Prestasi Suku Asli dalam Olahraga


Yoi, iyoi kana! Saway titik kiyuna, podo somok bewoh betong. Doroi ambik! (Itu kena! Burung Saway jatuh di sana, di semak-semak bawah pohon. Cepat ambil),” teriak Selambai (23) pada Bedewo (7) yang mengikutinya berburu.

Saway atau yang biasa disebut burung Srigunting Hitam (Dricrurus Macrocercus) jatuh tak berdaya setelah suara “Dorrr” dari senapan angin Selambai mengenai tubuhnya. Padahal ketika itu, burung kecil yang hampir tidak terlihat oleh mata saya, sedang bertengger di pucuk pohon di antara daun rindang dan ranting. Di tangan Bedewo kini terdapat tiga ekor burung Saway, satu di antaranya Srigunting Sumatera (Dricrurus Sumatranus) dan dua ekor burung Pipit/ Bondol (Lonchura Leucogastroides). Bagi penduduk desa pinggiran rimba yang bertani, burung ini menjadi hama bagi tanaman padinya. Sementara bagi Selambai dan Bedewo, lima ekor burung hasil buruan mereka itu cukup untuk ‘oleh-oleh’ keluarga di rumah.

Selambai dan Bedewo merupakan Orang Rimba yang kini tinggal di Belukar Sejelai, Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Jika sedang tidak bekerja mencari hasil hutan non kayu seperti manau (rotan), tetebu (sejenis rotan), atau jernang, ia memilih untuk berburu. Berbekal senapan angin rakitan sendiri, tak jarang mereka mendapat beberapa ekor burung dalam perburuan mereka. Malam hari jika sedang beruntung, seperti Orang Rimba pada umumnya, dengan berbekal ‘mata elang’ yang tajam, mereka mampu membawa louk (daging) babi, rusa, kancil, atau kijang. Louk yang didapat biasanya dibagikan untuk seluruh anggota rombong (kelompok).

Lain halnya dengan orang dewasa, anak-anak lebih senang mendapatkan burung dengan menggunakan peci (ketapel). Kakak beradik Begendang (9) dan Mulau (7) yang yatim piatu misalnya. Mereka sangat jitu mengincar burung di antara pohon sawit atau burung-burung di antara semak rimba. Hebatnya lagi, meski si burung atau binatang buruan dalam kondisi bergerak (terbang atau lari), Orang Rimba mampu mengenainya.

Di beberapa TV pada tayangan penjelajahan di kehidupan suku-suku asli, memanah hewan buruan menjadi salah satu kegiatan keseharian masyarakat adat. Di pedalaman Papua misalnya, berburu secara tradisional masih dilakukan hingga kini. Dengan merangkak, tangan yang menggepak-gepak di tanah agar dikira ‘kawan’ si hewan yang menjadi incaran, anak panah dilepas. Dalam sekejap, “Slap!”, seekor kanguru tersungkur bersimbah darah terkena anak panah tepat di perut bagian samping.

Selain kegiatan yang membutuhkan kejelian dan ketepatan, orang-orang suku asli, termasuk anak-anak umumnya pandai berenang. Tentu, bukan berenang di kolam renang yang airnya diam. Mereka terbiasa berenang di air yang mengalir deras atau bahkan melawan arus sekalipun. Kegiatan yang berbahaya ini tidak mudah dilakukan bagi masyarakat biasa. Oleh ‘Orang-Orang Asli’ ini, air seperti itu sangat mudah ditakhlukkan. Sungai yang tersebar hingga ke pedalaman dan laut yang luas merupakan sarana pembelajaran mereka.

Tidak saja handal berenang dan menyelam, berperahu juga menjadi kegiatan keseharian mereka. Bagi anak-anak, berlomba mendayung perahu di sungai menjadi mainan mengasyikkan bagi mereka. Anak-anak rimba yang berada di daerah aliran sungai (DAS) besar tak pernah melewatkan sungai yang sedang meluap untuk lomba mendayung. Ya, tanpa alat dayung memadai dan tanpa jaket pelampung karena mereka toh memang pandai berenang juga.

Sekali waktu saya mencoba mengajak Orang Rimba beradu jalan cepat. Wah,wah! Bahkan saya yang masih muda kalah berjalan dengan orang serenta Tengganai Ngembar. Padahal saat itu di pundaknnya membawa seambung (tas rimba) ubi kayu. Ia dan Orang Rimba lainnya terbiasa jalan cepat dengan akses jalan yang berliku dan berhalang rintang.

Potensi prestasi

Ironis memang, jika Indonesia akhir-akhir ini selalu tak berdaya di ajang olahraga tingkat dunia. Prestasi di beberapa cabang olahraga bahkan kalah dengan Vietnam yang belum lama terlepas dari perang. Padahal potensi bibit-bibit unggul tersebar di seluruh pelosok negeri. Alam yang menempa keseharian kehidupan indegenious people menjadikan potensi prestasi yang sangat luar biasa.

Beberapa cabang olahraga yang dilombakan bahkan sebenarnya menjadi kegiatan sehari-hari suku-suku asli di nusantara. Jika saja pemerintah mau, medali-medali pada cabang panahan, menembak, dayung, renang dan banyak lagi, bisa diraup dengan memberi kepercayaan pada suku-suku asli. Sayangnya, hingga kini potensi yang dimiliki masyarakat suku asli masih sepi dari perhatian pemerintah.

Bukan berarti pula kita meremehkan prestasi para atlet yang kita miliki sekarang. Tak ada salahnya jika kita gali potensi prestasi yang dimiliki saudara-saudara kita yang termajinalkan itu. Namun, sebuah tanya muncul. Deretan medali, yang misalnya saja dapat diraih, akankah kehidupan atlet-atlet tanah air akan segemilang prestasi yang pernah diraihnya? Apalagi jika di kemudian hari karena faktor usia mereka harus berhenti, apakah ada jaminan dari pemerintah, para pengharum nama bangsa ini menikmati hasil dari prestasinya? Entah.

*Melangun : Perpindah wilayah yang dilakukan orang Rimba karena adanya suatu kematian atau kemalangan. Dalam hitungan tahun, kelak mereka kembali ke lokasi semual.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: