Apa yang kamu lakukan jika mendapat hadiah ulang tahun ini?


Baru beberapa bulan duduk di kelas 2 SMP. Teman-teman sekelasku masih orang-orang yang sama dengan teman ketika kelas 1 dulu. Jumlah mereka tidak lebih dari 40 orang, laki-laki dan perempuan. Kawan sebangkuku perempuan, Danik namanya. Rambutnya panjang sepantat. Sayangnya banyak kutunya. Sangat mungkin sekali kutunya terbang ke rambutku yang selalu cepak, ”Seperti model rambut laki-laki,” kata temanku.

Di Sekolah Menengah Pertama Negeri di kotaku itu, aku merupakan salah satu siswa penerima beasiswa. Seneng rasanya ketika guru mengajukanku sebagai penerima beasiswa. Jika aku menerimanya, beasiswa itu adalah kali pertama aku mendapatkannya. Saking senengnya, aku ceritakan ke ibu, bapak, kakak-kakakku. Bahkan tetanggaku banyak juga yang tahu. Bukan dari keluargaku, tetapi temen lain kelas, yang juga tetanggaku itu.

Hari yang dijanjikan datang. Ya, tepat di hari Ulang Tahunku. Kata mbakku, ”Istimewa tenan hadiah ulang tahunmu.” Seumur-umur, tidak pernah kudapatkan hadiah ulang tahun. Di keluarku juga tidak pernah ada ’tradisi’ perayaan ulang tahun. Semua terlewatkan seperti hari-hari biasa. Bahkan, satu keluarga tidak begitu teringat tanggal ulang tahun dari saudara-saudaranya, anak kepada orang tua, atau juga orang tua pada tanggal lahir anaknya.

Sungguh malas jika sekarang aku mengingat harinya. Dan rupanya saat ini aku pun telah benar-benar hari itu hari apa. Kepala sekolah dan beberapa guru datang ke kelas saat kami semua masih belajar. Aku dipanggil ke depan kelas, persis di tengah-tengah papan tulis hitam. Hanya aku. Antara rasa senang dan bangga saat itu. Aku benar-benar mengingatnya bahwa ”Hari ini aku akan menerima beasiswa!”

Tak ada angin tak ada hujan kala itu, tapi tiba-tiba langit terasa runtuh. Tanpa tedeng aling-aling guruku mengatakan, ”Kamu nggak jadi dapat beasiswa. Beasiswamu dibatalkan.” Kaget bukan kepalang. Tapi tetap bisa bertanya kenapa.

Tahu jawabnya? ”Karena kamu anak PKI! PKI tidak boleh hidup di negara ini. Beasiswamu batal kamu dapatkan!”

Di depan kelas kata-kata itu terucap. Di hadapan teman-temen guruku berkata seperti itu. Guru yang selama ini aku banggakan.

Tak terucap sepatah katapun dariku. Kuberanikan diri menatap mata kawan-kawanku. Beberapa berbisik entah apa yang dibisikkan. Seketika semua mata kawan-kawan yang selama ini asyik bermain dan belajar bersamaku menjadi aneh. Atau aku yang ternyata menjadi anak aneh di depan kelas.

Kata-kata guruku begitu pedas di telingaku. Mungkin, saat itu mukaku pun memerah menahan perasaan antara sedih, bingung, mungkin juga hampa. Susah menjelaskannya.

Sedihku meradang saat Danik, teman sebangkuku membawa tas, buku-buku dan pena yang masih berada di atas meja. Saat guru mempersilakan aku kembali ke meja, semua mata memandangku. Ya, pandangan mata aneh! Sedih bukan karena aku nggak jadi dapat beasiswa.

Lalu, ketika pelajaran kembali berjalan, semua terasa kaku. Ketika jam istirahat tiba, tak ada satupun dari kawanku menjawab ajakanku. Kucoba mendekati kawanku, mereka seakan tidak mengenalku lagi. Persis seperti seorang berpenyakit kusta yang layak diasingkan.

Nyeri sekaligus pedih tak terkira rasanya kala aku kehilangan teman-temanku di saat itu juga. Nggak ada yang mau bercakap denganku lagi. Sejak hari itu, nggak ada lagi yang mau jalan bareng aku ke kantin. Karena aku anak PKI. Hanya itu, titik.

Tercekik rasanya kerongkongku ingat masa-masa itu….

Bukan hanya beasiswa, tapi buku-buku pelajaranku beberapa waktu kemudian juga ikut dibakar. Nggak peduli itu buku-buku bacaan, buku paket yang dipinjamkan dari sekolah semua dilempar ke api.

Pahit. Dan itu terulang lagi saat aku SMA. Bodohnya aku, kenapa waktu ditawari beasiswa aku mengiyakannya. Padahal aku punya pengalaman menyakitkan.

Bapak hanya penjahit. Penjahit bodoh yang mau menerima pesanan partai komunis untuk membuat baret beberapa lusin. Juga pesanan-pesanan dari beberapa partai lain.

Waktu penggeledahan, bapakku kena. Meskipun pesanan itu jauh sebelum PKI dituding kudeta. Pesanan nggak diambil-ambil karena situasi kacau balau. Waktu bapak diciduk, cerita ibu, di kepala ibu beberapa moncong senjata laras panjang mengacung. Lalu bapak dipenjarakan –hanya- 8 tahun tanpa pengadilan. Berpindah dari satu penjara ke penjara lain. Tempat terakhirnya, meskipun siksaan bukan yang terakhir adalah Nusa Kambangan, Cilacap.

Tapi penjara bapak nggak sampai di situ. Ternyata aku yang anak-anak saat itu, masih membawa ‘gen PKI’ menurut negara waktu itu. Anak-anak yang ditakuti mengancam keutuhan negara.

Sementara mbakku yang cerdas itu harus karam dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Tempat dimana ia sangat berharap bisa menimba ilmu di sana. Masih dengan alasan yang sama kami harus dibedakan dengan anak-anak bangsa yang lain. Karena kami adalah ’anak-anak PKI’. Sekalipun bapak tidak pernah mengaku sebagai komunis, anggota atau pun simpatisan PKI.

Ternyata kini aku bangga dipanggil ”Anak tapol,” oleh kawan-kawanku. Hadiah ulang tahun yang terlalu menyenangkan untuk dikenang.

28 April 2009

hidup itu indah

hidup itu indah

Iklan

2 Komentar

  1. naribungo said,

    6 April 2010 pada 5:30 am

    terima kasih bu….

    semoga bahasa verbal makin lancar seiring, “aku boleh bicara dan menyatakan pendapat” hehehe….

  2. gitaditya said,

    1 April 2010 pada 7:44 am

    wew mbak.. hidup mbak luar biasa ya 🙂
    salut!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: