Murid Marah Pada Guru itu Biasa


marah, semua orang boleh marah

marah, semua orang boleh marah

Hari itu anak-anak yang belajar di rombong (kelompok) Meladang tak seperti biasanya, melimpah. Hari sebelumnya, anak-anak yang belajar paling banyak hanya delapan sampai sepuluh anak saja. Kini, lebih dari lima belas anak belajar di rumah sekolah yang dibuat oleh para rerayo (orang tua) di rombong yang terletak di sungai Kejasung Besar, Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) itu.

Lebihnya jumlah murid ini berasal dari rombong Besulit. Murid yang berusia paling ’tua’ dari rombong Orang Rimba di sungai Kejasung Kecik ini adalah Besayung. Laki-laki yang masih bujangan ini berusia kira-kira 25 tahun. Ya, semua usia hanya perkiraan saja. Umumnya orang tua tak pernah ingat kapan tepatnya anak-anak mereka lahir. Murid lain dari rombong ini dalah Gemundak (11), Nguncung (9), Nyupi, serta gadis kecil bernama Manting dan Merikun.

Mereka menuju arah hulu sungai Kejasung Godong untuk ikut belajar ketika aku melewati rombong kecil ini. Awalnya, mereka memintaku berhenti di rombong yang hanya berjarak dua jam perjalanan kaki ini, dari rombong Meladang. Mereka memintaku untuk mengajari baca tulis hitung seperti pada bulan sebelumnya. Namun, apa boleh buat, terpaksa aku menolaknya karena alasan harus mengajar bergiliran di kelompok lain. Jadwal yang telah kususun, ada empat rombong Orang Rimba yang harus kufasilitasi pada bulan ini.

Saat damar dan lampu minyak berukuran kecil kami nyalakan, rumah sekolah terdengar riuh. Setiap orang memegang buku tulis bermerk Kiky dan bolpoin bermerk Pilot. Tentu, kecuali aku sendiri yang justru memegang papan tulis.

Kakak beradik Misiwo (6) dan Betenggang (5) menulis huruf abjad A hingga Z sesuai huruf yang kutuliskan di bukunya. Malam ini adalah malam pertama mereka belajar BTH bersamaku. Bersama mereka, Nyaut (10) dan Betimbo juga mengikuti pelajaran yang sama, menulis huruf abjad.

Anak Tumenggung Meladang Mlaro (6), gadis kakak beradik anak Mendayung Betelau (8) dan Ngalau (6) tengah belajar kata-kata mudah yang mengandung konsonan vokal (KV) dua rangkai seperti rusa, sudu, bebi. Sementara budak laki-laki anak Melimun, Melewat (6), bersama anak sulung Tumenggung, Ngarong (12), serta Mbayang (11) kakak Melewat tengah belajar menulis dan membaca kata-kata yang mengandung KVK, huruf mati di pangkal, tengah dan akhir kata. Kata-kata ’rimba, hutan, murid, genah’ yang kuejakan mereka tulis satu per satu.

Masing-masing tekun dengan buku dan penanya. Jika sudah selesai menulis, dikejarnya aku, gurunya, dengan pertanyaan, ”Kato apo yang kamia tuliy lagi ibuk (Kata apa lagi yang kami tulis)?” Ketika kulihat kawan yang lain, yang ’berpelajaran’ sama belum selesai menuliskan, aku akan berkata, ”Tanti kanti, ibo? (Tunggu temannya dulu yah).”

Di sudut rumah sekolah, Besayung tengah asyik bersandar pada tiang rumah. Rambutnya yang menutupi kening dibiarkannya terurai. Ia kini tengah menghapal huruf abjad. Saat kutulis huruf  J untuk disebutnya, ia malah mengatakan, ”Huruf apo iyoi?! Ta’un lah helang podo kepalo (Huruf apa ini? Ya ampun, hilang tanpa kepala)!” seraya tertawa.

Ketika melihat Ngarong, Mbayang selesai menulis kata-kata yang kuejakan, Melewat yang duduk agak jauh dariku, di antara ’kelompok belajar menulis huruf abjad’, berteriak, ”Kamia lah sodah ibuk. Tuliy apo lagi (Kami sudah selesai. Kami menulis apa lagi)?”

Wajahnya tampak berbinar terlihat dari pancaran damar yang dibuat oleh ayahnya. Lalu, bukunya dilempar ke arahku. Eit, jangan berburuk sangka soal ini. Mereka biasa melempar sesuatu, termasuk buku, dengan alasan lebih praktis. Terlebih dalam kondisi yang penuh sesak seperti sekarang ini. Bukunya kukembalikan. Akan lebih baik jika dikoreksi bersama dengan kelompoknya.

Sembari kuangkat papan tulis berukuran sekitar 50 x 40 sentimeter, kutuliskan kata-kata yang tadi kuejakan pada kelompok ’kato-kato koagak rehan’ (kata-kata agak mudah) ini. ”Ik’ai, saloh akeh ibu (Ye, saya salah ya),” kata Mbayang saat kutuliskan kata ’Bedok (badak)’. Ia menuliskannya menjadi ’Bidok’.

Belum juga usai aku mengkoreksi ’kelompok kato-kato koagak rehan (kata-kata agak mudah)’, Nyaut yang duduk persis di samping kiriku berkata, ”Ibuk, piado cukup kertay nioma (Ibu, kertasnya nggak cukup).” Oalah, ternyata huruf yang ditulisnya ke arah kanan semakin lama semakin besar ukurannya. Sehingga urutan huruf di bawahnya tidak mendapatkan tempat lagi. Saat kupegang, jari-jari mungil gadis berkemban ini masih tampak kaku. Ukuran pensillnya pun lebih besar dari ukuran jarinya.

Mengajari gadis kecil ini, juga pada Betimbo, Misiwo dan Betenggang seperti melenturkan jari tatkala melukis. Pelan tapi pasti, huruf demi huruf tertuliskan meski belum sempurna. Ukurannya tetap tidak beraturan. Sesekali pada hidung-hidung anak-anak ini berbunyi, ”Syyrrrppppp.” Ingus yang hendak keluar dikembalikan pada tempatnya. Jika sudah terlanjur keluar seperti Betenggang, cairan kental yang jika siang hari tampak berwarna putih kekuning-kuningan atau semburan hijau itu justru dijilatinya tanpa sadar. Bibir bagian atas pun lalu basah oleh lidahnya sendiri, yang mungkin juga bercampur dengan ingusnya.

Seraya melihat satu per satu anak-anak ini, aku berteriak pada murid lain tergantung pada pelajaran yang tengah mereka pelajari. Pada Mbayung (7) dan Gemundak, tambah-tambahan belasan telah terlewati. Hingga malam ini, mereka belajar tambah-tambahan puluhan. Dua malam sebelumnya, mereka berdua telah belajar menulis dan membaca kalimat panjang dan sulit. Seperti apa itu? Kata-kata dalam kalimat itu mengandung konsonan vokal (KV) rangkai dua lebih, KVK, KK (NG, NY) huruf mati di pangkal, tengah dan akhir kata, serta VK. Kalimat itu misalnya, ”Urang becawot iyoi lah liwat kiyun podo tengah hari (Orang yang bercawat itu lewat sana pada tengah hari).” Lalu dilanjutkan, ”Uje kanti yoya ndok ngambek routon hanggo hilir sungoi Kejasung Godong (Kata kawan, ia hendak mengambil rotan di hilir sungai Kejasung Godong).” dan seterusnya.

Saat aku bersama Mlaro, Betelau dan Ngalau mengoreksi kata-kata yang sudah mereka tuliskan di buku tulisnya, Merato yang tengah menulis cerita berteriak. ”Lah sodah ake tuliy cerita ibuk. Tuliy cerita apo lagi ibuk? (Saya sudah selesai menulis ceritanya. Tulis kisah apa lagi?),” tanyanya.

Salahku, tidak kuiyakan kata-katanya, tetapi hanya kukatakan, ”Todo, ake lagi mansi ngoli pelajoron kanti, ibo? (Sebentar yah, aku masih mengoreksi teman-teman).”

Tak sabar menungguku, anak sulung Wakil Tumenggung Rombong Kejasung Godong ini berteriak lagi. ”Ibuk, apo lagi?” Saat kubilang, ”Tanti (sebentar),” ia lalu diam. Badannya dibalikkan 180 derajat. Kakinya kini ongkang-ongkang, menjulur ke tanah dari rumah sekolah yang berbentuk panggung. Buku tulis dan penanya diletakkan di belakang tubuhnya, persis di arah pantatnya. Ia menunduk.

Murid lain masih bersaut memintaku mengecek tulisan, angka atau cara mereka membacanya, ada pula yang berteriak agar aku menuliskan huruf di papan tulis untuk dieja. Ketika giliran kuberkata pada Merato, anak laki-laki yang menginjak remaja itu membisu. Ia bahkan tak memalingkan wajahnya sedikitpun padaku. Ya, ia marah! Hingga malam beranjak, ia tetap diam sementara aku masih disibukkan dengan berbagai pertanyaan, mengkoreksi, mengejakan kata-kata, kalimat, dan angka-angka.

Entah saat itu pukul berapa, satu per satu dari kami mulai mencari celah untuk merebahkan tubuh. Murid-murid yang berusia lima hingga tujuh tahun telah tertidur. Beberapa di antaranya bahkan telah mengeluarkan air liur. Pada gilirannya, aku pun merenggangkan punggung, tidur di rumah sekolah yang beratap terpal biru, berukuran 6 x 4 meter ini.

Manakala mentari telah mengintip di balik daun-daun, hanya aku dan anak-anak kecil yang masih tertidur. Ngarong dan Mbayang telah pulang ke rumahnya di seberang sungai. Seperti hari sebelumnya, mereka akan pulang di pagi hari untuk membantu ibu mereka memasak. Gadis-gadis remaja ini biasanya kembali ke rumah sekolah saat masakan sudah disantap oleh mereka bersama ayah dan ibunya.

Merato membuatkanku teh. Anak-anak lain ada yang meminum kupi ada pula yang meminum teh sepertiku. Dia hanya menyodorkan saja tanpa berucap sepatah katapun padaku. Ya, Merato pasti masih marah. Saat kudekati, ia malah pergi ke sungai.

Demalom ibuk saloh podo mikay, Merato. Ake minta maaf ibo (Semalam aku salah terhadapmu. Aku minta maaf ya),” kataku saat ia kembali. Di tangannya, galon (jerigen) air lima liter telah berisi air.

Au, ake kememarohon podo ibuk! Ibuk piado ngoli ake. Ibuk cuman berikko pelajoron podo kanti bae, ake hopi (Ya aku marah pada ibu. Ibu beperhatian padaku. Ibu hanya memberikan pelajaran pada kawan-kawan lain saja, saya tidak –mendapat perhatikan yang sama),” katanya dengan nada tinggi.

Ehm…..

Pada sekian menit kemudian, Merato kembali bercanda bersamaku dan kawan-kawan rimba lain. Ia tak lagi marah padaku. Jika kuingat-ingat kala aku sekolah, tidak pernah satu kalipun kuberani marah pada guruku. Yang terjadi adalah sebaliknya, jika murid tidak bisa melakukan apa yang menjadi kehendaknya, ia akan menghukum. Memang belum pernah kualami, tetapi dulu kawanku kala SD pernah dihukum berdiri di depan kelas, di pinggir papan tulis karena tidak bisa mengerjakan pelajaran matematika.

Di sini, di komunitas Orang Rimba, tak ada rasa segan untuk memarahiku jika tindakanku tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Terlebih jika aku melakukan tindakan yang dinilai mereka tidak benar.

Rombong Meladang di Sungai Kejasung Besar, 2005.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: