Bohemian Rhapsody Seorang Guru Rimba


Sah-sah saja ketika seorang kawan mengatakan kepadaku, “Kau satu-satunya orang paling bodoh yang pernah aku kenal!” Kesengsaraan – yang menurutnya- menimpaku tatkala harus bertugas mengajar (menjadi guru) di pedalaman hutan di provinsi Jambi. “Nggak ada koran, nggak ada listrik, nggak ada hiburan apapun…,” demikian kata kawanku yang merasa akan kesepian menghinggapi seorang seniman seperti dirinya yang bergelut di bidang teater dan sangat pintar bergaul dengan siapa saja itu.

Kini aku jauh dari kotaku, Solo, kota budaya (kata banyak orang). Melalui sang maestro Gesang, (lagu) Bengawan Solo benar-benar mengalir jauh hingga ke negara-negara tetangga. Tak seperti kotaku, Jambi sangat pelit dengan apa yang dimanakan hiburan. Taman Budaya sepi dari aktivitas seni. Hanya musik ‘norak’ yang selalu membuat jantung berdegup kencang dan memekakkan telinga saat naik angkutan umum. Atau house music menyebalkan di hampir setiap Sabtu sore sampai subuh datang pada acara organ tunggal, waktu dimana tubuh ini ingin dibelai oleh mimpi-mimpi indah. Satu hal yang sangat kontras dengan apa yang aku dapatkan di dalam rimba-nya Jambi itu sendiri.

Di sana di rimba, tepatnya di hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), yang sangat jauh dari segala kericuhan umat manusia, kicauan burung terdengar bak biduan bersuara merdu menyanyikan lagu syahdu. Panggang Kakak, burung Gading dengan suara kuk, kuk, kuk….ritme lambat yang lambat laun sangat cepat terdengar kwak….kwak…kwak…kwak….

kwak….nya, burung Saway, Gagak…Siamang pun tak mau kalah dengan suara burung yang merdu. Mereka hampir selalu berbincang sesamanya kala sang surya mulai menampakkan diri dan tenggelam kembali. Atau binatang lain yang ikut bernyanyi di rimba tempat dimana Orang Rimba – suku asli (indigenous people- TNBD) tinggal di sana.

Pagi hari, rimba selalu menyambutku bersama buku-buku dan rayuan budak-budak pelajoron untuk kembali belajar. Yup, sekalipun tubuh ini masih merasakan hangatnya sleeping bag yang membungkusku seperti bayi. Meskipun mata ini masih tak mau dibuka karena tidur semalam yang sudah beranjak dini hari. Sebagai fasilitator pendidikan, tak ada kata tidak untuk belajar kapanpun bersama anak-anak rimba. Belajar tanpa kenal waktu, dan dalam keadaan apapun dari melek moto sampai mata ini tak tahan lagi untuk segera terpejam. Sambil memasak, sesalungon (teriak-teriak) saat mandi, makan, cari kayu bakar, mancing ikan tak pernah lepas dari belajar. Betapa semangat belajar anak-anak rimba ini patut diacungi jempol.

Masuk ke rombong (kelompok) baru yang belum pernah tersentuh pendidikan memberikan pengalaman yang tidak sedikit. Riuh binatang malam kulawan dengan suara lantang huruf abjad A-Z bersama anak-anak bercawat itu Memasangkan antara huruf konsonan dengan huruf vokal, seperti BA BI BU BE BO hingga ZA ZI ZU ZE ZO agar bisa dibaca. Lantas berlanjut lagi ke kata-kata mudah, seperti peci (ketapel), cigu dan sebagainya hingga kata-kata yang lebih sulit. ”O…O…peci yoya tuliyonnye mompa nio. Au au akeh kinia lah tentu. Tuliy apo lagi, ibu? (Oh, ’peci’ tulisannya seperti ini. Ya ya saya sekarang sudah tahu. Menulis kata apa lagi, ibu?),” ujar Bekinya (13) manggut-manggut dan ’menantangku’.

Demi sekolah dan tokang membaco, menuliy, behitung (bisa baca, tulis, dan hitung) beberapa budak pelajoron rela ’libur’ kerja mencari manau (rotan), jernang (buah rotan), atau hasil hutan lainnya. ”Kamia lebih baek belajor dulu, todo kalu ibu lah belik beheru kami lagi lokak. Tapi kamia lokak lagi belajor teruy pula. Jedi padek kalu kamia belajor teruy…” (Kami lebih baik belajar dulu, nanti kalau ibu sudah balik –atau melanjutkan ke rombong lain- kami bekerja lagi. Namun, sambil bekerja kami tetap belajar. Jadi pintar kalau kami belajar terus), ujar Bekangga (13).

Lain sekolah yang ada di kota lain pula sekolah di rimba. Begitu pula semangat belajarnya. Aku ingat betul masa-masa sekolah dulu. Mungkin hal ini terjadi juga pada banyak siswa di negri ini yaitu bergembira ria ketika guru tak datang, atau bahkan pulang lebih awal tanpa sepengetahuan guru. Namun di sana, jauh di dalam rimba tak pernah ada kata senang apabila guru tak datang. Apalagi jika guru telah berjanji sebulan yang lalu untuk datang lagi. Mereka selalu menanti-nanti guru mengunjungi rombong (kelompok) mereka.

Murid-murid di rombong Ninjo misalnya, rela menungguku selama empat hari tiga malam di desa pinggiran rimba hanya untuk bersekolah. Di desa itu mereka belajar dibantu si pemilik rumah. Mereka belajar dengan media apa adanya, tanpa buku dan pena, atau papan tulis yang biasa dipakai untuk belajar bersama. Apa yang kemudian kulihat?! Tulisan mereka dengan kapur tulis pemberian si pemilik rumah kulihat di dinding rumah yang terbuat dari kayu tersebut. Tulisan abjad A-Z menjadi bagian ’aksesoris’ rumah.

Lain pula cerita dari rombong yang lebih ‘dalam’. Untuk bertemu murid-murid di rombong Meratai di Aek Behan membutuhkan waktu lebih dari lima jam perjalanan kaki. Belum lagi waktu untuk memberitahu anak-anak sekitar dua jam lagi berjalan kaki di rumah masing-masing. Kebetulan di rombong ini rumah-rumah budak pelajoron agak tersebar dan berjauhan. Rumah sekolah dibuat di tengah-tengah agar masing-masing budak tidak merasa berjalan jauh.

Suatu ketika beberapa murid tidak bisa mengikuti pelajoron karena cenenggo (sakit, batuk waktu itu). Apabila budak sedang cenenggo ikut belajar, maka murid yang bungaron (sudah sembuh, sehat) tak akan mau mengikuti pelajoron. Aku harus bisa memilih, tetap mengijinkan murid yang sakit untuk ikut belajar atau murid yang sehat -yang tentunya lebih banyak- tidak akan mau mengikuti proses belajar ini. Bagi orang rimba, setiap penyakit pasti bisa menular ke orang-orang yang sehat.

Tiga hari dua malam berada di rumah sekolah tanpa kegiatan apapun kecuali memasak, mandi dan bermalas-malasan. Pikiran menjadi sempit, pulang ke Jambi! Yap, meskipun masih sepuluhan hari lagi seharusnya aku di sana. Pulang dengan membawa beban berat di pundak dan tangan. Bahan makanan tak banyak yang dimakan. Apalagi harus menyusuri sungai dengan air yang dalam akibat hujan berturut-turut selama dua malam.

Naik turun sungai, pacet yang terus saja menempel lalu menggigit jika tak ketahuan, jalan semak yang licin. Bahkan celana yang basah itu tak kering-kering karena daun-daunan yang masih basah tergesek oleh celana. Dua jam berjalan begitu cepat rasanya. Ketika aku harus menunggu porter yang berjalan jauh di belakang, terdengar bui urang besesalungon (suara orang berteriak-teriak). Orang itu mengatakan, ”Tanti kamia jengon bejejelon. Akeh ndok betemu…”(Tunggu kami jangan berjalan dulu. Saya ingin bertemu). Akh, apa maunya orang ini? “Siapo?” teriakku bertanya pada orang-orang yang kukira pebalok. Menunggunya sesaat. Tidak kusangka, satu per satu budak-budak pelajoron (murid sekolah) muncul berjalan berjejer ke belakang.

Mereka ternyata menyusul. Keringat telah membasahi baju mereka seperti bajuku. Entah apa yang ada dalam benak mereka waktu itu. Kami semua terdiam sejenak. “Ndok kemono?” tanya Sedeh, salah satu murid paling tua di rombong ini. Aku pun jawab, “Kerena galo budak pindok belajor beiknya akeh belik bae podoa Jambi (Karena semua murid tidak mau belajar lebih baik aku balik saja ke Jambi).”

Berayat, adik Sedeh lalu berkata, “Kami ndok belajar.” Ia menjelaskan pula mengapa mereka tidak secepatnya datang ke rumah sekolah. ”Kamia mansih ado di delom delo jernang. Pay ado urang nang ndok menghalau podoa genahkeh nang ado rerayokeh. Nye hopi tentu. Bukon akeh pindok belajor. Kanti nang cenenggo hopi belajor kerena kluar ke puykeymay delo lokoter. (Kami masih berada di dalam mencari jernang. Ketika ada orang yang akan mengajak, di rumah saya yang ada hanya orang tua. Ia tak tahu. Bukannya saya tidak mau belajar. Kawan yang sedang sakit tidak ikut belajar karena keluar –rimba- ke puskesmas mencari dokter).”

Tanpa pikir panjang kami balik arah, berjalan lagi dua jam menyusuri jalan yang baru saja kami lalui. Percuma rasanya sekitar lima jam jalan kaki masuk rimba dengan berbagai halangan, rintangan kalau tidak menjalankan agenda yang telah direncanakan.

Sekolah di rimba, tak ada kata malu, takut, segan untuk bertanya dan salah, Begendang (8) misalnya. Budak pelajoron yang sudah piatu itu tak pernah putus asa meskipun ia sering melakukan kesalahan. Ia selalu saja menulis huruf terbalik dari kanan ke kiri seperti menulis huruf Arab, bukan kiri ke kanan. Matahari ditulisnya IRAHATAM dengan posisi huruf terbalik pula. Meskipun berkali-kali diberitahu dan diperingatkan anak ini masih saja sering terbalik menulis huruf. Atau beberapa anak yang sering asal saja mengeja tulisan, misalnya betong menjadi parong. Jauh, ya!

’Pelatihan kesabaran’ rupanya lebih banyak dilakukan di rombong-rombong baru daripada melanjutkan pelajaran di rombong lama. Pengejaan kata sela misalnya, diejanya se e se bukan es e se, la a la bukan el a la. Atau di rombong yang telah sampai pada pelajaran berhitung. Mengeja angka misalnya ”Dua ribu lima ratuy,” menjadi variasi angka 25, 2500, 2050 dan sebagainya.

Dari berbagai perjalananku di rimba mengajar dan belajar dari orang rimba, satu hal yang mengiris hati tatkala aku mengajar di rimba sana adalah illegal logging. Pembabatan hutan tak pernah ada kata berhenti dari para pebalok, terlebih cukong-cukongnya. Raungan chainshaw lebih keras dari suara kami belajar baca tulis hitung. Batang-batang yang tumbang lebih cepat dari anak-anak rimba menerima pelajaran. Berbagai pertanyaan muncul di benakku, akankah orang rimba tak lagi memiliki rimbanya? Akankah tokang baco tuliy hitung mampu menahan laju pebalok yang merampas rimba mereka? Entahlah….

2005, lupa bulan apa

meski hanya dengan lilin

meski hanya dengan lilin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: