Aih, Itu Mah Kabar Lama!


“Meutya Hafidz sudah dibebaskan. Sudah seminggu lebih,” ujar Bubung pada bang Surdi sopir yang menjemputku di desa Jernih, salah desa penyangga Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Jambi.

”Iya memang,” jawab bang Surdi sambil menikmati kacang.

“Emang Meutya Hafidz kenapa?” tanyaku datar seraya memandang sisi kanan jalan kampung yang menuju kecamatan Pauh. Berdua mereka tertawa. Suaranya mungkin sampai terdengar di luar mobil.

Sampai di mess, di rumah kontrakan milik pak Haji, teman-teman telah pulang dari kegiatan lapangan. Saat-saat berkumpul dengan kawan adalah saat paling membahagiakan. Masak, makan, saling bercerita, mengeluarkan semua isi hati selama di lapangan, terlebih aku yang senantiasa ’sendiri’ di rimba. Menonton acara tv menjadi salah satu hiburan. Hanya saja, selalu ada kawan yang menang (atau selalu ingin menang) pada channel yang ditonton bersama-sama. Uh, aku paling sebal jika acara gosip dipanteng terus dari pagi sampai malam hari. Tak ada Oprah, atau Kick Andy yang selalu kunanti. Hmmm, bukankah aku hanya bisa menikmati tv sebulan sekali?

Ya mau nggak mau, kadang demi –apa yang disebut- kebersamaan kupelototin acara gosip. Lalu berlagak tahu dan mengikuti setiap gosip yang ada. ”Lha ini kan bojone si itu to?” Ternyata, ”Walah Nuk, tuh orang udah tahun lalu bercerai!”

Jangankan soal Meutya Hafidz yang jauh dari ranah negeri ini, kabar dari Jambi sendiri tidak bisa kudengar atau kudapatkan. Apalagi ketika media menyebarkan berita presiden membuat kebijakan anu, pemilihan gubernur, di sono rusuh gara-gara anu aku juga tak mengerti.

Kerapkali saat pulang dari lapangan alias pulang dari fasilitasi pendidikan untuk suku Orang Rimba atau Suku Kubu di TNBD, ketika menonton, membahas film, atau buku terbaru, aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Sepenggal cerita yang akan membungkam mulutku. Ya, karena aku tak pernah mengikutinya

Dulu, melewatkan hari di rimba ketika rehat belajar, yang biasanya menjelang kutidur, buku menjadi teman di kala ‘sepi’. Buku yang kubawa harus ‘diawet-awet’ agar tidak segera habis dibaca hingga aku pulang ke kota nanti. Paling banyak kubawa 2 eksemplar, plus satu majalah. Selalu saja ketika persiapan ke lapangan (rimba), bertumpuk buku hendak kubawa. Namun, apalah daya, beban berat akan memperlambat perjalananku menemui anak-anak rimba.

Tak hanya buku yang kuawet-awet dalam membaca, tetapi juga majalah. Kerap kali kuhitung halamannya, lalu iseng membagi halamannya. Setiap hari, harus sekian halaman yang kubaca dan tak boleh lebih. Jika aku ngeyel membaca lebih, kelak di hari-hari menjelang pulang, aku sudah tak memiliki bahan bacaan lagi.

Terkadang, anak-anak yang sudah lancar membaca, terlebih para kader rimba, justru sudah selesai membaca sebelum aku selesai membaca. Dari buku dan majalah yang kubawa, anak-anak memberikan pertanyaan kritis untukku. Apa ini, apa itu? Apa maksud kata ini? Dan sebagainya.

Majalah yang kerap kubawa ke lapangan adalah Intisari atau Tempo. Aku selalu bernafsu untuk melalap halaman Intisari. Suatu kali, kulalap Intisari hanya dalam waktu tiga hari. Ya, saat itu aku fasilitasi bersama kader, sehingga aku sendiri lebih banyak waktu untuk membaca sambil sekali-kali memonitor proses belajar. Uh, kecewa setengah mati karena jelang tidurku di hari berikutnya tak ada lagi. Salahku sendiri, buku yang kubawa ternyata tertinggal di desa tempat kumenginap sebelum masuk rimba.

Lalu, karena semua habis kubaca, halaman koran Kompas ‘kadaluarsa beberapa bulan atau minggu’, yang kujadikan bungkus parang akan kubaca kembali hingga ke iklan-iklannya. Persis seperti yang dilakukan anak-anak rimba ketika koran itu tergeletak. Di rimba, tak pernah ada istilah kadaluarsa dalam hal bahan-bahan bacaan.

Hingga kini, aku kerap merasa prihatin pada diriku sendiri. Atau mungkin malah lucu. Dalam obrolan ngalor ngidul via telpon dengan seorang kawan di pulau Jawa sana, kubertanya, ”Kuntowijoyo saiki kok ratau krungu kabare yo? (Kuntowijoyo kok nggak pernah terdengar kabarnya yak).” Hmm, ternyata kabar berita meninggalnya sang tokoh tak pernah kutahu karena di tahun-tahun lalu aku masih di rimba. Sepulang dari rimba, kabar beritanya sudah tidak hangat lagi sehingga teman-teman pun tidak membahasnya lagi. Ealah….

Mei 2009

dari kejasung godong ke aek behan

dari kejasung godong ke aek behan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: