Romong yoya olen


Sore selepas hujan lebat mengguyur Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Jambi. Dari arah kejauhan, di atas muara sungai Kejasung Godong melengkung pemandangan sangat menawan. “Ibu, koli, Ibu, romong iyoi! Olen ibo? Benyok werna jedi sikuk’a! (Lihat itu, Ibu. Ada pelangi. Indah ya? Banyak warna tetapi menyatu),” seru Ngalau (7) kepadaku. Tangan mungil anak perempuan rimba itu menunjuk ke arah muara sungai. Hijaunya dedaunan basah di atas muara menambah suasana menjadi sangat indah.

Tumenggung Meladang (40), ketua rombong (kelompok) Orang Rimba di Kejasung Godong yang duduk berjongkok di sebelah Ngalau spontan bertanya, “Apo mikay galo tentu ngapo romong iyoi olen? (Apakah kamu semua tahu mengapa pelangi itu indah). Mata teduh laki-laki bercawat itu beralih dari bebudak (anak-anak) ke pelangi.

Romong yoya olen dikolinye sebab nye benyok nian werna. Nye galo tekumpul tapi hopiado nang bunusi werna nang bogolainon. Nye benyok tapi hopi tebelah. Benyok tapi sikuk’a. Tapi nye hopi sikuk werna bae. Kalu sikuk werna, I’ai, jehat dikolinye. Hopi mungkin disobut romong kalu sikuk werna (Pelangi dilihat sangat indah karena warna-warna yang ada sangat banyak. Beragam warna yang ada berkumpul jadi satu tetapi tidak saling mematikan warna lainnya. Meski banyak warna, mereka tidak terpecah. Banyak tetapi menyatu. Namun, ia bukan hanya satu warna. Kalau hanya satu warna saja, ia tidak indah dilihatnya. Tidak mungkin pula disebut sebagai pelangi kalau cuma satu warna),” lanjut Tumenggung.

Maka, sore berteman pelangi kala itu menjadi ajang diskusi sekaligus pembelajaran bagi saya dan anak-anak rimba dalam jeda belajar baca tulis hitung (BTH). Di rombong yang terletak di tengah-tengah TNBD ini, Ngalau bersama kawan-kawan perempuan rimba ‘diwajibkan’ belajar BTH seperti halnya kawan-kawan laki-laki mereka. ‘Hak istimewa’ yang tidak semua perempuan rimba memperolehnya. “Kalu ado budak penyogon, tukul bae samo jelatong, Ibu (Jika ada anak yang malas belajar, pukul saja dengan daun jelatang –sejenis daun yang jika terkena kulit akan menimbulkan rasa panas dan gatal seperti terkena knalpot),” pesan Tumenggung Meladang saat akan berangkat berburu. Beberapa induk (ibu) ikut nimbrung bercecakop (diskusi). Mereka juga duduk di pasir putih sepanjang sungai yang basah oleh hujan itu.

Piado beda romong iyoi samo werna (Antara pelangi dan warna tidak begitu berbeda),” tukas Melimun. Bapak tiga anak ini merupakan Wakil Tumenggung.

Apo sebab? Kalu werna yoi cuma sikuk, yoya piado disobut werna. Yoya hopi mungkin pula diborikko namo. Entah abong, koneng, hitom, apo bae lah. Nye ado namo ‘werna apo’ sebab ado kanti nang bogolainon. Romong iyoi samo olennye halom nioma sebab benyok nian werna. Kalu halom nioma cuma ado werna abong bae hopi beik jugo, halom mumpa deroh, ibo? Kalu halom nioma hitom bae, e, klomon, hopi tekoli apo bae. Samolah kalu halom cuma putih bae, temungkin sakit de mato, ibo, Guding? (Sebabnya apa? Jika warna hanya satu, tidak mungkin disebut sebagai warna. Tidak mungkin juga ia diberi nama. Apakah itu warna merah, kuning, atau hitam, warna apa saja. Ia memiliki nama ‘warna anu’ karena ada warna-warna yang berlainan. Pelangi dan alam sama indahnya karena ada banyak ragam warna. Apabila alam ini hanya berwarna merah tidak baik juga. Nanti alam seperti darah, kan? Jika alam berwarna hitam saja, e, gelap, tidak akan terlihat apapun. Sama juga jika alam hanya berwarna putih, bisa jadi mata kita akan sakit),” tambah Bepak Merato, gelar beranak Melimun.

Gaya Hidup
Begitulah pemahaman ‘Bhineka Tunggal Ika’ ala Orang Rimba, suku asli yang juga sering disebut Suku Kubu atau Suku Anak Dalam yang mendiami hutan seluas 60.500 ha ini. Di wilayah yang jauh dari peradaban modern dan intelektual, orang-orang yang hingga sekarang masih dianggap primitif, bodoh dan konservatif justru terbiasa hidup toleran terhadap perbedaan. Bagi mereka, kehidupan menjadi (lebih) indah justru ketika ada banyak ragam warna. Hidup indah dipahami ketika hopiado bunusi kanti (tidak menghilangkan satu sama lain), tanpa kekerasan, dan sikap menghormati perbedaan.

Gaya hidup toleran pada keyakinan berbeda juga ditanamkan pada anak-anak sekalipun para orang tua juga tidak pernah mendengar sila-sila Pancasila ataupun ceramah-ceramah agama. Sikap toleran anak-anak kala belajar BTH bersama saya sering diwujudkan saat siamang mulai ramai berbunyi, yang menandakan pagi telah datang, tengah hari, atau juga hari beranjak petang. Anak-anak indigenous people akan mengingatkan, “Ibu’a bedekir dulu bae, lah sodae Ibu lagi ngajor (Ibu bersembahyang dulu saja. Nanti kalau sudah selesai Ibu mengajar lagi).” Anak-anak bercawat dan berkemben ini tetap belajar selagi saya melakukan ibadah.

Meski tidak pernah sekalipun menyuruh tidak gaduh atau tidak bersuara kala saya menjalankan ibadah, mereka menghormati dengan cara unik. Apabila di antara mereka ada yang bersuara agak keras, salah satu dari mereka akan mengingatkan dengan suara lirih. “He’eh, jengon buek amot, ado urang beheru bedekir (Hey, jangan bersuara keras ada orang sedang bersembahyang).”

Tidak hanya soal ibadah, penghormatan terhadap keyakinan dan adat istiadat berbeda pun ditunjukkan dalam ‘urusan perut’. Sebab, Orang Rimba tidak memakan binatang yang diternak Orang Meru (orang diluar komunitas Orang Rimba), seperti ayam, sapi, kerbau, kambing, termasuk telur dan susunya. Komunitas suku minoritas ini umumnya mengetahui, ada Orang Meru yang berkeyakinan tertentu dilarang mengkonsumsi daging tertentu. Sebagai bentuk penghormatan, ketika mendapat binatang buruan, bahkan ikan sekalipun, saat akan membaginya dengan Orang Meru mereka akan bertanya “Mikay ndok hopi kami begi (Mau nggak kami beri…)” atau “Mikay bulih makon hopi ? (Kamu boleh makan tidak).” Apabila Orang Meru menolak, Orang Rimba tidak akan memaksa untuk menerima atau memakannya. Tetapi jika mau, dengan senang hati pula induk-induk (ibu-ibu) yang bertugas membagi hewan buruan berkata,”Yoi, bagikko podo Ibu Ninuk (Tolong berikan ini pada Ibu Ninuk).”

Namun, kendati Orang Rimba begitu mengormati adat di luar rimba, mereka masih sering mendapat perlakuan tidak adil, baik dalam hal jual beli hingga ‘pelecehan harga diri’. “Dulu ado nang bentu kami, tapi nye borikko sapi padahal nye tentu kami hopi bulih makon sapi. Nye bori beju pula. Uje kanti iyoi jehat hopi pakoi beju mumpa urang meru. ‘Bikin malu’, uje kant

Bersama rombong Meladang

Bersama rombong Meladang

i yoya (Dulu ada orang membantu kami tetapi yang diberikan binatang sapi, sekalipun ia tahu bahwa kami tidak memakan daging sapi. Ia juga memberi baju. Kata orang tersebut, ‘dosa’ jika tidak berbaju seperti Orang Meru. Bikin malu, kata orang itu),” kata Nggrip suatu kali. Bahkan sebutan ‘kubu’ bagi mereka sering dikonotasikan sebagai bodoh, jorok, menjijikkan, bahkan “Dasar binatang!”

Hingga hari ini media terus membombardir berita penyerangan suatu kelompok ‘religius’ terhadap kelompok ‘religius’ lain yang dianggap sesat. Sungguh ironis dan mengherankan manakala orang yang mengganggap dirinya berpendidikan, modern, bermoral, beriman dan religius justru tidak memilih bersikap arif menyikapi perbedaan keyakinan seperti Orang Rimba.

Adalah memprihatinkan ketika perbedaan keyakinan bukannya dijawab melalui teladan dan sikap lembut penuh kasih, tetapi justru dengan berbuat anarkis dan kriminal. Peristiwa penyerangan, pengusiran hingga pembakaran rumah-rumah ibadah oleh sesama umat beragama sangat memalukan dan memprihatinkan dalam pola kehidupan berbangsa. Atas nama Tuhan, manusia memberangus keberagaman yang sesungguhnya diciptakanNya agar dunia menjadi indah.

akhir tahun 2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: