Badai


Puji syukur, badai telah berlalu. Bukan, bukan badai dalam ungkapan, tetapi memang badai beneran. Ya, badai. Angin besar yang membuat daun-daun di luar sana kemrosak dan mobat-mabit nggak karu-karuan. Kuyakin besok pagi saat keluar rumah, dia yang menyatu dengan ranting yang rabuh akan terkulai di tanah. Dan beberapa saat kemudian nasibnya akan sama dengan tumpukan daun lainnya di belakang sana. Menguning, mencoklat, lepas dari rantingya. Layu. Atau malah justru kaku mekingking mencoba tegar melawan hujan ataupun panas, seperti daun-daun yang telah teronggok di bawah pohon mangga di halaman belakang sana.

Badai telah menghilang, tapi pusing di kepalaku tidak juga mereda. Meskipun akhirnya selesai juga transkrip indept interview ketua pemudi desa Lawe Melang itu. Mohon maaf Nen, pagi tadi terpaksa kumengganggu berliburmu. Tidak enak juga sekedar menanyakan ke Ana yang baru kemarin menikah itu. Toh, kontraknya juga sudah usai. Usai juga kerjanya. Sekalipun ternyata ada yang belum terselesaikan. Barangkali hanya salah menyimpannya. Maksudnya copy paste format laporan, ternyata hasilnya pun masih juga copy paste. Dan hanya, ”Hehehe…..”

Pusing juga kepalaku. Pertama, mungkin karena harus berkali-kali mengeryitkan alis dan mata sejak di tulisan pertama. Apalagi bagi mataku yang sudah empat ini. Tulisan Ana agak susah dibaca. Sedangkan tulisan Nena yang jelas las, tapi tanpa keterangan. Terpaksalah tetap mengeja tulisan Ana. ”Halah Nuk, kayak tulisanmu bagus aja!” Gitu batinku sendiri. Ya, dalam urusan tulis menulis tangan aku sangat tidak bisa dipercaya. Buruk sekali tulisanku. Saking buruknya aku sendiri kadang nggak bisa membacanya (malu ih). Malu juga pada seorang kawan yang mungkin sudah melupakanku. Seorang kawan yang dulu pernah e’hmm, sering mengirimiku puisi, cerpen-cerpen yang lumayan bagus, atau kadang sekedar menumpahkan ’sampah’ dari hatinya. Lewat tulisan tangan yang sangat indah, yang lalu dikirimnya via pos. Tulisan tangannya pernah membuat mbak Fay terpesona. Sayang, kini dia nggak pernah lagi mengirimkan cerita ataupun puisi untukku. Serba jauh sepertinya jauh. Jauh di mata, jauh di hati. Mungkin.

Melantur. Keduanya, sepertinya pusing kepalaku karena tamparan badai. Kaku sekali leherku sekalipun telah kukendorkan dengan menggerakkan ke kanan kini, samping kanan kiri, juga atas bawah. Badai dari Samudra Hindia lumayan kenceng. Suaranya menakutkanku (dan tidak kuungkapkan pada mbak Elis).

Sejujurnya tadi saat kumakan roti bakar madu dan keju, juga srupat-sruput kopi instant panas, duduk di depan pintu kamar, juga di sebelah pintu kamar mandi, persis di sebelah keranjang sampah, aku tengah ketakutan. Aku takut mendengar suara angin yang tak tentu arah. Mengombang-ambing apapun yang dilewatinya. Di kamar, meskipun tidak terkena tamparannya, suara dari ventilasi atas jendela sama menakutkannya. Bayangku, ia bergulung-gulung seperti angin topan yang sering kulihat di berita-berita di tv, bersiap merengggutku, lalu membawa pergi entah kemana.

Huh, apa ini berhubungan dengan mimpiku semalam? Masih jelas sekali peristiwanya. Mimpiku buruk sekali!

Heran juga. Kurasa semenjak mbak kakung meninggal, selalu saja aku bermimpi tengah bersamanya jika sareannya kotor. Selalu cucunya tersayang ini didatangi meski –mungkin- hanya sekedar meminta ’rumahnya’ dibersihkan. Padahal selalu aku jauh dari rumahnya kini. Bahkan terpisahkan lautan. Mengapa bukan adikku atau keponakan-keponakan yang di Solo saja, yang didatangi dalam mimpi? Wong toh nantinya aku juga hanya akan meminta tolong mereka untuk ”Sarean simbah –atau mbah buyut- sudah dibersihkan belum?”

Apa iya, rumah yang berada di Solo, yang jelas-jelas jauh dari laut (!), kena ombak setinggi pohon kelapa! Mungkin beberapa tahun ke depan bisa saja terjadi, tetapi kalau sekarang itu terlalu dipaksakan –mimpiku! Simbahku yang berhidung sangat mancung itu terlihat sedih. Matanya sayu. Hanya- emper rumahnya rusak tergulung ombak. Saat ombak besar merusak atap emper, aku, ibu, beberapa saudaraku seketurunan simbah, dan simbah sendiri ada dalam rumah. Namun, tidak terluka satupun. Namanya juga mimpi, ombak seganas itu hanya mampu merusak atap rumah bagian depan. Sedangkan bagian rumah yang lain masih gagah perkasa!

Aih, meski sudah berada di alam yang berbeda, simbah masih rajin mengingatkanku. Kali ini dengan cara yang berbeda, tanpa ada pembicaraan apapun. Hanya sorot mata sendu padaku. Sorot mata yang kukenal sejak, mungkin saat beliau menimangku sesaat setelah aku keluar dari rahim ibuku. Cerita bapakku, mbah kakungku bersukacita saat mbakku yang perempuan sendiri di keluargaku itu punya adik perempuan. Aku. ”Saiki ono kancane koe nduk,” kata mbah kakung pada mbakku, seperti yang dikisahkan almarhum bapak padaku dan mbakku.

Kembali ke peringatan mbah kakung padaku. Iya, dua minggu ini aku lupa menghubungi ’orang rumah’. Biasanya, paling tidak di Minggu pagi atau malam, kutelpon ibu lewat adikku yang satu-satunya itu. Berhubung, hehehe, beberapa hari Minggu ini selalu masuk, seakan hari-hariku tak ada liburnya. Kata Dian beberapa hari lalu ”Tidak ada libur sama sekali sebulan ini.” Ya, aku lupa berkabar-kabar. Tak heran Leli sahabatku di Pemalang sana, sempat marah padaku. SMSnya tak terbalas olehku. Telponnya pun tak sempat kuangkat. Jadi ingat juga, entah di beberapa hari ini –atau minggu-minggu lalu yah?- bahkan pesan singkat adikku lupa kubalas. Padahal dia ’sekedar’ menanyakan kabarku di sini.

Mbah kakung mengingatkanku pada dini hari tadi untuk mengabari dan dikabari. Oalah, ternyata dua minggu lalu adik iparku sakit tipes. Istri adikku seminggu dirawat di rumah sakit. Dan saat kutelpon tadi, dia masih dalam perawatan di rumah. Lah, setelah adik iparku pulang dari rumah sakit, gantian ibu kambuh asam uratnya. Ealah sedihnya.

Hanya berharap, kapan yah libur?! Libur seperti bulan-bulan lalu. Nonton film atau sekedar gosip-gosip murahan di tv, bareng teman-teman di mess. Menunggu Ricka, yang beberapa minggu ini digantikan mbak Nur dan mbak Rini, berbelanja ke pasar. Kemudian menata segala sayuran ke kulkas. Mendengar ungkapan, ”Stock sayuran seminggu aman nih!”

Lalu, mbak Elis atas permintaan Ricka membuat tempe bacem. Sementara teman-teman lain bersibuk meracik bahan sayur asem. Entah siapa saja boleh mengerjakan sambel tomat plus terasi. Mbak Rini yang sangat ”Hobi nggoreng kerupuk.”

Matang hati senang. Makan bareng di beranda belakang, sebelah kamar Ika. Besi jemuran dipindah, sambil makan bercerita dan tertawa bersama. Apalagi sembari melongok mangga yang sering nyandung keningku.

Kuingat beberapa minggu lalu, selalu saja bathukku ketatap mangga yang mengantung rendah pada dahannya yang kecil, manakala kuasyik menyatukan daun-daunya yang tak dibutuhkan lagi oleh pohonnya. Sabtu sore yang menyenangkan. Pulang siang, lalu mengerjakan pekerjaan penghilang penat selama seminggu. Nyapu halaman depan dan belakang di bawah pohon mangga sembari melenturkan syaraf-syaraf di kaki, dengan berjalan tanpa sandal. Batu-batunya akan membuatku ”Auw” kala menyentuh bagian-bagian ’sakitku’. Sambil berdendang, ”…mandi di sungai, turun ke sawah, menggiring kerbau ke kandang,” seperti si Tasya yang cantik itu. Lalu mbak Elis pun ikut bernyanyi.

Ah, apa daya sekarang mbak Elis tengah sakit gigi. Di sana sini, dari pundak hingga pipi ditempel koyok sebelum terlelap dalam mimpi. Walah, semua kok ’i’!

Hari berganti, semoga tidak mimpi buruk lagi. Ibu, semoga lekas sembuh. Put, semoga lekas pulih…

Sabtu (30/5 pk 01.17)

cerah usai badai

cerah usai badai

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: