males…


menyebalkan jika malas menyergapku seperti sekarang. seperti dendam, rasanya harus terbayarkan. padahal, aku juga nggak tahu berdendam dengan apa atau siapa, juga kapan dan dimana tentang apa. malas ngapa-ngapain selain memuntahkan kemalasan ini sendiri. ya, hanya lewat media ini.

beberapa hari merasa muak, jumud. hanya ingin bermain ke sana-kemari, bercengkrama dengan orang-orang yang mungkin baru kukenal ketika kujumpa saat itu. malas, malas…

jumud.

kuberkhayal saat ini kubersama ucok yang kocak itu. ya, ucok berjanji padaku akan mengajakku bermain, memandikan, memberi makan gajah di taman nasional tesso nilo usai lebaran nanti. hmmm…seberapa takut ya aku kala anak gajah lucu tapi nakal itu mengejarku. hahaha, ucok saja takut dikejar! badannya besar kala kulihat foto yang dikirim heri. senang rasanya bisa menyusuri daun-daun basah berpenghuni pacet itu. lalu, “ups, berhenti bentar, ada pacet di kakimu!” indahnya tatoan tubuhku oleh unok yang bertebaran di antara semak.

ucokkkkkkkkkkkkkkkkkkk, bawa aku ke sana!!!!!!!

betapa segar udara di rimba sana. hidung tak mancungku namun peka rindu bau busuk dedaunan. goresan warna coklat bercampur kehitaman pada tanah, di sana pula beraneka makhluk kecil namun raksasa jika dibandingkan saudaranya di kota, bertebaran di mana-mana. kaki seribu yang entah berapa ribu kali besarnya dari kaki seribu yang hidup di perkotaan. subur tubuhnya oleh alam yang memanjakannya.

rimba, ya rimba, aku tengah merindukannya…

mandi di sungai

mandi di sungai

seperti foto ini, mandi di sungai lagi. wuih, kalau beruntung, sambil menyelam nembak ikan. yup, bukan pakai peluru tapi pakai semacam tombak. hmmmmm, khayalanku sudah sampai sungai kejasung godong di taman nasional bukit duabelas, jambi. tiap hari kudiberi ikan beraneka warna. dari ukuran kecil hingga segede pahamu. hak hak hak, ya pahamu karena pahaku kurang besar untuk menggambarkan gedenya si ikan. besar-besar di sungai nan jernih itu!

kelak jika aku ke sana, sepertinya lebih asyik mandi telanjang seperti yang biasa kulakukan di sungai toruyon. air dingin terasa memudakan kulit kala ia tak tersentuh oleh kain sarung basahan. hihihihi…tapi harus ngumpet di balik rerimbunan daun.

eaah, belum-belum kok takut! bukankah kamu telah belajar bersama orang rimba, nuk? tak ada ketakutan bersama mereka…

ahhhhhh, jalan-jalan, ayo jalan-jalan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: