Juara untuk Perdamaian Aceh


Santri Nur merangkulkan kedua tangannya di bahu kawannya yang berdiri agak membungkuk di sebelah kanan dan kiri tubuhnya. Kawan lainnya pun saling merangkul membuat lingkaran kecil. Santri bicara pelan. Seakan hanya lingkaran kecil itu saja yang boleh mendengarnya. Tak lama kemudian, telapak tangan mereka mengumpul membentuk tumpukan di tengah-tengah lingkaran. ”Yo!” hanya kata ini yang terdengar oleh kerumunan orang yang melihat aksi mereka.

Para perempuan berusia muda dan berbaju seragam warna merah muda itu tengah bersiap bertanding dalam Festival Perdamaian melalui Olahraga. Santri Nur mengungkapkan, sebagai asisten pelatih bola volley desanya, desa Air Pinang, ia berkewajiban memberi semangat bagi kawan-kawannya.

Kami berharap bisa menjadi terbaik dari yang paling baik. Makanya sebelum pertandingan kami terus berlatih. Dengan festival ini, secara tim kami semakin kompak. Saya juga bertugas untuk memberikan semangat, mengajak untuk tidak cemberut selama bermain dan sesudahnya, jangan mudah terpancing emosi dan sebagainya,” ujar gadis yang dalam setiap latihan rutin didampingi Kasnan, asisten pelatih lainnya.

Dalam festival perdamaian hasil kerjasama Jesuit Refugee Service, ASA Asia, dan pemuda-pemudi desa Pulo Kambing, pada Minggu (19/07/2009) ini, tim bola volley dan sepak bola di enam desa dampingan JRS Aceh Selatan bertanding. Enam desa tersebut antara lain desa Panjupian, Lhok Rukam, dan Air Pinang di Kecamatan Tapaktuan, Lhok Sialang Rayeuk dan Ie Merah di Kecamatan Pasie Raja, serta tim dari desa tuan rumah Pulo Kambing Kecamatan Kluet Utara.

Seorang ibu yang mengaku pedagang pisang di Pasar Inpres Pajak Tapaktuan mengatakan, hari itu sengaja tidak berjualan karena ingin berpartisipasi dalam festival. Ibu Ayat, demikian ibu ini dipanggil, mengaku bangga dengan pemuda-pemudi desa Pulo Kambing atas penyelenggaraan acara tersebut.

”Mereka dari hari-hari yang lalu sampai hari ini sangat terlihat kompak. Benar-benar mereka ingin acara ini sukses. Saya juga senang olah raga ini tidak seperti yang pernah saya lihat di tivi, ada rusuh-rusuh. Semoga selalu damai seperti Aceh sekarang,” kata ibu Ayat seraya menyuapi es krim ke mulut cucunya.

Tak hanya ibu Ayat yang merasa bangga dengan festival perdamaian di desanya. Jasmina, perempuan yang juga pelatih tari bagi anak-anak usia sekolah dasar pun merasakan hal yang sama. Dalam perhelatan akbar ini, anak-anak didiknya menyajikan tarian Raneup Lampuan sebagai tarian sambutan bagi tamu undangan, peserta, maupun penonton festival. Gemulai tarian anak-anak disambut tepukan meriah dari siapapun yang hadir di lapangan desa Pulo Kambing tersebut.

”Meskipun nama acara ini festival perdamaian melalui olah raga, kami senang mendapat sambutan bagus dari hadirin. Harapan saya, meskipun melalui olah raga, perdamaian dan persaudaraan bisa semakin dinikmati semua orang,” kata Jasmina yang menguasai 11 tarian Aceh ini.

Diakui Geuchik Gampong Pulo Kambing Kiyaruddin, festival perdamaian mampu mempererat lagi tali persaudaraan yang telah terjalin. “Saat kegiatan rutin dilaksanakan, pemuda-pemudi antar gampong telah berlatih bersama. Tapi mereka ketemunya hanya satu tim satu tim. Kalau festival seperti sekarang mereka semua bisa bertemu. Hubungan silaturahmi akan terjalin lebih erat.”

Tak sampai di sana, Ketua Pemuda Desa Pulo Kambing yang juga menjadi penanggungjawab acara ini, Marwan bahkan berencana akan terus melakukan pelatihan dengan desa-desa lain, termasuk desa tetangga. “Olah raga sangat bagus untuk ngajak orang mengerti pentingnya damai, terutama sekali di Aceh Selatan ini. Makanya kami akan terus menyampaikan nilai-nilai perdamaian melalui olahraga. Jadi tidak selesai hanya sampai festival ini saja,” kata Marwan yang juga asisten pelatih bola volley ini.

Utamakan fairplay

Festival perdamaian melalui olahraga kali ini merupakan penyelenggaraan kali kedua oleh JRS Aceh Selatan bekerjasama dengan ASA Asia. Penyelenggaraan pertama dilaksanakan pada Desember 2008 lalu bertempat di desa Alur Mas, Kecamatan Kluet Utara.

Dalam sambutannya Koordinator Program Pemuda JRS Didik Dwi Budi Saputro menyatakan, festival ini merupakan ajang untuk mengukur kemampuan pemuda-pemudi dalam pengelolaan konflik, serta pemahaman akan perdamaian.

”Festival ini dilakukan untuk mempersatukan dan mempererat tali silaturahmi desa-desa dampingan JRS. Kegiatan yang dirancang JRS bersama pemuda-pemudi ini selain untuk meraih kemenangan, menghindari kekalahan, kami juga ingin menampilkan sisi mental yang harus tetap dijaga. Harapanya melalui olah raga, pemuda-pemudi dan masyarakat bisa menjaga perdamaian yang sudah ada di Aceh ini.”

Acara festival perdamaian melalui olah raga ini dibuka oleh Camat Kluet Utara Zubiruddin, dengan pelepasan sepasang merpati putih sebagai simbol perdamaian. Dalam sambutannya, Zubiruddin mengingatkan para peserta untuk bermain secara jujur. Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan tidak menjadi alasan untuk permusuhan.

“Di sini kita berbeda bahasa. Yang dari Tapaktuan berbahasa Jamee atau Minang atau Taluk, yang dari Kluet bahasa Kluet, peserta dari Pasie Raja berbahasa Aceh. Yang diusung dalam festival perdamaian ini adalah suasana penuh keakraban dan kedamaian. Kita bertanding tidak akan mencari kemenangan besar tentang juara. Kita jadi juara untuk perdamaian.”

Sejalan dengan tema yang diusung dalam festival, menurut pengamatan juri dari Persatuan Bola Volley Seluruh Indonesia Safril, komunikasi antar pemain dalam tim maupun antar tim sangat cair.

“Kekompakan sangat terlihat dari komunikasi yang terjalin dalam tim, antara pemain dengan pelatihnya. Kemudian antar satu tim dengan tim lainnya, baik dalam pertandingan atau di luar pertandingan tidak panas. Ada sikap saling menghargai kemenangan maupun bisa menerima kekalahan,” ujar bapak yang akrab dipanggil Alex ini.

Sikap menerima kekalahan dan saling menghargai ini juga sangat ditekankan oleh  asisten pelatih dari Desa Lhok Sialang Rayeuk Samsuar dan Adi Burhan, pada para pemainnya. Samsuar dan Adi mengatakan, sejak latihan rutin dilaksanakan, motivasi yang diajarkan pada pemuda dalam bermain adalah sportivitas.

“Utamakan fairplay! Utamakan fairplay! Itu yang terus kami ingatkan pada teman-teman. Selain itu harus bekerjasama dalam tim, jangan menyudutkan dan menyalahkan kawan selama permainan. Kemenangan itu hanya bisa diraih jika kita bermain lebih sportif. Tujuan utamanya bukan kemenangan. Dan akhirnya benar, meski tidak dapat juara, kami meraih juara fairplay team,” ujar Samsuar diiringi kebanggaan kawan-kawan satu timnya.

jangan biarkan damai ini pergi

jangan biarkan damai ini pergi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: