Andai Kursi Itu Milikku, Pitri


Awalnya, bocah perempuan berusia 15 bulan itu hanya merengek pada ibunya. “Onton ono… Onton ono…(Melihat –pemandangan di luar dari- situ).” Sumpek, gerah, mungkin itu yang dia rasakan. Apalagi tubuhnya yang mungil dalam gendongan ibunya tertutupi oleh tubuh-tubuh besar orang dewasa. Kipas angin di dinding atap kereta api Prambanan Ekspres (Prameks) jurusan Yogyakarta-Solo, di dekat atas kepala ibunya juga tidak hidup. Sesekali tangan kecilnya menuding ke arah luar kereta. Di antara tubuh-tubuh besar, kepalanya dipaksakan menengok pemandangan di luar. Sayang, mata jernihnya tetap tidak bisa melihat ke arah luar. Tubuh-tubuh dewasa begitu penuh sesak. Susah baginya mencari celah untuk melihat ke pemandangan luar kereta.

Sembari mengusap wajah dan leher anaknya yang basah oleh keringat, si ibu memberi pengertian bahwa kereta penuh. Ibunya berdiri di antara pintu kereta. Hampir tepat di tengah-tengahnya. Tangannya tidak berpegang apapun. Rangkaian pegangan di atas terlalu jauh dari jangkauan tangannya yang pendek. Jika tiba-tiba masinis mengerem agak kencang, tubuh-tubuh yang hanya berpangku pada kedua kakinya akan limbung, termasuk aku. Tidak beda di pintu masuk, lorong kereta pun telah penuh sesak penumpang.

Kereta Prameks melaju tak terlalu kencang. Liburan akhir pekan pemilu dan Paskah yang panjang, memungkinkan orang untuk berlibur bersama keluarga. Orang-orang menjinjing mulai barang kerajinan khas Jogja hingga bakpia pathok adalah pemandangan biasa di kereta Prameks, Minggu (12/4) sore itu.

Namun, ibu dengan anak perempuan kecilnya di atas kereta ini tidak termasuk di dalamnya. Ia tidak dalam rangka berlibur saat ke Jogja. ”Pados jampi, mbak. Bapak’ipun lare-lare nembe gerah (Cari jamu, mbak. Bapaknya anak-anak sedang sakit),” kata dia. Air mukanya tampak sendu. Ya, pakaian yang dipakainya memang nampaknya bukan pakaian layaknya orang berlibur. Ia hanya mengenakan daster sederhana. Bisa disebut agak kusam. Tapi kuyakin dia bukan seorang pengemis

Sawah-sawah di sepanjang rel kereta hijau menggoda mata. Bagi orang kota, pemandangan petani tengah menyiangi padi, atau juga kerbau-kerbau yang masih rajin membalik tanah demi tanah adalah hal luar biasa. Rasaku, lebih asyik menikmati pemandangan hijau di luar sana dibandingkan mempedulikan sesaknya gerbong kereta.

Bocah perempuan dalam gendongan ibunya, yang beberapa saat kemudian kutahu bernama Pitri, terus merengek. Beberapa kali jari telunjuk mungilnya menuding keluar. Tinggi ibunya yang kuperkirakan kurang dari 150 sentimeter, membuat Pitri semakin tidak nyaman berada di tengah-tengah tubuh tinggi. Kalaupun si ibu mengangkat tubuh Pitri, tetap saja mata anak ini tidak menangkap pandangan yang ia mau.

Di luar kereta sana, sawah hijau terhampar belum juga habis. Sesekali diselingi rumah-rumah Jawa tempo dulu. Rumah dengan pintu tepat di tengah-tengah, juga dua jendela di sisi kanan kiri pintu agak ke tengah. Baik pintu maupun jendela sama jumlah daunnya. Dua. Tembok rumah-rumah kuno tampak kusam di antara kebun singkong, jagung, atau juga pohon-pohon pisang. Di beberapa ujung mata terlihat sawah berubah menjadi bangunan besar nan kokoh. Pabrik!

Sempat juga selintas terlihat pohon tumbang, juga akar-akar sisa pohon tumbang. Mungkin pohon itu bagian dari amukan penthil mlunter atau angin puting beliung di Solo dan sekitarnya, pada minggu terakhir bulan Maret lalu. Sesaat kemudian mataku menangkap satu rumah ambruk. Bisa jadi ia juga korban amarah penthil mlunter.

Tangis Pitri semakin lama semakin keras terdengar. Lengkingannya membuat orang yang mendengar langsung mencari-cari darimana suara tangis itu berasal. ”Cup, cup, bariki wes tekan nduk…(Sebentar lagi sampai, Nduk),” bujuk ibu. Tangannya terus mengusap dahi Pitri. Tangis Pitri semakin keras terdengar.

”Ada apa, Dik, kok nangis? Mau ini?” Tanya seorang perempuan yang berdiri tidak jauh dari ibu Pitri. Perempuan itu juga berdiri. Pada pinggang sebelah kanan, tangan kecil anak laki-laki kira-kira berusia 7 tahun memeganginya. Anak laki-laki berkulit putih itu hanya beberapa inci dari tubuh Pitri dan ibunya. Sedangkan pada paha si ibu di sebelah kanan, tangan perempuan kecil yang kuperkirakan berusia 5 tahun, memegang erat agar tidak jatuh. Di pudaknya mendekap tas ransel kecil warna ungu. Gadis kecil berambut keriting ini berdiri persis di sebelah kiri tubuhku. Sesekali kakinya yang bersepatu transparan warna merah muda menendang kakiku. ”Ibu, capek,” katanya. Ibu gadis keriting itu menawarkan brondong, makanan ringan tempo dulu yang biasa dijajakan saat Sekaten, pada Pitri. Tetapi Pitri tidak mau. Rupanya ia hanya menginginkan bisa memandang ke arah luar.

Pitri terus berontak, tubuhnya mengeliat lincah seperti belut dalam dekapan ibunya. Saking kencangnya, hampir saja si ibu jatuh. Orang-orang di sampingnya yang kemudian membuat si ibu berdiri tegak kembali.

”Mimik ya, Nduk? Mimik ya (Minum?),” ibu Pitri mulai gelisah. Apalagi puluhan pasang mata bergantian memandang ke arahnya. Lalu, tanpa segan payudaranya dikeluarkan untuk meredam tangis Pitri. Posisi si ibu tetap sama, berdiri tanpa berpegangan apapun. Tempat ia berdiri tidak bisa dipakainya untuk duduk barang sebentar. Penuh sesak.

Meski puting payudara ibunya telah menutupi mulut mungilnya, Pitri tetap berontak. Puting payudara ibunya kerap dilepas untuk mengeluarkan tangisnya. Udara makin panas saat kereta berhenti sesaat di stasiun Klaten. Telah setengah jam perjalanan dari stasiun Tugu Yogyakarta.

Sementara tangis Pitri hendak mengalahkan deru kereta, mata para laki-laki muda nan gagah perkasa, juga perempuan-perempuan cantik yang duduk di bangku kereta hanya melihatnya sesaat. Menatap ke arah lain, gelisah, lalu melihat ke arah Pitri lagi hingga berkali-kali. Satu dua orang kemudian mencoba memejamkan mata ketika matanya bertemu dengan mataku. Tetapi itupun tidak berlangsung lebih dari satu menit. Beberapa di antaranya langsung mengambil handphone dan entah mengetik apa. Mungkin jengah mendengar tangisan Pitri. Namun, tidak ada satupun beranjak merelakan kursinya untuk Pitri dan ibunya.

Puting payudara ibu hanya meredam tangis Pitri beberapa menit. Lalu Pitri kembali memecah gerbong kereta dengan tangisnya. Rupanya ia benar-benar tidak nyaman berada di kereta ini. Ia masih menginginkan hal yang sama,”Onton ono….”

Para muda kembali menyamankan diri sendiri begitu tangis Pitri kembali pecah. Dengan khayalannya di mata terpejam, mempermainkan jari-jari tangan, memencet tuts handphone, atau makin keras tertawa dalam canda bersama teman seperjalanan.

Manakala msinis mengerem, gadis kecil berambut keriting di sebelahku limbung. Ia mengikuti gerak tubuh ibu yang dipeganginya. Dadanya mengenai lutut laki-laki muda sekitar 20 tahun yang duduk persis di depan gadis kecil itu. Laki-laki yang berpenampilan layaknya mahasiswa itu tidak bergerak sedikitpun. Sedangkan perempuan yang duduk persis di depanku, secepat mungkin meraih handphonenya yang hendak jatuh. Lalu mengetik sesuatu.

Betah juga Pitri menangis. Lebih dari 20 menit kukira. ”Biasane nggih mboten ngeten niki (Biasanya juga nggak seperti ini),” kata ibunya. Raut mukanya masih dalam kebingungan untuk meredam tangis anak gadisnya. Payudaranya tidak juga dikembalikan ke balik BHnya. Sesekali disodorkan ke mulut Pitri.

Seorang perempuan berbaju rapat serta berkerudung besar, dia duduk di kursi paling ujung tepat di sebelah pintu, merogoh sesuatu di tas yang dipangkuannya. Ia duduk persis di depan ibu si gadis kecil berambut keriting, serta hanya berjarak sekitar 40 sentimeter dari ibu Pitri berdiri. Sebuah buku ukuran kecil tetapi tebal, tidak lebih besar dari telapak tangannya ia ambil. Orang bisa menebak buku apa yang tekun dibacanya kini. Perempuan muda itu mencoba mengkhusyukkan diri di antara deru kereta dan tangis Pitri. Tak lama kemudian, telingaku menangkap suaranya, ”Hhhah! Bising!” Dalam pandangan mataku, raut mukanya makin cemberut.

Sekejap kemudian, tangis Pitri menghilang. Penthil susu dipaksakan ibunya masuk mulut Pitri….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: