Lion Air Anjrid!

Hari ini (25/9) tepat seminggu koperku, yang kupercayakan pada maskapai penerbangan Lion Air untuk diangkut di bagasi, hilang. Kabar terakhir kemarin sore masih tetap sama, “Belum ketemu ibu Ninuk…” dengan nada santai seperti hari-hari sebelumnya.

Sore kemarin, lagi-lagi aku telpon ke bagian reservasi Lion Air, kemudian malah ditanya-tanya. Ehm, lumayan baik si mbak kali ini. Ia menanyaiku soal rute perjalanan, jam keberangkatan, nomer bagasi, juga nomer kontakku. Kata dia, data ini akan ia berikan pada bagian customer care saat itu juga. Sedangkan pada nomer kontak bagian bagasi, di 02170712xxx, aku malah ditanyai apa saja isi koperku. Wew, berarti bakal dibuka-buka to koperku? Jika ada yang tidak kusebutkan, bisa saja ditilep! Itu pikiran burukku!

Dua hari lalu, ketika kutelpon nomer yang diberikan pada bagian kehilangan maskapai Lion untuk wilayah Solo, dengan enteng staf laki-laki itu berkata, ”Ibu tidak perlu telpon atau menanyakan setiap hari. Nanti kalau ketemu, ibu akan kami kontak.” Wew…

Saat itu, ia juga berkata padaku, untuk menunggu sebulan! ”Kalau memang sebulan tidak ketemu, 3 bulan ke depan akan ada penggantian,” katanya.

”Oh, jadi memang sengaja nggak dicari kalau aku harus nunggu satu bulan!” Akhirnya ia meralat omongannya bahwa pencarian untuk kehilangan barang akan dilakukan hingga satu bulan jika memang belum juga ketemu. Setelah itu, ya tidak dicari lagi. Tiga bulan berikutnya akan ada penggantian. Lama prosesnya, mungkin menunggu si penumpang sampai putus asa hingga akhirnya cuek dan malas untuk mengurus lagi.

Hari Kamis (24/9) ketika kutelpon lagi nomer kontak Lion Air Solo 02717817xxx, kutanya apakah masih pakai surat menyurat lewat pos. Dia bilang (sampai hafal orang itu denganku!), ”Kan sekarang sistem online bu.” Tapi kok aneh, lama betul ketemunya!

Entah pada bagian mana sebenarnya yang error dari maskapai penerbangan ini. Yang jelas, pada waktu yang hampir berurutan ketika Kamis kemarin kutelpon di nomer yang kusebut di atas, Jakarta belum menerima laporan dari Solo. ”Ibu tutup saja telpon ini, saya akan kontak Solo,” begitu katanya. Kuhitung sampai tiga kali ia memintaku untuk segera menutup telpon. Sementara yang di Solo mengatakan sudah mengirimkan kabar via email di beberapa bandara di Indonesia.

Menyebalkan memang! Oleh-oleh untuk kawan-kawan dan keluarga yang kusimpan di koper itu tak sampai di tangan. Di rumah, aku jadi nggak punya baju! Nggak perlu bertanya mengapa sampai begitu. Karena baju di rumah sudah disumbangkan oleh ibu ke wilayah bencana, seperti biasanya. Minyak pala pesanan ibu, untuk mengurut kakinya juga tidak sampai. Foto yang diminta seorang teman untuk discan tidak kabarnya lagi selain ”Belum ketemu tuh…” Dan hari ini, ketika rencana dari Aceh Selatan sana akan kujalankan, check up ke dokter, form asuransiku nggak ada karena kusimpan di koper itu. Oh, terlalu percaya aku bahwa semua akan berjalan baik-baik saja.

Mengutuk dan mengutuk! ”Ya pernah si bu, ada yang kehilangan bagasi dan tidak ketemu. Jadi tidak hanya ibu yang kehilangan,” begitu ketika kutanya apakah ada bagasi yang akhirnya lenyap betul tanpa kabar.

Jadi ingat kisah mbak Nur Selasa lalu. Ia juga hampir kehilangan bagasinya, sebab tidak sesuai dengan kota tujuan. Turun dimana, diberi tanda kota mana. Fery, yang Sabtu lalu pas aku pulang dari bandara juga mengatakan hal yang sama. “Walah, aku juga naek lion air. Hilang juga bagasiku. Tapi cuma semalam langsung ketemu,” kata dia.

Wo, kalau tahu ada banyak kehilangan dan resposnya hanya seperti ini, kelak tak akan pernah lagi kunaik pesawat ini lagi.

Jumat pagi (25/9)

Iklan