Meugang part 2


”Hari ini banyak yang makan daging,” kata Indra. Ya, hari ini masyarakat Aceh tengah melakukan tradisi meugang. ”Apa tuh meugang, Ndra?” tanyaku pada Indra yang pernah jadi orang gunung alias kombatan ini.

Bagi masyarakat Aceh, tradisi meugang dilakukan untuk menghormati hari besar Islam. Setiap tahunnya, meugang tidak hanya dilakukan sekali. Selain untuk menyambut bulan Ramadhan, meugang juga dilakukan untuk menyambut Idul Fitri dan Idul Adha. Untuk keduanya, biasanya diadakan dua hari menjelang hari H.

Saat meugang seperti sekarang, masyarakat biasanya memakan daging sapi atau kerbau sebagai santapan utama pendamping nasi. ”Daging sapi bisa dimasak apa saja. Gulai, rendang…,” ujar bang Putra yang asli Trumon, Aceh Selatan.

Daging yang hendak dimasak bisa disembelih beramai-ramai bersama warga gampong (kampung) ataupun dibeli di pasar. Tetapi untuk di Tapaktuan ini saya kurang tahu darimana warga mendapatkan daging. Sebab, ketika tadi pagi aku bersama Ida ke pasar, tidak ada satupun pedagang menggelar dagangannya di pasar Inpres ini. Bisa jadi daging didapatkan dari membeli di pasar pada dua hari lalu.

Padahal, kata Indra, gang sendiri berarti pasar. Lalu hubungannya dengan meugang apa? ”Ya, kalau saat meugang banyak orang pergi ke pasar. Lebih banyak dari hari-hari biasa,” kata seorang kawan. Makanya sampai ada istilah makmu gang nyan (Makmur, pasar itu). Di hari meugang, masyarakat akan berbondong-bondong membeli daging. ”Ow, tidak heranlah jika disebutkan di koran, harga daging terus merangkak naik,” gumanku sendiri. Namun, mengapa pasar satu-satunya di kota kabupaten ini malah sunyi senyap yah? Entahlah.

Berbagi

Bisa jadi benar ketika ada cerita, meugang adalah saat istimewa karena masyarakat bisa menikmati lauk yang berbeda dari hari-hari biasanya. Jika hari-hari biasa makan ikan, dua hari sebelum puasa, mereka bisa menikmati daging sapi, kerbau, atau kambing.

Aku ingat betul kata-kata Ida, kawanku yang berasal dari Meulaboh. Kata dia, ”Kami ni kalau tak makan ikan rasanya ada yang kurang.” Perkataannya diamini oleh Farida yang tinggal sekamar dengannya. Setiap hari katanya, mereka makan ikan. Persis yang kukatakan pada mereka, ”Serasa hampa jika makan tanpa ada tempe,” hehehehe….

Tidak hanya itu, meugang menjadi istimewa karena orang-orang kembali diingatkan untuk berbagi, terlebih berbagi rezeki bagi kaum papa. Di beberapa wilayah, kudengar malah seperti Idul Adha, menyembelih, lalu membagi-bagikan daging pada kaum miskin. Ada yang dibagi-bagikan usai dimasak, juga dengan makan bersama. Meski demikian, di kota kecil ini aku tidak menemukan cerita itu.

Pojok ruang di bawah jendela, 21 Agustus 2009 : 12.44

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: