Radio


“Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu….”

Suara serak Gombloh kembali memenuhi ruangan kamarku yang bercat putih. Ia berdendang dari speaker laptop saat kubaca beberapa dokumen.

Usai mendengar lagu Gombloh, tiba-tiba aku merasa sangat rindu pada sapaan penyiar. Rindu? Padahal beberapa hari lalu saat kumasih di Medan, setiap kuberada dalam mobil, suara orang-orang yang tidak pernah kukenal itu menyapa telingaku. Hari-hari lalu, diantara kepenatan agenda pertemuan project, aku merasa senang karena bisa menikmati lagi sapaan penyiar radio pada para pendengar setianya. “Tomi di Medan Baru mengirimkan salam untuk Lila, ‘Tunggu aku ya say…’ Tomi meminta lagu dari…”

Khas arrangement radio tak lagi kudengar jika aku berada di wilayah berbukit-bukit ini. Bang Asri, salah satu driver pernah bercerita bahwa di kota kecil ini pernah ada stasiun radio. Ada benarnya juga karena dari sampul blocknote KBR 68H disebutkan ada dua stasiun radio di sini. “SIT FM dan Tasfa FM. Ada juga Kofa FM,” ujar bang Asri. Tetapi ntah mengapa dua nama ini masih tertuliskan sementara mereka telah bubar sejak bertahun-tahun lalu.

Kata bang Asri, biaya operasionalnya terlalu besar. “Orang itu –pemilik radio mungkin maksudnya- nggak sanggup membiayai siaran. Mahal kali biayanya. Sementara pemerintah daerah tidak mau membantu.”

Meski menurut bang Asri, radio di kota kecil ini bisa menjadi alternative bagi masyarakat untuk memperoleh informasi ataupun hiburan. “Tahu lah mbak, acara tv kita banyak yang tidak mendidik. Lagi pula kalau ada radio, di jalan begini kita bisa tetap memperoleh informasi seperti siaran radio biasa tu, diselingi lagu-lagu. Nggak bosan kita di jalan,” tambah bang Asri.

Kondisi geografis Kabupaten Aceh Selatan yang berbukit-bukit memang menyebabkan biaya operasional stasiun radio sangat mahal. Bahkan, sekalipun ia mencoba merelay acara-acara dari Jakarta sekalipun, pemilik radio akhirnya menyerah juga. Sehingga, ya kalau ingin mendengar radio, aku harus ke Meulaboh, atau sekalian ke Medan untuk bisa mendengar siaran yang lebih beragam.

Padahal tahun lalu ketika kumasih bekerja sebagai reporter di KBR 68H Jakarta, yang dulu bernama Utan Kayu, tidak pernah lowong sekalipun kudengar siaran radio. Hehehe, meski aku sendiri merasa kurang perlu mendengar siaran radio tempatku bekerja.

Aku lebih suka mendengar siaran Lite FM dengan lagu-lagunya yang asyik dan dengan penyiar yang tidak berlebihan omong. “Lite audience, Anda tentu ingat….” Atau mendengar sapaan Farhan yang kocak tapi cerdas lewat Delta FM. Sedangkan salah satu acara favoritku adalah siaran lagu-lagu daerah, dengan penyiar berbahasa daerah menyesuaikan tema daerah. Ia diputar di radio Kayu Manis FM yang ‘bertetangga’ dengan stasiun radio tempatku bekerja. Lucunya minta ampun jika lagu-lagu pesisir disiarkan. Bahasa Tegal dan sekitarnya yang ngapak-ngapak mampu membuatku tertawa ngakak di kamar kostku, di bilangan Jalan Utan Kayu.

lewat radio ini kudengar lagu sampai informasi penting

lewat radio ini kudengar lagu sampai informasi penting

Lalu, ingatanku melayang pada belasan tahun silam. Radioku yang super besar di atas kotak televisi telesonic kunoku, kerap dirubung mas-masku, mbakku, juga para tetanggaku. Waktu itu, kami semua keranjingan mendengar sandiwara radio, yang entah diputar oleh stasiun radio apa. Sebelum akhirnya berdesakan nonton filmnya di bioskop murahan Cemani Theater, tuntas kudengarkan kisah Brama Kumbara dalam Saur Sepuh. Kisah si Raja yang memiliki ajian serat jiwa ini kudengarkan tiga kali sehari dengan kisah bersambung. Ingatanku, putaran terakhir disiarkan pukul 21. Jika terlewat satu siaran saja, sudahlah, kecewanya beribu ampun! Nggak seru rasanya mendengar cerita dari orang lain selain langsung mendengarkannya dari kotak ajaib itu. Ehm, lewat siaran sandiwara radio Saur Sepuh, aku jadi sangat ingin jalan ke Tibet! Alamak, masak kalah sama kakak Mantili si Pedang Setan itu!

Seperti ketika orang keranjingan dengan telenovela di tv, sandiwara radio menjadi ajang cerita di sana-sini. Setiap ketemu kawan, selalu saja saling bertanya dan saling bercerita serunya jalannya episode demi episode.

Saat-saat sekarang jika aku pulang ke Solo, tak pernah lupa kudengar siaran wayang kulit semalam suntuk lewat radio. Kalender ’versi Jawa’ dengan tampilan wuku dan weton kucheck. Sabtu Legi atau Setu Legen adalah siaran ’wajib’ radio Swara Slenk FM – 92.5 MHz., radionya dalang Ki Warseno Slenk Harjodarsono, untuk wayangan ’live’ sampai pagi. Toh kalau ternyata di hari-hari liburku di Solo tidak menemukan Rabu Legi, wayang kulit bisa kudengarkan dari stasiun radio lain, terlebih di frekuensi AM.

Aku sangat rindu mendengar radio meski sepertinya tulisan ini hendak berakhir. Seraya ngobrol dengan Nuskan, kawan dari Pekanbaru, Riau, kuperoleh ide untuk mendengarkan siaran radio lewat handphone. Caranya, kutelpon kawan, entah nanti Nuskan sendiri, atau Ucok yang lucu, atau juga Heri Cimeng, untuk mendengar siaran radio dari handphone mereka. Tak mengapa Nuskan menyebut ideku ini gila, lucu atau apalah, asal aku bisa mendengar sapaan penyiar radio.

So I listen to the radio and all the songs we use to know

So I listen to the radio remember where we use to go

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: