Merdeka (bukan) untuk Kita Semua


Mobil yang dikendarai bang Asri berhenti lebih dari satu menit kala merah traffic light menyala. Wajah-wajah di dalam mobil masih ceria meskipun tubuh kecapekan untuk beberapa hari pertemuan.

Persimpangan jalan ini tampak semrawut. Kumengatakan pada diriku sendiri, aku tidak akan mau lagi seandainya harus mengulangi hidup di kota besar. Delapan bulan di ruwetnya Jakarta rasanya menyesakkan jiwa. Medan, toh tidak ada bedanya dengan Jakarta. Pengamen di sana-sini. Bukan aku terganggu dengan lentingan suara mereka, tetapi memang aku sungguh tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu mereka. Sekeping uang tidak juga menyelesaikan masalah.

Kala kepalaku menegok ke kanan, persis di trotoar setelah jalan ke arah yang berlawanan, mataku menangkap gerakan tangan pada tong sampah. Seorang ibu, dengan kerudung putih kotor di kepalanya, memasukkan sesuatu berwarna coklat ke mulutnya. Benda warna coklat seperti gorengan, lebih besar dari jempolku dikunyahnya. Makanan sampah. Ya makanan dari tong sampah. Seraya mengunyah, tangannya trampil mengambil botol-botol air mineral yang juga ada dalam tong sampah. Dimasukkannya dalam karung yang berdiri persis di sebelah kiri tubuhnya. Lalu lalang orang-orang berpenampilan rapi tidak tertanggu oleh adegan sesaat tadi.

Di sana, di pojokan jalan persis di seberang jalan perempuan penelan makanan dalam tong sampah itu tertulis spanduk ”Merdeka untuk kita semua….”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: