Sejuk dengan Peusejuk


Berderet dua orang dua orang kebelakang, kami diarak menuju lapangan. Dentuman musik menambah panas suasana yang memang terik. Pak Dar yang memakai baju paling rapi di antara rombongan, plus peci bertuliskan ‘Nanggroe Aceh Darussalam’, serta Didik berdiri pada urutan paling depan. Penampilan Didik yang coordinator tim pemuda itu sungguh berbeda dengan Pak Dar. Ia hanya mengenakan kaos oblong warna hitam kesukaannya, serta sandal jepit yang berwarna hitam pula. Klop, semua serba hitam melengkapi kulitnya yang juga legam.

Tak sampai sepuluh meter kami berjalan, gadis-gadis kecil yang cantik bersiap menari. Kala musik diputar, gemulai tangan-tangan mungilpun mengikuti iramanya. Gadis-gadis ini menarikan Raneup Lampuan. Kata Ida yang asli Meulaboh, tarian ini dilakukan untuk menyambut tamu kehormatan. ”Wah, senangnya!” ujarku senang.

Penarinya berjumlah tujuh orang. Enam orang berada di posisi kanan kiri. Mereka berenam membawa baki berisi berbagai macam bunga. Dalam benakku, sudah pasti bunga-bunga itu diambil di desa mereka sendiri. Berenam mereka berbaju kuning mengkilat, berserempang merah di dadanya, sekaligus sebagai tali rok yang mereka kenakan. Seorang lagi, seperti pemimpinnya, membawa baki berukuran lebih besar. Saat kudekati, baki itu berisi daun sirih yang dilipat menyesuaikan alur tengah daun, kapur serta pinang.

”Siapkan uang!” kata Ida yang membuatku panik. Panik karena aku memang tidak membawa uang sama sekali.

”Bagaimana ini?” malu juga aku. Lalu, mas Yoppie memberiku uang seribuan untuk jadi ’pegangan’.

Lebih dari sepuluh menit kami berdiri dan menikmati tarian Raneup Lampuan yang indah. Kelak setelah acara ini selesai, baru kutahu ternyata pelatihnya adalah kak Murni, ketua pemudi desa ini, Desa Kampung Paya, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan. Usai dilempar bunga, kami dipersilakan menuju tenda tamu.

Tak berselang lama, gadis kecil yang kala menari membawa baki berisi perlengkapan menginang mendatangi kami, juga perangkat desa yang duduk bersama kami.

Satu persatu ia datangi kami. Lalu, recehan uang kertas diselipkan dalam baki, di bawah daun sirih. Agak malu juga jika ingat aku tidak membawa uang sama sekali. Kata Adi, usai memberikan uang, kita sebaiknya mengambil sirih, kapur, dan buah pinang.

”Trus? Untuk?” tanyaku patah-patah.

”Ya dikunyah,” ujar Adi cepat.

Ketan Pulut

Usai sambutan-sambutan, tujuh orang yang dikomandoi pak Dar mewakili tim JRS untuk naik ke panggung. Kami duduk berjajar menghadap ke hadirin. Persis di pojok panggung bagian pinggir terdapat dua nampan. Satu nampan berisi ketan yang dihias dengan kelapa yang dicampur gula merah. Bagi masyarakat Aceh, ketan itu biasa disebut pulut. Nampan  satu lagi lebih tinggi bentuknya, serta balutan hiasan khas Aceh berwarna merah berisi seperangkat peusejuk. Nampan berhias itu berisi beras berwarna kuning, jagung yang sudah digoreng tanpa minyak. Ia mengingatkanku dengan ’makanan khas’ saat kita nonton film di bioskop, popcorn! Satu mangkuk air putih, yang kemudian kutahu berfungsi untuk cuci jari. Semangkuk lagi berisi air yang didalamnya telah diberi dedaunan yang diiris-iris tipis. Di dalam mangkuk ini pula terdapat sabut yang dibuat dari daun. Sayang, aku lupa menanyakan daun apa itu.

Pak Tengku Imam Chik adalah orang pertama yang didaulat untuk mempeusejuki kami, beserta beberapa perangkat desa. Usai komat-kamit melafalkan doa, ia mengambil jagung ’pop’ dan mencampurnya di piring berisi beras kuning. Sesaat kemudian, campuran keduanya ditaburkan ke kepala dan tubuh kami. Aku tersenyum senang. Ada sensasi tersendiri ketika butiran beras itu terhempas di tanganku.

Lalu, ia mengambil mangkuk yang berisi air dan dedaunan. Sabutnya dicelup-celupkan untuk memastikan air dalam sabut daun itu benar-benar ada. Air dan daun dalam sabut itu lantas diberikan ke telapak kami yang terbuka. Segar terasa. Prosesi ini di setiap desa terkadang berbeda caranya. Kadang, air serupa diberikan dengan cara diciprat-cipratkan seperti ditaburkan. Sengaja lebih tinggi di atas kepala.

Usai melakukan prosesi itu, Tengku Imum kemudian mencelup tangannya ke mangkuk berisi air. Kemudian ia mengambil ketan, dijimpitnya pula gula kelapa, lalu diberikan pada kami sejimpit-jimpit. Untuk menghormati, ketan tersebut harus dimakan kata seorang kawan. Dan, nyammmm, enak juga!

Biasanya pada acara peusejuk ini, prosesi seperti di atas biasanya dilakukan oleh para perangkat desa dan hukum.

Erat, rekat, dingin

Kita semua tentu tahu, jika sudah menjadi makanan alias dimasak, ketan yang bentuknya seperti beras itu terasa lengket. Jika aku pulang ke Solo, penjual sego liwet (nasi liwet) yang biasanya juga menjual ketan, selalu memberi taburan kelapa parut di atas ketan. Untuk apa, ya supaya tidak lengket di tangan.

Ketan atau pulut menjadi simbol eratnya hubungan, bersahabatan, kekerabatan, persaudaraan. Itu pula salah satu alasan prosesi peusejuk memakai ketan, dan diberikan pada orang yang terlibat dalam acara tersebut. Cipratan atau pemberian air pada telapak tangan menjadi simbol kesejukan.

Nah, lantas peusejuk sendiri apa. Menurut sejumlah orang, ya kawan, ya para pemangku adat, peusejuk sendiri berarti awal yang sejuk. “Ketika kita masuk atau memulai kegiatan apapun dengan peusejuk, harapannya akan sejuk hingga kegiatan tersebut selesai dikerjakan. Sama halnya ketika kita memulai bekerja dengan hati yang sejuk, senang, tidak ada dendam, tidak ada amarah, maka semua akan selesai dengan baik. Semoga bermanfaat untuk semuanya,” tutur Pak Sekretaris Desa Kampung Paya.

Hmmm, jadi ingat mas Windi pernah mereka-reka, peusejuk dimaknai dalam penggalan bahasa Inggris “Peace” atau damai. Bisa juga. Sesuatu yang dimulai damai sehingga damai abadi. Berharap, bumi Serambi Mekah ini tidak lagi ada perang. Perang dengan siapapun.

Lantai Dua, menjelang 6 Agustus 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: