Damai itu Membuat Kita Gembira


Meski bukan satu-satunya jawaban, olahraga mampu mengiinspirasi siapapun untuk mewujudkan perdamaian. Olahraga menumbuhkan semangat persaudaraan, kerjasama, kekompakan, kesetaraan, sikap saling menghormati, kompetisi sehat atau fair play, mengakui kekuatan lawan, serta sikap positif lainnya. Ia menjadi jembatan bagi berbagai perbedaan suku, ras, agama, budaya, sosial, ketimpangan ekonomi, hingga perbedaan ideologi.

Tidak mengherankan tiap agenda olahraga bergengsi dunia olimpiade digelar, perhatian dunia tertuju padanya. Seperti olimpiade yang digelar sebelumnya, Olimpiade Beijing 2008 lalu sukses menyedot perhatian seluruh umat manusia di dunia. Olimpiade termegah sepanjang sejarah ini mampu membuat negara-negara yang saling bermusuhan dan berperang seakan lupa bahwa mereka tengah saling bersengketa. Dunia mampu bersatu dalam perdamaian, One World One Dream.

Pemuda kampanye perdamaian

Impian bersatu dalam damai juga dikabarkan dari desa kecil di sekitar sungai Kluet, kabupaten Aceh Selatan. Pada Minggu pagi (21/12), desa Alur Mas, kecamatan Kluet Utara menjadi titik awal pemuda pemudi dari tujuh desa di kecamatan Kluet Utara, Kluet Tengah, dan Kluet Selatan untuk mengukuhkan perdamaian. Pesta perdamaian ini merupakan puncak rangkaian pelatihan pengelolaan konflik melalui olahraga, yang dilakukan Jesuit Refugee Service bekerjasama dengan Asian Soccer Academy Asia. Pelatihan yang dilakukan sejak 14 Juli 2008 lalu meliputi pengembangan sikap positif, kemampuan menganalisa konflik, serta ketrampilan mengelola konflik melalui pemecahan masalah dan negosisasi.

Koordinator JRS untuk Program Pemuda Didik Dwi Budi Saputro mengatakan, latihan rutin setiap minggu ini bertujuan membentuk atau menguatkan budaya menyelesaikan konflik sejak awal dengan cara-cara yang baik.

“Olahraga bisa menyehatkan badan dan menyegarkan pikiran. Tetapi ia kerapkali menjadi sebab timbulnya perselisihan dan konflik. Tidak terhitung lagi kerusuhan, tindak kekerasan mewarnai pertandingan sepak bola di negara kita. Dengan bekal kemampuan dan nilai-nilai manajemen konflik, pemuda pemudi diharapkan bisa menyelesaikan konflik yang timbul di lapangan olahraga khususnya dan kehidupan nyata pada umumnya. Bagi Aceh, ini sangat penting untuk menjaga perdamaian yang sudah susah payah dicapai.”

Bagi para muda-mudi, pelatihan pengelolaan konflik dirasa sangat perlu. Bahkan Rio angggota tim sepak bola dari desa Simpang Tiga juga mengatakan, pembelajaran mengenai nilai-nilai perdamaian harus dikampanyekan pada khalayak ramai. Kata dia, pembelajaran pengelolaan konflik yang didapatnya harus dibuktikan tidak hanya di desa, tetapi juga antar desa.

“Selama enam bulan ini nilai-nilai perdamaian hanya dibuktikan melalui latihan setiap minggu. Kini saatnya pemuda membuktikan dalam lingkup yang lebih luas melalui turnamen antar desa. Pelajaran tentang kekompakan, kerjasama, kerukunan saat latihan ditularkan ke warga masyarakat luas melalui acara ini. Acara besar ini juga menjadi bukti bahwa pemuda cinta damai.”

Menang melawan permusuhan

Tentu saja Yusuf Abadi benar. Ia berpendapat bahwa turnamen olahraga yang diadakan di desanya bukan sekedar penentuan juara atau siapa melawan siapa. Ketua Pemuda Desa Alur Mas ini mengungkapkan, turnamen menjadi kesempatan istimewa bagi pemuda-pemudi khususnya, juga para anggota masyarakat lainnya untuk menjalin tali silaturahmi.

“Kita bisa saling mengenal pemuda-pemudi dari desa lain. Dari sini, kita bisa saling belajar satu sama lain. Kerukunan diantara kami tentu sangat penting bagi terciptanya perdamaian,” kata pemuda aktif menggerakkan kegiatan pemuda di desanya ini.

Menyambung Yusuf, Baina pemudi desa Simpang Dua sependapat bahwa, menang bukan tujuan. Namun,  bagaimana pemuda bisa mengalahkan sikap saling memusuhi dan saling membenci. “Kita sudah terkoyak-koyak oleh konflik. Sedih rasanya jika ingat lari ke gunung untuk sembunyi. Lari ke sana kemari, tidak bisa sekolah. Nyawa terancam, hartapun entah hilang kemana. Kini suasana damai. Perdamaian harus kita jaga dengan mengalahkan rasa saling curiga dan saling benci.”

Sementara Tri pemudi asal desa Lawe Sawah usai pertandingan mengaku sangat senang bisa bersua dengan kawan-kawan tetangga desanya. Menurut perempuan yang sempat putus sekolah akibat konflik itu, turnamen perdamaian ini menjadi kesempatan untuk saling bertukar pikiran, menyerap hal-hal positif dari kawan-kawan antar desa.

“Konflik membuat kita saling mencurigai, saling membenci. Antar pemuda desa juga tidak saling mengenal. Selama ini saya juga hanya mendengar bahwa tim desa A hebat, tetapi tidak tahu siapa saja orang-orangnya dan bagaimana mereka bermain. Melalui turnamen ini kita bisa lihat bahwa tim tersebut memang benar-benar kompak dan komunikasinya bagus. Kita bisa saling belajar.”

Bagi orang-orang yang benar-benar disengsarakan oleh konflik, pesta perdamaian yang sangat didukung Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Aceh Selatan ini, sangat mengharukan. Ariah, pemudi yang juga peserta dari desa Koto Indarung mengatakan, turnamen ini membuka hatinya bahwa semangat perdamaian di kalangan pemuda sangat besar. Ingatan masa lalunya yang suram, saat konflik antara TNI dan GAM pecah, memang tidak bisa sirna begitu saja. Namun, semangatnya untuk bisa berkompetisi secara sehat mengalahkan trauma konflik masa lalu.

“Koto Indarung memilih baju seragam warna merah yang artinya berani. Berani sportif, berani mendukung tim, berani kerjasama. Juga berani menerima kekalahan,” kata dia usai bertanding melawan tim Simpang Dua. Ariah mengaku tim volley Simpang Dua sangat kuat dan pantas menjadi juara pertama.

Bertahun-tahun bumi serambi Mekah ini menjadi ajang pertempuran berdarah. Tak terhitung lagi nyawa melayang akibat peperangan. Kedukaan, kebencian, permusuhan, luka harus dihapuskan dari setiap nyawa dengan satu tekad, perdamaian. Menurut keuchik desa Alur Mas Ismun Saleh, perdamaian di Aceh harus tetap dijaga demi kenyamanan seluruh warga Aceh. Ia berharap, peperangan di masa lampau dan memakan korban nyawa serta harta yang tidak sedikit itu jangan sampai terjadi lagi di Tanah Rencong.

“Perdamaian di Aceh ini sangat penting untuk membangun Aceh. Kita sebagai warga yang cinta damai harus benar-benar menjaga perdamaian demi kebaikan warga Aceh sendiri,” kata Ismun Saleh saat menyampaikan sambutan di hadapan peserta dan warga desa.

Ismun yang mengaku bangga desanya dipilih JRS menjadi lokasi pesta perdamaian ini mengatakan, nilai-nilai perdamaian yang diperoleh dari ajang olahraga harus ditularkan pada warga desa di desa-desa lain. Baginya, mengajarkan perdamaian pada pemuda seperti yang dilakukan JRS sudah sangat tepat. Sebab kata dia, pemuda merupakan pioner dan penerus bangsa. “Jika pemuda saling bermusuhan, saling berperang, rusaklah negara ini. Rakyat Aceh pun akan kembali tenggelam dalam kesedihan.”

Kebanggaan tidak saja menjadi milik keuchik desa Alur Mas, tetapi juga warga desa Alur Mas. Betapa tidak, dari tujuh desa yang ada seperti desa Simpang Dua, Simpang Tiga, Lawe Sawah, Lawe Buluh Didi, Koto Indarung, serta Siurai-Urai, desa Alur Mas lah yang mendapat kehormatan menyukseskan acara. Padahal, sebelumnya beberapa pihak, termasuk pihak kepolisian, sempat mengaku khawatir akan terjadi kerusuhan dalam turnamen ini. Seorang kepala sekolah di Kluet Utara pun enggan meminjamkan jarring gawang milik sekolah yang dia pimpin hanya karena Alur Mas bekas wilayah konflik.

”Jaring gawang kami masih baru. Sementara desa Alur Mas dulunya daerah konflik. Walaupun kepala desa menjadi salah satu penanggung jawab acara, kami sangat khawatir,” kata dia terus terang.

Namun, hingga turnamen usai yang terjadi justru sebaliknya. Kekhawatiran yang besar dari berbagai pihak tidak terbukti. Kepala Desa Alur Mas bahkan mengaku dipanggil oleh pihak Disbudpora untuk diberi fasilitas olahraga untuk desanya.

Seorang ibu yang enggan menyebut namanya juga mengaku senang desanya menjadi tuan rumah kegiatan ini. “Pemuda perusi semangat untuk menang. Tetapi meski di akhir pertandingan ada yang kalah, mereka tetap tertawa dan saling bersalaman. Tidak ada rasa benci,” katanya seraya menggendong anaknya saat menyaksikan pertandingan bola volley. Ia juga mengungkapkan, kerukunan antar pemuda desa saat bertemu dalam turnamen menjadi contoh baik bagi warga desa seperti dirinya. “Malu lah rasanya yang tua-tua ini kalau masih bertengkar. Para pemuda saja bisa berdamai,” dalam logat Kluet yang kental.

Dalam laporan tim ASA dari minggu awal hingga berakhirnya pelatihan pada 20 Desember 2008 lalu menunjukkan hasil luar biasa di kalangan pemuda. Lee Hawkins mengungkapkan, kemampuan yang dimiliki pemuda seperti komunikasi, tingkah laku, motivasi, kerjasama tim, fair play, tingkat penerimaan perbedaan budaya-sosial-agama meningkat signifikan dari hanya rata-rata 10 persen menjadi lebih dari 90 persen.

“Kita bisa lihat tidak ada gesekan apapun saat turnamen. Bahkan sekalipun di pertandingan sepak bola terjadi cedera pemain, tetapi tidak ada seorangpun mencoba memusuhi pihak lain. Benar-benar pertandingan yang penuh dengan fair play dan menjadi contoh yang baik bagi masyarakat luas.”

damai membuat kita gembira

damai membuat kita gembira

Pesta perdamain melalui olahraga ini tidak saja membuat bangga seluruh warga desa Alur Mas, serta para peserta dari tujuh desa dan siswa SMA Negeri 1 Tapaktuan. Kegembiraan juga terpancar dari penjual es krim potong pak Ahmad. “Ya, damai memang bisa membuat kita senang. Damai membuat saya tidak was-was mencari nafkah untuk keluarganya. Dagangan laris, keluarga bisa makan,” katanya saat membaca kaos panitia yang saya kenakan. Ya, kaos lengan panjang warna biru itu memang berseru “Damai itu Membuat Kita Gembira.”

Oleh :

Ninuk Setya Utami

Information and Advocacy Officer JRS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: