Meski Hanya Seekor Tikus…


Juli 2006..

Dingin terasa menggigit hingga ketulang malam itu. Aku hanya berselimut sarung tipis seperti Mulau (6), Bekangga (13), dan Bekinya (13). Tembuku mengenakan kaos kusam berwarna kuning. Ia bercawat seperti anak-anak lain. Tangannya bersedekap menahan dingin tapi tetap enggan mengenakan kain jaruknya yang bermotif bunga-bunga besar. Sedangkan Begendang (7) berbalut kain jarik milik neneknya. Cukup hangat ditubuhnya yang kecil.

Rumah sekolah hanya diterangi lampu teplok berukuran paling kecil. Di desa-desa sekeliling rimba, harganya Rp. 3.500,- kala itu. Kaca semprongnya sengaja ditinggal di desa. Takut kalau-kalau malah pecah jika dibawa ke rimba. Juga takut kalau nantinya malah pecahannya melukai Orang Rimba yang tidak mengenakan selop (sandal). Minyak tanah hanya diisi seperempatnya. Maksudnya, jika kami kelupaan mematikan lampu sebelum tidur, lampu mati sendiri kehabisan minyak atau tidak menyala sampai pagi.

Sekeliling hanya kelam. Hitam pekat. Sesekali pohon-pohon terlihat seperti bayangan hitam tegak tatkala kilat di langit memantulkan cahayanya. Rintik gerimis masih terasa menitik di atap plastik hitam rumah sekolah kami. Terdengar lembut. Jika angin berhembus, air di dedaunan seperti dipaksa turun menimbulkan suara kemeresek di atap. Tidak ada kunang-kunang singgah mendekat pondok kami malam itu. Jika hari cerah, ia berkelap-kelip indah di gelapnya malam. Kadangkala, aku iseng mengejarnya hingga masuk ke sungai-sungai kecil. Ya, kunang-kunang suka menyembunyikan dirinya di dedaunan pinggir sungai.

Belum juga Tembuku (14) menyelesaikan kisahnya bertemu hantu ketika bejernang (mengambil buah jernang) di muara sungai Desa Buluh, di balik rerimbunan semak yang gelap terdengar suara “Krek…krek…krek….” Suaranya persis di arah timur rumah sekolah.

“Buek apo yoya (Bunyi apa itu)?” kata Mulau. Tangannya spontan menutup buku tulis yang diletakkan di pahanya. Pena diselipkan di tengah buku.

“Senter! Senter! Mono senter a? Doroi (Senternya mana? Cepat)!” bentak lirih Tembuku.

Aku bergidik ketakutan. Jangan-jangan hantu beneran, batinku. Asem, gara-gara Tembuku bercerita hantu, sesalku.

“Doroi (Cepat)!” teriak Tembuku lagi. Ia jongkok di pinggiran ‘lantai’ rumah. Tepat di glondongan kayu terluar.

“Behelo, jengon buek amot (Ya ampun, jangan keras-keras ngomongnya)!” bisik Bekinya. Ia bersama aku, Bekangga, Mulau, Begendang masih sibuk mencari senter. Aiy, nyelip dimana makhluk bernama senter ini?

Suara itu masih terdengar jelas di balik semak. Senter diberikan pada Tembuku. Mulau hendak turun tapi dicegah Bekangga.

“Sigi kiyun, Guding (Senter ke sana),” ujar Bekinya lirih.

“Yoi, yoi! (Itu, itu)” telunjuk Bekangga mengarah ke semak. Ada kilatan bulat berukuran kecil ketika senter memutar agak ke arah bawah.

“Mono….Apo….Piado (Mana? Apa? Tidak ada),” mata Tembuku terlihat mencari-cari sesuatu.

Aku sangat tegang. Apalagi aku berada di pinggir, paling kanan menghadap ke arah timur. Hantu atau merego (harimau) kah? Mati aku! Sama menakutkannya di rimba ini. Ah, ini mungkin akibat kakak-kakakku yang waktu kukecil selalu menakut-nakutiku dengan hantu. Mendengar namanya pun aku sudah bergidik ketakutan.

“Behelo anjing, ibu Ninuk a ketakuton (Ya ampun, ibu ketakutan).” Begendang, kakak Mulau ini ternyata mengetahui kalau aku ketakutan. Posisi senter masih dipegang Tembuku. Ia memang paling ‘tua’ di antara anak-anak rimba ini. Anak kedua bepak induk Pengantin .

“Ho, Ho…, Iyoi, Guding! (Itu)” bisik Bekangga lagi.

“Ho’o, tikuy! (Oh, tikus).” Mulut kami serentak mengucapkannya. Aku lega. Hanya seekor tikus.

“Eiy, beik nian matonye (Indah sekali matanya),” ujar Bekinya. Matanya seperti memancarkan sinar ketika senter diarahkan ke bagian kepalanya. Berkilau. Rupanya tikus itu tidak takut disigi (disorot).

“Ngapo nye kiyuna (Ngapain ia di sana)?” tanya Mulau.

“Entah…” sahut Bekangga tanpa pikir panjang.

“Delok pemakonon mungkin (Mungkin sedang mencari makanan),” kataku. Mata kami masih tertuju pada makhluk berjarak dua meteran dengan rumah sekolah kami.

“Apo yoya ado lobang? Koli! Koli yoya! (Itu lubang apa? Lihat! Lihat itu!)” tanya Mulau lagi. Anak laki-laki yatim piatu yang kini hidup bersama Begendang dan neneknya.

“Mumpa kelapo (Sepertinya kelapa),” ujarku. Masih tertuju pada tikus.

Namun, krusek, krusek, krusek! Dalam hitungan detik hilanglah makhluk yang kukira hantu itu. Bekangga teledor mengubah posisi duduknya yang membuat tubuhnya terpeleset. ‘Lantai’ kulit kayu goyah. Goyah pula botol ‘Bata’ air minumku. Bunyinya menakuti tikus.

“Au, nioma buah urang dusun. Induk Wahab tanom pula (Ya, ini buah orang desa. Ibunya Wahab menanam juga).” Tembuku turun. Diambilnya buah kelapa yang sudah berlubang itu. Begendang, Bekangga dan Mulau berebut ingin memegang buah nyiur. Penasaran barangkali. Sebab di Bukit 12 ini memang belum pernah dijumpai pohon kelapa.

“Telap nye dukung kema’i. Segodong iyoi. Behelo anjing (Kuat sekali ia membawa hingga ke sini. Sebesar ini. Ya ampun),” Begendang ikut turun.

“I’ay, hopi mungkin nye telap bewo kema’i (Nggak, tidak mungkin ia kuat membawa kemari),” sergah Mulau. Dua kakak beradik itu perang mulut.

Kelapa setengah busuk itu diletakkkan Tembuku agak maju sedikit, kira-kira 15 cm, tetapi masih di dalam semak. Dari rumah sekolah hanya terlihat sedikit. Itupun harus benar-benar memicingkan mata.

Mulau kembali naik rumah. Diambilnya buku tulis bermerek “Kiky” lalu duduk dengan posisi menelingkup.

“Mumpa tikuy mikay (kamu seperti tikus),” kata Begendang pada adiknya. Laki-laki bercawat yang beraut muka manis ini tekun menghitung lagi. Seakan peristiwa ‘heboh’ tadi tidak terjadi. Usai makan malam tadi, kami belajar berhitung. Pelajaran tambah-tambahan puluhan. Usai belajar, seperti hari-hari sebelumnya, kami saling bercerita apapun mengenai pengalaman-pengalaman mereka. Tentu, akupun kerap didaulat untuk bercerita juga.

Tembuku mengambil biskuit yang masih tersisa. Sesekali senter yang diletakkan di sebelah kanan pantatnya disorotkan memutar. Menunggu si tikus kembali datang. Bekangga dan Begendang ikut makan biskuit. Aku juga mengambil satu keping , diikuti Bekinya. Mulau ngiler juga rupanya.

Dingin kembali terasa. Apalagi tanpa kupi (kopi) atau teh hangat. Rintik hujan makin kerap. Untung sore tadi aku, dibantu Bekangga, berinisiatif menyimpan kayu bakar di bawah kolong rumah. Kalaupun basah terkena ‘serpihan’ air, besok masih bisa dipakai untuk masak tanpa harus mengeringkannya dengan asap.

Kreg…kreg…kreg, bunyi gemeretak terdengar lagi. Mulau melempar bukunya. Mata kami tertuju ke arah kelapa lagi. Kami berebut memegang senter, tapi Tembuku yang mendapatkannya. Ia lalu turun dari rumah. Membuat si tikus lari tunggang langgang ketakutan. Kelapa diambil lagi. Didekatkan ke rumah sekolah, lalu ditaruh di atas rerumputan basah.

Hanya berjarak satu meteran dari rumah sekolah. Lubang pada kelapa diletakkan ke arah timur. Arah semak. Begendang naik ke genah sekolah diikuti Tembuku. Beberapa saat kami nanti, si tikus pindok (tidak mau) datang. Barangkali melihat manusia-manusia yang ingin menangkapnya.

“Buah yoya ditali bae, Guding, todo ditarik. Campok bae delom somok (Buah ini ditali saja kemudian ditarik. Nanti letakkan saja di dalam semak),” usul Mulau. Ah, cerdas juga anak paling kecil ini! Tanpa berpikir panjang, usulan Mulau diterima.

“Au, ambik lah (Ya, ambillah),” Tembuku mengiyakan sekaligus memerintah.

“Ibu, tali asoy lagi mansih hopi (tali rafia masih, nggak),” pinta Tembuku. Begendang dan Bekinya cekatan mencari tali rafia dalam carrier. Begendang yang menemukannya, lalu diberikan pada Tembuku yang memegang kelapa. Mulau yang mengusulkan kelapa untuk ditali hanya melihat. Mulutnya mengulum pantat pena.

Tak lama kemudian, Tembuku melempar kelapa ke dalam semak. Tidak lama pula buek (suara) krek, krek, krek….terdengar lagi. Sedikit demi sedikit kelapa ditarik mendekat. Berkali-kali tikus berbalik arah saat Tembuku terlalu keras menarik kelapa.

Tembuku menarik kelapa hingga di rerumputan. Kali ini sang tikus benar-benar enggan datang. Tapi anak-anak rimba ini tidak cepat putus asa. Tali rafia warna biru akhirnya dilepas. Buah urang meru diletakkan lagi di rumput basah

“Nye todo lagi belik kema’i (Ia –tikus- nanti balik lagi ke sini),” kata Tembuku optimis. Senter di tangannya sudah dimatikan. Kelapa terlihat jelas meski hanya terkena sinar lampu teplok kecil yang diletakkan Bekinya pada ‘cagak’ rumah. Kami berdiam. Hanya menunggu si tikus yang membuat kami penasaran. Mulau tak lagi memegang buku tulisnya. Gantian dengan Bekangga.

Mata Begendang, yang duduk menghadap ke arah timur, menangkap sesuatu.

“Sssstttt…nye detong!” Mata kami menyatu ke timur arah bawah. Pada makhluk kecil yang ragu-ragu mendekat ke kalapa.

Kini terlihat jelas makhluk pengerat sebesar anak kucing itu. Warna tubuhnya tidak seperti tikus kampung. Bulunya berwarna coklat kekuningan. Tampak bersih bulunya.

“Tikuy Tobing ,” bisik Mulau padaku.

Lagi-lagi Tembuku membuat si Tobing lari ketakutan. Kakak Bekinya ini bergerak ke belakang. Ia turun ke arah sungai.

“Ndok koncing, Guding?” seloroh Mulau. Tembuku tidak menjawab. Ia berjalan entah kemana. Tak berapa lama kemudian ia datang lagi membawa seutas batang rotan siu .

“Muat apo mikay?” tanyaku. Tali yang hanya sepanjang sekitar satu meter itu dibuat simpul. Ho’o membuat jerat, batinku.

Si Tobing belum kembali. Barangkali melihat Tembuku yang mendekat pada kelapa. Lagi-lagi kelapa ditarik lagi mendekat rumah sekolah. Jerat tali rotan diletakkan di sebelah timur kelapa. Ujungnya dipegang Tembuku.

Tak berapa lama si Tobing datang. Mukanya selingukan. Antara ragu-ragu dan kelaparan. Dilihat-lihatnya buah urang meru itu. Situasi tidak aman baginya sebab jika ujung rotan ditarik Tembuku, habislah dia!

“Jengon buek (jangan bersuara),” kata Tembuku memperingati Bekangga yang mengetuk-etuk pena ke lantai.

Hap, kali ini dalam sekejap tubuh si Tobing terjerat. Kasihan, tubuhnya terus meronta menolak dijerat. Ya, ia hanya ingin mendapatkan makanan untuk mengisi perutnya. Anak-anak bercawat ini tertawa kegirangan. Senang!

“Maro, bekor tikuy. Maro makon tikuy (Ayo bakar tikus. Ayo makan tikus),” kata Begendang. Mulutnya melebar sembari mengecap. Seakan di depannya sudah tersedia makanan lezat.

Si Tobing yang gemuk terus meronta, namun kalah dengan tangan Tembuku. Bekinya ikut membalik tubuh si Tobing.

“Nye betina (Ia betina).” Jemari Bekinya meraba-raba bagian dada tikus. Payudaranya menonjol. Kurang puas, lampu teplok diturunkan lalu didekatkan ke Tobing. Kini si Tobing pasrah. Ia diam tapi tetap tegang. Matanya menatap waspada.

“Nye bunting! Ho..ho…! (Ia bunting).” Gantian jari-jari Bekangga meraba bagian perut.

“Au, nye bunting. Porutnye godong, susunye godong (Ya, ia bunting. Perutnya besar, payudaranya besar),” Tembuku.

Tali penjerat sudah dilepas tapi tangan Tembuku masih memengangi si Tobing erat.

“Ndok dimakon tikuy nioma (Tikus ini mau dimakan)?” tanyaku. Hik, makan tikus lagi. Beberapa bulan lalu aku mencoba mencicipi tikus juga. Tapi tikus goreng yang kumakan dulu tikus jantan. Wuh, tapi kenapa lidahku terasa geli yah? Bahkan untuk sekedar mengelus bulu lembutnya saja aku ngeri.

“Kalu nye hopi bunting, eikkk, lah sodah hesyrggghhhkkkk… (Jika ia sedang tidak bunting, sudah…..),” jawab Tembuku disambut tawa anak-anak lain. Susah cari huruf yang pas untuk menuliskan ungkapan ini. Mulut Begendang masih mengecap.

“Ngapo hopi jedi dimakon? Nye gomok, ibo, Bebet (Mengapa tidak jadi disantap? Ia gemuk lho. Ya kan?),” kataku sambil tertawa.

“Sebila ndok dibunusi si Tobing nioma (Kapan tikus ini akan dibunuh)?” tanyaku lagi

“Hopi, Ibu (Nggak),” kata Bekinya. Aku belum juga mengerti jawabannya yang mengambang.

“Mikay hopi jedi kami bunusi. Mikay akeh lepay bae. Jedi induk nang beik, ibo, (Kamu tidak jadi kami bunuh. Kamu saya lepaskan saja. Jadilah induk yang baik, ya)” ujar Tembuku pada si Tobing. Mirip wejangan orang tua pada anak-anaknya.

Buah dusun dilempar Begendang ke semak. “Yoi, makonlah (Ini makanlah).”
Aku masih keheranan. Nangkapnya susah, kenapa dilepas begitu saja, tanyaku pada diri sendiri.

Saat kami kembali duduk di lantai rumah sekolah, aku menanyakan lagi soal itu. Mengapa mereka rela begitu saja melepas binatang buruan yang susah ditangkap.

“I’ay, nye bunting (Ye, dia kan bunting),” tukas Begendang sambil makan biscuit.

“Nye mumpa betina bunting. Kalu betina bunting mati, betina bunting mati, yeik, piado budak todo. Habiy pula urang podo halom nioma. Samolah tikuy tobing iyoi. Nye beheru bunting, ado benyok budak delom porutnye. Kalu nye mati budak yoya mati pula (Ia –tikus ini- seperti perempuan yang sedang hamil. Apabila perempuan sedang hamil meninggal, -ada lagi- perempuan hamil meninggal, nanti tidak ada bayi –regenerasi. Nanti punah juga kehidupan manusia di alam ini. Sama juga dengan tikus tobing ini. Ia sedang hamil, diperutnya ada banyak anak. Kalu induknya mati, anak-anak di perutnya juga ikut mati),” kata Bekinya padaku.

“Kalu natong bunting dibunusi, todo helang pula segelo natong. Kamia Urang Rimba piado lagi tukang depotko louk….(Jika binatang bunting dibunuh lama-lama punah. Kami Orang Rimba tidak bisa lagi mencari lauk),” ujar Bekinya mengajariku, gurunya.

Ohhhh…..

bermain dengan kelelawar

bermain dengan kelelawar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: