Siapa Sang Pemilik


Adikku semata wayang, Jony, menelponku. Tumben malam-malam begini. Biasanya, ia akan menelponku untuk sekedar menanyakan kabarku di hari Minggu, jika aku belum sempat menghubunginya. Rupanya ia tengah kesal. Pasalnya, lagi-lagi katanya, lampu neon penerang jalan di beranda rumah lenyap entah diambil siapa.

Aku ndek bengi lali nyopot. Lha ki mau sore tak urupke kok ora murup-murup. Jebule wes raono meneh lampune (Semalam aku lupa melepas neonnya. Sore tadi kuhidupkan kok nggak nyala-nyala lampunya, ternyata –pas kutengok- sudah tidak ada lampunya lagi),” katanya kesal.

Menurut ceritanya, ini sudah kali keempat lampu neon hilang dari pitingnya. Biasanya sebelum tidur, kata adikku, lampu dilepas dan disimpan di dalam rumah. ”Lho, yo ndalane peteng yen ora dikei lampu? (Lah, jalan jadi gelap kalau nggak dikasih lampu?),” tanyaku. Dengan enteng dia hanya jawab, ”Yo nyet peteng! (Ya memang -jadi- gelap),” jawabnya nggantung.

Bukan hanya lampu di beranda rumah yang ternyata hilang diambil orang. Lampu penerang jalan yang dipasang persis di depan kamar ketiga dari arah selatan ’pondok pesantren’ di depan rumahku pun, kata Jony, lenyap digondol orang. Nurhadi, si pemilik pondok pesantren yang juga tetanggaku itu akhirnya membiarkan piting tak ketemu lampunya. Sebab, ia juga sudah berkali-kali kehilangan lampu.

Lalu, Jony bercerita lain lagi meskipun intinya tetap sama, ia kesal dengan seseorang yang disebut orang dengan istilah maling. Tak hanya lampu yang diembat, tetapi juga kabel tali jemuran. Adikku mengitung, tiga ruas tali diambil sekaligus oleh si maling. Setahuku, tali jemuran yang terpasang di sela-sela batang melati, mangkok’an, dan pohon alpukat itu memang berupa kabel listrik bekas. Ia berukuran tebal, berdiameter sekitar satu centimeter dengan warna hitam pekat. Sangat kuat untuk menopang jemuran kain tebal.

Ibuku sempat kecele saat menjemur. Baju yang ia kira sudah tersampirkan pada tali jemuran ternyata jatuh ke tanah. Saat itu katanya, ibu tengah asyik mendengar cerita tetangga. Saking sudah biasa menggunakannya, tanpa melihat alias sambil ngobrol memandang ke orang yang mengajak bicara pun tangan otomatis memposisikan dirinya. Ternyata baju jatuh karena tali jemuran sudah tak ada lagi.

Cerita kehilangan ini mengingatkanku pada tanaman Sri Rejeki (aku tak tahu nama latinnya. Mbah Google, kamu dimana?), berikut potnya berpindah dari tempatnya.

Pagi itu adalah hari pertama ramadhan. Usai sholat subuh di Masjid Tegalsari-Baron, aku tak langsung pulang. Ramadhan terasa tak afdol tanpa membuat kebisingan dengan meledakkan mercon bersama teman-teman, juga adikku, di protelon (pertigaan) dekat rumah.

Aku dan adikku pulang ke rumah setelah langit terang benderang. Maklum saja, sekolah diliburkan hingga beberapa hari. Jadi akupun terbebas untuk tidak belajar, atau beralasan untuk tidak melakukan persiapan sekolah ini itu yang memang membosankan bagiku. Nunung, teman sebayaku memberikan tanaman tomat yang ditemukannya di pinggir selokan. Ia tahu bahwa aku suka menanam. Saat berkisah dengan ibu dan beberapa tetanggaku usai menanam pohon tomat, aku merasakan ada yang tidak biasa dengan tanaman-tanamanku. Terlihat silau manakala tembok putih rumah kost-kostan (yang kemudian diubah menjadi pondok pesantren tanpa santri) bertemu matahari. Tak ada daun hijau yang menutupi tempatku duduk.

Ditengak-tengok, dilongak-longok, empat pot tanaman Sri Rejekiku hilang. Pot? Ah bukan. Bukan pot, tapi kaleng bekas biskuit dan panci yang sudah tidak terpakai lagi. Kami pikir, wadah Sri Rejekinya yang sengaja diambil. Prasangka buruk itu tertuju pada pemulung-pemulung yang setiap pagi melewati depan rumahku untuk menuju ke sungai. Namun, prasangka itu akhirnya terjawab kala ibu secara tak sengaja menemukan tiga pot kosong tanpa tanah dan tanpa Sri Rejeki, persis di pinggir jembatan dekat rumahku. Bukan ‘pot’nya, tapi memang tanamanku yang ingin dimiliki si pengambil. ”Aih, tanaman yang juga nggak kubeli saat kuingin memilikinya. Minta pun kukasih!”

Kisah adikku dari Solo sana segera mengingatkanku pada sandal gunungku yang –kusadar- hilang lagi pada Senin (3/8) lalu. Saat pak Rasidi menjemput, aku sengaja mencari sandal gunung merek pasaran itu. Sebab, sandalku lain yang kubeli di Malioboro dengan harga dua belas ribu itu telah jebat. Lah, ternyata kusadar sandal gunungku telah berpindah tangan.

Peristiwa ini adalah peristiwa kehilangan sandal gunung kedua bagiku. Waktu lalu ketika para staf putri masih tinggal di Lhok Bengkuang, sandal gunungku yang kubeli saat kumasih bekerja di KKI Warsi Jambi, hilang. Padahal, sepatu mbak Elis yang masih terlihat bagus teronggok aman. Bahkan sandal mahal merek crocs milik Ricka dibiarkan tergeletak bersama sandal-sandal lain. Sekarang saat kubermukim di Lhok Keutapang, kok lagi-lagi sandal gunungku diembat orang!

Kesal, itu pasti. Apalagi saat itu aku merasa sangat membutuhkannya. Terlebih, minggu depan mas Yoppie dan Didik mengajakku untuk naik ke Sinabang. Jika jadi naik, ini adalah pengalaman pertamaku naik gunung. Kehilangan sandal gunung lagi. Huh!

Namun, jika sudah terlalu jumut begini, kata-kata bapakku yang mengaku tak beragama itu kembali tiba-tiba mengalun lembut di telingaku.

Suatu kali ketika ayam jago milik masku hilang dari kandangnya, bapak malah berkata, ”Wong sing njikuk ki mesti luwih butuh tinimbange awake dewe. Ora sah nggresulo, suk yen awakke dewe tenan-tenan butuh, mesti bakal ono. Titenono, mesti ono. (Orang yang mengambil itu pasti lebih butuh dibandingkan kita. Nggak usah sedih dan kecewa (apa ya tepatnya istilah ini?), kelak jika kita memang benar-benar butuh pasti akan ada. Yakin saja, pasti ada).”

Pernah kudebat Bapak ketika aku kehilangan buku Zaman Bergerak karangan Takashi Shiraisi untuk kedua kalinya, setelah tetanggaku main ke rumahku. Meskipun aku tidak menanyakan secara langsung ke orangnya, kecurigaanku terhadap tetanggaku itu kuceritakan ke ibu dan kakak-kakakku. Sebab, sebelumnya aku juga kehilangan buku berbeda saat tetanggaku itu bertandang. Entah bagaimana cara menyelipkannya, tetapi yang jelas dua bukuku, raket bulu tangkis, dan gunting (masih ada namanya ’Jony’, adikku) pernah kutemukan di rumahnya.

Suatu saat manakala aku benar-benar kesal karena kehilangan, kukatakan pada Bapak, ”Lha yen wong sing luweh butuh iso njikuk barange wong liyo, suk yen aku ngroso butuh yo aku sah-sah wae njikuk duwekke wong liyo (Lha kalau orang yang –merasa- lebih butuh bisa mengambil barang milik orang lain, suatu saat jika aku merasa sangat butuh, sah-sah saja aku mengambil milik orang).”

Tapi anehnya Bapak malah mengatakan, ”Barang utowo opo wae yen memang wes dihakke karo awake dewe mesti bakal bali. Yen kowe wani-wani njikuk hak’e barang liyan, yo dititeni wae, mesti ora bakal sue didueni (Apapun yang telah menjadi hak kita, jika ada orang yang mengambil suatu saat pasti akan kembali ke kita. Tetapi jika kamu sampai berani mengambil apapun hak orang lain, lihat saja, pasti tidak akan lama kamu miliki).

Dalam keseharianku bersamanya dulu, seringkali Bapak berkata tentang karma yang begitu dipercayainya. Orang yang menanam akan memanen. Orang yang mengambil apapun yang bukan haknya pasti akan menuai derita.

”Gatekke wae si –Bapak menyebut beberapa nama tetanggaku. Sugih bondo ning lara-laranen. Lara abot kudu digowo neng rumah sakit, bandane entek mung nggo biaya rumah sakit. Yen ora yo anake methakil. Seneng mendem, medhok, gaple. Dadi bandane wong tuane entek rakaru-karuan (perhatikan saja si…. Kaya harta tetapi sakit-sakitan. Sakit berat hingga harus dirawat di RS. Hartanya lama-lama habis hanya untuk biaya RS. Kalau tidak sakit, ya anaknya nakal. Suka mabuk-mabukan, suka bermain perempuan, judi. Hartanya dihabiskan oleh anaknya).

Lantas kuingat masa lalu saat kubelum sekolah. Barangkali, saat Bapak menghukumku dengan mengikat kaki dan tanganku pada mesin jahit alat kerjanya dulu, adalah pembelajaran dari keyakinannya. Hanya karena kucuri uang mangpi (lima rupiah) setelah dibujuki teman-temanku yang lebih besar dariku untuk membeli gulali, aku diikat seharian. Bapak tidak peduli sekeras apapun tangisanku. Ia juga mengatakan pada ibu, enam saudaraku, dan Yu Tum sepupuku untuk tidak melepaskan ikatanku. Hukuman itu, kata Bapak, pantas buatku. Sebab, sebelumnya ia selalu mengingatkan pada anak-anaknya, termasuk aku, dan Yu Tum untuk bilang padanya atau siapapun saat mengambil uang. Padahal laci uang juga tak pernah dikunci. Aku bisa mengambil seberapapun yang kuinginkan asalkan mengatakan pada ’orang rumah’. Tapi saat itu aku melanggarnya. Aku mencuri maka aku dihukum. Bahwa anaknya diajarkan untuk tidak boleh mencuri, sekecil apapun nilainya.

Lalu kini bagaimana dengan dua pasang sandal gunungku yang diambil orang tanpa ijinku? Apakah sandal itu milikku atau miliknya? Bagaimana kutahu orang yang mengambil itu lebih butuh dariku? Mengapa ia berhak mengambil hakku? Atau sudah sepantasnya kuhibur diriku persis seperti yang selalu diucapkan mbak Elis padaku, juga kawan-kawan di mess putri? ”Kita pasti bisa memilikinya lagi!,” dengan nada sangat-sangat ikhlas. Dengan membeli yang baru maksudnya. Atau ya memang seperti itu, milikku akan kembali lagi dengan aku memiliki yang lebih baik lagi?

Sayang, aku tidak bisa bertanya pada Bapak lagi. Namun, aku pantas bersyukur diberikan rejeki melimpah sehingga aku kelak pasti akan memilikinya lagi. Persis dengan apa yang pernah diyakinkan Bapak tentang keyakinannya. Bahwa aku bisa memilikinya lagi saat aku memang sangat membutuhkannya. Seperti kumiliki Bapak yang tak pernah pergi dari hatiku.

Kamis, 6 Agustus 2009, 00.02.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: