Bicara Olahraga Bicara Perdamaian


Ruangan pertemuan Hotel Putro Bungsu di lantai dua tidak begitu terang. Lampu-lampu neon pada Senin (9/3), yang juga bertepatan dengan Hari Maulid Nabi Muhammad SAW tampak temaram. Meski demikian peserta Pelatihan Untuk Pelatih tetap bersemangat mengikuti acara perkenalan, yang sekaligus menjadi ajang mengungkapkan harapan masing-masing. Kertas warna-warni berukutan 10 x 15 sentimeter yang mereka pilih sendiri, mereka isi dengan gambar-gambar sesuai imajinasi.

”Teman-teman jangan lupa menulis nama masing-masing ya. Terserah kawan-kawan mau memilih di bagian bawah atau atas. Jangan lupa pula nama desa teman-teman juga dituliskan. Saya sarankan untuk menulis dengan ukuran yang agak besar,” kata Benny, fasilitator dari Asian Soccer Academy (ASA).

”Ya, biar kita bisa cepat kenal dengan kawan-kawan. Kalau lupa bisa baca dari kertas ini,” ujar Hednire, peserta dari desa Panjupian, kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan. Kelak selama pelatihan berlangsung, dia dipanggil pak keuchik atau kepala desa oleh kawan-kawan peserta lainnya.

Usai menggambarkan harapannya, Sasmedi pemuda Lhok Rukam menggungkapkan, ”Lampu ini ada dua macam, satu lampu mati dan satu lagi lampu hidup. Maksudnya adalah setelah kegelapan pasti akan ada terang. Dari pelatihan yang kita jalani hingga berakhir nanti, saya dan kawan-kawan yang semula tidak memiliki pengetahuan, setelah ikut pelatihan ini kita semua mendapat ilmu. Ilmu tersebut yang nantinya menjadi penerang bagi kawan-kawan desa kita. Ilmu tersebut bisa kita tularkan pada kawan-kawan kita di desa.”

Tak mau ketinggalan, Diana Wisda pemudi asal desa Panjupian memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan harapannya. ”Gambar satu orang ini lalu menjadi tiga orang. Satu orang tidak berhenti berlatih. Lalu menjadi tiga orang, kemudian berkembang menjadi banyak orang. Artinya, mengikuti pelatihan ini, peserta akan melatih teman-teman pemuda dan pemudi di desanya. Harapan saya tentunya semakin banyak pelatih, pemahaman dan pengetahuan pemain terhadap permainan semakin bertambah,” kata ketua pemudi Desa Panjupian tersebut.

Hednire, Sasmedi, maupun Diana Wisda merupakan peserta ’Pelatihan Untuk Pelatih Olahraga’ atau ’Coaching to Coach’ yang diselenggarakan oleh Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia, bekerjasama dengan Asian Soccer Academy (ASA) Asia, pada 9-12 Maret 2009. Pelatihan ini adalah kegiatan untuk mengawali pelatihan pengelolaan konflik melalui olahraga rutin bagi pemuda, di desa-desa dampingan JRS.

Koordinator Program Pemuda JRS Didik Dwi Budi mengungkapkan, dari pelatihan untuk pelatih olahraga ini diharapkan muncul kader-kader pelatih olahraga dari masing-masing desa. ”Harapannya, ada kader yang mempunyai pemahaman yang baik dan benar tentang latihan olahraga sepakbola dan bola volley, serta memiliki bekal untuk memasukkan kemampuan mengelola persoalan melalui olahraga.”

Pada awal tahun 2009 ini, JRS mendampingi enam (6) desa di kecamatan Tapaktuan, Pasie Raja, serta Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan. Desa-desa dampingan tersebut antara lain desa Panjupian, Lhok Rukam, Air Pinang, Lhok Sialang Rayeuk, Ie Merah, dan Pulo Kambing. Sedangkan pada pertengahan tahun 2008 lallu, JRS juga telah melakukan kegiatan pengelolaan konflik melalui olahraga rutin di tujuh (7) desa di kawasan sungai Kluet, yaitu desa Alur Mas, Lawe Sawah, Lawe Buluh Didi, Koto Indarung, Siurai-Urai, Simpang Dua, dan desa Simpang Tiga.

Identitas bangsa

Selain sisi positif yakni meyehatkan badan, pada perkembangannya olahraga justru kerap menjadi pemicu kekerasan dan konflik. Hampir setiap saat media massa mewartakan adanya tawuran dalam pertandingan olahraga, terlebih pada pertandingan sepak bola. Kabar tak sedap terkait suap menyuap, pemakaian dopping, pemalsuan usia, hingga pemukulan wasit juga kerap menjadi menu berita olahraga. Tentu saja semua itu bertentangan dengan nilai-nilai yang ada dalam olahraga.

Melihat kondisi tersebut, kata Didik, JRS mencoba bersama masyarakat untuk berlatih olahraga, serta mengolahragakan masyarakat dengan cara yang benar. Bagaimana berlatih dengan cara yang benar, bagaimana berlatih tidak hanya sisi teknis tetapi juga mentalnya. Menurut Didik, olahraga yang awalnya hanya untuk mengisi waktu senggang, menenangkan pikiran, pada perkembangannya juga untuk menunjukkan jati diri seseorang, daerah, juga sebuah bangsa. Pada perkembangannya pula kini olahraga menjadi industri, contohnya industri sepakbola. Orang-orangnya bisa mencari nafkah dari sana, baik pelatih, pemain atau penyelenggaraan.

Asisten II Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Selatan Tanius mencatat khusus terkait pengelolaan olahraga secara benar. Menurut pegiat olahraga ini, jika olahraga tidak dikelola secara benar, baik manajemen yang benar, pengurus yang bisa mengurus, pelatih yang baik, atau pemain yang berkualitas, olahraga tidak akan berkembang baik.

”Contoh  pengelolaan yang buruk ini berakibat serius pada mentalitas pemain kita yang brutal. Kalau kalah tegangan tinggi. Tidak mau menerima kekalahan. Kalau kalah dengan enaknya membubarkan permainan. Itulah mentalitas bangsa kita,” kata orang yang pernah membawa pemain Persiraja meraih piala Nyak ke Blang Pidie ini.

Jembatan Perdamaian

Pada awalnya, penggunaan bahasa masing-masing peserta sempat menjadi kendala dalam pelatihan yang telah dua kali diselenggarakan JRS bersama ASA ini. Maklum, dalam Pelatihan Untuk Pelatih bertema ’Melalui Olahraga Kita Ciptakan Damai Abadi ini, bahasa yang digunakan peserta yang berjumlah 23 orang dari enam desa dampingan JRS Indonesia, berbeda-beda.

Bahasa yang digunakan Marwan, Dedi Suandi, Sami’un, serta Mawardi Rusdiantoni dari desa Pulo Kambing misalnya, adalah bahasa Kluet. Bahasa ini mayoritas digunakan masyarakat desa di sepanjang DAS Kluet. Sedangkan peserta dari Lhok Sialang Rayeuk dan Ie Merah kecamatan Pasie Raja kental dengan bahasa ibu bahasa Aceh. Lain halnya dengan peserta dari desa Air Pinang, Lhok Rukam, serta Panjupian kecamatan Tapaktuan. Mereka berbahasa Taluk (baca taluak-red) atau juga disebut bahasa Jamee. Bahasa ini merupakan nama lain dari bahasa Padang.

Menjembatani hal ini, Kasnan mengusulkan agar selama pelatihan menggunakan bahasa yang dipahami semua peserta dan fasilitator. ”Masalah bahasa jangan dijadikan masalah. Bahasa kita apa saja tidak menjadi masalah. Akan lebih baik kalau kita beralih ke bahasa nasional. Kami orang Aceh, Kluet, Jamee bisa berbahasa Indonesia. Kakak-kakak, abang-abang panitia juga beberapa berasal dari Jawa bisa berbahasa Indonesia. Sebab orang Jamee belum tentu bisa bahasa Kluet, orang Kluet belum tentu bisa bahasa Aceh, orang Aceh juga belum tentu bisa berbahasa Jamee. Kita memakai bahasa Indonesia saja,” usul peserta dari desa Air Pinang ini.

Usai menonton film David Beckham yang melatih anak-anak dari berbagai negara, diskusi pun mengalir melampaui materi teknik-teknik olahraga. Adi Burhan peserta dari Lhok Sialang Rayeuk menegaskan, dalam satu tim tidak boleh membedakan suku atau ras.

”Orang Aceh tidak bisa menolak pemain dari luar Aceh, begitu pula sebaliknya. Bagaimana jika dalam tim masih ada pemain yang rasis? Dalam tim, sikap dan perilaku membeda-bedakan orang satu tim berdasarkan SARA (suku, agama, dan ras-red) sangat tidak bagus untuk mendukung tim. Tim tidak akan pernah bagus jika pemain atau pelatihnya bersikap membeda-bedakan sara. Dalam satu tim tidak boleh memandang rendah kawan yang berbeda. Meski berbeda latar belakang kita, dalam berolahraga hal itu harus dihilangkan,” tegas laki-laki yang bertekad menularkan ilmunya pada kawan-kawan di desanya ini.

Dari film yang diputar usai shalat Isya’ dan makan malam itu, semua peserta bersepakat bahwa dalam olahraga tidak diperkenankan membeda-bedakan seseorang berdasarkan warna kulit. ”Super star sekaliber Beckham saja tidak membeda-bedakan anak-anak yang dilatihnya berdasarkan warna kulit,” kata Handika dari desa Ie Merah.

Sementara itu Ketua Harian Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Aceh Selatan Bestari Raden mengatakan, olahraga adalah jembatan bagi umat manusia untuk mendapatkan saudara.

”Dengan olahraga, tali silaturrahmi tersambung. Dari yang tidak kenal menjadi kenal, yang dulu bermusuhan menjadi saudara. Olahraga menyehatkan tidak hanya raga, tetapi juga jiwa. Sebab, dalam olahaga tidak hanya memupuk hal-hal fisik, tetapi ada nilai-nilai kerjasama, dan hal positif lain,” tukas pegiat olahraga yang juga aktivis lingkungan ini.

Menurut dia, olahraga yang benar ialah melalui permainan yang fair. ”Jika rajin olahraga tubuh akan sehat. Melalui tubuh yang sehat, kita semua bisa menciptakan perdamaian, silaturrahmi dan sportifitas,” kata Pak Bes, panggilan akrap Bestari Raden.

Melalui pelatihan ini, baik JRS, KONI, maupun para pemuda berharap mentalitas berolahraga yang mengandung nilai-nilai perdamaian bisa terjaga di kalangan pemuda. Pemuda juga diharapkan bisa mempraktekkan nilai-nilai perdamaian dalam pelatihan olahraga yang baik dan benar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: