan dan adat yang berlaku. Alasan kuat dan menakutkan orangtua ketika anak tinggal di desa adalah apabila nantinya anak-anak tidak lagi mau mengakui jati dirinya sebagai Orang Rimba!

Seperti Tembuku, Bekangga, Sergi, Bekinya, dan Jujur, Berayat dan Nelikat adalah kader pendidikan yang sangat diandalkan dalam upaya pengentasan buta aksara di komunitas Orang Rimba. Anak rimba rombong Bepak Nuliy di Sungai Gemuruh ini sangat cerdas dan loyal dalam mengajar kawan-kawannya sesama orang Rimba.

Perempuan Rimba
Di belahan bumi manapun, makhluk berkelamin perempuan masih saja mendapat perlakuan marginal dan didiskriminasi. Begitu pula yang (di)berlaku(kan) bagi perempuan rimba. Jika laki-laki bebas mengekspresikan diri, hal itu tidak serta merta berlaku ‘manis’ bagi perempuan, terlebih keinginan untuk belajar BTH. Perlu perjuangan panjang dan waktu lama bagi perempuan ‘hanya’ untuk mendapat kesempatan belajar. Meski dengan berjalannya waktu, perempuan-perempuan berkemban mulai diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar BTH di rimba, hal itu tetap ‘berbeda’ dengan para kaum adam.

Pengantin (15) kakok (kakak) perempuan Tembuku dan Bekinya, Mendatu (14) kakok Begendang dan Mulau, dan Betumpal (12) adik Bekinya di rombong Ninjo pada akhirnya diijinkan mengikuti kegiatan belajar. Sebelumnya, mereka bertiga hanya boleh melihat proses belajar dari kejauhan selama berbulan-bulan. Mereka akhirnya mendapatkan ijin dari para rerayo (orang tua) dan penghulu dengan syarat yang mutlak harus diikuti, termasuk saya sebagai fasilitator. Gadis-gadis cerdas ini tidak boleh belajar pada waktu yang sama dengan kawan-kawan atau saudara laki-laki mereka. Ketiganya biasa belajar bersama saya di ladang sembari menunggu ladang dari gangguan binatang. Terkadang kami lakukan ketika kami mandi bersama-sama. “Tuliyon ‘betu’ yoya B E T U, Ibu? (Tulisan betu itu BE T U, Ibu,” jari telunjuk mereka menuliskan di air mengalir. Apabila murid laki-laki sedang bermain, berburu atau bermanau (mencari rotan), kegiatan belajar dilakukan di rumah sekolah.*

Kemampuan perempuan dalam belajar BTH tidak kalah dengan jenton (laki-laki). Para induk (ibu-ibu) rombong Tumenggung Meladang yang biasa menunggui anak-anaknya belajar justru terkadang lebih ‘pintar’ dari anaknya yang belajar. “Nang mikay tuliy yoya huruf B, bukon P. Huruf P mumpa nio. Cubo koli. Mumpa urang togok ado kepalo. Ibo? Kalu huruf B mumpa betina bunting, ado kepalo porutnye godong mumpa nio (Yang kamu tulis itu huruf B bukan huruf P. Huruf P seperti ini. Lihat. Seperti orang berdiri, ada kepalanya. Ya kan? Kalau huruf B seperti perempuan hamil, ada kepalanya dan perut yang besar seperti ini),” kata Induk Merato kepada anak bungsunya, Mlaro (6) sambil menulis huruf P dan B.

Akibat tenaga pengajar yang sangat terbatas waktu itu (saya dan Fery Apriadi) serta banyaknya rombong yang ingin difasilitasi belajar, hampir selalu membuahkan protes, termasuk Induk Ngarong, istri pertama Tumenggung Meladang. Ibu lima anak yang tinggal di tengah-tengah Taman Nasional ini beberapa kali memprotes saya karena sangat jarang masuk ke rombongnya. Akses ke kelompok di Sungai Kejasung Godong memang tidak gampang. Untuk mengajar di kelompok ini diperlukan waktu sedikitnya 10 jam berjalan kaki menaiki bukit-bukit yang menjulang.

Namun, perempuan di rombong ini pantas sedikit bersenang hati karena sang pemimpin rombong termasuk orang yang terbuka menerima pendidikan dasar, termasuk bagi kaum perempuan. Tumenggung Meladang pernah berujar kepada saya, “Kalu betina belajor, nye padek mumpa jenton, nye tukang jedi guru podo bebudak’a. Sebab kamia jenton betik pogi, ngoli kami jenton delok natong, bemanau. Kalu jenton pogi, induk nang jedi guru...(Jika perempuan belajar, ia akan pandai seperti laki-laki, ia bisa menjadi guru untuk anak-anak. Sebab lelaki sering pergi berburu atau mencari rotan. Jika laki-laki sedang pergi, ibu lah yang menjadi guru)”

Alamku, Ibu Pertiwiku
“…mumpa mono huma hompongon kamia elah jehat nian kerena ujenye tunggu becakop. Engkah sampoi kinia hopi lagi jadi huma kamia. Engkah kamia hopi bisa beladong? Kalu urang dusun bisa beladong kamia hopi bisa beladong? Kamia kinia piado lokak. Hompongon yoya sebonornye ake ndok tanom para. Ela ado bibit pula. Pamono ibu? (Bagaimana –nasip- ladang hompongon kami, sudah tertutup semak lagi karena katanya menunggu pembahasan. Mengapa sampai sekarang ladang tidak boleh kami tanami? Mengapa kami tidak boleh berladang? Kalau orang dusun diperbolehkan berladang mengapa kami tidak boleh? Sekarang kami tidak bekerja. Hompongon tersebut sebenarnya akan kami tanam karet. Kami juga sudah memiliki bibit. Bagaimana, Ibu?)”

Bukit nang dekat jelon menuju podo Sungoi Toruyon elah ditobong urang dusun. Nye nobong elah masuk taman ke delom. Beiknye urang kehutanon ngoli dewek kemai ( Bukit dekat jalan menuju Sungai Toruyon sudah ditebang oleh orang desa. Ia menebang sudah masuk ke dalam Taman Nasional. Sebaiknya orang KSDA melihat sendiri kesini).”

Surat Bekinya tertanggal 25 Agustus 2005 silam ditujukan kepada Agustina, salah seorang staf BKSDA Jambi. Surat itu dilayangkan sekaligus sebagai protes atas sikap urang kehutanon yang tidak adil terhadap Orang Rimba. Padahal kader pendidikan dari Sungai Toruyon ini tahu bahwa TNBD merupakan tempat hidup bagi Orang Rimba yang harus tetap dijaga kelestarian alam maupun adat budayanya. Ketika urang meru (orang diluar komunitas Orang Rimba) merusaknya, ia memiliki tanggung jawab mencegah maupun melaporkan kepada pihak-pihak yang berwenang.

Pengakuan Budaya
Wilayah yang sangat tidak mudah dijangkau seharusnya bukan menjadi alasan untuk tidak memberikan pelayanan berkualitas bagi suku asli. Siapapun insan di negeri ini, seharusnya mendapat hak memperoleh pendidikan berkualitas, tak terkecuali masyarakat suku asli. Apalagi dalam Undang-Undang Dasar 1945 (amandemen) pasal 31 disebutkan bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan” (ayat 1) dan “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayai” (ayat 2). Bahkan, United Nation Education Organization (Unesco) pun menargetkan komunitas Orang Rimba dalam program pembebasan buta aksara.

Berbagai persoalan dan ancaman menyelimuti kehidupan Orang Rimba. Proses deforestasi dan marginalisasi menggerus kehidupan suku asli ini. Atas nama pembangunan dan hajat segelintir orang, kaum bercawat dan berkemban dipaksa hengkang dari tanah adatnya. Perlakuan tidak adil, stigma “kubu” yang berasosiasi dengan “Kamu bodoh” atau “Dasar Anjing”, hingga penipuan-penipuan dalam kegiatan berdagang masih terjadi terhadap Orang Rimba hingga saat ini. Pendidikan dasar, meski bukan tradisi suku rimba, adalah salah satu upaya mengatasi persoalan ini.

Pendidikan berkualitas tidak harus mahal, identik dengan gedung mewah untuk belajar dan penjejalan muatan mata pelajaran yang justru membebani. Dalam UU No 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional ayat 1 disebutkan bahwa warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus. Pada ayat 2 dijelaskan makna pendidikan layanan khusus yakni pendidikan bagi peserta didik, yang salah satunya untuk masyarakat adat terpencil.

Namun, pada pelaksanaannya pendidikan (sekolah) yang bukan tradisi mereka justru menjadi sumber masalah serius. Pemahaman pendidikan layanan khusus hingga kini tidak diartikan sebagai wujud pengakuan dan kepedulian pemerintah terhadap pengakuan identitas budaya lokal. Lebih parah lagi apabila program pendidikan hanya diartikan sebagai “bagaimana suku adat berbaju, berumah, atau bercara hidup” sesuai dengan keinginan dan ‘kebenaran’ yang kita anut. Contoh-contoh bentuk kegagalan seperti pendirian Sekolah Dasar Negeri, program PKMT bagi Orang Rimba oleh Dinas Sosial, hingga pembagian sembako akibat mengesampingkan adat istiadat dan cara hidup komunitas suku yang berlaku.

Kamia dibori sapi nang hopi bulih kami makon. Urang Rimba dibori genah nang behatop seng. Yoya hopi sesuoy adat kami (Kami diberi sapi** yang tidak boleh kami makan –. Orang Rimba diberi rumah beratap seng. Semua itu tidak sesuai dengan adat),“ tulis Ejam, kader pendidikan dari Makekal Hilir yang juga salah satu penulis buku dongeng “Kisah-Kisah Anak Rimba” ini. Paradigma pemberdayaan “memberi tanpa harus mempelajari” apa yang mereka inginkan sudah saatnya diubah.

Orang Rimba Motor Penggerak
Selain sesuai dengan budaya yang berlaku, program pendidikan akan lebih menarik dan bermanfaat jika disesuaikan kebutuhan dan partisipasi mereka. Wujud partisipasi kaum adat berlaku baik dalam pembuatan isi materi pembelajaran, kurikulum, lokasi, hingga pelaksanaan proses belajar. Pelibatan tidak hanya semata pada para peserta didik. Para penghulu maupun orang tua juga harus dilibatkan sebagai pemateri dalam materi muatan lokal. Keterlibatan para tokoh adat menjadi penting karena ‘motor penggerak’ pendidikan adalah Orang Rimba sendiri. Sedangkan Urang meru dan Rajo Godong (pemerintah) adalah fasilitator bagi mereka.

Alam adalah Guru
Pendidikan dapat dilaksanakan dengan tanpa harus keluar dari habitat tempat hidup sebagai bentuk penghormatan pada budaya yang berlaku. Sebab, alam adalah guru sekaligus pelajaran sangat berharga bagi manusia. Dari alam ini pula, indigenous people belajar akan pentingnya peran alam dan pentingnya menjaga kelestarian alam dalam kehidupan manusia.

Pendidikan menjadi lebih menarik jika dikaitkan dengan potensi sumber daya alam tersisa yang menjadi milik mereka. Bagaimana pendidikan mampu menjadi kuasa pelindung bagi alam tempat mereka hidup. Terlebih kerusakan alam yang parah akibat eksplotasi habis-habisan.

Dengan pendidikan berkualitas, diharapkan mereka mampu melawan aksi-aksi pengrusakan terhadap alam genah penghidupon (tempat hidup) mereka.

Catatan belakang :
* Rumah Sekolah : Biasanya rumah yang lebih pantas disebut gubuk ini dibuat ketika sudah ada kesepakatan antara calon murid, orang tua, penghulu dan fasilitator. Rumah dibuat dari kayu tanpa dinding, berukuran 2 x 6 m, berlantai kayu gelogor berdiameter 10an cm dan beratap daun benal, terkadang terpal plastik warna hitam.

** Menurut adat Orang Rimba yang berlaku, Orang Rimba diharamkan mengkonsumsi binatang ternak, seperti sapi, kerbau, kambing, ayam termasuk susu dan telurnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: