Hantu


Hujan semakin deras terdengar dari balik tenda dome-ku. Lampu teplok di luar tenda sudah mati tertiup angin. Atau mungkin malah mati oleh butiran lembut air hujan yang merangsek masuk di ’ruang’ belajar, memasak, makan, sekaligus bercengkrama antara aku dengan anak-anak rombong Meriau.

Dalam tenda, aku meringkuk berhimpitan bersama Ngeremjam (4), Njerupih (5), Nimbo (5), dan paling besar Bedewo (6). Sebenarnya tenda ini terlalu sempit untuk diisi lima orang. Terlebih gerakan anak-anak ini terlalu lincah sekalipun mereka tengah dibuai mimpi. Tubuhku harus benar-benar kutempelkan ke kain tenda untuk menghindari tendangan atau ’kemplangan’ tangan-tangan yang kecil itu. Tapi toh, empat anak ini sudah tak terganggu sepertiku.

Dingin tetap terasa menusuk tulang. Padahal, sleeping bagku sudah kugelar sedemikian rupa agar kami tidak langsung menyentuh dinginnya air hujan yang mengalir di bawah lantai tenda. Sebab, lantai di karpet ini hanya karpet biasa. Karpet yang biasa digunakan penduduk desa untuk menutup lantai semen atau kayu.

Tubuhku yang telah berkawan akrab dengan plasmodium vivax ini paling tidak tahan udara dingin. Ya, dingin serasa datang dimana-mana. Dari lantai, juga dari dinding tenda. Lebih menyebalkan, pada dinding maupun lantai tenda bocor di sana-sini. ”Dasar bego, ngrokok di dalam tenda!” batinku kesal ketika kulihat ternyata lubang-lubang itu akibat bara rokok.

Belum juga kupejamkan mata, telingaku menangkap derap kaki sangat cepat bercampur cipratan air.

”Ibuk! Ibuk! Ibuk Ninuk!” suara dari luar tenda masih belum jelas betul pemiliknya. Suara anak-anak bercampur deru hujan. Kuhidupkan senter. Njerupih yang mengantuk menggeliat, mengusap-usap matanya, duduk sekian detik, lalu tidur lagi. Badannya menelingkup menghindari kaki Nimbo yang kurus.

”Ibuk! Ibuk Ninuk!” kali ini jelas suara Sekola (8). Gelap di luar. Saat kubuka pintu tenda, tiga pasang kaki kecil berdiri persis di depan pintu tenda. Kusorotkan senterku pada para pemilik kaki

Behelo, ngapo belik kema’i (Ya ampun, kok balik ke sini lagi)?” tanyaku.

Au (Ya),” hanya begitu jawab Nuduh (8) yang berambut krebo. Nafas ketiganya ngos-ngosan.

Aku keluar tenda. Sedikit berlari menuju ’ruang segala aktivitas’ yang persis berada di sisi selatan tenda. Ruang terbuka tanpa dinding, hanya beratap plastik warna hitam 3 x 4 meter. Tingginya tak lebih dari 1,5 meter sehingga untuk masuk harus menundukkan kepala dan punggung. Bertiga Sekola, Nuduh dan Bekaco (8) mengikutiku masuk ruang serbaguna ini.

Lampu teplok kunyalakan dengan cetuk (korek api gas) yang tergeletak di atas tungku tanah buatan Sekola dan Bekaco. Raut muka mereka pucat pasi. Tubuh-tubuh kecil tanpa baju itu basah kuyup.

Ngapo belik (Mengapa kembali)?” tanyaku. Handuk lapanganku warna biru muda, yang kudapat saat kuopname di Rumah Sakit St Theresia Jambi, kuusapkan ke tubuh mereka satu persatu. Tak ada satupun yang bersuara. Jari-jari tangan kanan dan kiri Sekola masih saling bertautan saat kuusap dadanya yang kurus.

Behelo, piado nang buik (Ya ampun, tidak ada yang bicara),” kataku lagi. Kulihat wajah mereka satu per satu. Masih sangat pucat.

Ibuk, ado hantu kiyun (Ada hantu di sana),” kata Nuduh. Suaranya terdengar di antara tangisan yang tertunda.

Hantu? Dimono? Aik, sobut bae ndok tiduk sio (Hantu? Dimana? Ye, katakan saja kalau -kalian- mau tidur di sini),” kataku datar.

I’ai, yoya bonor ibuk, beheru kamia ngoli hantu yoya (Ih beneran, kami baru saja melihat hantu),” ujar Bekaco.

Monolah ado hantu podo genah nioma (Masak ada hantu di wilayah ini)?” kataku lagi.

Au sungguh ibuk! Nye togok podo tengah jelon kiyun ibuk. Piado tekoli moka urang yoya. Mokanye ditekap pakoi bulunye. Panjong nihan sampoi porut. Nye pokoi beju werna putih (Sungguh! Dia berdiri tegak persis di tengah jalan sana. Mukanya tak terlihat, tertutup rambut. Rambutnya panjang sampai perut. Dia pakai baju putih),” kisah Sekola. Air mata turun di antara hidungnya yang tak mancung. Ah, anak ini benar-benar ketakutan.

Eik, mengapa aku tiba-tiba ikut bergidik ketika membayangkan sosok yang digambarkan Sekola?! Hmmm….

Au, ibuk, putih nihan bejunye (Ya, bajunya putih banget),” sambung Bekaco.

O, temungkin urang dusun ndok bejelon ambek sawit. Temungkin nye ndok botomu kantinya podo ladong nioma (mungkin orang desa yang akan mengambil sawit, atau ingin bertemu kawannya di ladang sawit ini),” kataku menenangkan, juga pada diriku sendiri.

Hopi, Ibuk. Kami lah tanyakko, ’Siapo mikay?’, nye piado buik. Nye piado cecakop. Nye togok podo kami tiga. Kami piado tukang bejelon (Nggak. Kami sudah tanyakan, ”Kamu siapa?”, orang itu tidak menjawab. Dia berdiri persis di depan kami sehingga menghalangi jalan kami),” jelas Nuduh. Bedewo adik Sekola keluar dari tenda ikut bergabung bersama kami. Ia memilih duduk di samping kiriku dan samping kanan Nuduh.

Akeh koli mokanye samo lilin piado tekoli. Akeh koli kakinye, piado kana tanoh. Akeh ketakuton lari belik kema’i (Saya lihat mukanya dengan lilin tapi tak terlihat. Pas kulihat kakinya, kakinya tidak menyentuh tanah. Aku ketakutan lalu lari balik ke sini),” kisah Sekola terbata-bata.

Oh, benarkah cerita ini? Duh, Mulung, salah satu kader rimba belum datang juga. Bukankah ia harusnya datang siang tadi?

Lilin lah kami campok. Lah mati, lah mati kana aek hujan. Kami tiduk podo genah sekolah bae Ibuk (Lilin kami buang, mati kena air hujan. Kami tidur di rumah sekolah saja),” kata Bekaco.

Dari sore Bekaco, Sekola, dan Nuduh memang berniat pulang ke rumah mereka usai belajar. Rumah mereka tak jauh dari rumah sekolah memang, hanya berjarak tak lebih dari 500 meter. Rumah-rumah mereka tersebar di sisi barat dan selatan jalan menuju desa Sido Mukti, Satuan Pemukiman I (SPI).

Teruy pamono kini (Terus sekarang bagaimana)?” tanyaku pada anak-anak ini.

Kamia tiduk sioa bae ibuk (Kami tidur di sini saja),” kata Nuduh.

Lalu aku sendiri merasa bingung, dimana anak-anak ini akan tidur. Di luar tenda, air hujan terus masuk akibat hembusan angin di sela-sela pohon sawit. Tak hanya itu, air telah membasahi gundukan tanah berumput tipis di balik atap plastik ini. Karpet juga tak mungkin digelar untuk alas karena air mengalir di sela-sela rumput.

Galo tiduk delom tenda ibo (Semua orang tidur dalam tenda ya),” kataku.

Satu per satu kami masuk tenda. Tak tahu akan bagaimana memposisikan tubuh. Delapan orang meringkuk dalam tenda yang hanya cukup diisi tiga orang seukuran tubuhku. Kepala ketemu pantat, kaki ada di kepala, perut didekap kaki, tak karu-karuan posisi tidur kami. Toh, entah jam berapa aku bisa tidur juga.

Pagi harinya ketika di dalam tenda hanya tinggal aku, Ngerenjam dan Nimbo, kusadar bajuku sudah basah di sana-sini. Basah oleh air hujan yang merembes ke tenda. Sementara basah kaosku pada bagian perut berbentuk pulau. Entah siapa yang telah meneteskan air liurnya hingga mengenai bajuku. Yang jelas, ketika tenda kubuka udara segar segera merangsek masuk menggeser segala bau di dalam tenda.

Ibuk, nioma teh lah sodah kami muat (Teh sudah kami buatkan untuk Ibu),” ujar Sekola sambil tersenyum saat melihat kepalaku nongol lingak-linguk ke luar tenda.

Nuduh, Nimbo, Bedewo (foto dari Bubung Angkawijaya, 2009)

Nuduh, Nimbo, Bedewo (foto dari Bubung Angkawijaya, 2009)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: