Penuh, Merah Putih


Kaca kurang dari dua meter, dari mobil yang dibawa bang Hendri tampak penuh. Mobil melaju tak begitu kencang kala kami memasuki wilayah Aceh, dari arah Medan, Sumatera Utara. Pada kanan kiri jalan, hanya penuh oleh dua warna, merah dan putih. Entah mengapa di mataku justru dwiwarna tampak ganjil. Kuamati, mataku terasa penuh dan jenuh.

Seingatku, kibaran dwiwarna yang dipasang di rumahku, kala bulan kemerdekaan negara ini datang, tak semarak di sini. Satu bendera saja cukup. Bahkan seingatku lagi, terakhir kulihat warna merahnya telah pudar menjadi sedikit orange. Tetapi tak ada niat untuk beli lagi. Aku juga tak begitu tahu mengapa. Pernah saat kami telat memasangnya, tetanggaku yang pendatang dari Purwodadi, Nurhadi mengatakan keluargaku tidak nasionalis. Entah apa maksud omongannya itu. Kutidak tertarik juga untuk menanyakan mengapa ia berpendapat seperti itu. Cinta negeri hanya sebatas pada bendera, pikirku dulu

Balik lagi di sini, di Aceh, disepanjang jalan ini, pada setiap sudut berjajar puluhan bendera. Satu rumah kuhitung lebih dari dua bendera terpasang. Bentuknya berbelah berjajar panjang lebih dari satu meter. Dua warna kain menjadi satu ini tegak oleh bambu tanpa dibelah. Di wilayah Bakongan, rumah-rumah sederhana di pinggiran Samudra Hindia, dengan tanaman yang apa adanya itu juga tertutup oleh puluhan pasang sang saka. Lebih banyak yang terlihat baru ketimbang warna merah yang telah berubah merah keruh.

Ketika berangkat ke Medan dari Tapaktuan minggu lalu, bang Asri sempat bercerita tentang dua warna kebanggaan negeri itu. Kata bang Asri, dulu semasa konflik pecah antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) –pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka di tahun 2001-2004, masyarakat diwajibkan memasang bendera. ”Tidak hanya bulan Agustus saja,” ujar bang Asri seraya menyetir.

Wajib pasang bendera diberlakukan oleh TNI pada masyarakat tanpa pandang bulu. ”Orang itu tidak peduli kita ini punya uang untuk beli bendera atau tidak. Pokoknya disuruh beli dan pasang terus,” lanjut bang Asri.

Cerita bang Asri mengingatkanku pada seorang gadis dari Desa Silolo, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan. Menurut Nur (ia hanya menyebut namanya demikian), jika akhir bulan Juli datang, para warga masyarakat dipaksa untuk segera memasang bendera di halaman rumah masing-masing. Bagi mereka yang tidak menjalankan perintah, apapun bisa jadi hukuman. ”Kadang, untuk beli beras saja kurang, kita dipaksa beli bendera,” kata Nur.

Perempuan lulusan SMP ini menambahkan, satu rumah diharuskan memasang lebih dari satu bendera. ”Oh pantesan ya bang, satu rumah bisa memasang lebih dari satu bendera,” kataku pada bang Asri.

Semarak dwiwarna ini ternyata juga bisa dirasakan saat masuk ke Tapaktuan, masih Kabupaten Aceh Selatan. Bentuknya tetap sama, memanjang ke atas bawah. Bendera yang berbentuk mendatar horisontal malah jarang dipasang. Kalaupun ia dipasang, pasti hanya satu, itupun tidak setiap rumah memasangnya. Merah putih sepanjang jalan. Di bumi Cut Nyak Dien ini, merah putih semoga membawa kedamaian sepanjang jaman.

17 Agustus 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: