Dan Beruang Mengejarku


Pagi ini memang lebih cerah dari kemarin. Meski demikian, sisa-sisa air hujan yang jatuh hingga subuh tadi masih nampak di dedaunan. Tetesan di ujung daun jernih menyegarkan sudut mata. Semalam, aku dan kader guru rimba Bekinya (12) telah bersepakat untuk segera berangkat ke rombong Bepak Betenda di sungai Toruyon, Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Ya, memang jadwal yang telah disusun, seharusnya hari kemarin kami telah bergeser. Di rombong Bepak Nuliy ini, pelajoron telah berlangsung 6 malam atau satu minggu. Waktu yang cukup untuk kegiatan belajar mengajar baca tulis hitung satu kelompok. Murid-murid di rombong lain telah menanti.

Hujan yang turun seharian kemarin membuat jadwal keberangkatan ditunda. ”Sampoi kiyun besoh todo galo haba-haba delom tay nioma (sampai sana malah basah semua barang-barang bawaan kita),” kataku pada Bekinya. Ia menanyakan apakah kami berdua berangkat atau tidak di hari hujan kemarin.

Kakok Sedeh (20), adik kakok Sedeh Berayat (13), Nelikat (11), kakak beradik Begenje (14), Pengiday (7), Besigar (6), serta Mangkur (12)  justru makin senang dan berharap hujan datang lagi. ”Ik aiy, biak tolobih lamo mikaey ngajor siao, Ibu (Biar lebih lama kamu mengajar kami di sini),” kata Pengiday yang berambut panjang itu. Anak laki-laki yang lebih cepat akrap dibanding Besigar adiknya.

Bulan Maret 2006 ini, masih ada dua kelompok Orang Rimba yang harus kudatangi. Berawal dari lintasan paling jauh rombong Meladang di Sungai Kejasung Godong. Lalu diteruskan fasilitasi pendidikan dasar sederhana ke rombong Bepak Nuliy di sungai Desa Buluh. Dari kelompok di wilayah Aek Behan ini, kelompok yang terjadwalkan untuk fasilitasi adalah kelompok Bepak Betenda, berakhir di kelompok Bepak Besunting alias Meriau di sungai Tengkuyungon.

Sedikit tentang rombong Meladang. Untuk bisa berkegiatan belajar BTH ke rombong ini butuh waktu lebih dari 10 jam perjalanan naik turun bukit. Titik awal biasa ditempuh melalui Simpang Selenti di desa Jernih. Di wilayah yang jauh dari desa ini, perempuan justru boleh dan ’wajib’ mengikuti kegiatan belajar mengajar. Ketua rombong, Tumenggung Meladang kerap berpesan padaku, ”Kalu bebudak malay belajor tukul bae pakoi doun jelatong ibu.”

Salam perpisahan selalu membuatku sedih. Saat-saat seperti ini selalu membuatku tak tahan memandang lebih lama pada mata anak-anak bercawat ini. Tatapan tulus mereka senantiasa kurindukan. Ya, meskipun pada bulan-bulan esok, aku pasti akan datang lagi. Semakin berat meninggalkan mereka. Terlebih, Besigar adik Pengiday yang juga berambut gondrong itu tidak mau kupamiti. Sejak semalam ia marah ketika aku mengatakan, ”Isuk’a kami dua berangkot podo rombong Bepak Betenda.” Hingga keberangkatanku bersama Bekinya, Besigar tetap tidak mau berbicara sedikitpun denganku. Selalu saja ada anak-anak bertingkah begitu jika aku harus beranjak pergi….

Usai sarapan dan packing sebelum berpamitan, aku mengajak Bekinya untuk melintasi bukit –saja- menuju sungai Toruyon. Menurutku, akan lebih efisien waktunya jika melintasi bukit dibanding harus keluar rimba menuju Singosari, desa Pematang Kabau. Untuk keluar rimba, setidaknya butuh waktu empat hingga lima jam perjalanan. Belum lagi hujan yang turun seharian kemarin akan meluapkan air sungai di depan sana. Menakutkan membawa beban berat dan hanya berdua dengan Bekinya. Sementara, aku sendiri hingga kini belum bisa berenang, lebih-lebih lagi di sungai berarus deras itu. Ya kalau tidak terjadi apa-apa, kalau Bekinya juga tak bisa menolongku? Kupikir-pikir, akan lebih baik memotong bukit daripada jasadku terapung di sungai Batanghari. Dari desa Pematang Kabau harus siap menunggu orang desa yang mau menjadi ojek ke desa SPI. Jika tidak ada yang mau, apa boleh buat. Menginap dulu di puskesmas atau kantor BKSDA di desa itu.

Bekinya mengusulkan tetap tidak melewati bukit jika tidak keluar desa dulu. Perjalanan bisa ditempuh dengan memutarai bukit melalui jalan setapak. ”Behelo, ndok berapo jam kalu bejejelon liwat jelon yoya? (Alamak, mo berapa jam lagi kita berjalan kalau harus lewat jalan setapak sana?)” kataku ngeyel. Waktu lalu, aku pernah lewat jalan setapak orang Rimba itu. Lama juga, adolah sepuluh betong rukuk! Jauh!

Pada peta, kutunjukkan pada Bekinya bahwa memotong bukit akan lebih cepat sampai. Memang, aku sendiri belum pernah melintasi bukit ini. ”Benyok beruang, Ibu,” sanggah Bekinya. Dan aku tetap bersikukuh, tak apa-apa. Sekali-kali lah bertemu beruang. Toh selama ini aku hanya melihatnya di kebun binatang. Yang kutahu, beruang juga bukan pemangsa manusia. Tidak terlalu menakutkan menurutku.

Huma rombong Bepak Nuliy telah kami tinggalkan lebih dari satu jam yang lalu. Sudah lebih dari sepuluh pacet menempel di kakiku. Lotion anti nyamuk yang kupakai sebelum berangkat telah luntur oleh daun dan semak basah. ”Noik siao (Jalan-naik sini)?!” kata Bekinya. Antara kata perintah atau sebuah pertanyaan tidak jelas juga.

Tangannya mulai menebas batang-batang puor, juga batang pohon-pohon muda dengan parang yang kubawa. Badannya yang masih tumbuh remaja mampu mendukung (membawa) carrier isi 80 liter. ”Koagak rehan waketu berangkot (Jauh lebih ringan dibandingkan saat berangkat),” katanya tenang saat kutanya beban di pundaknya.

Aku sendiri membawa beban lebih ringan dari Bekinya. Ia sendiri yang mengusulkan agar bahan makanan tersisa dan peralatan masak, makan, minum dibawanya. Sementara, aku membawa peralatan pribadi, juga tas Bekinya yang berisi buku tebal catatan harian, pakaian, handuk, dan sempolung (kain selimut). Lebih tepatnya disebut tas berisi tas. Carrier yang kubawa tidak lebih dari 20 kilo. Itu sudah termasuk dua puluh buku merk Kiky dan dua dos bolpen merk Pilot bertinta warna hitam dan biru.

Makin masuk, semak-semak tidak juga berkurang tingginya. ”Kalu lah litak, berenti bae. Todo begenti nang tebay. Ake nang bejejelon hanggo depangol (Kalau udah capek istirahat dulu. Ntar gantian yang berjalan di depan, gantian nebasnya),” ujarku pada anak ketiga induk Pengantin ini.

Usai istirahat barang lima menit melepas lelah, menikmati air putih yang kami bawa, juga biskuit merk Unibis, perjalanan kami lanjutkan. Bekinya enggan melepaskan parang untukku. ”Hopi ngapo, ake bae Ibu (Nggak pa pa aku aja).” Masih tetap pada prinsip yang sama, Orang Meru atau orang Terang (orang di luar komunitas Orang Rimba) yang berada bersama Orang Rimba harus dilindungi! Ia terus saja menebas batang-batang muda. Nampaknya Orang Rimba memang tidak membuat jalan setapak di bukit ini.

Meski bersemak rimbun, kuyakin bukit ini pernah digunduli untuk diambil kayunya. Selintas lalu, jarang kutemukan batang pohon besar. Hampir semua pohon berbatang muda. Diameternya paling besar hanya sekitar 30an sentimeter. Di antara batang-batang pohon, ada juga tumbuhan dengan batang menjulur seperti ular melingkar-lingkar. Sayang, aku lupa namanya. Jujur, anak tumenggung Ngrip yang juga kader dari rombong di Kedundung Muda, pernah memberitahuku khasiat batang tumbuhan itu. ”Yoi tukang untuk ubat domom. Aek delom betong nioma depot diminom,” katanya ketika bulan pertama aku masuk rimba Bukit Duabelas.

”Kresek, kresek!” Suara asing di antara rimbunnya semak terdengar olehku. Bekinya juga mendengar. Langkah kami spontan berhenti. Saat tangan bekinya menjulurkan parang sebagai tanda peringatan, sesosok tubuh hampir setinggi kami telah berdiri di depan kami. Jaraknya hanya sekitar dua meter dari tempatku dan Bekinya berdiri. Bertiga tekelanjak (terkejut) tak terkira! Entah apa yang kupikirkan saat itu. Berbalik arah, lalu kakiku membawa tubuhku entah kemana. Dalam pelarian, telingaku masih mendengar sosok tubuh berdegup mengejarku. Bekinya menghilang. Hilang dari mataku, juga hilang dari ingatanku!

Saat kusadar, bibirku terasa sakit luar biasa. Pada kulit pohon yang masih dalam dekapanku, darah mengucur. Kurasa-rasa darimana darah itu mengalir. Tak hanya di kulit pohon, ia juga mengalir menempel di kaosku yang basah oleh keringat. Manakala angin berhembus di antara dedaunan, kulitku terasa perih di beberapa bagian. Tiba-tiba aku ingat, ”Tuhan, ngapain aku ada di atas pohon setinggi ini? Kok bisa begini?” Nafasku masih tidak teratur, terangah-engah tak karuan. Kucoba mengingat-ingat awal kejadian. Nampaknya, suara menyeramkan binatang itu yang membawaku sampai ke pohon setinggi ini.

Ngeri aku melihat ke bawah. Antara takut ketinggian dan tubuh di bawah sana. Perkiraanku, aku berada di ketinggian lebih dari sepuluh meter, mendekap erat batang pohon berdiameter tidak lebih dari sepuluh sentimeter. Lebih menakutkan lagi ketika kulihat arah bawah. Samar-samar sosok tubuh berbulu coklat berkali-kali mencoba mendekat batang pohon yang kunaiki. Ia berdiri saja di bawah sana, berjarak sekitar satu setengah meter dari pohon yang kupanjat tanpa sadar ini.

Sekian menit berlalu, binatang berbulu tidak juga pergi. Ketakutan tidak segera menyadarkanku bahwa aku tidak sendirian. Suara laki-laki entah dari arah mana terasa hampa di telingaku. Saat beruang pergi berlalu, Bekinya menyadarkanku untuk segera turun dari pohon. Bodohnya aku, ”Pamono ake turun? Behelo anjing! (Bagaimana turunnya? Ah, Tuhan!).”

Bekinya menyakinkanku bahwa sosok berbulu tadi adalah beruang. ”Beruang api,” sebutnya. Iya, ia asing tetapi tidak asing. Aku kerapkali menjumpainya di kebun binatang. Biasanya ia ditempatkan di area terbuka dengan permukaan tanah yang lebih rendah dibandingkan permukaan tanah para pengunjung kebun binatang.

”Behelo, mulut Ibu’a bederoh.” Raut muka Bekinya tampak tegang. Darah telah berkurang, tetapi kaosku bagian depan telah berubah warna menjadi merah. Penuh darah. Toh, aku belum sadar juga sampai Bekinya berkata, ”Behelo makon anjing, gigi Ibu’a lah helang!”

Lidahku mencari-cari, juga jari-jariku. Iya, gigiku patah dua sekaligus. Bagian depan pula. Behelo, ompong aku kini! Ingin rasanya kucari gigiku yang patah. Tapi untuk apa. Toh nggak mungkin disambung lagi. Rasa takut lebih besar dibanding melankolis mencari dua patahan gigiku.

Eik, behelo, kacomatoke lah helang pula!” Dalam ketakutan dan rasa sakit di mulut yang mulai mereda, kami mencari-cari haba-haba (barang). ”Ibu berenti bae, biak ake nang delok haba-haba yoya (Ibu istirahat saja. Biar aku yang mencari barang-barang kita).” Ah, nanti beruang malah datang bersama kawanannya di sini, pikirku.

Bekinya dan aku menyusuri dari jejak kami sendiri. Semak-semak pendek yang patah oleh kaki-kaki kami, mungkin juga beruang yang mengejar kami. Carrier yang dibawa Bekinya ketemu di dekat kacamataku. Jaraknya dari pohon yang kupanjat lebih dari 200 meter. Sementara, carrier yang kubawa ketemu lebih jauh lagi. Mungkin saja aku melepaskannya lebih cepat dari Bekinya. Tidak sadar juga kacamata yang hingga kini kupakai terlepas dari pangkal hidung dan kedua telingaku. Sementara, sandal gunungku sebelah kanan tidak pernah kami temukan. Mungkin telah diambil beruang, batinku.

Dari jejak yang ada, ternyata aku dan Bekinya berlari arah balik yang sebelumnya kami tempuh. Dataran kecil yang landai tempat kami istirahat kulintasi kembali. Bekas-bekas tebasan parang Bekinya masih tampak jelas.

Pada akhirnya Bekinya berhasil memaksaku kembali ke desa. ”Ibu’a haruy pogi podo lokoter pukeymay (Ibu harus berobat ke dokter di puskesmas).” Tidak ada kata lain selain menuruti kata-katanya. Dalam diam, aku mengakui kebodohanku. Tidak mempercayai kata-kata Bekinya yang lebih hafal pada genah penghidupon (alam)nya sendiri. Toh, keegoisanku harus kubayar mahal. Sandal gunung bisa kubeli lagi di kota. Tetapi dua gigi depanku? Ia nggak mungkin tumbuh lagi.

Perjalanan menuju desa Pematang Kabau yang hanya empat sampai lima jam terasa sangat lama dan berat. Kepalaku terasa pusing, berputar-putar. Saat dokter memeriksaku, ia mengatakan pusingku akibat banyaknya darah yang keluar. ”Bisa juga karena benturan keras antara mulut-gigi- pohon,” kata dokter Adam sembari menjahit bibirku bagian dalam.

Harga lain yang kubayar mahal kemudian adalah aku tidak bisa bertemu dengan bebudak (anak-anak) di rombong Bepak Betenda di sungai Toruyon, juga bebudak rombong Bepak Besunting di sungai Tengkuyungon. Kelak pada bulan berikutnya kutahu, Begendang (7), Betenda (6) anak Ninjo ketua rombong di sungai Toruyon, Tembuku (13) kakak Bekinya yang juga kader rimba, Mulau (6) adik Begendang, juga Bekangga (13) telah menungguku selama empat malam di rumah bang Wahab di dusun Sido Makmur, desa Satuan Pemukiman I.

Dari cerita Abdi teman fasilitator pendamping yang juga antropolog, anak-anak di rombong Meriau bepak Besunting juga menungguku. ”Ibu Ninuk’a lah sobut ndok mansuk malom nioma,” kata Abdi menirukan ucapan Bekaco (10) yang

bekinya dan sergi, kader rimba bang hebat!

bekinya dan sergi, kader rimba bang hebat!

berjumpa dengan nya saat mereka bertemu di hari pasaran di desa SPI.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: