Ketika Anak-Anak Rimba Bicara Soal Seks


Ibu lah tentu pamono urang nang bejuluk? (Ibu tahu bagaimana orang yang
sedang bersetubuh?).” Demikian pertanyaan seorang anak rimba,
Bekinya,13, kepadaku – guru yang selalu mengajarinya baca, tulis,
hitung. Saat itu kami tengah rehat belajar, dan sedang makan bersama di
tengah hutan, seperti biasa.

Pertanyaan itu tentu saja membuatku terperangah. Karena sepanjang aku
berhubungan dengan anak seusianya – yang bukan anak Rimba – aku belum
pernah diajui pertanyaan semacam itu. Bahkan oleh orang dewasa pun.
Karena bisa dipastikan dalam tataran nilai di masyarakat kita,
pertanyaan itu akan dinilai “sangat tidak sopan.”

Aku terdiam sejenak dan melihat enam muridku yang usianya 7-14 tahun itu
bergantian. Tidak ada satu pun dari mereka merasa aneh mendengar
pertanyaan Bekinya. Biasa saja. Aku pun kemudian menjawab singkat
pertanyaannya dengan sikap seolah biasa pula, “Belum”.

Kali ini, giliran Bekinya yang tampak terperangah mendengar jawabanku.
Lalu dengan nada prihatin dan serius dia berkata kepadaku, “guru-nya”.

Pamono todo kalu ibu ndok betuna kalu ibu hopi tentu pamono urang nang
bejuluk? E.todo ibu hopi tokang sebab hopi tentu pamono urang nang
bejuluk. Todo ibu sosot pula mompa urang nang hopi tentu jelon podoa
rimba. Haruynya ibu lagi belajor pamono urang nang bejuluk. Haruynya ibu
lah ngoli pula, lah nganing pula. Belajor sama rerayo sebab todo lagi
tokang kalu ibu lah betuna
..” (Bagaimana kalau nanti ibu menikah kalau
ibu tidak tahu bagaimana -cara- orang bersetubuh? E.nanti ibu tidak
bisa karena tidak tahu bagaimana orang bersetubuh. Nanti ibu akan
tersesat seperti orang yang tidak tahu jalan di rimba. Harusnya ibu
belajar bagaimana -cara- orang bersetubuh. Ibu harus belajar pada orang
tua. Harusnya ibu melihat atau mendengar. Belajar pada orang tua agar
mengetahuinya kalau nanti menikah).

Bekinya dan kawan-kawannya merupakan anak rimba dari suku asli
(indigenous people Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD)- yang biasa
disebut dengan Orang Rimba. Ia menjadi salah satu budak pelajoron
(murid) Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi di rombong (kelompok)
Ninjo di sungai Toruyon, TNBD, dimana aku dan kawan guru rimba lainnya
dari Warsi, Fery Apriadi, juga mengajar secara bergiliran di setiap
rombong yang ada di hutan seluas 60.500 ha ini.

Tentu saja celotehan Bekinya bukan sebagai ungkapan bahwa dia dan kawan-
kawannya telah terbiasa melihat atau melakukan hubungan seks, selayaknya
orang tua mereka. Keheranannya terhadapku – orang dewasa, dari luar
rimba pula- ternyata belum mempunyai pengetahuan cukup tentang seks
seperti yang dimaksudkannya.

Lalu, obrolan dengan tema “seks” ini mengalir begitu saja. Tidak ada
satu pun dari anak-anak ini menganggapnya sebagai “obrolan
porno”, “jorok”, atau mungkin “dosa”. Tidak juga ada kehebohan yang
diperlihatkan setiap kali kata-kata intim tersebutkan.

Saya pun akhirnya bertanya mengapa mereka sering sekali mengucapkan kata-
kata juluk (senggama), lulu (bau penis, bau sperma), genoh (air mani),
conggor (ereksi), atau mati pucuk (impotensi). Seorang anak malah merasa
lucu dengan pertanyaan itu. Karena itu hanya sebuah ucapan sambil lalu
saja, seperti bahasa gaul anak muda di luar mereka, semacam, “Payah
kamu!”, “Resek amat, sih,”.

Anak-anak rimba laki-laki tidak pernah dilarang menyebut kata-kata
tersebut. Mereka lebih bebas mengucapkannya dibanding perempuan. Anak-
anak perempuan atau perempuan yang belum menikah tabu menyebutnya.
Beberapa kata, seperti “olen” yang berarti enak, baik, bagus (makanan,
benda) akan berarti nikmat dalam bersetubuh jika diucapkan anak
perempuan dan perempuan yang belum menikah. Di beberapa rombong orang
rimba, kata-kata ini tabu diucapkan oleh anak perempuan dan perempuan
belum menikah. Ketika saya bertanya dengan menyebut kata-kata tersebut,
saya dianggap sumbang (tabu) “E.todo ibu kana cempolo mulut” (Nanti ibu
kena hukum norma susila), kata Berayat (12) dari rombong Meratai di
sungai Desa Buluh, Aek Behan, kepada saya.

Permasalahan dan perubahan-perubahan pada organ-organ tubuh tak jarang
menjadi bahan diskusi anak-anak. Bahkan dengan terbuka obrolan ini
mereka kemukakan tanpa malu meski ada orang-orang tua di dekatnya.
Betenda, salah satu murid saya yang masih berusia enam tahun pun sudah
tahu bahwa penis laki-laki mengalami ereksi setiap pagi. “Jenton nang
agak godong kalu hopi sakit pagi-pagi mansih klomon cicihnye terjego,
conggor, ibu. Tapi kalu kesakiton hopi tokang conggor. Jedi kalu hopi
sakit urangnya tiduk tapi cicihnye tejego dewe
(Laki-laki yang sudah
akil baliq jika sehat setiap pagi penisnya bisa ‘bangun’, ereksi, ibu.
Namun apabila sedang sakit, penisnya tidak bisa ereksi. Apabila sehat,
orangnya tidur tapi penisnya bisa berdiri sendiri).”

Jika anak-anak kota, bahkan yang sudah setingkat SMU malu-malu mendapat
pelajaran tentang alat-alat reproduksi, hal ini sangat berbalik dengan
anak-anak rimba. Anak-anak rimba tahu benar ada perbedaan organ-organ
tubuh antara perempuan dan laki-laki. “Betina yoya kalu lah agak godong
lamo-lamo susunye godong. Kalu lah kelapayon todo susu diminom budaknye
nang ebun. Kalu jenton hopi tokang godong, hopi kluor susu mompa betina.
Betina tokang tebiyek, jenton hopi tokang. Kalu jenton lah agak godong,
podoa temulukon ado bukubobulu, betina piado
(Perempuan yang mulai
tumbuh remaja lama-lama payudaranya membesar. Apabila nanti melahirkan,
susunya untuk diminum bayinya. Kalau laki-laki tidak bisa tumbuh besar,
tidak bisa memproduksi susu seperti perempuan. Perempuan bisa
menstruasi, laki-laki tidak bisa. Kalau laki-laki mulai tumbuh besar, di
leher muncul jakun, perempuan tidak ada).”

Menstruasi yang hanya terjadi pada perempuan juga diketahui oleh anak-
anak, baik perempuan maupun laki-laki. Mulau (6) misalnya,
mengatakan, “Kalu betina tebiyek, derohnye kluor podoa bilak. Lamonye
ado lima malom sampoy enam malom. Ado pula nang porutnye kesakiton mompa
urang merancong
(Kalau perempuan sedang menstruasi darahnya keluar lewat
vagina. Lamanya sekitar lima sampai enam malam. Ada juga yang sampai
perutnya terasa mulas seperti orang yang sedang diare).”

Anak-anak rimba ini juga bercerita, perempuan rimba yang sedang
menstruasi tidak pernah memakai kain atau sejenis pembalut untuk
menampung darah menstruasinya. Darah dibiarkan mengalir begitu saja
hingga kain penutup tubuhnya terkena darah. “Kalu deroh lah benyok kana
koin, koin yoi dibesuh
(Kalau darah sudah banyak mengenai kain maka kain
tersebut dicuci),” kata Perbal (6).

Tanpa rasa segan pula anak-anak bercerita pada saya bahwa mereka secara
tak sengaja pernah melihat atau mendengar orang tua mereka bersetubuh.
Hal ini kemungkinan besar terjadi karena rumah orang rimba pada umumnya
tidak berdinding, hanya berpapan kayu dan beratap terpal. Anak-anak
rimba ini juga tidak segan-segan menceritakan telah beberapa kali
mendengar pasangan yang bersetubuh di semak-semak pada siang hari,
sehingga mereka menghindari untuk berjalan ke arah suara.

“Kalu siang rerayo nang bejuluk nye duwo nyuduk podoa somok jedi hopi
tekoli. Tapi akeh betik pula nganing buinya. Jedi akeh hopi jedi
bejejelon podoa kiyun ngambik manau. Ado pula nang sobut ndok bemalom.
Tapi kamia lah tentu pula apo maksud nye duwo ndok bemalom. Rerayo yoya
ndok bejuluk
(Kalau siang orang tua yang sedang bersetubuh biasanya
bersembunyi di semak-semak jadi tidak terlihat. Tapi saya sering
mendengar suaranya. Jadi saya tidak jadi berjalan ke arah sana untuk
mengambil rotan. Ada juga yang pergi bermalam dan kami tahu maksudnya
bermalam. Pasangan tersebut hendak bersetubuh),” ujar Tembuku (15).

Tembuku, Bekinya, Nyerto, Bekangga, Beteduh, Sergi dan beberapa anak
rimba lainnya mengatakan sering mendengar, sesama orang tua saling
bercerita tentang persetubuhan dengan pasangan masing-masing. “Kami
biaso nganing rerayo nang bececakop mompa yoi. Sebab pay bececakop kamia
ado pula. Nye hopi kememaluon
(Kami biasa mendengar orang tua yang
bercerita seperti itu sebab ketika bercakap-cakap kami ada di sana.
Mereka tidak malu).” Para orang tua saling bercerita tanpa rasa sungkan
didengar anak-anak mereka. Bahkan adakalanya pasangan yang baru menikah,
terutama laki-laki menceritakan pengalamannya kepada anak-anak tanpa
malu-malu pula.

Tetap menjaga adat dan norma
Seperti itulah “seks” dibicarakan dalam rimba sana. Berbagi pengetahuan
dari ‘orang-orang yang telah berpengalaman’ pada anak-anak menjadi salah
satu pintu pendidikan seks bagi anak-anak rimba. Komunikasi yang
dibangun orang tua kepada anak-anaknya mampu memberikan gambaran jelas
bagaimana kelak anak-anak tersebut harus bersikap ketika belum, akan
atau telah menikah.

Kendati anak-anak rimba sudah paham tentang seks, namun bukan berarti
kehidupan mereka bebas tanpa norma-norma. Orang Rimba sangat menjaga
nilai-nilai kearifan adatnya. Anak-anak dari kecil sudah dididik untuk
tidak melakukan perbuatan tercela, mengintip misalnya. Norma-norma yang
berlaku sangat ketat mengatur seseorang untuk tidak berbuat tercela.
Mengintip orang koncing (kencing), cibuk (mandi), tebingguk (buang air
besar) sangat dilarang. Bahkan seseorang (laki-laki) yang tanpa sengaja
melihat perempuan yang sedang mandi, kencing, atau BAB bisa terkena
denda jika perempuan tersebut merasa terganggu dan mengadukannya pada
ketua rombong. Dengan besesalung (berteriak) sebelum dan selama mandi,
kencing atau BAB akan mencegah seseorang untuk melewati lokasi tersebut
sebelum orang itu selesai berhajat.

Meskipun laki-laki hanya memakai cawat dan perempuan memakai kemben
(kain), bahkan setengah telanjang (untuk yang telah menikah) mereka
tidak boleh bertindak sekehendak hatinya. Laki-laki misalnya, tidak
boleh sembarangan main mata atau berbicara tidak senonoh terhadap
perempuan. Anak-anak pun baik perempuan maupun laki-laki, dari kecil
telah dididik untuk bisa menghargai satu dengan lainnya.

Dalam sejarah di rimba TNBD pun belum pernah ada cerita bahwa ada kasus
pemerkosaan yang dilakukan Orang Rimba dengan Orang Rimba atau Orang
Rimba terhadap Orang Luar. Yang pernah terjadi, justru Orang Luar pernah
satu kasus memperkosa perempuan Rimba. Orang Rimba sangat keras terhadap
hal-hal pelecehan seksual atau kekerasan seksual terhadap perempuan..

Pengetahuan seks yang dimiliki anak-anak rimba maupun pemuda-pemuda
Rimba yang beranjak remaja dan dewasa juga tidak membuat mereka tergoda
untuk melakukan seks bebas. Mereka memilih cara “satria” ketika merasa
menaruh hati dengan gadis pujaannya, yaitu dengan besemendo.

Besemendo, adalah dimana sang pemuda Rimba harus tinggal bersama
keluarga perempuan yang disukainya. Selama tinggal di sana dia harus
menunjukkan kecakapan kemampuan dirinya sebagai Orang Rimba “sejati”.
Dia harus menunjukkan kemampuannya berburu binatang di hutan untuk
dijadikan santapan keluarga besar si gadis, misalnya. Jika tidak (atau
hasil buruannya sedikit), maka iparnya akan mengejeknya dengan
kata, “Hopi tokang cari louk”. Ini bisa saja berakhir pada penolakan
lamaran. Kadang semendo bisa terjadi hingga tahunan, tergantung
bagaimana perempuan dan keluarga perempuan menilai kemampuan sang
pemuda. Tapi demikianlah “gaya” kawula muda Rimba dalam mengejar gadis
impiannya. Bukan rayuan untuk mengajak sang gadis berasyik-mansyuk,
karena itu sangat terlarang. Apalagi mengajaknya “jalan-jalan sore”
keliling rimba (Marahalim Siagian : Konservasi Hutan Bersama Orang
Rimba, Sebuah Catatan Pendampingan. USU Press. April 2003).

Namun, ada beberapa kelompok Orang Rimba yang membuat aturan “semendo”
menjadi ringan. Ini disebabkan toleransi yang diberikan orang tua kepada
anak mudanya yang semakin intensif menerima pengaruh dalam berbagai hal
dari luar rimba. Termasuk pengalaman mereka ketika melihat bagaimana
perkawinan dilakukan di luar komunitasnya (Melayu-Jawa), di dusun yang
bisa berlangsung singkat, praktis serta cepatnya proses yang dilalui.

Banyak pula kini pemuda Rimba berusaha menghindari semendo, misalnya
dengan sengaja melanggar adat yang menurut ukuran pergaulan anak kota
adalah bukan kesalahan besar. Misalnya saja memegang tangan perempuan
yang dicintainya dalam perjalanan di hutan menuju kebun kelompok yang
berdekatan untuk mencari tebu. Dalam kejadian lainnya, seorang pemuda
rimba dinikahkan karena menjatuhkan jamnya dari atas pohon dan mengenai
perempuan yang kemudian mengambil dan memakaikannya. Lebih ekstrem
adalah ketika seorang pemuda rimba sengaja membawa lari seorang gadis
agar bisa segera dinikahkan dengan gadis tersebut hanya karena ia telah
tiga kali ditolak semendo.

Sanksi yang dikenakan bagi pemuda Rimba yang berani melanggar adat ini
tentu saja cukup berat dirasakan. Terutama bagi keluarga besarnya.
Terutama rasa malu, karena perkara ini digelar secara terbuka (antara
kelompok Orang Rimba), yang perkaranya diputuskan oleh seorang penghulu.
Banyak hal perkara serupa lainnya yang kemudian diputuskan dengan sanksi
yang disesuaikan dengan kadar kesalahan si pelanggar dari pemuda Orang
Rimba.

Demikian cara-cara Orang Rimba menerapkan adat dalam menata tata nilai
pergaulan anak-anak mudanya. Pengetahuan mereka terhadap seks sejak di
usia dini, tidak membuat anak-anak rimba baik yang kecil, remaja dan
pemudanya, mengeskpresikan seks dengan cara yang salah atau salah kaprah.

Memberikan pengetahuan seks sejak dini pada anak-anak ternyata lebih
bermanfaat dibanding anak-anak kelak harus belajar sendiri. Orang tua
tak perlu malu-malu menjelaskan pengetahuan tentang seks kepada anak-
anak. Orang rimba telah membuktikannya dengan bersikap sangat terbuka
pada generasi mudanya. Anggapan bahwa seks merupakan satu hal memalukan
sehingga harus ditutup-tutupi tidak akan lantas mampu membendung rasa
keingintahuan anak-anak untuk mencari tahu. Jika dibiarkan bisa jadi
anak akan mendapatkan informasi dari orang yang tidak tepat, bahkan di
tempat yang salah. Ini malah akan menjerumuskan sang anak pada
pengetahuan seks yang salah. Seks, bersetubuh dengan pasangan merupakan
bagian dari hidup makhluk hidup termasuk manusia. Seks merupakan pintu
bagi makhluk hidup untuk regenerasi agar tidak mengalami kepunahan. Anak-
anak sebagai generasi penerus pun berhak mendapat pengetahuan secara
wajar sebagai bekal untuk hidupnya dimasa mendatang tentang arti penting
peranan seks dalam arti yang positif.

Sebagai guru di rimba, kadang justru saya berguru dengan anak-anak rimba
atau kehidupan Orang Rimba. Kehidupan berkeluarga Orang Rimba, ternyata
cukup demokratis. Sayangnya percakapan asyik kami tentang “seks”, harus
terganggu dengan bunyi chainshaw yang membelah rimba. Tidak lama
kemudian, suara pohon tumbang pun bunyi berdebam.

Baik, kini giliran saya mengajarkan kepada anak-anak rimba tidak hanya
baca, tulis, hitung, tapi tentang arti hutan bagi hidup dan kehidupan
mereka. Agar mereka bisa terus berdiskusi dan membahas apa pun di dalam
rimba, tanpa diganggu bunyi chainsaw dan pohon-pohon besar yang
terserabut dari karnya. (Tulisan ini telah diterbitkan oleh harian
KOMPAS – Sabtu (27/8/2005). Namun karena untuk kepentingan halaman koran
tersebut, ada beberapa bagian terpotong. Artikel ini adalah versi
lengkapnya).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: