Sekolah Rimba di Lahan Sawit


Bulan Desember ini aku masuk ke rombong Meriau lagi di sungai Tengkuyungon, di pinggiran sisi selatan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Sudah dua bulan rombong Ninjo belum juga terdeteksi keberadaannya. Bulan Nopember lalu, tersiar kabar mereka melangun ke jembatan SPB (Satuan Pemukiman B). Tapi kabar lain, rombongan ini melangun hingga –Taman Nasional- Bukit Tigapuluh (TNBT).

Seharian kemarin, bersama bang Wahab, aku mencari rombong Ninjo hingga SPB, SPH, dan SPG tetapi tidak ketemu juga. Jadwalku seharusnya memang memfasilitasi anak-anak rombong Ninjo. Di rombong bepak Betenda itu, tiga anak sudah aku dan kawan fasilitator pendidikan lain, Feri Apriadi, lirik untuk menjadi kader pendidikan. Mereka adalah Bekinya (12), Tembuku (13), juga Bekangga (12). Anak-anak ini kulihat berbakat, dan mau berbagi ilmu dengan kawan-kawannya sesama Orang Rimba. Usianya juga cukup untuk kubawa ke rombong Orang Rimba lainnya.

Bulan lalu saat pertama kali datang di rombong Meriau, aku mencatat ada 11 orang bersedia belajar bersamaku. Dua anak ketua rombong, yaitu Besunting (7) dan Merendam (6) ikut belajar. Kawan-kawan lainnya antara lain, satu perempuan bernama Nginjid (11), Sekola (8), Ngetes (8), Njumbai (13), Nimbo (6), Nuduh (8), Bekaco (8), Njerupih (6), serta Nyerak yang kira-kira berusia 22 tahun.

Rombong ini tidak tinggal di rimba seperti sebutannya. Rumah-rumah yang mereka buat berada di antara pohon sawit, di kebun sawit milik orang desa SPI.

Sirai yang kemudian kutahu merupakan bapak tiri dari Bekaco dan Nimbo mengatakan, ”Sobonornye Ibu, hopi olen kami sioa. Cuma, kami piado tentu ndok buat genah dimono. Piado genah lagi podo rimba (Sebenarnya kami tidak nyaman tinggal di sini. Tapi kami tidak tahu akan bertempat tinggal dimana. Di rimba sudah tidak ada tempat lagi bagi kami).

Bepak Besunting (Meriau) juga berkisah bahwa mereka ingin kembali ke rimba. Hidup di sawitan membuat orang desa semakin memandang rendah mereka.

Nye betik sebut kami maling sawit. Kamia cuma ndok delok grondol bae (Mereka seringkali menyebut kami maling sawit. Padahal kami mencari grondol-biji sawit yang tercecer- saja).”

Rumah-rumah rombongan ini berada tepat di sisi kiri jalan jika kita masuk melalui dusun Sido Makmur, SPI. Tiang-tiang rumah mereka tidak menggunakan kayu seperti kebiasaan rumah Orang Rimba. Batang-batang sawit selain dipakai untuk tiang rumah juga dipakai sebagai lantai. Kata Bepak Besunting, batang sawit harus dibersihkan benar-benar pada sisi kanan kirinya.

Koagak tajom kalu kana awok’a (agak tajam kalau kena tubuh).”

Banyak gangguan

Dari sekian kelompok yang difasilitasi KKI Warsi, rombong ini paling banyak gangguan dalam proses kegiatan belajar mengajar baca tulis hitung (BTH). Sebagai fasilitator pendidikan yang tiap bulan masuk di tiga sampai empat rombong, kurasakan kenyamanan dan ketenangan yang sangat jauh berbeda. Tentu saja, kegiatan belajar efektif dilakukan di dalam rimba.

Di sini, di lahan sawit milik perusahaan, gangguan datang silih berganti. Bulan lalu, lebih dari tiga kali aku ketemu ular. Pengalaman terakhir lah yang paling menakutkan. Saat kuikut memungut grondol sawit bersama anak-anak, tiba-tiba ular berwarna coklat keemasan, sebesar kakiku jatuh di depanku. Entah apa nama ular itu, aku sendiri tak begitu jelas mengamati seberapa besar kepalanya, juga perkiraan panjangnya. Kuingat, aku langsung lari dan menjerit-jerit menghebohkan beberapa induk yang tengah bersantai di rumah masing-masing.

Tak hanya ular coklat itu. Ular warna hijau yang tak juga kutahu namanya, pernah bertengger di semak persis di atas kepalaku saat kumandi. Entah berbisa atau tidak, entah bisanya mematikan atau tidak, bagiku ketemu ular tetap saja sangat menakutkan!

Ketidaknyamanan lain adalah soal air. Selama tinggal di Jambi, belum satu kalipun kuketemu air sungai di antara pohon sawit mengalir jernih sejernih air di dalam rimba. Dan kuyakin air berwarna coklat bercampur tanah itu juga telah bercampur dengan berbagai bahan kimia. Entah pupuk ataupun pestisida untuk sawit.

Sedangkan alasan paling berat yang membuatku ngotot untuk tidak mau memfasilitasi kelompok yang bermukim di lahan sawit adalah gangguan manusia!

Cukup bayangkan saja cerita ini. Tiap kali kegiatan belajar berlangsung baru beberapa menit, selalu saja ada orang datang mendekat. Mereka yang rata-rata para pekerja atau buruh kebun sawit selalu ’mengganggu’ dengan mengajakku mengobrol. Kerapkali mereka menanyaiku layaknya wartawan, ”Kok mau mengajar mereka, apa keuntungannya mengajar Orang Rimba,” dan sebagainya.

Selain mengajak ngobrol, mereka juga sering melibatkan diri dalam proses belajar. Anak-anak yang memang baru dua bulan belajar BTH ini kerap mendapat komentar kurang mengenakkan. Perkataan ”E lolo kamu (Bodoh)” misalnya, terlontar manakala ada anak yang salah menulis kata-kata yang kueja. Tak jarang mereka menertawakan bebudak (anak-anak) yang salah membaca kata-kata yang telah ditulisnya.

Tak hanya itu. Jika anak-anak tengah membaca atau sekedar ngoli gambaron (melihat-lihat gambar) dalam buku dongeng yang kubawa, orang-orang terang (bukan Orang Rimba) lalu ikut-ikutan membaca. Komentar ala orang kota yang sok pintar, yang kerap kali justru tidak beradap, membuatku jengah. Lalu, seperti biasanya, dengan cara halus buku yang dipegang anak-anak direbut. Mungkin, mereka yang mayoritas laki-laki itu juga haus akan buku.

Berbagai pertanyaan ataupun komentar orang terang ini membuatku merasa serba salah. Jika tidak kujawab pertanyaan mereka, atau aku tidak pedulikan mereka yang mengajakku berbincang, tentu orang-orang ini akan tersinggung. Di sisi lain, jika aku ladeni mereka berbincang, berlahan tapi pasti, anak-anak akan segera membubarkan diri.

Gangguan-gangguan ini setiap hari berlangsung dari pagi datang hingga hari beranjak malam. Orang-orang yang mampir ke rumah sekolah kami datang silih berganti. Manakala aku sendiri sudah bosan, kuajak anak-anak bermain. Waktu efektif belajar hanya pada malam hari. Itu pun kerap terganggu oleh hujan deras. Rasa was-was kejatuhan batang sawit selalu menghantui.

Belajar di kebun sawit juga tidak memungkinkan kami untuk membuat rumah sekolah seperti di kelompok lain di dalam rimba. Selain mencari batang kayu jauh, tidak mungkin juga membuat rumah di bawah pohon sawit. ”Pamono kalu urang yoi ndok ambek sawit? Todo kito galo kana, ibo (Bagaimana kalau nanti petani memanen sawit? Nanti kita bisa kena buahnya),” kataku diamini para induk (ibu).

Hingga bulan kedua, aku masih memakai tenda untuk tidur dan menyimpan pakaianku. Tempat belajar berada tepat di sisi kiri tenda dengan menggunakan plastik terpal warna hitam. ’Ruang’ belajar ini juga kami gunakan untuk memasak dan makan. Anak-anak yang tidur bersamaku biasanya juga tidur di ruangan ini. Mereka enggan tidur bersamaku di dalam tenda. ”Puang, Ibu (Panas),” alasan mereka. Lantai yang dipakai hanya selembar karpet. Dingin terasa di punggung, sama dengan yang kurasakan di dalam tenda.

Maro belajor teruy sampoi isuk (ayo belajar terus sampai pagi)!

Maro belajor teruy sampoi isuk (ayo belajar terus sampai pagi)!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: