kala badai


Baru saja ia pergi, selang satu jam datang lagi. Kantukku belum hilang kala kupaksakan kakiku melangkah ke keluar. Ke balkon. Kursi warna merah yang dulu kuangkat bersama mbak Elis dari lantai dasar, kugeser ke tengah mendekati pintu. Ia telah basah pada sisi paling pinggir pagar balkon. Handukku, mungkin juga handuk milik mbak Nur yang berukuran besar telah basah oleh hujan. Sekalipun tempat jemuran kecil itu sudah pada tempatnya, di tempat teduh.

Sinar lampu jalanan redup. Semburat warna orangenya menjadi kelam tak seterang biasanya. Warna itu telah bercampur rintik hujan dan angin. Gulungan-gulungan angin terlihat jelas pada atas bukit yang dikeruk untuk pembangunan masjid. Pada atas atap-atap rumah, amukan badai mengombang-ambing air langit. Seperti tanpa daya ia dipaksa untuk ikut meliuk-liuk sebelum akhirnya jatuh ke tanah.

Gulungan angin itu membawa deru yang menyiksa telingaku. Terkadang, lebih mirip pertempuran aspal dan ban mobil yang dipacu dengan kecepatan tinggi. Tapi tak jarang pula suaranya menderu bak glondongan kayu yang sengaja ditendang raksasa dari bak truk-truk besar, hingga saling menindih dan mengeluarkan suara gembruduk.

Aku masih terdiam hingga beberapa menit. Lebih pada takut dibandingkan ingin menyaksikan. Tiba-tiba kuingat ibuku di pulau seberang sana. Badai sangat jarang kutemui pada waktu lalu. Kala ia datang disertai runtuhan air langit, ibuku akan cepat-cepat pergi ke dapur. Lalu ia keluar dengan menggenggam garam. Mulutnya komat-kamit mengumandangkan sesuatu, entah doa pada angin, air langit, atau yang membuat keduanya. Tapi aku tak melakukannya kini. Tidak juga mengambil garam di lantai bawah sana. Tidak juga komat-kamit untuk sekedar menghilangkan rasa takut.

Kain jarik yang kupakai untuk melindungi tubuhku berkibar-kibar. Kibasan serpihan air langit jatuh pula pada mukaku. Segar terasa. Jika air langit tidak diamuk angin, daun-daun mangga sebelah kamarku akan tenang menerima kesegaran yang juga kurasakan. Namun, mereka terseok-seok. Sayangnya gelap dan hanya hitam di bawah sana. Esok kala mentari keluar di balik bukit, kuyakin dahan-dahan terlempar ke tanah berbatu.

Kuingat pemberitaan peringatan dini dan prakiraan cuaca ektrim pada sebuah media online, Senin kemarin. Badai datang lagi, mungkin juga esok hari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: