Kuterkunci


Pukul 02.27 WIB sekarang. Itu artinya hari kerja telah ganti. Beberapa jam yang lalu masih tanggal 23 Mei 2009. Hari ini, aku dan kawan-kawan youth project pulang lebih dini ketimbang hari sebelumnya. Pelatihan manajemen organisasi bagi pemuda-pemudi di hari kedua, di desa Ie Merah, kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan, lebih ’tepat waktu’ dibanding hari pertama. Di sini ukuran molor setengah jam masih dianggap tepat waktu. Tapi lumayan daripada dua hari lalu, acara molor hingga hampir satu setengah jam. Itupun harus dimulai dengan sambutan oleh pak geuchik alias kepala desa. Lalu diteruskan koordinator, kemudian ditutup doa. Beruntung pak tengku imum chik tidak masuk ’daftar’ mata acara untuk memberikan kata-kata sambutan. Kalau ia juga diberi porsi, tak tahu lah acara akan dimulai jam berapa (lagi).

Pagi ini, sampai rumah ’baru’ pukul 01.15 menit. Kemarin sore saat masih di kantor, mbak Rita kuberitahu agar pintu depan tidak usah dikunci slot seperti pagi sebelumnya. Daripada kuketok jendelanya untuk membukakan pintu, lebih baik dikunci saja. Dan kunci harus dicabut dari lubangnya.

Pada jalan kelokan terakhir menuju mess di Lhok Keutapang, lampu rumah lantai atas masih terang. Lampu kamar mbak Nur dan mbak Rini, yang dulu jadi kamarku, masih menyala. Jendela di atas tangga yang ditutup kertas minyak warna hijau juga masih menegaskan, lampu ruang santai di depan kamar mbak Elis-aku dan kamar mbak Nur-mbak Rini masih ada kehidupan. Mungkin! Driver yang mengantarku pulang, bang Asri mengatakan, ”Sudah tidur atau masih ngobrol orang itu? Lampunya masih terang.”

Sekian menit kemudian, setelah berputar seperti huruf U, kami sampai mess juga. Seperti biasa, pintu pagar berderit karena karatan. Bang Asri menunggu di belakang setir mobil hingga aku masuk rumah. Seperti biasanya. Ternyata lampu ruang tengah lantai bawah masih benderang pula. Bahkan gordennya belum ditutup.

Kunciku lolos membuka pintu. Senang, tidak mengganggu nyenyak tidur mbak Rita, pikirku. Tapi berbarengan saat kutarik pegangan pintu (namanya apa ya?) ke arah bawah, pintu juga dibuka dari arah dalam. Mustika ternyata masih belum tidur. Laptopnya masih menyala. ”Lembur, Ka?” tanyaku. Lalu ia malah menawarkan ”Mau teh, mbak,” saat aku menaiki anak tangga.

Ruang santai di lantai atas telah senyap ternyata. Pintu kamar mbak Nur-mbak Rini dan pintu kamarku-mbak Elis telah tertutup rapat.

Panas lagi malam ini. Hawa dingin hanya kunikmati empat hari persis beberapa minggu lalu. Itupun karena hujan ngriwis turun tanpa henti. Setelah hujan berhenti, ya seperti pagi ini, panas dan membuat badan kegerahan.

Setelah tangan terbebaskan dari membawa laptop dan jaket, kukerjakan rutitas jelang tidur. Menggosok gigi, cuci muka, bersihkan tangan dan kaki, lalu ganti baju. Kupilih daster warna hitam yang dulu dibelikan oleh mbak Sana, saat kami masih bertugas di Jambi. Bahannya yang dingin semoga membantuku bisa secepatnya tidur nyenyak. Apalagi daster ini juga tanpa lengan.

Kujinjing laptop untuk disimpan dalam kamar. Meskipun reputasi kota kecil ini dikatakan aman dari tindak pencurian, tak berani kutinggalkan alat kerjaku ini di ruang santai. Apalagi di beberapa jendela tanpa trellis ini, rusak kuncinya. Kuingat handphone, perlu dibawa agar nanti kalau bangun bakal tahu, ”Jam berapa sekarang.” Tidak ada jam dinding atau jam jenis apapun di dalam kamar.

Kreg. Kreg.. Alamak, mbak Elis mengunci pintu dari dalam. Tumben-tumbenan nih! Bisanya pintu kamar hanya ditutup tanpa dikunci. Kreg. Kucoba lagi tapi tetap tak bisa. Ouw, malam ini tidur di ruang tengah aku!

Pagi sudah larut, untung kasur ’bekas’ yang sudah tidak dipakai mbak Elis ditaruh di kamar tengah. Bentuknya sudah tidak layak pakai karena pada bagian tengah telah mengempis. Jika dilihat dari sisi samping, bentuknya mirip kapal. Melengkung di sisi atas dan bawah.

Walah, nyamuk ngang nging ngung banyak juga. Satu-satunya jalan untuk menghindarinya adalah dengan berselimut. Lalu, aku harus berselimut apa yah? Ternyata di ruang santai ini angin lumayan kenceng. Maklum, rumah pinggir laut. Samudra Hindia pula!

Beruntung sepreiku ada yang bersih. Bisa dipakai untuk selimut. Namun, inipun seperti makan buah simalakama. Jika seprei kupakai untuk selimut, tentu kasur yang kupakai ini tanpa seprei. Kasar rasanya dikulit. Tapi tak mengapa lah daripada dihurung nyamuk!

Mencoba tidur, tapi kok sulit juga. Padahal semua lampu sudah kumatikan, termasuk lampu balkon yang cahayanya masuk ke ruang tengah. Selimut jarikku, juga gulingku ada di dalam kamar. Iya, bakal sulit tidur tanpa guling di antara pahaku. Posisi tidur yang kusuka adalah miring atau tengkurap. Pada posisi tengkurap, tangan kanan atau kiriku biasanya tetap merangkul guling. Sedangkan posisi miring, guling paling asyik ada di antara pahaku. Jika ia ada, tidak ada yang bakal tersakiti. Maksudnya?

Wew, salah satu dengkulku bagian dalam, berada di posisi bawah saat tidur, pasti bakal biru lebam. Selalu begitu jika dengkul bagian atas tidak disangga oleh guling. Kata kawan-kawan, ”Tulang ketemu tulang,” bisa bikin sakit juga.

Woalah, begitu juga dengan dengkulku. Tulang ketemu tulang! Tidur miring tanpa guling, bangun tidur pastilah ada bulat biru di dengkul bagian dalam. Persis jika kupaksa tidur di lantai yang hanya beralas tikar, bakal sakit badanku pas bangun. Ngethok-ngethok, orang Jawa bilang. Hhmmmm, susahnya jadi orang kurus!

Mbak Elis, bukain pintu dongggg……………..

Lantas, apa yang harus kulakukan sekarang?
Tutup laptop ini, lalu bergegas berbaring.
Selamat tidur Ninuk…
Selamat berkawan dengan nyamuk (lagi)…
Minggu, 24 Mei 2009. Pukul 03.09

jendelaku

jendelaku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: