Guru Rimba Pergi Lagi


“Ini Priyo?” tanyaku.

“Iya mbak, saya Priyo,” jawabnya di telingaku. Di ujung handphone bututku.

“Oh, sorry, kecil sekali suaramu…” kataku lagi. Masih tidak percaya dengan lawan bicaraku.

”Iya mbak, ini saya, Priyo. Orang Warsi. Staff fasilitator pendidikan mbak.”

Lalu obrolan itu larut. Terkadang aku keterusan menggunakan bahasa Jawa setelah tahu Priyo adalah orang Jawa. Ah, dari namanya juga sudah nampak. Hmm, tapi siapa tahu seorang Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera) yang sudah tidak bisa lagi berbahasa Jawa dengan baik. Tapi lebih dari itu kuasyik berbahasa dengannya. Ia seorang berlogat Jawa kental, sama sepertiku.

Pertama kali kudengar suaranya, kukira pemilik suara itu seorang perempuan. Jika kubilang kecil, itu sebenarnya hanya untuk menutupi ketidakpercayaanku. Tak terkatakan hingga kutuliskan padanya saat ini. Bukan tak tega tetapi tak ingin membuatnya tersinggung.

Kala itu, ia mengaku kesulitan mendekati anak-anak rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Jambi.

“Maunya macam-macam,” kata dia di ujung telpon.

Suatu kali ia menelpon lagi, seakan mengadu, “Rasanya kayak dibanding-bandingkan gitu lho mbak. Kata anak-anak itu, dulu ibu Ninuk dan Fery begini-begini, sekarang kok begono-begitu. Padahal kan programnya sekarang lain.”

Tadi, ketika bang Zen staff Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, mengirimkan pesan duka, mataku masih mengatup.

“Yang bener ah!” jawabku dalam pesan singkat. Tak terbalas. Mungkin bang Zen menganggapku kurang ajar.

Kutanyakan Koordinator Unit Rimba bang Abdi, benar bahwa Priyo telah meninggal pukul 10.05. Selain malaria, ia juga kena bronchitis.

Priyo Uji Sukmawan adalah guru bagi Orang Rimba kedua yang meninggal karena malaria. Pada 25 Maret 1999 lalu, Yusak Adrian Hutapea, perintis pendidikan alternatif untuk Orang Rimba meninggal karena malaria. Ia kemudian digantikan oleh Butet Manurung dan Oceu Aprista W, lalu Agustina Dewi Jakarta Siahaan dan Saripul Alamsyah Siregar, hingga generasi Priyo bersama Rahman pada akhir tahun 2009 ini.

Dunia pendidikan di rimba Bukit Duabelas kembali berduka. Persis seperti yang ditulis Tembuku kader rimba pada pesan singkat yang dikirimkan padaku.

”Ibu ake sedi nihan guru ake meninggal! tadi jm 10!”

Dunia pendidikan pantas berduka. Ia, sosok yang katanya mungil (aku belum pernah berjumpa) telah membantu anak demi anak rimba di TNBD terentas dari buta aksara.

14 Desember 2009 (baru dikirim hari ini saya karena harus opname)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: