Kesurupan?


“Belum ada satu bulan saya dipindah ngajar di Malaka. Ini juga baru pulang untuk pertama kalinya. Cari apa-apa susah di desa sana,” begitu kisah kak Nur…(lupa aku!), Senin (2/11).

Saat itu, kami tengah melakukan perjalanan pulang ke Tapaktuan, Aceh Selatan. Ia dan suaminya menumpang mobil yang kami carter. Aku dan Ricka saat itu carter mobil bang Sam ke desa Simpang Dua dan Simpang Tiga, Menggamat. Kedua desa itu masuk wilayah Kluet Tengah, Aceh Selatan.

Kak Nur dan suaminya menumpang dari desa Jambur Papan, desa yang memang kami lewati jika hendak atau sepulang dari wilayah Menggamat. Kak Nur yang sepupu bang Sam ini rupanya belum lama dimutasi ke wilayah Kluet. Awalnya, ia mengajar di Bakongan. Kini ia seorang Pengawai Negeri Sipil, yang tentu harus siap dipindah kemana saja. Di SMA Malaka, Kluet Tengah, ia mengajar kesenian.

”Yah, sedikit-sedikit lah menguasai alat-alat kesenian, seperti rebana, gitar. Bisa menari tarian Aceh sedikit,” kata pengantin muda (baru satu bulan usia perkawinannya) ini.

Lalu ia bercerita lagi tentang susahnya hidup di desa. Lebih menderita lagi -istilah yang dipakainya, ia harus sering berpisah dengan suaminya. “Suamiku kerja sebagai TU di sekolah Tapaktuan Dek.”

Penderitaannya bertambah berat saat ia merasa sakit. “Kemarin diare saja minta ampun cari oralit. Ke puskemas juga obatnya tidak lengkap. Dokternya kadang ada kadang tidak ada.” Kak Nur mengaku stress tinggal di wilayah itu.

Aku sendiri hanya tertegun dalam hati mengingat penggalan-penggalan hidupku di beberapa wilayah. Pastinya, tinggal di desa Jambur Papan lebih banyak akses apapun dibanding penggalanku dulu. Listrik, siaran televisi meski harus memakai parabola, sinyal handphone, ke kota (Kota Fajar) kurang lebih setengah jam, jalanan mulus, dekat kantor polisi, ada puskesmas. Akh, apalagi?!

Tidak, tidak boleh kubanding-bandingkan karena penerimaan seseorang pada suatu keadaan berbeda-beda. Termasuk tingkat ‘bersyukur’ seseorang pada berkah yang diberikan padanya pun berbeda. Sekalipun kota Bakongan dan Tapaktuan sangat tidak ‘sekota’ dibanding Solo.

“Di desa, saya sakit-sakitan terus, Dek. Ni makanya kami pulang ke Tapaktuan untuk berobat,” ujarnya.

Tak lebih dari satu menit setelah mengucapkan kalimat itu, ia tumbang. Tubuhnya terkulai lemas. Suaminya yang duduk di jok belakang panik. ”Mah, mah..”

”Lhoh, kakak pingsan to?” kupikir ia mengantuk seperti Ricka yang suka bercerita cicitcuit tiba-tiba tertidur.

Apa kak Nur terlalu pusing dengan jalanan perbukitan yang berkelok-kelok itu? Atau ia pusing karena mobil tanpa AC itu harus ditutup kacanya karena di luar hujan lebat?

Bang Sam menghentikan mobil persis di depan rumah penduduk desa Kampung Paya. Setidaknya ada lima orang tengah bercerita di beranda rumahnya. Suami kak Nur dan bang Sam menggotong kak Nur ke rumah seberang jalan. Entah rumah siapa. Tapi kemudian kutahu dari kawan bang Sam yang duduk di jok belakang dengan suami kak Nur, bahwa bang Sam kenal dengan tuan rumah.

Kak Nur ditidurkan. Matanya masih menutup rapat. Pipinya ditepuk-tepuk suaminya pun ia masih terdiam. Warga desa satu per satu datang menggerombol. ”Tolong ya pak, bu, jangan mengerubung biar ada hawa,” kata Ricka.

Suami kak Nur tampak kebingungan. Minyak kayu putih yang kuberikan padanya malah masuk kantong celananya. Beberapa kali ia sibuk dengan hpnya, entah berusaha menghubungi siapa, juga mengirimkan pesan pada siapa. Saat kusarankan untuk mengendorkan ikatan jilbab dan ikat pinggang kak Nur pun ternyata ia tak bisa. ”Kak, bagaimana ini membukanya?” Busyet!

Tuan rumah komat-kamit. Hanya ”Bismillah…” yang terdengar. Tangannya lalu membayang dari ubun-ubun ke leher, dada, perut, hingga kaki kak Nur. Persis seperti adegan dalam film, meluruhkan sesuatu dalam bentang sejengkal.

Seorang ibu menanyakan siapa nama lengkap kak Nur. Baju dasternya setengah basah. Basah pada bagian lengan hingga dadanya. Ia berhujan-hujan. Lalu ia berlari kecil menuju sebuah rumah.

Seorang bapak tua, kuperkirakan lebih dari 70 tahun ikut membantu bapak tuan rumah. Ia berada di bagian kaki, tegak lurus dengan tubuh kak Nur. Ia juga komat-kamit dalam bahasa Arab. Kata Ricka, kedua lelaki tua itu membaca ayat Kursi.

”Di dapat dari gunung sana. Ada kelokan yang terdapat mata air. Dulu sering ada harimau minum di situ. Kata orang tu, memang sering orang kena di situ,” kata bapak kawan bang Sam menerjemahkan kata-kata bapak tua.

Kena yang dimaksud adalah kesurupan. Oh….

Ibu berpakai basah itu kembali lagi dengan membawa sejumput ramuan. Yang tampak oleh mataku hanya kunyit sebesar seujung jari telunjukku. Lalu ia mengoleskan di ubun-ubun, telapak tangan, perut, paha dan telapak kaki kak Nur. Sejurus dengan ibu itu, bapak berusia lebih tua yang membantu bapak tuan rumah, memencet jempol kaki kak Nur. Tak menunggu menit kak Nur tiba-tiba siuman. Mengaduh. Ia pun diberi minum. Tidak dihabiskannya air putih yang hanya segelas kecil itu. Badannya terlihat sangat lemas.

Ricka mengingatkan bang Sam menunggu waktu maghrib usai, untuk meneruskan perjalanan. Waktu-waktu surup atau pergantian waktu dari siang ke malam selalu terasa ada sensasi yang berbeda.

Tapi bang Sam bilang untuk terus pulang, sekalipun ada seorang ibu mengingatkan juga, ”Tunggu dulu.” Belum juga 10 menit kami berjalan, kak Nur kembali tumbang. Lagi-lagi suaminya tampak kebingungan (kalau tidak disebut ’bodoh’).

Kami sarankan bang Sam membawa ke dokter di Kota Fajar. Ada puskemas, kata bang Sam. Di puskemas Kluet Timur, Kota Fajar, lagi-lagi kak Nur pingsan. Kali ini, dengan kemanjaan seorang pengantin muda, karena tidak mau disuntik. Ketakutan luar biasa pada jarum suntik membuatnya terkulai lemas. Mungkin juga lemas setelah berteriak dan merengek-rengek bak anak usia tiga tahun minta dibelikan mainan oleh orangtuanya.

Dokter puskemas itu mengatakan, obat melalui injeksi akan lebih cepat reaksinya ketimbang obat oral. Sebab, perut kak Nur terlalu tinggi asam lambungnya. ”Stress ini. Makanya sampai kayak gini asam lambungnya,” kata dokter hitam manis itu.

Jadi, kak Nur pingsan karena sakit perut akibat kesurupan atau karena asam lambung? Entahlah. Terpasti hari berikutnya, Selasa (3/11) malam, aku, Ricka, dan Ida disarankan bang Asri untuk membawa bawang putih dalam perjalanan ke arah Menggamat. Apalagi kami pulang dari desa Simpang Tiga, Menggamat sudah masuk pukul 00.

Bang Asri sendiri yang menyetir mobil mengantongi bawang putih, seperti halnya aku, Ricka dan Ida. Hmmm, setan masak mau merasuk pada setan, begitu canda kami.

 

Seharusnya usai pulang dari desa Simpang Tiga, Senin, Selasa, atau Rabu (2, 3, atau 4 November 2009) lalu….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: