Kala Hujan Tanpa Musim


Hidup di Taman Nasional BUkit Duabelas (TNBD), Jambi, yang memiliki luas 60.500 ha ini seakan tiada bulan tanpa hujan.
Selama kurun 2 tahun yang kujalani, hujan bisa dipastikan datang meski hanya beberapa hari jika kemarau tiba.
* *
Suatu hari di akhir bulan Mei 2006, di Belukor Sejelai bersama Jujur, salah satu kader pendidikan, Bekaco, Sekola, Bedewo, Njerupih, Nuduh, dan Nimbo. Bulan itu adalah kali ketiga aku masuk ke rombong Selambai. Sebelumnya aku mengajar mereka di kebun sawit milik sebuah perusahaan perkebunan di desa transmigrasi Satuan Pemukiman I (SPI), desa Sido Mukti. Beruntung rombong ini tak mau berlama-lama tinggal di kebun sawit dan kembali masuk rimba.

Di bulan ini juga ketika kudatang, hujan turun tiga hari berturut-turut tanpa henti. Menjelang sore, perkiraanku sekitar pukul 16, sang surya menampakkan diri. Langit kelihatan sangat terang. Lebih terang dibanding di atas sungai besar sekalipun. Sebab, di sekitar sesudungon (rumah sementara) kami, hutan telah dibabat habis oleh pembalak. Hanya tanaman-tanaman muda dan lahan kosong melompong yang hanya menyisakan onggokan ranting dan daun warna coklat. Pada sisi selatan rumah sekolah, setelah semak belukar sepanjang 300 meter adalah ladang yang diolah rombong ini. Jika berjalan ke arah timur dan utara, kita akan semakin jauh masuk ke taman. Anak sungai kecil tempat kami memanfaatkan airnya untuk keperluan sehari-hari juga berada di arah utara. Sedangkan di sisi barat, berdiri tegak sebatang pohon besar. Ia menjadi satu-satunya pohon yang masih tegak berdiri di lokasi itu. Pohon tua berdiameter lebih dari satu meter ini laksana raja yang kehilangan rakyatnya! Ia terlihat merana tanpa ‘teman sebaya’.

Todo piado hujan. Koagak nye lah kelitak’on titik, ibo? (Nanti tidak lagi hujan. Sepertinya dia –hujan- sudah kecapek’an turun, ya?),” kataku pada anak-anak rimba seraya menata kayu yang dibelah Sekola.

I’ai, hopi. Todo lagi mansi hujan, Ibu. Piado lamo nye titik (Ye, tidak. Nanti masih hujan, Ibu. Tidak lama lagi hujan akan turun),” tukas Bedewo, adik Sekola yang rambutnya juga krebo.

Saat saya masih bandel dengan argumen hujan tidak bakal turun lagi hari itu, anak-anak bercawat itu langsung berkata, “Koli de poncak iyoi Ibu, yoya tando ndok hujan (Lihat ke langit, itu tanda akan terjadi hujan).” Ehm, aku tak tahu sama sekali tanda apa yang dimaksud. Hanya satu pikirku, langit tampak cerah. Aku tetap ngeyel dan tak sependapat dengan mereka.

Tapi toh tak ada yang bisa berkelit bahwa anak rimba hidup dengan alam. Mereka tahu betul tanda-tanda alam. Entah hari yang cerah tiba-tiba mendung dan turun hujan, atau langit gelap tetapi hujan tidak turun. Pengetahuan alam mereka sangat hebat. Ucapan budak-budak pelajoron (murid) ini beberapa saat kemudian terbukti benar.

Siamang telah berpesan, “Petang telah datang, segera isi perut kalian agar secepatnya bisa melanjutkan pelajaran.” Jujur lalu mulai menyebut kata-kata mudah “BETU, CIGU, PENA, SUDU, BEBI,” dan anak-anak menuliskannya di buku tulis masing-masing. Tak berapa lama Jujur mengajar, tiba-tiba kulit kami merasakan butir-butir lembut air. Satu-persatu meringsek ke tengah, mengambil bagian paling aman agar buku tidak basah.

Kecuali Nimbo, anak-anak lain belajar bersama Jujur. Nimbo anak yang paling rendah tingkat daya tangkapnya terhadap pelajaran. Siapapun yang mengajar anak tiri Ngandus ini harus memiliki kesabaran lebih. Postur tubuhnya tinggi, kurus dan tidak berisi. Hanya perutnya saja yang berukuran besar, tetapi sangat keras. Ia tidak sekuat kawan-kawannya dalam hal makan. Matanya penthola-pentholo, badannya paling putih di antara kawan-kawannya. Seringkali tertidur jika pelajaran sedang berlangsung. “Akeh lah rintuk (Saya sudah mengantuk).”

Nimbo semakin berdekatan denganku. Hembusan angin semakin mendorong butiran air masuk ke rumah sekolah yang tanpa dinding. Butiran air makin besar dan disertai hembusan yang makin kencang.

Ha, nye detong dari kiyun. Ibu nganing pula hopi? (Tuh, ia –hujan- datang dari sana. Ibu mendengar juga, nggak),” pena Nuduh diarahkan ke selatan. Bukunya didekap didadanya yang telanjang tanpa baju.

Bresss! Atap plastik hitam kami kresak-kresek dihempas angin. “Lah sodah bae, ibo, Ibu. Todo kalu lah piado gunjaron (Sudah dulu ya, Bu. Nanti dilanjutkan kalau sudah tak ada angin besar),” kata Jujur seraya memasukkan bahan makanan, alat memasak dan makan ke carrier. Lalu ditutup lagi dengan plastik bekas bungkus beras.

Mata kami terus mengawasi sekitar sambil mendekap tangan ke dada. Dingin hingga menusuk tulang. Kain jarit kuberikan pada Bedewo, Njerupih dan Nimbo. Sekitar rumah tampak gelap gulita. Lilin telah mati dihembus angin. Bahkan Sekola juga harus menyalakan lampu teplok berulang akibat mati ditiup angin kencang.

Jujur terus memantau situasi dengan senter. “Behelo (Dewa/ Tuhan), selamatkan kami,” bisik Bekaco, diiyakan kami semua. Nimbo yang beberapa bulan kemudian divonis Hepatitis B tampak ketakutan.

Sesaat kemudian, kregggg, terdengar dari arah barat. “Bui apo yoya? (Bunyi apa itu),” teriak Njerupih.
Spontan tangan Jujur yang duduk berhimpitan di sisi kiri tubuhku menarik pergelangan tanganku. “Lari! Galo lari! Betong yoya ndok rubuh! (Lari! Semua lari! Pohon itu akan rubuh!)”

Kami berdelapan lari kocar-kacir ke arah timur dan utara. Dalam gelap dan hujan lebat kami tunjang palang menyelamatkan diri. Senter di tangan Jujur menjadi mata bagi kami menyaksikan sang raja merobohkan genah pelajoron kami.

Nimbo dan Njerupih meratop (menangis) pilu. “Bukukeh besoh, Ibu (Buku saya basah),” saat kami mengambil haba-haba (barang-barang) dari rerimbunan daun basah. Semua buku basah. Baju kamipun telah basah kuyup.

Malam itu kami ‘dievakuasi’ ke rumah pemimpin rombong. Tidur dalam kegelisahan, kulit perih karena lari tak tentu arah, dan dingin menusuk tulang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: