”Kue Brownies itu seperti apa ya?”


“Kawan-kawan, harap segera hadir di meunasah. Ibu-ibu JRS sudah datang. Kita akan berkumpul untuk membuat kue,” begitu kira-kira terjemahan pengumuman Rosmanita (23) ketua pemudi desa Lhok Sialang Rayeuk, seperti disampaikan oleh Rusniati (20) padaku. Rosmanita mengumumkan dalam bahasa Aceh melalui loudspeaker masjid, yang hanya berselang satu rumah penduduk dari meunasah.

Selasa (17/3) siang itu adalah kali pertama para pemudi dan ibu-ibu desa Lhok Sialang Rayeuk, kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan berkumpul. Satu per satu perempuan dari usia 12 tahun seperti Salamah, hingga ibu Murni yang berusia lebih dari 45 tahun mendatangi meunasah. Beberapa perempuan menggandeng tangan-tangan kecil untuk ikut acara pertemuan. Tak sedikit pula mereka yang menggendong anak-anak berusia kurang dari tiga tahun.

Kegiatan kumpul-kumpul perempuan kali pertama ini tidak sekedar rapat biasa, yang menurut Erda (25), ”Bukan hanya sekedar omong saja.” Mereka mulai berkumpul sore itu untuk ikut dalam pelatihan membuat kue. Kegiatan rutin mingguan ini merupakan alternatif kegiatan bagi perempuan selain olahraga seperti jamaknya kegiatan JRS di desa-desa lain. Sebagai informasi, di desa ini para tokoh adat dan masyarakat melarang perempuan untuk melakukan kegiatan olahraga apapun, seperti bola volley misalnya.

”Rencana kakak-kakak minggu kemarin akan membuat kue apa untuk hari ini?” tanya Qoni Khoiriyah, staf Keuangan JRS yang diterjunkan untuk menggantikan Mardianisyah atau biasa dipanggil Dian, Liaison Officer JRS yang pada saat itu sedang cuti, pada para perempuan Lhok Sialang Rayeuk.

Serentak mereka berkata, ”Kue tart, Kak.”  Lalu Oni, panggilan akrab Qoni Khoiriyah, menjelaskan bahwa pelatih kue tart tidak dapat hadir. Minggu sebelumnya, Dian telah mendengarkan keputusan perempuan-perempuan Lhok Sialang Rayeuk yang berencana membuat kue tart. Dian menggungkapkan, akan berusaha menghadirkan pelatih untuk membuat kue tart bagi mereka. Namun, di hari yang dijanjikan sang pelatih tidak dapat hadir karena saudaranya punya hajat kenduri.

Oni lalu meminta pendapat perempuan-perempuan yang berjumlah lebih dari 40 orang tersebut untuk mengisi kegiatan akibat kekosongan pelatih. Berbagai pendapat muncul, di antaranya tetap membuat kue yang mereka bisa buat, dengan bahan dan alat yang ada. Tak luput, perempuan-perempuan muda juga melontarkan pertanyaan pada Oni bisa membuat kue jenis apa.

Akhirnya Oni menawarkan untuk membuat Kue Brownies. Semua perempuan itu setuju mencoba membuat kue brownies hasil resep Oni. Anehnya, Aida Marlina (20) berbisik pada kawan di sebelah kanannya, Nurlaila (34), ”Kue brownies itu seperti apa ya?”

Dari bisik-bisik itu kemudian terungkap. ”Kami sebenarnya tidak tahu nama-nama kue. Yang kami tahu hanya kue bolu dan kue tart. Makanya kami minggu lalu mengusulkan untuk berlatih membuat kue tart saja,” tutur Zahara (24), diamini Halimaton (18).

Satu per satu menyodorkan dirinya untuk menyiapkan bahan-bahan kue brownies. Secara bergantian para perempuam menimbang bahan, mengusulkan dirinya menghidupkan kompor minyak tanah, mengambil air, melelehkan coklat dan mentega, mengocok telur, mencampur bahan, hingga kemudian memanggangnya.

Di sela-sela tangan bekerja, mereka saling melontarkan kata-kata lucu dalam bahasa Aceh yang tidak begitu kami mengerti. Terkadang, setelah diterjemahkan kami ikut tertawa meskipun terlambat.

Sembari menunggu brownies matang, para perempuan ini saling berbicara. Saking ramainya, terkadang Oni dan saya kewalahan untuk sekedar menanyakan kendala pembuatan kue jenis ini. Tidak kalah pula, canda tawa anak-anak, yang diselingi tangisan satu dua anak, menambah meriah pertemuan perempuan di meunasah berukuran 10 x 10 meter itu.

Kue brownies matang dalam waktu 45 menit. ”Enak lah kue buatan kita,” kata Ajiah (20) lantang pada kawan-kawannya. Rusmiati yang awalnya tidak banyak bersuara dengan cekatan merelakan dirinya bertugas memotong-motong kue berukuran 20 x 22 centimeter. Ia memotongnya dalam ukuran yang sangat kecil, sekitar 2 x 3 centimeter.

Bersama Rusmanita dan Erda, Rusmiati menanyai kawan-kawannya akan diapakan kue yang telah mereka buat. Tanpa berkata panjang lebar, semua perempuan itu menjawab dibagikan kepada para perempuan yang saat itu hadir dalam pertemuan.

”Biar kita semua tahu rasanya. Masakan pertama kita rasakan sendiri dulu. Kalau enak, minggu depan bisa kita bagikan ke orang lain,” usul Hasnibar (35).

Lantas, bertiga mereka menanyakan kembali akan dibagi untuk siapa kue yang telah mereka buat. ”Anak-anak,” kompak. Setelah menikmati kue, para perempuan kembali bersemangat membicarakan proses pembuatan, rasa, hingga rencana kegiatan minggu berikutnya. Tidak lupa pula mereka bersepakat membuat tim-tim kecil, agar semua oang bisa merasakan bagaimana membuat kue dengan jari-jari mereka sendiri.

Pengungsi di tanah airnya sendiri

Bagi Sartika (30), kegiatan ’kumpul-kumpul’ bersama perempuan lain adalah waktu istimewa baginya. ”Sejak konflik terjadi kami perempuan tidak pernah mengadakan acara pertemuan. Lewat acara pelatihan membuat kue ini, kita bisa saling bercanda dan bercerita. Perasaan takut seperti dulu bisa dihilangkan sedikit demi sedikit saat bertemu teman-teman.”

Menurut penuturan Sartika, ketika konflik terjadi antara tahun 1995-2005, warga desa Lhok Sialang Rayeuk dipaksa mengungsi, baik oleh pihak TNI maupun ’orang atas’ (orang di gunung,red) atau GAM. Pada tahun 1998, warga disuruh mengungsi oleh pihak GAM. Sementara pada tahun 2003, mereka disuruh mengungsi oleh TNI ke Lhok Bengkuang, kecamatan Tapaktuan, kabupaten Aceh Selatan, selama 1,5 bulan.

Pasca konflik, kata dia, perempuan desa Lhok Sialang Rayeuk menjadi sangat susah dikumpulkan. ”Dulu, kami kumpul-kumpul karena kami memang dipaksa berkumpul. Seringnya karena untuk menggeledah rumah penduduk kalau-kalau ada anggota GAM bersembunyi di rumah kami,” tutur perempuan beranak tiga ini.

Kisah serupa juga dituturkan perempuan-perempuan dari desa Ie Merah, desa tetangga Lhok Sialang Rayeuk yang pernah dianggap sebagai salah satu desa basis GAM. Pemudi desa Ie Merah Nuraini (30) mengungkapkan, saat konflik pecah, warga sering dikumpulkan di lapangan dengan berbagai alasan. ”Tahu-tahu ada warga yang mati tertembak. Makanya saya sempat trauma jika disuruh datang di acara pertemuan atau kumpul-kumpul begini,” ujar Nuraini, diamini Nurlaila yang duduk di sebelahnya.

Baik Nuraini maupun Nurlaila mengaku, pertemuan bagi perempuan-perempuan desanya tidak cukup jika hanya dipandang sebagai kegiatan pelatihan ketrampilan semata. Dua perempuan itu lebih sepakat pertemuan rutin bagi perempuan sebagai ajang silaturrahmi.

”Meski acara kita hanya membuat kue, kita semua bisa bertemu untuk silaturrahmi. Kita bisa saling bercerita tentang apa saja. Kita bisa saling bicara mengenai persoalan desa dan persoalan kami perempuan. Lalu memecahkan persoalan secara bersama. Harapan kami, tidak akan pernah ada konflik lagi. Tidak enak menjadi seorang pengungsi. Betapa sedih menjadi pengungsi di tanah airnya sendiri karena konflik” ungkap Nurlaila.

oleh

Ninuk Setya Utami

Information and Advocacy Officer JRS

http://www.jrs.or.id/images/dmdocuments1/20090420_refuge-april-2009-eng_by-devi.pdf

kue perdamaian

kue perdamaian

kue perdamaian untuk semua...

kue perdamaian untuk semua...

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: