Gara-Gara Huruf W


Juni 2005

Usai makan malam, lampu teplok, damar pemberian Orang Rimba, serta lilin yang kubawa membuat rumah sekolah terang benderang. Satu lilin, atau satu damar, atau satu teplok dipakai dua hingga empat anak untuk menerangi buku-buku tulis mereka. Beruntung hujan tidak turun seperti hari sebelumnya. Anginpun tidak begitu kencang sehingga lampu-lampu kami tetap meliuk-liuk tenang. Pelajaran kembali dilanjutkan. Aku kembali mengejakan kata-kata yang terdapat huruf vocal ketemu huruf vocal, seperti liar, luar, siang, uang dan sebagainya.

Usai mengeja lima kata, kami koreksi bersama-sama. Mata Tumenggung Meladang tampak berbinar. Anak lelakinya, Mlaro (6) yang juga ikut belajar telah selesai menulis kata-kata yang kuejakan. Anak itu menatap papan tulis berukuran 30 X 40 cm dengan tenang. Pangkal bolpoin hitam merk Pilot miliknya ia gigit-gigit.

“Luar,” demikian kata ini kutuliskan di papan tulis coklat yang kubawa. Lalu satu per satu kata kutuliskan berurutan ke bawah pada papan tulis yang belum sempat kucat warna hitam itu. Butiran kapur tulis warna putih turun mengotori lantai rumah sekolah kami.

“Behelo, piado huruf w!” Ibuk Ninuk, mentaro huruf ‘U’ samo huruf ‘A’ yoya ado huruf ‘W’nye! (Ya ampun, tidak ada huruf w. Ibu, antara huruf u dan a seharusnya ada huruf w),” teriak Mbayang (11). Gadis kecil anak Wakil Tumenggung Rombong Meladang, Melimun itu geleng-geleng kepala.

“Au, ngapo huruf w-nye piado? Nye dicampok dimono (Iya. Mengapa huruf ‘w’nya tidak ada? Diletakkan dimana?)” protes Ngarong (12), perempuan yang juga anak sulung Tumenggung Meladang.

Mbayang dan Ngarong, serta kawan-kawannya merupakan anak rimba dari suku asli (indigenous people Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD)- yang biasa disebut dengan Orang Rimba. Mereka merupakan budak pelajoron (murid) Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi di rombong (kelompok) Tumenggung Meladang, di sungai Kejasung Godong, TNBD, dimana aku dan kawan guru rimba lainnya dari Warsi, Fery Apriadi, juga mengajar secara bergiliran di setiap rombong yang ada di hutan seluas 60.500 ha ini.

Tak mau kalah dengan anak-anak, Bepak Merato atau Melimun yang tengah menunggui anak bungsunya, Melewat (6) pun ikut bertanya. Sementara Tumenggung hanya senyum-senyum melihat saya diprotes anak-anak plus Melimun.

“’Buang’ yoya pakoi huruf w, Ibu. Aningkeh, Ibu, “Bu(w)ang!” Pakoi huruf w! Behelo anjing (‘Buang’ itu pakai huruf W. coba dengarkan ucapanku, ‘Bu(w)ang’),” ujar Mbayang (11). Perempuan berkemban ini terlihat sangat emosi. Suaranya keras seakan hendak mengabarkan pada alam Kejasung bahwa aku telah salah mengajarinya.

“Au, pakoi w segelo kato nioma (Ya, semua kata ini pakai huruf W),” tukas Ngarong (12), anak Tumenggung Meladang yang juga ketua rombong ini. Raut mukanya tampak kusut. Ia, seperti Mbayang tengah marah padaku.

“U(w)ang, beru(w)ang, tu(w)a, mu(w)at…Au, Ibu, segelo pakoi huruf w. Behelo anjing, ibu nioma lah saloh ngajorko kamia. Lah salahko kami nang bonor. Ta’un! (Uang, Beruang, Tua, Muat…Ya, semua kata ini memakai huruf W. Ya ampun, ibu telah salah mengajar kami. Ibu malah menyalahkan kami yang benar),” tambah Ngarong seraya garuk-garuk kepala yang berambut panjang.

Malam itu, suasana belajar di rombong yang jarak tempuhnya lebih dari 10 jam jalan kaki dari desa ini, ricuh gara-gara huruf W. Tak hanya Mbayang dan Ngarong yang marah padaku, tetapi juga Mlaro adik Mbayang, Merato (14) kakak Mbayang, Melewat adik Ngarong, serta anak-anak lain. Dalam benak mereka, aku menyalahkan apa yang mereka anggap benar. Penjelasan untuk satu kata inipun menjadi sangat panjang. Meski demikian, anak-anak ini tetap bersikeras bahwa kata-kata yang kuejakan harus memakai huruf ’W’!

“Eik, guru kamia lolo….(E, bodohnya guru kami)” ujar Merato padaku seraya tertawa.

Malam itu, pelajaran tidak dilanjutkan. Mbayang, Merato, Ngarong, Mlaro, Mbayung, Melewat, Misiwo, Betenggang, dan Besayung belum sepakat dengan cara penulisan kata-kata itu.

Kala induk-induk (ibu) yang selalu menunggui anak-anak mereka belajar pamit pulang, juga Tumenggung dan Bepak Merato, anak-anak mulai mengambil tempat untuk tidur. Kami tidur di rumah yang sama, rumah sekolah. Aku sendiri tidur paling pinggir di sisi selatan. Di sebelahku Ngarong, anak tertua Tumenggung Meladang.

Saat mataku hendak terpejam, Ngarong bertanya pelan, “Ibu, ngapo huruf-huruf yoya decampok? Ngapo kato iyoi hopi detulisko samo buiknye? Iyoi pengaturon nang muat urang padek, Ibu? (Mengapa huruf –w- itu dibuang? Mengapa huruf itu tidak dituliskan sama persis dengan bunyinya? Apakah aturan –penulisan- itu dibuat oleh orang yang pintar?)”

Merato, anak laki-laki bertubuh paling bongsor menyahut, “E, urang padek tukang muat kato nang bikin poneng kepalo…(Orang pandai pintar membuat kata-kata yang membuat kepala pusing).

belajar ayo belajar

belajar ayo belajar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: