Main Volley kok Pakai Rok!


Sore sekitar pukul 15. Paparan sinar mentari masih terasa panas di tubuh-tubuh yang berbalut baju lengan panjang, juga di kepala yang tertutup jilbab. Wajah-wajah cantik tampak berkilauan ketika keringat dan minyak di wajah bertemu cahaya matahari. Tidak sedikit dari mereka yang telah mandi keringat. Baju basah kuyup meski permainan bola volley belum selesai satu babak. Meski demikian, raut-raut wajah penuh tawa terlihat lepas tanpa beban.

Rabu itu (29/4), ada yang berbeda di lapangan bola volley Desa Pulo Kambing, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, Nanggroe Aceh Darussalam. Jika pada minggu-minggu sebelumya di setiap hari Rabu, lapangan yang baru dibuat pada awal Maret lalu ini hanya dipenuhi oleh pemudi desa Pulo Kambing, kini ada lebih dari dua puluh orang berseragam. Pemudi berseragam baju warna putih dengan lengan warna hijau, serta celana warna kuning tersebut merupakan pemudi Desa Panjupian, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan.

Ketua Pemudi Desa Panjupian Diana Wisda mengatakan, tim desanya bertandang ke Pulo Kambing awalnya hanya ingin tahu dimana letak Desa Pulo Kambing. Nurul pemudi pelajar SMA mengiyakan perkataan Wis, nama akrab Diana Wisda. Nurul mengungkapkan, seumur hidup dia dan kawan-kawannya baru tahu kalau di Aceh Selatan ada desa bernama Pulo Kambing. ”Dima letak desa Pulo Kambieng ro? Bentuk pulau e? Banyak kambing ndak di situ? (Dimana letak desa Pulo Kambing itu? Berbentuk pulau kah?).”

Rasa penasaran pada nama desa kemudian berbuah niat berlatih volley bersama. ”Rugi juga jauh-jauh ke Pulo Kambing, setelah tahu dimana lokasinya terus pulang. Makanya niat kami berubah, dari hanya ingin tahu letak desanya dimana, menjadi niat ingin berlatih bersama pemudi Desa Pulo Kambing. Ternyata asyik juga latihan dengan kawan desa lain,” ujar Wis.

Ajakan latihan bersama pemudi Desa Panjupian pun disambut tangan terbuka oleh pemudi Desa Pulo Kambing. Memang, awalnya tim tuan rumah merasa tidak percaya diri dengan ajakan tersebut. Bisik-bisik di antara pemudi saat pemudi Panjupian tiba di Pulo Kambing hanya kata ”Melo (Malu),” yang terucap. Apa sebab? ”Orang itu mainnya sangat bagus. Lah kami? Teknik-teknik bermain belum kami kuasai sehingga membuat kami tidak percaya diri,” kata Dewi usai pertandingan.

Ketidakpercayaan diri Dewi dan kawan-kawan sekampungnya bisa dimaklumi. Sebab, pemudi dari desa yang warganya mayoritas berbahasa Kluet ini baru mulai berlatih volley sekitar dua bulan yang lalu. Beberapa teknik dalam permainan bola volley belum dikuasai benar oleh tim, seperti kata Dewi. Lain halnya pemudi Panjupian bermain volley sejak konflik GAM-NKRI belum pecah di Aceh. Pemudi berwajah imut Lianda Fatmawati pun mengungkapkan, tim bola volley desanya masih harus terus belajar dalam hal kerjasama dan kekompakan.

Para mudi, baik dari desa Pulo Kambing, Air Pinang, Panjupian, dan Lhok Rukam mulai rutin berlatih volley bersama Jesuit Refugee Service, bekerjasama dengan Asian Soccer Academy sejak Maret 2009. Awalnya, pemuda-pemudi mengirimkan utusan masing-masing dua orang untuk mengikuti pelatihan untuk pelatih (Coach to Coaches atau CtC) bola volley pada pertengahan Maret 2009. Setelah memperoleh berbagai ketrampilan teknik permainan bola volley secara profesional, memahami pengelolaan konflik dan kaitannya dengan olahraga, para CtC mulai melatih kawan-kawan di desa masing-masing. Nilai-nilai yang dikenalkan dalam pelatihan antara lain, motivasi, komunikasi, kepemimpinan, kesadaran, fair play, kerjasama tim, kemampuan sosial budaya, konsentrasi, serta pergerakan.

Namun, bukan hanya alasan teknik bermain ternyata yang membuat sebagian besar pemudi desa Pulo Kambing tidak percaya diri. Lebih lanjut, ”Dari baju yang mereka kenakan saja kami merasa tidak percaya diri. Mereka memakai baju dan sepatu seragam tim, sedangkan kami hanya seperti ini,” ujar Lianda yang baru berusia 16 tahun ini.

Salah satu alasan ketidakpercayaan diri pemudi Pulo Kambing, terkait pakaian yang mereka kenakan bisa jadi sangat beralasan. Percakapan yang keluar dari pemudi Panjupian dengan gaya bahasa Aneuk Jame waktu itu adalah, ”Ba a main volley pakai rok? Apo indak payah beko pas ma ambiak bola (Bagaimana main volley kalau memakai rok? Apa tidak susah nanti waktu mengambil bola?).”

Keragu-raguan, ketidakpercayaan diri, serta rasa malu pemudi tuan rumah segera dijawab oleh Saprina. Wakil Ketua Pemudi Pulo Kambing tersebut mengawali perkenalan dengan kawan baru mereka dari Panjupain. Lalu ia segera pula memberikan dukungan dan mendorong teman-temannya menuju lapangan untuk berkenalan dengan kawan-kawan baru mereka.

”Memang ada rasa malu dan ragu pemudi sini. Tetapi rasa malu itu harus segera disingkirkan. Hari ini menjadi hari bersejarah bagi kami. Sebab tim volley yang baru terbentuk ini untuk pertama kalinya didatangi pemudi dari desa lain. Apalagi sangat terlihat pemudi Panjupian lebih maju dari kita,” jelasnya.

Toh, dengan penampilan yang sederhana, atau boleh dikatakan sangat apa adanya, tim pemudi Pulo Kambing malah meraih angka di set pertama. Tentu, tim Desa Panjupian tidak menduga bakal kalah angka pada set pertama. Lalu, sembari jeda, Rukmini dan Wisda yang menjadi asisten pelatih Desa Panjupian mengingatkan kawan timnya agar tetap konsentrasi, kompak dan berkomunikasi dengan baik. Hasilnya, di babak dua tim campuran Pulo Kambing–Panjupian berhasil memenangkan set ke dua.

Menurut Rukmini, pelatihan persahabatan ini bukan untuk mencari kalah menang. ”Siapa yang menang dan siapa yang kalah tidak menjadi target utama dalam pelatihan ini. Target dan niat kami adalah menjalin persahabatan melalui pelatihan volley,” ujarnya mantap.

Ungkapan gadis Panjupian tersebut tidak jauh berbeda pendapat eSaprina. Ia dan kawan-kawan pemudi Desa Pulo Kambing mengaku sangat senang dengan kedatangan pemudi dari Desa Panjupian. ”Mereka sangat memotivasi kami untuk lebih serius dan disiplin dalam pelatihan. Teman-teman Panjupian juga memotivasi kami untuk secepatnya membentuk kepengurusan bola volley. Sebab, dengan kepengurusan yang baik, kami juga bisa mendapatkan kekompakan dan saling bekerja sama dengan baik. Kami juga bisa secepatnya memiliki sepatu baru seperti Desa Panjupian,” ujarnya sambil tertawa.

Berkat latihan persahabatan ini, pemudi desa Panjupian yang biasanya enggan berlatih menjadi termotivasi untuk ikut latihan rutin. Maya Trisna mengisahkan, jika pada latihan rutin di desa pemudi hanya bisa dihitung jari, saat latihan bersama dengan desa lain, jumlah pemudi yang semakin banyak. ”Mereka kadang bosan berlatih dengan orang yang itu itu saja. Sedangkan kalau berlatih dengan kawan desa lain, kita bisa saling belajar. Terpasti kita akan tambah kawan.”

Beda tapi bisa

Perbedaan kasat mata tim pemudi Panjupian dan Pulo Kambing sangat kentara. Satu tim tampil berseragam serba baru, satu tim lainnya bahkan tanpa alas kaki dan memakai rok. Satu tim sangat tampil percaya diri, sedangkan tim tuan rumah justru merasa rendah diri. Untuk mengatasi perbedaan ini, kedua tim lalu bersepakat untuk saling tukar pemain pada set kedua. Dalam satu tim kemudian berisi tiga orang masing-masing desa.

Perbedaan lain dua desa dari 13 desa dampingan JRS ini adalah masing-masing desa menggunakan bahasa yang berbeda. Masyarakat Desa Pulo Kambing yang terletak di pinggiran sungai Kluet secara turun temurun menggunakan bahasa Kluet. Sedangkan masyarakat Desa Panjupian pada umumnya berbahasa Aneuk Jamee. Bahasa ini acap dalam istilah lain dari bahasa Minang atau bahasa Padang.

”Awalnya sangat sulit memahami bahasa orang itu. Apalagi saat set kedua ada percampuran pemain. Dalam satu tim ada dua bahasa. Orang ini ngomong apa saya tidak tahu. Tapi kemudian kami mengatasinya dengan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia,” ujar Maya.

Jika pemudi tim volley baru sekali melakukan latihan persahabatan, tim pemuda untuk sepak bola tidak demikian. Asisten pelatih Desa Pulo Kambing Dedi Suandi mengungkapkan, pemuda kerap diajak atau mengajak tim desa tetangga untuk berlatih bersama. Bahkan menurut pemuda, tim sepak bola biasa menerima ajakan latihan bersama desa lain minimal tiga kali dalam satu minggu.

“Kami selalu bersenang hati dan terbuka pada kawan-kawan dari desa lain untuk latihan bersama. Harapannya tentu bisa saling belajar teknik-teknik permainan bola. Tapi lebih jauh dari itu kami tambah saudara. Memang awalnya hanya satu dua orang yang kami kenal untuk latihan bersama, tapi waktu mereka datang satu tim, bahkan dengan suporternya, kami jadi saling kenal dan saling mendukung,” ujar pemuda yang juga aktif mengajar mengaji di Taman Pendidikan Al Quran ini.

Lalu, latihan bersama menjadi agenda rutin desa-desa dampingan JRS. Setiap minggu, pemuda dan pemudi saling mengunjungi desa tetangga. Setelah latihan bersama desa Panjupian, pemuda pemudi Desa Pulo Kambing melakukan latihan persahabatan dengan pemuda pemudi Desa Lhok Rukam. Ke depan, pemuda pemudi Panjupian pun dengan tangan terbuka menerima ajakan muda-mudi desa Air Pinang untuk latihan bersama.

Oleh :

Mardiansyah dan Ninuk Setya Utami, Liaison Officer dan Infomation Advocacy Officer JRS

http://www.jrs.or.id/images/dmdocuments1/20090615_refuge-juni-2009-eng_by-devi.pdf

main volley kok pakai rok

main volley kok pakai rok

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: