Pelajoron di antara Pohon Tumbang


Kaki-kaki menyusuri jalan setapak yang becek dan licin. Semalaman hujan mengguyur bumi membuat daun-daun di hutan Bukit Duabelas, Jambi, tampak segar. Sisa rintiknya yang centil pun terus mengiringi perjalanan kami menuju sungai Desa Buluh, Aek Behan, untuk menemui murid-murid Rimba kami. Lotion anti nyamuk pun telah luntur tersapu basah. Pacet-pacet akhirnya berpesta ria di kaki-kaki kami yang telanjang tanpa kaos kaki.

Unok (duri) tetap saja menancap tanpa diduga di antara kaki dan sandal, atau bahkan di telapak tangan kami yang tiba-tiba harus meraih dahan agar tak jatuh terpeleset. Hanya perih dan ….”Aduh, eesssttt!” Topi dan bandana sempat nyangkut di dahan-dahan berduri. Mata harus tetap awas agar tidak tersandung akar-akar pohon. Di sisi lain, kepala satu-satunya ini juga harus diwaspadakan jika tidak ingin terbentur batang pohon yang melintang, dan membuat kita seperti masuk goa, dimana badan harus dibungkukkan benar beberapa saat.

Pundak seakan mati rasa, seperti membawa angin. Tak terasa bahwa ada beban berkilo-kilo beratnya di pundak. Baju basah oleh keringat dan rintik hujan, seperti baru kecebur dari empang. Tidak peduli juga bau badan asli ”parfum” keringat sendiri. Terpenting harus sampai ke tujuan.

Manakala bertemu sungai, bagiku bagai menemukan surga yang menawarkan segala kesegarannya. Seteguk dua teguk mengobati dahaga mungkin asik juga. Air yang jernih di sana juga seperti merayu, ”Basuhlah kakimu di sini, mungkin pegal-pegalmu bisa hilang.” Yah, tidak lama lagi kami (aku-penulis, Fery dan Agustina-teman sesama guru rimba) akan sampai tujuan dimana anak-anak rimba menunggu kami untuk diajarkan baca, tulis, hitung (BTH). Rasanya tidak sabar untuk segera sampai.

Pohon-pohon yang malang
Namun, kelegaan dan kenyamanan itu tidak berlangsung lama. Sebab, ketika aku menyapu pandangan ke sekeliling, tiba-tiba mataku nanar saat menangkap sebuah pohon besar tidak lagi tegak berdiri. Pohon itu telah terpuruk, terjerembab di antara aliran air sungai yang sangat jernih. Sepanjang aliran sungai, berderetan pohon-pohon yang tampaknya baru ditebas mengapung di sungai. Ada yang sendirian, ada yang telah ’dipersatukan’, diikat sedemikian rupa dengan jumlah lebih dari sepuluh batang. Beberapa batang tak berdaya dan hanya bertengger di tanah yang miring. Tampaknya belum gilirannya diapungkan ke sungai. Apa yang telah terjadi? Bukankan program 100 hari anti illegal logging terpublikasikan begitu sukses di Jambi ini? Tapi 100 hari berlalu, kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas masih ada yang seperti ini?

Kami saling berpandangan dan tidak mengeluarkan satu patah katapun. Kami semua hanya bisa menahan perasaan marah dan sedih. Satu hal yang perlu diingat, kami datang untuk mengajar anak-anak rimba. Kami pun meninggalkan tempat itu dengan menyusuri sungai yang penuh dengan balok-balok kayu. Semakin masuk ke pedalaman rimba justru semakin bebas memandang angkasa. Di atas sana, di sisi kanan kiri sungai, tanah begitu tandus karena sang surya tak lagi singgah pada daun-daun yang hijau. Area yang harusnya rapat dengan pohon-pohon besar kini telah kosong. Tidak ada kanopi pucuk pohon tinggi lagi, yang memberi kenyamanan dan kesejukan bagi segala makhluk yang berada di bawahnya. Di pinggiran sepanjang sungai itu, bedeng-bedeng gubuk pebalok tegak berdiri. Dan anak-anak sungai itu….menjadi lautan balok! Tapi siapa lagi yang peduli?

Di sudut area lainnya juga tidak berbeda. Daun-daun telah berganti warna, coklat tanpa nyawa. Membusuk tercampakkan ke bumi. Dahan-dahan dan daun pun tak berkutik dipisahkan dari badannya yang besar. Hanya batang besar yang diambil. Pohon-pohon malang itu seperti sosok mayat manusia yang sudah tidak ada tangan dan kaki lagi. Kutahan perasaan lagi dengan miris.

Memasuki sore dengan udara yang cukup panas. Ternyata kami masih saja menemukan ratusan balok berukuran besar dan sedang di aliran sungai kecil lain. Mungkin mereka telah terapung berminggu lamanya di sana, menunggu waktu yang tepat untuk diselundupkan. Rumah sekolah Warsi, tempat kegiatan belajar mengajar dilakukan, hanya berjarak tak lebih dari satu meter dari sungai kecil itu. Rumah sekola Warsi cukup sederhana, terbuat dari patahan batang-batang bambu. Atapnya terpal biru.

Ratusan balok di sungai yang keruh itu, berjajar empat sampai lima batang memanjang entah sampai di hulu mana. Berayat dan Nelikat, dua anak rimba murid kami yang berkelapa gundul adalah yang pertama datang. Mereka berjalan di atas pohon-pohon yang mengapung di sungai. Para pohon malang itu bergoyang manakala kaki kecil dua anak rimba itu menekannya.

Satu per satu sahabat-sahabat kecil kami bermunculan. Mereka tampak penuh semangat dan antusias. Barangkali tidak seperti anak-anak kota yang kadang bermalas-malas untuk bersekolah. Mereka justru tampak gembira menerima buku dan peralatan tulis yang kami bawa. Sayang, papan tulis telah rusak dan kami tidak membawa papan tulis baru. Tanpa papan tulis pun, pelajoron harus tetap berjalan seperti biasa. ”Akeh telap belajor teruy sampoi isuk…. (Aku kuat belajar terus sampai pagi),” kata Begenje antusias.

Belajar di tengah raungan chainsaw
Jadwal tertulis pada alam : sarapan pagi, makan siang dan sore manakala perut memang sudah minta diisi. Usai makan, pelajaran dimulai. Semua giat belajar, tekun mencermati kata demi kata yang harus ditulis dan dibaca. Wajah-wajah mereka tetap riang

rimba di ujung chainsaw

rimba di ujung chainsaw

rimba lah habiy

rimba lah habiy

walau sering salah dalam menulis. Bejaman jadi bojaman, segelo jadi sogolo, gejoh jadi gejo. Sebagian anak rimba yang sudah bisa baca-tulis ikut mengajari kawannya. Tidak ada kata malu dan segan di antara mereka untuk bertanya dan saling mengajari. Terkadang aku tegur budak (anak) bandel yang mencoba nyontek, ”Jengon ngoli punya kanti. Todo kanti lah tokang mikay hopi tokang (jangan lihat punya kawan, nanti kawannya bisa, kamunya malah tidak bisa).”

Namun, konsentrasi kami tiba-tiba buyar ketika tak jauh dari tempat pelajoron kami terdengar suara bising. Chainsaw meraung-raung menggesek pohon-pohon hidup yang masih tersisa. Beberapa menit kemudian, pohon-pohon itu tumbang berdebam tanpa ampun. Suara chainsaw lebih keras dari suara teriakanku yang mengeja kata-kata untuk budak-budak kecil bercawat itu. Aku hanya terdiam, mencoba membayangkan bagaimana sakitnya jika jiwa ini dipisahkan dari raga dengan dimutilasi seperti itu. Aku yakin, pohon itu pun merasakan kesakitan yang tiada tara meregang nyawa. Anak-anak rimba ikut terdiam, menatap ke arahku. Mereka diam membisu sepertiku. Entah apa yang ada dalam benak mereka.

Satu per satu pohon ambruk tak berdaya menahan baja tipis nan tajam setiap harinya. Apa jadinya Taman Nasional tanpa pohon? Kemana burung-burung akan hinggap dan bersarang manakala pohon tak ada lagi? Bagaimana nasip anak-anak bercawat yang hanya diajari baca tulis hitung ini? semangat belajar mereka tersaingi tangisan pohon tumbang dan jeritan penghuni rimba.

Lain sore kuluangkan waktu berjalan ke sekitar sungai lagi. Kakiku menyusuri sungai dengan berjalan di atas balok-balok terapung yang sudah dicacah dengan tanpa simbol pemiliknya. Aku tak pernah tahu ujung kelokan sungai itu. Aku hanya merasa bahwa kakiku tak sanggup lagi berjalan di atas mayat-mayat pohon itu. Dari kejauhan sana, anak-anak rimba mandi di antara tatanan balok yang rapat menutupi hampir semua permukaan air. Menyelam di kedalaman dua meteran.

Satu dua orang laki-laki pebalok berjalan ke arahku. Mencari sedikit celah antara sungai dan rumah sekolah. Pakaian mereka compang-camping dan basah kuyup. Dari tangan-tangan pahlawan keluarga itu, kanopi-kanopi di rimba ini tumbang. Para pencari sesuap nasi untuk istri dan anak-anaknya ini telah menyaingi teriakan anak-anak di kala mengeja kata-kata, dengan pekaknya suara chainsaw.

Di buku anak-anak rimba tersebut kemudian tertulis, ”Betong-betong di rimba kami lah rubuh. Piado lagi genah bagi kami dan pemakonon natong-natong kami….(Pohon-pohon di rimba kami telah roboh. Tidak ada lagi rumah untuk kami, juga makanan untuk binatang di rimba kami).”

Februari 2005

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: