Ketika Orang Rimba Menyentuh Teknologi Modern


Ringtone sms berbunyi, tanda ada sms masuk. Sebuah nomer tak dikenal.
+6285266877..
09/04 07:16
Pesan.darih.
tembuku.akeh.
rinduh.

He’eh! Terkejut bukan main saya. Antara percaya dan nggak tapi itulah yang saya baca di layar handphone. Eik, Tembuku (13), anak rimba yang tinggal di rombong (kelompok) Ninjo di Sungai Toruyon, Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, ini sudah kenal handphone? Handphone miliknya sendiri atau milik orang desa?

Beberapa hari kemudian ringtone sms kembali berbunyi. Aiy, nomer asing siapa lagi nih.
+6213660268..
11/04 11:38
HALO APA KABAR? SAYA
SUDA RINDU PADA KAMU
KARNA SUDA LAMO HOPI
KETEMU KANTI-JUJUR

Ta’un, semakin tak percaya rasanya. Kini Jujur (12) yang mengirim sms. Tembuku dan Jujur merupakan indeginous people yang pernah mengikuti pelajaran baca tulis hitung (BTH) sederhana bersama saya dan Fery Apriadi (kawan sesama guru rimba KKI Warsi) sejak awal tahun 2005 silam. Bersama Berayat (14), Nelikat (11), Bekinya (12), Sergi (15) dan beberapa anak rimba potensial lain, Tembuku dan Jujur kini telah menjadi guru kepada sesama Orang Rimba. Bahkan Jujur telah menelorkan sebuah buku dongeng rimba “Kisah-Kisah Anak Rimba” bareng Ejam, Lincak, Berayat dan kader termuda, Nelikat.

Ketika saya berpamitan di akhir 2006 untuk kembali ke tanah Jawa, mereka belum mengenal handphone, apalagi memilikinya. Komunikasi antara saya dan mantan murid-murid saya tetap terjalin melalui surat. Tak pelak, untuk menulis atau membalas surat bebudak (anak-anak rimba) saya menulis hingga berhari-hari karena mereka lebih suka membaca tulisan tangan. “Kalu tuliyon mumpa podo buku ake hopi pecayo yoya surat ibu’a (Kalau tulisannya seperti tulisan di buku cetak –tik komputer- saya tidak percaya apakah itu benar tulisan ibu),” kata Begendang dalam suratnya.

Surat manual, selain lama menulis juga lama nyampeknya. Apalagi jika tidak saya alamatkan pada lembaga tempat saya bekerja dulu. Yakin tidak bakal sampai! Tak mungkin to, mengirim surat untuk Bedewo (7), Sekola (8), Nuduh (8), atau Njerupih (6) hanya dengan alamat “Belukor Sejelai, TNBD”? Dimanakah itu? Wong petugas kehutanan saja ada yang tidak hafal lokasi atau jalan masuk ke suatu rombong Orang Rimba, sekalipun itu masuk wilayah kerjanya.

Saya ingat betul ketika di satu wilayah marak illegal logging dan saya sempat keceplosan mengatakannya, e, pegawai negara yang dibayar untuk mengawasi Taman Nasional itu malah balik bertanya, ”Sungai Desa Buluh tuh dimana?” Chacam ta’un, nye hopi tentu! (Ya ampun, dia tidak tahu), kata saya dalam bahasa rimba.

Jangankan berkirim surat pada Orang Rimba yang beralamat di TNBD yang memiliki luas 60.500 ha ini. Mencoba berkoresponden dengan anak-anak di desa penyangga pun surat saya hilang jejak. Padahal surat itu saya alamatkan di sekolah, lengkap RT RW, nomer, dan nama jalannya.

“Memang harus diambek di kecamatan, Yuk. Tapi sayo lah tigo kali tibo di kecamatan tapi dak do jugo surat dari ayuk,” kata Minah remaja desa Jernih, kecamatan Air Hitam. Padahal untuk ke kecamatan, remaja SMU ini harus bangun pagi karena angkot menuju ke kecamatan hanya ada di waktu subuh.

Surat untuk Orang Rimba maupun surat balasan mereka untuk saya biasanya dititipkan pada kawan-kawan yang masih bekerja di lembaga tempat saya bekerja dulu, KKI Warsi. Itupun kadang tidak sampai karena anak-anak ikut melangun, yaitu pergi ke suatu wilayah sebagai ungkapan rasa sedih dan duka akibat ada kematian anggota rombong. Lokasi baru yang kadangkala belum sempat diketahui ‘si tukang pos’.

Tanpa ‘tukang pos spesial’ ini tidak mungkin surat balasan sampai ke tanah Jawa. Meski mungkin, sangat tidak masuk akal bagi Orang Rimba mengeposkan surat ke kota kabupaten. Cukup Anda bayangkan saja. Orang Rimba harus keluar rimba menuju desa lalu naik ojek selama berjam-jam. Pengalaman saya, empat jam hanya untuk berangkat dengan tarif termurah Rp.50.000, itupun harga dua tahun lalu. Pulangnya belum tentu mau Rp 50.000, kecuali tukang ojeknya adalah yang kita ‘pake’ saat berangkat. Ya, dia kan sekalian pulang. Kalau tidak ingin mahal, sebelum subuh harus siap nongkrong di desa menunggu angkutan menuju ke kota kabupaten. Ongkos kirim surat menjadi sangat tidak seimbang dengan biaya transportasi, waktu dan jarak tempuh. Ah, mungkin itu juga alasan pos tidak sampai di desa-desa pinggiran rimba!

Motor naik orang
Arus perubahan tidak seorangpun bisa menghalangi, tak terkecuali Orang Rimba. Melalui interaksi dengan Urang Meru atau Urang Terang (orang di luar komunitas Orang Rimba) mereka mengetahui berbagai peralatan modern yang sebelumnya tidak pernah ada di rimba. Tape dan televisi misalnya, lebih duluan dikenal Orang Rimba sebelum mereka mengenal sepeda motor atau handphone. Tape bisa dibeli dengan harga terjangkau di setiap hari pasaran. Sedangkan pesawat televisi, sebelumnya mereka kenal dari mengintip di jendela atau pintu orang desa.

Ketika uang ada di tangan dan ada keinginan untuk memiliki, si kotak ajaib bisa masuk rimba. Bepak Bejoged pun pernah memilikinya. TV 14 inch dibawanya masuk rimba yang memakan waktu sedikitnya empat jam berjalan kaki dari desa terdekat. Jangan tanya apakah ada listrik di rimba, tentu saja tidak ada. Wong di desa penyangga saja hingga kini belum ada listrik, apalagi di belantara rimba! TV dinikmati dengan menggunakan accu. Acara TV adalah lagu-lagu yang disetel melalui VCD/DVD. Tanpa parabola mustahil acara TV yang beragam itu bisa dinikmati, begitu pula masyarakat desa penyangga. Tapi dasar belum pernah punya TV, saking senangnya seharian melototin TV, tidak jarang malah gantian TV menonton orang ketiduran. Hanya satu bulan dinikmati, jebol juga. “Lah sodah rosak (sudah rusak),” kata Begenje (13), anak Bepak Bejoget.

Lagu dangdut, pop melayu hingga musik ajep-ajep ala diskotik menjadi lagu kesukaan Orang Rimba. Bahkan ketika lagu “Bang, SMS Siapa” boom di Jakarta dan kota-kota di Indonesia, lagu itu sudah basi di kalangan Orang Rimba. Kucing Garong juga sempat ‘in’ di kalangan Orang Rimba. Semua serba Kucing Garong.

Seperti tape dan televisi, sepeda motor kini sangat mudah dimiliki. Bahkan ada tawaran bisa langsung dibawa pulang tanpa harus pakai uang muka. Belum bisa mengendarai pun jika ada keinginan memiliki boleh juga mengkredit sepeda motor. Beberapa Orang Rimba telah memilikinya. Malah, Tumenggung Marituha yang bersama anggota rombongnya dulu terkenal konservatif dan menutup diri terhadap program pendidikan, telah memiliki tiga buah sepeda motor. Lantas garasinya dimana? “Akeh campok podo urang dusun nioma…(saya titipkan di rumah orang desa ini),” ujar Tumenggung di wilayah Terap ini.

Sepeda motor oleh Orang Rimba umumnya dimanfaatkan untuk mengangkut hasil hutan non kayu seperti karet, damar, atau binatang buruan. Hasil panenan mereka itu biasanya mulai dinaikkan sepeda motor dari desa atau ladang karet penduduk desa di luar rimba. Dari rimba tetap didukung

(digendong dengan tas rimba) atau dialirkan di sungai.

Namun, tak jarang pula sepeda motor dipakai untuk sekedar jalan-jalan dari desa ke desa, atau menuju satu desa dimana hari pasaran sedang berlangsung. Ketika masih senang-senangnya punya sepeda motor baru, setelah puas jalan-jalan di desa, Tumenggung Marituha membawanya masuk rimba.

Aiy, bepak a nyombong bae (Ah, bapak bercanda)!” Bagiku, perkataannya sangat tidak masuk akal. Bayangkan, sepanjang jalan di rimba hanyalah jalan setapak sempit dan berkelok. Keduanya sisinya hanyalah semak yang terkadang penuh duri. Tak jarang pula, pohon yang rubuh melintang di jalan setapak. Untuk melewatinya tentu badan kita harus dibungkukkan sejenak seperti masuk gua yang sempit. Sangat tidak nyaman sekalipun yang melaluinya seorang perally sejati! Apalagi jalan menuju Sungai Terap tempat rombong Marituha berada harus ditempuh dengan mendaki bukit menjulang.

Tukang lah, Ibu. Kamia dukung motor yoya. Motor noik podo awok’a. Jedi motor noik podo urang, bukon urang noik motor (Ya bisa lah. Motor itu kami gendong. Motor naik ke tubuh saya. Jadi motor naik orang, bukan orang naik motor),” ujarnya terkekeh. Giginya yang ompong tampak semua. Saya sendiri hanya bilang, “Bahelo anjing (Ya ampun)!”

Kala pak Polisi kena batunya
Motor mudah dimiliki tetapi surat-surat seperti SIM dan STNK tidak wajib ada. Bagi polisi yang suka main peluit sembarangan untuk menambah gaji bulanan bisa kena batunya jika asal main tilang Orang Rimba.

Suatu hari seorang polisi menghentikan laju sepeda motor yang ternyata pengendaranya Orang Rimba. Saat polisi menanyai kelengkapan surat-surat, apa jawab Orang Rimba? “Akeh nioma moli motor bukon moli surat. Apo yoya cuma kertay bae. Akeh pindok moli kertay (Saya ini beli motor bukan untuk membeli surat. Apa, surat kan cuma secarik kertas. Saya nggak mau beli kertas)!”

Tapi dasar nafsu untuk mendapatkan uang tambahan tetap membara, si polisi ngeyel. Apa nyana, si Orang Rimba tidak terima dan malah memperkarakannya secara adat. Pak Polisi akhirnya justru harus membayar kenekatannya dengan beberapa keping (lembar) kain sebagai denda. Alasannya, bepak pelisi telah menghambat laju motornya.

Tak melulu buruk
Seperti dua sisi mata uang logam, teknologi mengandung sisi positif dan negatif bagi Orang Rimba. Alat-alat berteknologi canggih asalkan digunakan untuk hal-hal positif tentu akan sangat bermanfaat bagi kehidupan mereka. Apalagi laju deforestasi terus membabat rimba genah penghidupon (tempat hidup) kaum marginal bercawat dan berkemban ini.

Handphone misalnya, ketika Orang Rimba memilikinya tidak selalu buruk seperti perkiraan para peneliti atau pengamat suku-suku pedalaman. Beberapa rerayo (orangtua) yang mempunyai handphone mau belajar BTH kepada anak-anak mereka yang telah memiliki kemampuan BTH. Selambai, Tumenggung Nggrip dan Njalo adalah contohnya. Dengan tekun dan sabar, mereka meminta Sergi dan Jujur mengajari membaca dan menulis tanpa malu-malu.

I’ai, kememaluon punya hp tapi piado tukang baco. Ado nang telpon hopi tentu siapo nye nang telpon sebab hopi tentu tuliyon nang telpon yoi siapo. E, kalu ado depotko es-em-ey hopi tukang baconye. Ndok kirimko es-em-ey piado tukang pamono nuliynye. Chacam, kememaluon kamia (Yek, malu lah punya hp tapi nggak bisa baca. Ada orang yang menelpon, kita tidak tahu tulisan –di layar- siapa yang menelpon. E, kalau mendapat sms tidak bisa membacanya. Mau kirim sms juga tidak bisa menulisnya. Ampun, malu lah),” ujar Tumenggung Nggrip saat menelponku.

Lebih jauh lagi, “Kalu tukang baco tuliy yoya kalu ado surat-surat mumpa surat perjanjion atau apolah kamia tentu maksud surat yoya (Jika sudah bisa membaca dan menulis, apabila ada surat-surat penting kami mengerti apa isi surat tersebut).” Ungkapan ini tentu saja diluar dugaan banyak kalangan yang berkecimpung dengan Orang Rimba.

Meski demikian, tidak semua Orang Rimba yang memiliki handphone mau belajar BTH. Becayo dari rombong Celitay salah satunya. Ia PD-PD aja menenteng handphone sekalipun tidak bisa BTH. Untuk urusan tulis menulis dan membaca, ia mengandalkan bebudak nang tukang (anak-anak yang bisa) BTH. Dan untuk sekedar menelpon pun sejauh ini tidak ada masalah baginya. “Numor mikay ado podo pencet ke tiga belay (Nomermu ada di pencetan ke 13).” Daya ingat yang kuat menjadi andalan bagi Orang Rimba yang memiliki handphone tetapi buta BTH.

Sebagai ‘mantan guru rimba’, melalui alat imut ini pun saya masih bisa memantau perkembangan kemampuan BTH, terlebih kemampuan memahami suatu kalimat anak-anak rimba. Apakah ‘nyambung’ dengan apa yang saya maksud atau tidak. Layar kecilnya ini selain untuk menanyakan kabar “Apo genah ibu kana banjir (Apakah rumah ibu terkena banjir)?”, ia juga berfungsi sebagai ajang bercerita.

“Jika aku ada kesempatan akan kutulis tentang kami kemah yoi. Tapi mungkin aku tidak lagi ikut kalu mansi ada kemah. Kalu mumpa buang air besar atau air kecil susah. Waktu nio ake hopi suka,” tulis Bekinya dalam layar mini sepulang kemah di Hari Pramuka beberapa waktu lalu. Ia berkisah, ajakan kemah seorang guru SD itu menyulitkannya mencari tempat aman dan nyaman untuk tebingguk dan koncing (Buang Air Besar dan kencing).

Aiy, mengapa Bekinya dari tadi hanya miscall-misscall saja. Ah, sebaiknya saya coba menelpon balik. Chacharapi buek apo yoya (Ya ampun tersambung lagu apa ini)? “Aku mau makan, kuingat kamu…Aku mau tidur, juga ingat kamu. Aku mau pergi…”

Behelo makon anjing, mbak Maia sudah sampai Bukit Duabelas! Hem!!!

versi yang belum diedit di majalah Intisari awal tahun ini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: