Cenenggo


Tidak seperti hari-hari sebelumnya, Sekola (8), Bedewo (7), Nuduh (9), Nimbo (7), Bekaco (8), dan Njerupih (6) hanya duduk-duduk jauh dari rumah sekolah. Bebudak rombong Selambai di Belukor Sejelai itu terus memandangi setiap gerakan tubuhku tanpa mau mendekat sedikitpun. Ah, apakah mereka marah padaku? Tapi apa salahku pada mereka? Aku tidak pernah membentak atau marah sekalipun mereka salah membaca atau salah menulis kata-kata. Apa yang terjadi?

Berayat (14) yang baru saja tiba di rumah sekolah juga tampak bingung. “Ngapo mikae (Kalian kenapa)?” tanyanya pada anak-anak rombong Bepak Besirup di Belukar Sejelai ini.

Todo ado beruang menderot podo mikay (Ntar ada beruang mendekat ke arah kalian lho)!” kataku.

Aneh, anak-anak itu masih duduk-duduk saja di jalan setapak menuju rumah sekolah, berjarak sekitar 100 meter. Buku dan pena masih dalam dekapan dada mereka yang telanjang. Ah, padahal tanah dan daun-daun yang mereka duduki masih basah oleh hujan semalam.

Oey, todo dimakon pacot mikae, kema’i, bebet (Nanti dimakan pacet kalian. Kemarilah).” Mereka tetap tak beranjak.

Dari balik semak-semak di arah timur rumah sekolah, suara kresek-kresek orang berjalan. Beberapa kali terdengar suara parang menebas batang pohon kecil atau pohon puor yang telah meninggi. Ternyata bepak Nuliy, Nelikat, Bejaman lewat. Mereka pulang dari periksa ke puskesmas.

Sakit apo Bepak?” teriakku ketika mereka sampai di sebrang sungai kecil di sebelah utara rumah sekolah.

Seperti kebiasaan Orang Rimba, jika rumah sekolah ‘berpenghuni’, maksudnya ada orang seperti saat ini ada aku dan anak-anak, orang-orang yang lewat akan mampir sekedar merokok atau bececekop (mengobrol). Terkadang hingga sore hari mereka baru beranjak pulang.

Nye kana domom,” balas bepak Nuliy. Adik Bejaman, Nelikat, yang berjalan di belakang kakeknya tampak tersenyum padaku. Dia adalah kader pendidikan termuda. Usianya sekitar 11 tahun. Anak yang pandai, rendah hati, tapi tidak pelit berbagi ilmu.

“Galonye domom pula
(bapak, Nelikat dan Berayat sakit juga),” tanyaku lagi. Sebab, mereka keluar rimba pergi ke puskesmas di desa Pematang Kabau berempat. Berayat tadi pagi juga ikut. Hanya saja, ia melewatkan hari pasaran dan memilih masuk rimba lagi untuk ikut mengajar bebudak rombong Selambai.

Hopi. Kamia tiga piado sakit. Bejaman bae, bebet. Kamia lah habiy berubat kami pogi hanggo pasaron kiyuna (Tidak. Hanya Bejaman yang sakit. Setelah memeriksakan Bejaman, kami langsung ke pasar di desa itu).” Bepak Nuliy sudah duduk di seberang sungai yang hanya seluas 1 meteran itu. Nelikat dan Bejaman juga duduk di sana.
Aih, ternyata Berayat belum memberitahu (bukan minta ijin) bapaknya dan kedua ponakannya jika ingin tinggal untuk mengajar.

Sesaat setelah kujamu kupi, teh, dan biscuit, bertiga tanpa Berayat mereka pulang ke Sungai Gemuruh. Dari Belukor Sejelai sekitar empat jam berjalan kaki.

Anak-anak rombong Bepak Besirup ini tetap terpaku di kejauhan. Tak sedikitpun mereka beranjak dari tempat mereka duduk tadi.

“Kamia pindok belajor podo genah pelajoron, Ibu. Sebab kamia galo bungaron
(Kami nggak mau belajar di rumah sekolah sebab kami semua sehat),” ujar Nuduh yang berambut keriting kecil seperti rambut orang Papua.

Behelo, piado urang sakit sioa. Eik, kemari yoya lah belajor samokeh, ibo, ngapo kinia hopi lagi (Ya ampun, di sini nggak ada orang sakit. Ek, kemarin kan sudah belajar bersamaku, mengapa hari ini nggak mau)?” kataku belum mengerti maksud mereka. Berayat malah asyik membaca Intisari yang kubawa.

Hopi ibu’a. Tapi urang yoya. Kamia bungaron. Nye ceneggo (Bukan ibu tapi orang itu. Kami sehat sedangkan ia sakit).” Kali ini Sekola angkat bicara.

Nye siapo? Behelo, piado tentu ake (Siapa dia? Ya ampun, aku nggak mengerti maksudmu),” sahutku.

Ta’un, ake hopi sakit! (Ya ampun, aku nggak sakit),” protes Berayat. Oh, rupanya dia yang dimaksud anak-anak. Majalah Intisari yang sedang dibacanya langsung diletakkan. Berayat beranjak turun dari rumah sekolah. Tapi ia juga tidak mendekati bebudak yang masih duduk jongkok itu.

“Taun…”

Maka, siang itu Sekola dan kawan-kawannya tetap bersikukuh tidak mau belajar di rumah sekolah. Mereka takut tertular penyakit yang dibawa oleh Berayat. Ya, sekalipun Berayat sedang tidak sakit, tetapi ia tadi mengantar ‘orang sakit’ ke puskesmas. Berayat, menurut Orang Rimba di rombong ini tetap berpotensi menularkan penyakit pada orang lain.

Beiknya pamono, bebet?” Behelo, lah jouh ake bejejelon kema’I, mikay galo hopi jedi belajor (baiknya bagaimana? Dewa, jauh-jauh aku ke sini kalian malah nggak jadi belajar).” Aku duduk di sebelah Nimbo.

Akhirnya kami menyepakati tetap belajar, tetapi ke sana, di ladang milik anggota rombong Bepak Besirup. Hanya beberapa ratus meter, tidak dalam hitungan jam. Sangat dekat lah…

Kuikuti langkah kaki-kaki kecil tanpa alas kaki itu. Njerupih, anak seusia Nimbo tampak sangat bersemangat. Langkahnya sangat cepat.

Sioa, ibuk!” teriaknya. Entah maksudnya bertanya, meminta, atau menyuruh. Mungkin ketiga-tiganya. Ia langsung duduk di batang pohon melintang. Pohon yang memang ‘dibuat mati’ karena lahan ini untuk hasil makanan mereka.

Njerupih pintar memilih tempat. Teriknya matahari hanya menghempas puncak pohon besar yang kami jadikan ‘rumah belajar sementara’ini. Angin yang berhembus pelan tanpa bisa dihalau oleh pucuk-pucuk pohon singkong membuat Nimbo berkali-kali menguap. Ah, aku juga merasa mataku ingin terpejam.

Bersama Nuduh, Sekolah, Bekaco, aku memilih duduk beralaskan tanah. Sementara Bedewo, Nimbo, dan Njerupih memilih duduk di batang pohon. Pelajaran pun berlanjut dengan membuat kalimat pendek. Sesekali diantara mereka mengusulkan kalimat apa yang akan mereka tulis bersama.

Kami belajor siang nioma de ladong,” usul Bedewo. Kecuali Nimbo, anak-anak langsung menulis di buku tulis masing-masing. Nimbo masih belajar menulis huruf.

Setelah kulihat hasil tulisan mereka, ada satu dua yang kurang. Hasil tulisan Sekola kakak Bedewo misalnya, menjadi “Kami belajor siyang niyoma de ladong.

Soal huruf ini, aku pernah diprotes habis-habisan oleh anak-anak di rombong Meladang di Sungai Kejasung Besar. Untuk ke sana dari desa terdekat diperlukan waktu berjalan kaki lebih dari 10 jam. Mendaki bukit-bukit menjulang.

Malam harinya, kami tidak lagi belajar seperti kemarin. Anak-anak, ketua rombong, bepak induk Nuduh, dan bepak induk Njago hanya duduk-duduk menjauh dari rumah sekolah. Ya, karena ada Berayat di rumah sekolah. Dan sekalipun Berayat tidak sakit, ia ‘menjadi sakit’ lamtaran telah mengantar orang sakit.

Pada Berayat, salah satu kader pendidikan terbaik yang belajar bersama KKI Warsi tak mungkin juga aku mengusirnya supaya ia menjauh atau pulang ke rumahnya di Sungai Gemuruh sana.

Yah, beginilah budaya mereka. Dan sebagai orang luar yang banyak belajar tentang kehidupan, aku harus tetap menghormatinya. Sekalipun tampaknya aneh, lucu, hal ini tidak bisa diremehkan. Aku harus ‘rela’ berjalan ke ladang untuk belajar bersama anak-anak. Aku juga harus rela tidak memasak bersama anak-anak seperti biasanya. Kalaupun mereka ikut memasak, Berayat harus pergi dulu sejenak. Toh, Berayatpun mau juga menghormati sesama Orang Rimba.

Meski apapun yang aku makan sama dengan yang dimakan anak-anak rimba, alasan ada cenenggo terasa mengurangi kenikmatannya. Jika aku makan bersama anak-anak, Berayat makan sendiri. Begitu pula sebaliknya jika aku makan bersama Berayat, anak-anak menyantap makanan dari kejauhan rumah sekolah.

Aih, sepiring nasi juga habis rupanya. Dan sore itu giliran Nuduh dan Bedewo mencuci piring dan alat masak…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: