Patoh Hati


Kantung mataku atas bawah telah mengatup rapat saat Tembuku (17) mengirimkan pesan singkatnya.

”Selamat malam bebet apa kabar. Lagi dimana?”

Sebenarnya masih ’sore’ saat teman rimbaku ini mengirimkan pesannya. Pukul 20:57:01. Kuingat, aku hanya membalas ala kadarnya. Balik menanyai kabarnya, juga kabar teman-teman rimbaku lainnya di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) sana. Antara keinginan membalas ha ha hi hi tapi otak memaksaku beristirahat.

Tembuku yang pernah menjadi kader pendidikan baca tulis hitung ala KKI Warsi itu kembali mengirimkan pesan jawaban.

”He… Kabar ake hopi beik kerna kintangon nolak ake (Ehh, kabarku tidak bagus karena pacarku memutusku)!” Begitu tulisnya. Pesan pendeknya kali ini membuat mataku yang sebelumnya berat untuk dibuka menjadi benar-benar kehilangan kantuknya.

Wew, anakku tengah dirundung duka rupanya. Patah hati! Tembuku berkisah, kekasih hatinya itu memutusnya lewat untaian kata-kata dalam deretan sms. Walah, sms kan kerap tidak bisa dipercaya?

Ia kemudian malah mengirimkan pesan panjang kintangonnya padaku. Sekitar lima sms yang mengharu biru. Bahwa perempuan itu juga mencintai Tembuku, bahkan lebih besar cintanya ketimbang cinta Tembuku padanya. Tetapi rasa itu tidak mungkin diwujudkan dalam hubungan yang lebih serius. Alasannya? Entahlah, tak terkatakan dalam sms ala remaja jatuh cinta sekaligus patah hati ini.

Tidak begitu percaya, kusms Tembuku untuk mengecek kebenarannya. Repot jika urusan hati hanya akan dirampungkan lewat teknologi seperti ini. Canggih, tapi siapa yang menjamin keabsahannya bahwa tulisan itu betul-betul diketik si gadis pujaan?

”Lebih beik yoi mikay pogi hanggo genahnye, botemu. Temungkin yoya bukon nye nang tuliy ibo (Lebih baik kamu ke rumahnya bertemu dengannya. Mungkin bukan dia yang menulis pesan itu)?” mencoba menghiburnya.

Namun, Tembuku membalas lagi, ”Au ake beheru belik dari genahnye kiyun (Ya aku baru pulang dari rumahnya).”

= =

Awal bulan Oktober lalu, ketika aku, Ucok, dan Heri berkunjung ke Bukit 12, Tembuku sempat sedikit bercerita. Sedikit, karena ya memang sedikit yang dia katakan. Dan untuk urusan macam ini, aku tidak mau terlalu jauh mengoreknya.

Adik Pengantin ini mengelak saat kuledek ia bujang lapuk. Ya bujang lapuk. Adik laki-lakinya Bekinya (16) telah betuna (menikah). Jujur (16) anak Tumenggung Nggrip yang lebih muda darinya telah menikah dengan gadis pujaannya. Begitupun Bekangga (17) yang juga sebaya dengannya telah menikahi gadis desa. Bekangga kudengar juga telah masuk Islam, artinya ia bukan Orang Rimba lagi. Remaja yang pernah dipungut anak salah seorang staff BKSDA Jambi pak Karno, ini menikahi gadis Melayu.

Tembuku mengelak kusebut bujang lapuk karena ia telah berpacaran dengan gadis desa. Kintangonnya anak orang desa, urang meru atau orang terang yang tinggal di desa Satuan Pemukiman (SP) I. Aku lupa informasi Begendang (14) atau Berayat (17) yang menyebut, pacar Tembuku gadis Jawa atau Sunda. Terpasti, ia tinggal di desa transmigran itu.

”Eik, gagah kintangonkeh ibuk (Cantik pacarku, buk), ” katanya. Kulihat Tembuku yang pemalu ini makin merona pipinya.

Begendang pun mengiyakan kintangon Tembuku memang cantik. Wew! Tapi, ya, penampilan Tembuku saat kutemui Oktober tahun ini, tak begitu lagi tampak ia seorang rimba. Celana jeans, dompet berrantai, serta t-shirt yang bersih. Sangat jauh berbeda dibandingkan waktu pertama kali kami bertemu. Lusuh, kulit gelap, cawat yang sepertinya jarang dicuci, dan berbau.

Cinta Tembuku dan kekasihnya adalah cinta yang wajar. Saat awal, entah terpikir atau tidak oleh si gadis bahwa Tembuku adalah –berdarah, bersuku- Orang Rimba. Meskipun Tembuku sendiri telah memberitahuku, ”Ake lah makon toluk. Lah makon bakso. Ake lah sunat pula (Aku sudah makan telur, bakso, sudah disunat).”

Sedikit mengingatkan bahwa ayam, kerbau, sapi, kambing merupakan binatang piaraan Orang Meru (orang di luar Orang Rimba). Binatang piaraan, baik daging, susu, atau telurnya sangat diharamkan oleh Orang Rimba. Maka, ketika Orang Rimba mengkonsumsinya, otomatis mereka kehilangan statusnya sebagai Orang Rimba. Terlebih adat sunat menyunat yang secara hukum Islam diwajibkan untuk para lelaki. Meski aturan itu kini menjadi abu-abu seiring interaksi Orang Rimba dengan Orang Meru, termasuk berbagai teknologi yang mendesak kehidupan mereka.

Balik ke urusan hati Tembuku. ‘Perbedaan’ apapun bentuknya terkadang masih menjadi hambatan makhluk Tuhan bernama manusia untuk saling berkasih cinta. Kini Tembuku menjadi korbannya.

Dari bisik-bisik di telingaku, kintangon Tembuku yang gadis desa ini mungkin saja timbang-timbang bimbang meneruskan hubungan, terlebih nantinya bersuamikan Orang Rimba. Sekalipun Tembuku telah mengubah hidupnya, tidak lagi hidup di rimba, memakan makanan orang dusun, tetapi saja ia ’Orang Rimba’. Persis yang kudengar tiap kali aku ke desa, mereka yang orang desa, baik komunitas Jawa, Melayu, Sunda, Batak, atau Minang memposisikan dirinya lebih tinggi dibanding Orang Rimba.

”Tadi sanak murid ibu dulu beli di sini. Sudah pintar bawa motor setelah ibu tidak mengajar lagi,” kata Bu Eni yang orang Minang itu padaku, saat kubeli bahan-bahan untuk masuk rimba lagi, pada Oktober lalu.

Tembuku masih seorang sanak walau ia telah tercoret dalam daftar manusia di publik ini yang harus dientaskan dalam pemberantasan buta huruf. Sebutan yang berarti saudara ini lebih ’enak’ didengar ketimbang terlontar kata ’kubu’. Kubu berarti bodoh, menjijikkan, kadang lebih kasar lagi sebagai binatang. Stigma yang entah sampai kapan akan lenyap ditelan jaman…

 

Kamar putih, 17 November 2009, 23.35

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: