Pagi ke 6


Pagi ini adalah pagi ke enamku di kamar 510 hotel Niagara, Parapat. Sekalipun lebih dari tiga kali aku menginap di hotel yang sama, rasa yang sama juga masih kurasakan, asing. Dalam pandangan mata, juga teraba dalam kulitku yang semakin berkerut sekaligus kering, kemudian berselancar ke seluruh tubuhku, entah tetap kurasai ini bukan rumahku.

Seperti pagi ini dan pagi-pagi sebelumnya, aku tak berkewajiban untuk sekedar melipat selimut yang kupakai seorang diri. Acak-acak usai melebur mimpi tanpa merapikan barang selipat pun darinya. Ini bukan aku!

Lalu bergegas menuju kamar berukuran kecil tetapi tersedia berbagai keperluan untuk membersihkan diri. Jika saja kumau, sejorok apapun kumemakainya, siang nanti kala kuingin rehat sejenak dari kepenatan di ruang pertemuan di bawah sana, semua telah rapi. Kembali ke keadaan semula saat kudatang pertama kali. Bahkan setetes air dari cipratan saat kumenggosok gigi pun telah sirna.

Sejuk yang kerap justru kurasa sebagai dingin teratasi dengan butiran air hangat. Tak perlu kurepot turun ke dapur mengambil ceret, memasukkan air ke dalamnya, lalu menungguinya hingga ia menderit “tiiiiiiiiittttttttttttttttttttttttttttttttttttttt….” Tak sampai di situ, aku harus membawanya ke lantai atas. Lantas mengambil beberapa gayung air, meletakkannya di ember, mencampur air panas dengan air bak di ember. Di sini, tombol berwarna putih di sebelah kiri tinggal diputar. Jika panasnya keterlaluan, aku tinggal seimbangkan dengan tombol di sampingnya, samping kanan, air dingin.

Dan handuk putih bersih itu setiap hari diganti. Ya, sejorok-joroknya aku di sini, yang dengan sengaja ngumbrukke kain lebar itu, siang akan ada penggantinya. Lipatan rapi, dengan peletakan yang tidak seenaknya seperti yang kulakukan setiap hari di sini.

Selesainya, turun ke meja makan. Tinggal duduk di kursi yang telah disediakan, santapan pun satu per satu dihidangkan. Jika saja perutku sebesar karung beras, habis makanan semeja kulahap. Dari makanan berkarbohidrat, berlemak, protein, vitamin dan tetek bengek disediakan di meja bulat di lantai empat itu.

Rupanya, tak hanya itu. Pada tempat yang berbeda, di ruangan yang kadang membuatku merasa jengah, bosan. Tetapi juga kerap kali membuat gigiku yang buruk ini terlihat manakala satu dua kawan menyelutuk hal-hal yang membuat geli dan lucu.

Lagi-lagi di ruangan itu, pukul 10 dua macam air minum dihadirkan dengan perlengkapannya. Makanan pendamping maksudku. Belum juga usai lambungku menggerus sarapan, makan siang pun siap ditelan. Pukul 15 makanan yang entah berupa apa lagi siap dirasakan daging kenyal yang hanya berukuran belasan sentimeter ini!

Di sini aku lupa bagaimana rasa lapar itu. Di sini aku lupa bagaimana makanan yang sudah berbau tengik menusuk hidung dan menggetarkan daging kenyal di antara gigiku. Di sini, aku pun lupa bagaimana aku harus bergegas, bangun tak boleh telat karena pak Rasidi atau bang Tapoen telah menunggu di bawah untuk menjemput kami. Yang kadang masih kubilang, ”Pak, tak nggoreng endok sedelo ya,” untuk sekedar mengisi perutku yang lapar.

Aku lupa setiap pagi mbak Nur dan kawan-kawan repot memasak untuk sarapan. Terkadang karena malasku bangun, sarapanpun harus kulahap di dalam mobil menuju ke kantor. Kerapkali pula belum habis hingga pintu kantor, melanjutkannya di ruang kecil tetapi lebar berjendela besar. Ruanganku dengan mas Enggal.

Kakiku rindu menitik setitik demi setitik lantai kamar mandi, mengadunya dengan sabut warna biru, lalu menggosoknya agar lumut pergi dan tidak meninggalkan licin pada petak-petaknya. Tanganku yang selalu harus memukul-mukul dengan batu gosok badanku, untuk sekedar membuka tutup bak mandi. Rindu.

Bukan, bukan tempat ini yang asing. Namun, asingku justru pada diriku sendiri.

Sabtu, 5 September 2009. menikmati toba di 08.22

nyaman, seharusnya

nyaman, seharusnya

lukisan alam pada jendela

lukisan alam pada jendela

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: