kala malaria…

“Mat’ mlm ibu apa kbrnya., ake barusan pulng dr ruma sakit, drawat, 2 hari!”

Pesan pendek itu dikirim oleh Tembuku (17), saat kuasyik mengobrol dengan seseorang yang juga di ujung telpon. Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, ini memang telah akrab dengan teknologi modern bernama handphone. Jika ada kabar apapun, kala ada signal tersedia di beberapa tempat di sana, ia akan segera mengirimkan pesan.

Ia yang pernah bersamaku menjadi kader pendidikan ini mengatakan, kena malaria. Kutanyakan lagi bagaimana kondisinya saat ini. Dibalasnya, ”Labeik bolum, tapi agk mendngan,” Balasan yang bercampur bahasa Rimba dan bahasa Indonesia.

Cerewetku kutanyakan lagi padanya mengapa cepat pulang. Sebab pengalamanku yang pernah dirawat tujuh kali di rumah sakit karena malaria, sekurangnya lima hari harus opname.

”Ake hopi ado sn, jd ake cpat pulang.,& piado nang jego ake” jawabnya lagi. Sempat linglung dengan kata ”sn”. Hmm baru kuingat, ini pasti maksudnya sen atau uang.

Kudengar suaranya agak berat tak seperti biasanya. Remaja yang telah lulus paket A ini kini tengah berada di kantor. Ya kantor. Kantor yang dibuat oleh KKI Warsi di pinggiran TNBD. Lokasinya masih masuk desa transmigran Satuan Pemukiman (SP) I. Waktu dulu, kudengar kantor ini memang diperuntukkan untuk kegiatan-kegiatan pertemuan Orang Rimba.

Malam ini, Tembuku ditemani Sergi dan Berayat. Kedua temannya ini juga pernah menjadi kader pendidikan dasar Baca Tulis Hitung (BTH) Orang Rimba.

Tembuku berkisah, Rabu lalu, Berayat mengantarnya di Puskesmas Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun. Oleh dokter puskemas, ia diharuskan opname.

”Ake domom waketu dibewo Berayat. Losi nihan hambanye tapi awokkeh teruy menggigil (Saya demam ketika dibawa Berayat. Dingin sekali rasanya, meskipun badan terus menggigil),” ujar Tembuku di ujung hp.

Satu malam ia ditemani Berayat. Esoknya Berayat balik lagi ke ‘kantor’ dan belum balik ke puskesmas hingga malam menjelang. Sepi, sendiri, kesepian yang pasti dirasakan Tembuku. Terlebih, ia ‘hanya’ seOrang Rimba di antara orang-orang yang masih menganggap ia dan komunitasnya lebih rendah.

”Piado kanti, piado nang cecakop samokeh ibu (Tidak ada yang menemani, tidak ada yang ngobrol denganku),” kata dia pelan. Saat obrolan berlanjut, baru kutahu kemudian bahwa merasa sendiri dalam perawatan bukan perkara utama.

”Ubat-ubat yoya hopi beir ibu, tapi makonkeh sehari yoi lima puluh ribu. Ake piado sen segodong iyoi untuk bemakon (memang- obat-obatan tidak bayar, tetapi untuk makan sehari saya harus bayar Rp. 50 ribu. Saya tidak punya uang untuk membayar makanan semahal itu).”

Kata Tembuku lagi, uang harus diberikan setiap hari agar ia bisa diberikan makanan. Oh… ”Diria hopi telpon kanti Warsi?” tanyaku.

Biasanya, kawan-kawan fasilitator cepat tanggap jika mendengar kabar ada Orang Rimba sakit. Namun, Tembuku harus berbesar hati. Tanggapan yang diberikan padanya adalah para pedamping pun tengah tumbang di rumah sakit untuk penyakit yang sama. Malaria…

Jelang tahun baru, 30 Desember 2009 pukul 23.07

Iklan

Namokeh Beturay Hendri

oleh-oleh dari rombong celitay kemarin…

“hendri beturay”

pertama kali ia menyebut namanya aku terhenyak.

“ha! penyombong diria!” seruku

laki-laki itu juga kaget mendengar jawabanku.

aku tanyai lagi namanya, “siapo namo mikay, bebet? cubo aku hopi nganing.” matanya yang bening menatapku. ia tak segera menjawab. tampaknya masih bingung.

“hendri” entah pake y atau i. aku menulisnya begini.

“yoya namo dusun, ibo?” (itu nama orang dusun kan?)

dijawabnya, “au, ibu, namo dusun”

ia mengaku nama rimbanya beturay. nama yang bagus. wajah anak laki-laki yang usianya 12an tahun itu melankolis. tatapan matanya pun ‘ngenes’. ibunya sudah meninggal. bapaknya kawin lagi.

ia mendapat nama ‘hendri’ sejak (ia mengira-ira saja) usianya 5 tahun. waktu itu ia
diambil anak oleh orang dusun desa batu sawar dan diberi nama hendri. di rimba, ia lebih sering dipanggil hendri, bukan lagi beturay.

kini hendri hidup bersama paman dan bibinya (adik kandung ibunya). pamannya yang berpangkat depati mengatakan padaku, bapaknya tidak mau memelihara beturay lagi. entah apa alasannya. barangkali karena dapat istri dan anak baru.

hidup bersama bibi dan pamannya pun nggak kalah ngenes aku lihat. tiap pagi, ia bertugas mencuci baju keluarga yang mengidupinya. buanyak, baju yang harus dicucinya. belum lagi tugas mencuci alat masak dan makan.mencari hasil hutan non kayu, yang hasilnya tentu saja bukan untuk dirinya.

suatu sore di langit yang mendung dan gunjaron (angin besar), hendri mengatakan permintaannya padaku.

“akeh ndok nian belajor, ibu. biak tokang baco tuliy hopi lolo (aku ingin sekali belajar biar bisa baca tulis dan nggak bodoh).”

ya, permintaan yang nggak muluk memang, tapi menjadi harapan baru yang lebih baik.

kutemukan tulisanku ini tertanggal 27 Mei 2006

Selamat, selamet semua….

Acara tv masih seputar menyiarkan perayaan Natal. Dari kabar misa di berbagai gereja, misa unik agenda Natal para artis, hingga iklan-iklan berbau Natal.Yup, memang saatnya.

Kota Naga Tapaktuan tidak riuh tidak juga sepi. Biasa-biasa saja. Tak tampak satupun pesan Natal di kota kabupaten Aceh Selatan ini. Tidak kulihat toko atau rumah yang berhias pohon Natal dengan pernak-perniknya. Dulu kudengar dari seorang pejabat kota ini, 100% warga Tapaktuan adalah muslim. Oh, pantas…

Tapi kutaktahu apakah beberapa warga keturunan Tionghoa yang membuka toko di kawasan Pasar Baru muslim. Sepengalamanku, beberapa toko milik warga keturunan Tionghoa itu tutup saat imlek datang. Kudengar dari seorang kawan, mereka biasanya pergi ke Medan untuk merayakannya.

Natal, tak terasa di sini. Begitupun rasaku. Tahun-tahun lalu saat kuberada di ‘kota’, hadiah Natal sederhana untuk keponakanku hampir selalu kupaketkan beberapa hari menjelang Natal. Tetapi di sini, aku bingung juga mo cari hadiah Natal apa untuk tiga ponakanku yang Katholik.

Ohya, ada yang mengganjal saat kuikuti berita di tv tadi sore. Ada pemaksaan penutupan tempat ibadah lagi. Lagi-lagi di Bekasi. Dari liputan tadi, kata pihak yang memaksa gereja untuk ditutup karena tidak ada ijin pembangunan. Pihak gereja mengatakan, ijin itu telah diperoleh dari lurah setempat.

Kuheran, mengapa kejadian pemaksaan, pengrusakan pada umat lain, tempat ibadah apapun namanya akhir-akhir ini makin menjadi. Padahal pesan-pesan untuk berbuat kebaikan pada siapapun menggeliat hingga ujung otak. Terlebih dalam kitab suci, ajaran kemuliaan untuk semua umat tertera dengan jelas. Entah apa yang tidak jelas hingga perbuatan anarkis berulang kali terjadi. Katanya umat yang beriman, tapi mengapa menjadi perusak?

Kalau sudah begini, tutur kata orang-orang di pedalaman rimba Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi berputar-putar pada ingatku. Kata Tumenggung Meladang di Sungai Kejasung TNBD, pelangi indah karena warna itu tak hanya satu.

“Romong yoya olen dikolinye sebab nye benyok nian werna. Nye galo tekumpul tapi hopiado nang bunusi werna nang bogolainon. Nye benyok tapi hopi tebelah. Benyok tapi sikuk’a. Tapi nye hopi sikuk werna bae. Kalu sikuk werna, I’ai, jehat dikolinye. Hopi mungkin disobut romong kalu sikuk werna (Pelangi dilihat sangat indah karena warna-warna yang ada sangat banyak. Beragam warna yang ada berkumpul jadi satu tetapi tidak saling mematikan warna lainnya. Meski banyak warna, mereka tidak terpecah. Banyak tetapi menyatu. Namun, ia bukan hanya satu warna. Kalau hanya satu warna saja, ia tidak indah dilihatnya. Tidak mungkin pula disebut sebagai pelangi kalau cuma satu warna),” kata Tumenggung yang selalu kuingat.

Pelangi inilah yang ia ibaratkan sebagai perbedaan yang indah di bumi. Indah, tentu jika saling menghormati.

Di rumah seorang diri, 25 Desember 2009. ’19.28

Padahal, aku hanya mengatakan….

Mimpi apa aku semalam ya? Lupa! Seseorang yang hanya sesekali bertemu denganku tiba-tiba mengirimkan pesan, ”Apa kabar, Kak”

Ia bukan seorang yang sangat istimewa dalam kehidupanku. Ia hanya seorang perempuan yang kukenal sebagai pendaftar di Klinik…(ah lupa lagi namanya, yang jelas, ada Dr Jun SpPD berpraktek di sana). Aku bertemu dengannya jika kesehatanku bermasalah, dan memaksaku untuk berkonsultasi dengan dokter langgananku itu.

Bahkan kalau kamu menanyaiku siapa namanya, aku tak tahu. Nomer handphonenya kusimpan karena aku punya kepentingan. Kepentingan untuk mendapatkan nomer antrian yang lebih jelas.

Jika pertanyaanmu, ”Lalu, kau namai siapa pemilik nomer itu?” Jawabku, ”Dftr dr Jun” itu saja.

Seingatku, ia lagi sakit kala aku mendaftar tanggal 10 lalu. Ia memberikan nomer kontak teman yang menggantikannya. Empat hari kemudian, aku harus menghubunginya lagi karena aku berkepentingan periksa lagi. Ia membalas lagi, ”Saya belum masuk kak, masih sakit.”

Hari ini ia mengirimkan pesan untuk sekedar bertanya kabarku. Ketika balasku, sudah sembuh dan mengucap syukur pada Sang Maha Pengasih, ia pun membalas ”Alhamdulillah…”

Di belakang kata syukur itu ia berkisah, belum pernah ia mendapat balasan sekedar ucapan terima kasih. Terlebih mengatakan harapan padanya untuk lekas sembuh.

Hmmmm, ya, padahal waktu itu aku hanya mengetik ”Terima kasih, kak. Semoga kakak lekas sembuh”

24 Desember 2009, pada malam kuseorang diri….

Tusukan Ke 9

“Kalau tiap hari bolak-balik ke rumah sakit atau ke sini (klinik) saja gimana dok?” tanyaku pada dokter Junaidi SPd. Dokter bermuka bening itu tak mempan kurayu.

Kata dia, “Sehari harus diinjeksi dua kali, Ninuk. Kalau tidak lewat infuse, habis nanti tempat nyuntiknya. Sudah kurus begini, habis nanti,” candanya. Ia tetap sabar menghadapi pasien bandel dan ngeyel sepertiku.

”Dokter, bukannya cepat sembuh kalau saya harus diopname di rumah sakit, tapi tambah sakit,” kataku lagi. Ingatanku melayang saat kudibawa ke rumah sakit oleh Didik, mbak Rita, seingatku lagi dengan mbak Oni. Tiga jam di Unit Gawat Darurat tanpa kepastian. Padahal saat itu hanya mau diambil darah. Akhirnya Didik memutuskan mengirimku ke Medan, ke Rumah Sakit Elisabeth.

”Kita tahu sama tahu lah bagaimana kondisi rumah sakit itu. Saya sudah capek membina. 15 tahun lebih, tidak ada perubahan. Tapi kupastikan ada kamar VIP kosong. Coba deh.  Kalau tidak lewat injeksi, panas terus timbul nanti.”

Berat hatiku mendengar kata rumah sakit di sini. Sangat berat. Tak hanya perlakukan pada diriku sendiri. Kuingat waktu mbak Elis terpaksa diopname karena plasmodium falcivarum alias malaria. Dokter yang tidak ramah, perawat yang tidak cekatan, infus salah tusuk hingga menyebabkan tangan mbak Elis bengkak.

Bahkan seprei, bantal, sendok, gelas pun harus bawa sendiri. Makanan diberikan tetapi tidak untuk alat makannya. Kalau ada sayur, bisa jadi harus disruput kuahnya.

Muntah mbak Elis bukan karena mualnya perut tetapi bau toilet yang ahkkkkk! Tak pantas rasanya disebut toilet untuk manusia! Terlebih bagi mereka yang tengah menderita sakit. Betul, bertambah sakit.

Ida yang mengantarku malah ambil bagian. Ia mengiyakan saja saran dokter Jun. Ok, akhirnya aku harus menuruti kata dokter. Ada kamar VIP.

Bang Tapun menunggui dengan sabar saat kami berkemas. Berdasarkan pengalaman, bantal, guling, selimut, sprei harus bawa sendiri, termasuk alat makan dan minum, water heater. Persis orang pindah rumah, teh dan gula pun bawa sendiri dari rumah.

Ida dan Farida mengingatkan untuk membawa kue-kue. Siapatau perutku yang kadang tak tahu aturan ini merintih meminta diisi. Donat dan bolu pandan dari Aceh Bakery, biskuit tiga macam, nasi plus telur mata sapi.

Hanya selang kurang dari l5 menit, mobil meluncur sampai Rumah Sakit Umum Dr. H. Yuliddin Away, Tapaktuan, Aceh Selatan. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 18.20. ramai orang di UGD. Lazimnya rumah sakit, seharusnya tidak ada asap rokok mengepul tetapi tidak di sini. Siapapun bebas merokok.

”Ini ruangan rumah sakit Dik, kok ngerokok,” kutegur seorang remaja tanggung. Ia lalu keluar.

Infus telah di tangan setelah bang Tapun meluncur kembali lagi ke Tapaktuan, mengejar apotek yang tetap buka di waktu maghrib. Sebagai warga non Aceh, aku merasa sangat aneh. Sempat kutanya ke Ida dan Farida, apakah syariat Islam di Serambi Mekah hingga mengatur wilayah sejauh ini. Maksudku, transaksi jual beli tutup bagi semua kalangan, termasuk wilayah yang sangat darurat sekalipun.

Pertanyaanku hanya sepele, jika apotek rumah sakit selalu tutup di waktu maghrib (kemarin sampai setelah Isya’), bagaimana dengan pasien gawat darurat? Sementara infus dan obat-obatan harus dibeli dulu oleh pasien atau keluarganya setelah proses panjang dokter menuliskan resepnya.

Jawaban Ida, bukan. Itu hanya perilaku manusia-manusianya. ”Kan bisa aplusan. Yang satu sholat, yang satu nunggu sebentar kan bisa.” Aku tidak bisa berkomentar lebih jauh. Bisa jadi Ida benar, bisa jadi keyakinan menjadi alasan untuk tidak melayani kondisi darurat sekalipun untuk melayaniNya lebih dulu. Entahlah.

Itu hanya sekelumit rasa kala berjam-jam aku harus menunggu infus menancap di tanganku.

Lalu, ”Dokter, kapan infus saya dipasang?” tanyaku pada dokter jaga UGD. Dokter perempuan berparas Aceh ini tengah hamil. Kuperkirakan usianya lima bulanan. Sejak tadi aku memang belum ’diapa-apakan’. Jam di hpku telah menunjukkan pukul 19.45.

Ia hanya mengatakan, ”Tunggu dulu ya kak, banyak kali pasien ni.”

Dokter tanpa berbaju atasan putih seperti lazimnya dokter yang kutemui saat bertugas itu menulis di sejumlah dokumen. Beberapa diantaranya resep. Tas putih di lengan dan menempel di ketiaknya tak lepas sedikitpun dari tubuhnya. ”Tidak risih pa ya nulis sambil nenteng tas gituan,” gumanku.

Aku mulai tak sabar. Entah berapa kali aku keluar masuk ruangan itu. Bahkan Ida dan Farida sampai selesai menanyakan ruangan yang tersisa, tak juga di’garap’ aku ini. tak sabar, begitu juga bang Tapun. Ia harus segera membukakan pintu untuk bang Adi yang sore tadi berangkat ke lapangan.

Menunggu lagi, kutanyakan lagi. Masih diminta menunggu lagi. Pukul 20.05, aku mendapat giliran. ”Mari kak,” ujar seorang perawat lelaki. Ia mengenakan kaos berkerah, warna biru garis-garis putih. Yup, tanpa seragam perawat.

Pada dipan warna hitam kuberbaring. Kupercayakan sepenuhnya infus itu kelak menancap di tanganku.

”Kecil sekali venanya kak,” kata dia berulang kali. Tusukan di tengah-tengah telapak tanganku bagian punggung keluar darah. Lalu ditusuknya lagi persis di pergelangan tangan.

”Pecah,” kata dia.

”Kecil sekali ni. Kurang cairan ni,” ujar lelaki yang kukira perawat senior ini. Kali ini tusukan ke tiga. Masih di telapak tangan sebelah kiri. Tusukan ketiga ini persis di sebelah tusukan pertama.

Ia mengatakan agar aku minum lebih banyak lagi, lalu pergi entah kemana.

Lebih sepuluh menit kemudian, setelah aku mondar-mandir bersama Ida, ia mengatakan untuk mencoba lagi. Satu lagi di tangan kiri, dua di tangan kanan.

Hasilnya, ”Kecil kali vena kakak. Kurang minum.” Waktu kubilang kurang minum seberapa banyak lagi, ia pergi. Enam tusukan tak ada satupun yang berhasil. Jarum ukuran 24 hingga 18 dicoba..

Lagi-lagi nasipku tak tentu. Kutegak, mencoba mengirimkan pesan pada dokter Jun. Harus bagaimana, apakah bisa diinfus di rumah dengan meminta tolong teman, bang Dedi atau Mustika. Belum ada balasan.

Seorang perawat perempuan berjilbab hijau bunga-bunga keluar dari ruangan tempat dokter jaga duduk di singgasananya. Ia yang kuperkirakan berusia tiga puluh lima tahunan itu. Kakinya menuju meja panjang ’resepsionis’. Belum juga duduk, jemarinya lincah memainkan tuts hp. Raut mukanya senyum-senyum. Sesaat matanya bertemu mataku, tapi kemudian kembali menatap layar mungil hp.

Lebih 10 menit kuberberdiri bersama Ida. Menunggu tak tahu yang ditunggu. Kudekati perawat yang masih asyik dengan hpnya itu.

”Vena kakak kecil kak, bukan salah tusuk.” Ia berdiri, mungkin risih kutunggui. Lalu masuk ruangan dokter jaga. Ternyata mengambil jarum. Mengajakku ke ruangan sebelah untuk pasien yang masuk untuk diinfus.

”Kecil kali ni. Kurang minum ni,” dan kubalas bahwa aku sudah minum banyak.

Tusukan di tangan kanan, berdarah. Dicabutnya lagi jarum itu dari tanganku. Perih, sedikit cenut-cenut terasa. ”Kakak takut ya?” tanyanya.

”Takut bagaimana? Enam kali tusukan kok masih takut,” kataku.

”Kecil kali vena kakak. Payah,” kata dia mencari-cari sisa tempat di tangan kananku. Entah mana lagi yang akan ditusuk.

Waktu kutanya, jika vena kecil, saran untuk minum sudah dilakukan, tidak juga ada rasa takut, lantas apa yang harus dilakukan. Ia tidak menjawab. Kutaktahu apakah dia tidak tahu jawabannya atau malas mendengar pertanyaanku yang sedikit bawel.

Tusukan ke delapan tidak berhasil. Ia ngeloyor pergi meninggalkanku tanpa berkata apapun.

Kata Ida, perawat pertama yang menusuk tangan kanan kiriku hingga enam kali menelpon seseorang.

”Ini pasiennya?” tanya seorang lelaki berpakaian serba coklat. Usianya kuperkirakan mendekati 40 tahun. Rambutnya cepak, hanya mengenakan sandal jepit merek Eager.

Lelaki yang kutahu kemudian adalah perawat senior mengatakan, ”Vena kelihatan begini kok dibilang takut. Kalau dikasih ukuran 24, 22, pecah lah. Itu untuk anak-anak.”

Tusukan ke sembilan itu akhirnya menancap di pergelangan tangan kiri agak ke dalam. Hanya sekali tetapi ke sembilan.

Tusukan satu hingga delapan masih terasa menyakitkan hingga saat ini. Di tangan kanan hasil tusukan perawat kedua masih meninggalkan lebam warna hijau kebiruan. Sakit tangan kanan dan kiri, terlebih jika usai kencing kupakai untuk menaikkan celanaku pada posisi yang tepat.

15 Desember 2009, 11.09

Kusepi…

Buk’e njagong. Telung nggon dino iki. Wes sik ya, aku arep…..(Ibu ke resepsi orang nikahan. Ada tiga tempat –yang harus didatangi- untuk hari ini. Sudah dulu ya, aku mau…” adikku di ujung telpon. Pembicaraan ini berakhir tak sampai satu menit.

Kucoba hubungi masku untuk juga menanyakan kabarnya. Tetapi jawaban lebih singkat mematahkan pertanyaanku.

Aku lagi nyambut gae, Nuk. Ngko sore telpon meneh yo (Aku tengah bekerja. Nanti telpon lagi ya),” mas Untung di Tangerang sana.

Lalu kupencet ‘nakan Mufti’ untuk juga sekedar menanyakan kabar keluarga mbakku, dengan ponakan-ponakanku yang lucu. Namun suara yang kudengar, “Nggak mau.” Kata mbakku, Mufti lagi asyik main puzzle.

Waktu kuhendak menanyakan kabar lain, Fida adik Mufti menangis. Kloplah, pembicaraan akhirnya terhenti. Telpon ditutup.

Mataku berat membuka katupnya ketika sahabatku yang kini makin menjauh mengirimkan pesan singkat. ”Yank, telpon dong. Aku pengen cerita.”

Satu jam bukan waktu singkat bagi tubuhku yang masih harus banyak istirahat ini, untuk mendengar sederetan keluh kesah. Tutup tong sampah kubuka lebar-lebar untuknya.

”Hmmm, ya… O…. he’em… Trus….hmmm, laiyo…he’em he’em,” begitu kudengar detail demi detail ceritanya. Ia tidak butuh nasehat, pendapat, atau apapun namanya. Ia hanya ingin mengeluarkan sampah-sampah dari hatinya, hingga tong ini penuh.

Sesaat kemudian kutanyai kabar ibunya. Jawaban singkat. Lalu, ia bilang, ”Yank, wes yo. Aku lagi sibuk ngurus…..” tanpa sempat menanyai kabarku.

Tak mengapa. Aku hanya ingin tidur. Mataku terasa panas lagi. Sebentar lagi, badanku akan merasakan hal yang sama seperti hari-hari lalu. Demam.

Seseorang menelponku di waktu yang salah. Entah menanyakan apa, aku lupa. Seingatku, aku hanya bilang aku masih ngantuk. Telpon singkat yang akhirnya benar-benar membangunkanku.

– – –

Hari ini sepi. Mbak Rita dan mbak Elis pergi ke Medan. Harusnya aku ikut ke sana untuk agenda yang telah lama dijadwalkan. Tapi tubuhku sendiri masih melarangku untuk ’angin-anginan’ jalan 10 jam ke Medan.

Sejak kuturun untuk makan siang, tak ada seorangpun di rumah besar ini. Mbak Nur mungkin lembur di kantor. Ida, entah kemana.

Hari ini sepi. Tanpa makian, tanpa lelucon, tanpa cerita. Hanya detak jam dinding dan sesekali raungan sepeda motor memekakkan telinga, tanpa kubisa ajak berbincang.

Sepi, ketika akhirnya aku hanya mendengar suara orang mengorok dari ujung telpon sana. Menelponku, puas bercerita, lantas pergi meninggalkanku ke mimpinya yang indah. Sepi, tak ada seorangpun mau berbincang denganku hari ini.

13 Desember 2009 ’20.56

Guru Rimba Pergi Lagi

“Ini Priyo?” tanyaku.

“Iya mbak, saya Priyo,” jawabnya di telingaku. Di ujung handphone bututku.

“Oh, sorry, kecil sekali suaramu…” kataku lagi. Masih tidak percaya dengan lawan bicaraku.

”Iya mbak, ini saya, Priyo. Orang Warsi. Staff fasilitator pendidikan mbak.”

Lalu obrolan itu larut. Terkadang aku keterusan menggunakan bahasa Jawa setelah tahu Priyo adalah orang Jawa. Ah, dari namanya juga sudah nampak. Hmm, tapi siapa tahu seorang Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera) yang sudah tidak bisa lagi berbahasa Jawa dengan baik. Tapi lebih dari itu kuasyik berbahasa dengannya. Ia seorang berlogat Jawa kental, sama sepertiku.

Pertama kali kudengar suaranya, kukira pemilik suara itu seorang perempuan. Jika kubilang kecil, itu sebenarnya hanya untuk menutupi ketidakpercayaanku. Tak terkatakan hingga kutuliskan padanya saat ini. Bukan tak tega tetapi tak ingin membuatnya tersinggung.

Kala itu, ia mengaku kesulitan mendekati anak-anak rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Jambi.

“Maunya macam-macam,” kata dia di ujung telpon.

Suatu kali ia menelpon lagi, seakan mengadu, “Rasanya kayak dibanding-bandingkan gitu lho mbak. Kata anak-anak itu, dulu ibu Ninuk dan Fery begini-begini, sekarang kok begono-begitu. Padahal kan programnya sekarang lain.”

Tadi, ketika bang Zen staff Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, mengirimkan pesan duka, mataku masih mengatup.

“Yang bener ah!” jawabku dalam pesan singkat. Tak terbalas. Mungkin bang Zen menganggapku kurang ajar.

Kutanyakan Koordinator Unit Rimba bang Abdi, benar bahwa Priyo telah meninggal pukul 10.05. Selain malaria, ia juga kena bronchitis.

Priyo Uji Sukmawan adalah guru bagi Orang Rimba kedua yang meninggal karena malaria. Pada 25 Maret 1999 lalu, Yusak Adrian Hutapea, perintis pendidikan alternatif untuk Orang Rimba meninggal karena malaria. Ia kemudian digantikan oleh Butet Manurung dan Oceu Aprista W, lalu Agustina Dewi Jakarta Siahaan dan Saripul Alamsyah Siregar, hingga generasi Priyo bersama Rahman pada akhir tahun 2009 ini.

Dunia pendidikan di rimba Bukit Duabelas kembali berduka. Persis seperti yang ditulis Tembuku kader rimba pada pesan singkat yang dikirimkan padaku.

”Ibu ake sedi nihan guru ake meninggal! tadi jm 10!”

Dunia pendidikan pantas berduka. Ia, sosok yang katanya mungil (aku belum pernah berjumpa) telah membantu anak demi anak rimba di TNBD terentas dari buta aksara.

14 Desember 2009 (baru dikirim hari ini saya karena harus opname)

« Older entries