Ini Aceh Bung!


“Kok berhenti Bang?” tanyaku pada bang Hendri, sopir yang kami sewa selama proses Penjajakan Kebutuhan di beberapa desa di Kabupaten Aceh Selatan. Mataku masih menelanjangi huruf-huruf dalam Kompas Minggu (15/11) yang kubawa.

Tugu simpang empat Kota Fajar telah nampak. Hanya sekitar 400 meter lagi kami sampai di simpang tersebut.

”Tuh, ada tentra lewat,” jawab bang Hendri singkat. Koran kuletakkan di pahaku. Lalu pemandangan di balik kaca mobil arah depan pun lebih menarik ketimbang membaca deretan huruf-huruf.

Seorang lelaki berpakaian doreng mengokang senjata laras panjang berdiri di jalanan aspal. Tidak tepat betul ia berdiri di median tengah jalan. Tangan kirinya menopang bagian tengah senjata, sedangkan tangan kanan memegang pada ujung kokangan. Sesekali ia mengokangkan ke arah kiri, memberi tanda pada pengendara untuk tidak melanjutkan perjalanan.

Seorang lagi, laki-laki dengan pakaian yang sama nangkring di atas sepeda motor bebek warna merah. Motornya persis di posisi garis tengah jalan. Hal yang sama dilakukan, tidak ada pengendara yang boleh meneruskan perjalanan sebelum para pembela negara itu lewat!

Kuhitung lebih dari lima kendaraan bermotor berhenti. Pun menunggu pasukan hijau itu melewati mereka. Mobil yang kami kendarai berada di barisan kedua. Persis di belakangan sepeda motor yang dipaksa berhenti. Di belakang mobil kami, mobil truk, angkutan, mobil pribadi, juga sepeda motor yang mencari celah untuk melihat situasi, menderet ke belakang. Jauh!

”Kenapa juga nggak dibolehkan lewat? Toh lajur satu lagi bisa digunakan?” tanyaku pada Dian dan bang Hendri. Kalau kuingat, ini hanya bentuk protes.

”Oiya, baru ingat, ini Aceh,” ujar mas Yoppie yang turun dari mobil. Ia memilih berdiri di depan rumah warga. Panas juga duduk dalam mobil.

Tadi siang (24/11) kejadian serupa tapi tak sama kembali berulang. Kelokan jalan perbukitan dari Tapaktuan hingga menuju batalyon 115 Macan Leuser di Kecamatan Pasie Raja, serasa lebih lama. Truk dan mobil ambulan yang berjalan di depan berjalan lamban. Sementara mobil angkutan di belakangnya tak berani menerobos. Hingga deretan mobil tumplek berderet-deret di belakang truk dan mobil tentara itu.

Heranku, pengendara sepeda motor yang biasa mengendarai bak crosser di lekukan ular perbukitan di atas laut ini pun tidak berkutik. Tidak ada satupun yang berani melaju mendahului mobil warna hijau itu.

Bang Hendri yang sopir travel Tapaktuan – Medan pun melakukan hal yang sama. Malah, ia memilih untuk menjaga jarak dengan barisan motor dan mobil di depan. Laju mobil tidak pernah lebih dari 40 Km/jam. Sangat pelan!

– –

Beda tentara beda pula polisi. Gaya berbeda penyetopan jalan setiap hari, pagi dan sore pukul 18 saat penurunan bendera Sang Saka Merah Putih.

Mendapati polisi mengokang senjata di tengah jalan depan kantor Polisi Resor Aceh Selatan pada jam-jam ini adalah hal biasa.

Beruntung, pada pagi hari belum pernah kumendapat pengalaman ini. Pada pagi hari, saat bendera dikibarkan, jalan satu-satunya arah Tapaktuan menuju Medan ini selalu distop. Siapapun kamu, harap berhenti. Tidak menghormat pada bendera tak mengapa tapi kamu harus berhenti. Jika tidak, entahlah. Mungkin senjata di tangan akan diarahkan padamu. Atau kamu akan ditangkap karena dianggap makar.

Maka, jika sore menjelang maghrib melintasi jalan ini, lalu dipaksa berhenti, harap maklum.

Ini Aceh Bung!

Rabu (24/11) malam setelah tidur sejenak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: