BPK


“Mampir bentar yah?” tanya Didik padaku dan Dede. Mobil diparkir di sebelah kiri. Tak jauh dari tempat mobil di parkir, hanya sekitar 3 meteran, warung sangat sederhana  mengepulkan asap. Bangunan warung itu hanya terbuat dari anyaman bambu. Dua orang lelaki asyik mengobrol di bangku yang disediakan, ditemani dua kelas berisi cairan warna hitam pekat. Kuyakin itu kopi.

Waow, ada dua tubuh digantung. Warnanya agak kecoklatan. Beberapa bagian tampak gosong kehitaman. Tapi di ujungnya tampak putih, barangkali lemak. Ukurannya tak begitu besar. Hanya sebesar tiga kali tubuh kucing dewasa. Satu tubuh, tak tampak kepalanya. Satu tubuh lagi mendongak ke atas, tetapi tidak begitu jelas ia menghadap kemana, masih utuh atau tidak.

Kaki tangannya ada yang masih utuh, ada yang telah hilang dipotong. Asap mengepul dari bawah tubuh digantung itu. Sesaat hilang, sesaat muncul lagi. Ia pergi menjauh menurut pada angin yang membawanya ke arah jalan, lalu lenyap ditelan awan.

Aku mengambil beberapa foto ketika Didik bertransaksi, tapi sengaja hanya untuk mengambil dua tubuh mengantung itu. Unik!

Yup, sekalipun di sepanjang jalan dari arah Parapat menuju Aceh warung-warung babi panggang bertaburan, tidak semua warung memajangnya. Ketika waktu lalu Didik juga membeli BPK di Merek, di warungnya juga tidak menampakkannya ke ’publik’. Hanya tulisan di depan warung saja terpampang ”BPK”

Nah, aku sendiri sebenarnya belum tahu tuh kepanjangan BPK itu apa. Yang kutahu cuma babi panggang. Kepanjangan dari Knya entah apa. Kamu tahu nggak?

Ngomongin BPK, ada yang kulupa. Pernah ada kawan yang menanyaiku atau aku sengaja bercerita seputar daging, lalu aku bilang daging binatang yang belum pernah kumakan daging babi. Hiks, pasti aku lupa! Ya, sungguh-sungguh lupa!

Ninuk, bukankah semasa kecilmu di Solo, hampir setiap hari kamu makan daging babi? Ya, seingatku, aku kerap membelinya di warung Bu Citro yang kini telah almarhum itu. Daging babi kala itu dijual bebas di kampungku. Entah siapa yang membuat. Kerapkali pula aku telah menemukannya di meja makan di rumahku. Sama seperti yang dijual bu Citro, daging babi yang tersedia di rumah juga masih berbungkus daun pisang. Kadang daunnya terasa berminyak hingga bungkus di luarnya. Barangkali saja tangan si penjual menjadi sangat berminyak saat mengambilnya, hingga minyaknya ikut melekat di bungkusnya.

Rasanya? Sangat enak seingatku. Kalau nggak enak, ngapain aku membelinya hampir setiap hari. Memakannya dengan lahap seperti kalau mbah putri mengoleh-olehi aku capcai tepung yang dicampur dengan bakmi dan bihun. Bungkusnya yang boleh dikatakan tidak besar, bungkus daun pisang, sangat mirip dengan bungkusan daging babi.

Dan soal rasa, aku lupa daging babi itu dimasak apa. Barangkali saja hanya dibumbui merica, bawang putih dan garam. Bumbu apa itu namanya kawan?

”Najis,” begitu kata seorang kawan saat kuceritai kalau aku pernah makan daging babi. Ya, cerita masa kecilku. Entah apa maksud kata-katanya, mungkin aku najis karena pernah makan daging babi.

Wew, lah jamanku dulu dengan sekarang jauh berbeda. KTP ibuku memang mengatakan beragama Islam, tetapi dulu ibuku juga hanya sholat di kala lebaran tiba. Rukuh atau mukena milik ibu juga sudah robek di sana-sini. Itupun pemberian mbah Putri.

KTP bapakku malah tidak jelas disebutkan apa agamanya. Aku sendiri, kulihat rapot-rapotku tercantum beragama Islam. Meski di masa kecil, aku tidak pernah dilarang oleh bapakku, ibuku, juga mas-masku yang rajin beribadah sholat untuk ikut Natalan, Paskahan, atau diajak ke wihara oleh tetangga, atau juga saudaraku. Bahkan ingatanku, aku sangat senang ketika diajak ke gereja yang juga menjadi rumah tetanggaku, mbak Mari, saat Paskah berlangsung. Apalagi kalau bukan soal perut di masa kecil. Aneka makanan warna-warni dan telur yang dihias sangat menarik diberikan untukku.

Hmmm, masa kecil yang menyenangkan. Tidak ada kewajiban untuk ikut TPA seperti ponakanku, juga anak-anak kecil lain. “Masak orang Islam nggak bisa ngaji!” begitu kata tetangga baruku dari Purwodadi, Nurhadi.

“Kalau mengaku Islam ya anak-anaknya wajib ikut TPA biar bisa ngaji!” kata dia pada tetanggaku dengan suara keras. Mungkin biar aku mendengar. Ah, tapi aku tidak merasa tersindir.

Ya, masa kecilku, jangankan untuk ikut TPA, hendak sholat ke masjid saja harus ke Surakarta, ke masjid Tegalsari, Laweyan. Di kampungku sendiri seingatku, masjidnya sangat jauh, lebih jauh dari –jika- aku ke masjid Tegalsari. Dan kurasa mengapa daging babi dapat ditemukan dan dimakan dengan begitu mudahnya, ya karena memang orang-orang tidak tahu kalau daging satu ini nggak boleh dikonsumsi orang yang mengaku beragama Islam.

Aku baru tahu tentang larangan makan daging babi ketika masuk SD. Itupun seingatku antara kelas empat dan lima.

Wew, tapi mengapa mas-masku juga nggak pernah melarangku ya? Mbakku yang satu-satunya pastinya juga mendapat pelajaran yang sama, dengan guru yang agama yang sama, Bu Parti. Tapi kok dia juga kerap merebut daging babiku? Entahlah. Tapi yang jelas, seperti apa persis rasanya aku tak ingat lagi. Hanya enak yang kuingat. Begitukah?

Ditemani Franky dan Jane

asap mengepul

asap mengepul

dipotong dikit-dikit

dipotong dikit-dikit

kakinya udah ilang

kakinya udah ilang

nampak kan?

nampak kan?

Senin 7 September 2009 : 00.15

Iklan

2 Komentar

  1. naribungo said,

    6 April 2010 pada 5:31 am

    hehe iya…

  2. gitaditya said,

    1 April 2010 pada 7:20 am

    BPK itu Babi Panggang Karo mbak 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: