Kusepi…


Buk’e njagong. Telung nggon dino iki. Wes sik ya, aku arep…..(Ibu ke resepsi orang nikahan. Ada tiga tempat –yang harus didatangi- untuk hari ini. Sudah dulu ya, aku mau…” adikku di ujung telpon. Pembicaraan ini berakhir tak sampai satu menit.

Kucoba hubungi masku untuk juga menanyakan kabarnya. Tetapi jawaban lebih singkat mematahkan pertanyaanku.

Aku lagi nyambut gae, Nuk. Ngko sore telpon meneh yo (Aku tengah bekerja. Nanti telpon lagi ya),” mas Untung di Tangerang sana.

Lalu kupencet ‘nakan Mufti’ untuk juga sekedar menanyakan kabar keluarga mbakku, dengan ponakan-ponakanku yang lucu. Namun suara yang kudengar, “Nggak mau.” Kata mbakku, Mufti lagi asyik main puzzle.

Waktu kuhendak menanyakan kabar lain, Fida adik Mufti menangis. Kloplah, pembicaraan akhirnya terhenti. Telpon ditutup.

Mataku berat membuka katupnya ketika sahabatku yang kini makin menjauh mengirimkan pesan singkat. ”Yank, telpon dong. Aku pengen cerita.”

Satu jam bukan waktu singkat bagi tubuhku yang masih harus banyak istirahat ini, untuk mendengar sederetan keluh kesah. Tutup tong sampah kubuka lebar-lebar untuknya.

”Hmmm, ya… O…. he’em… Trus….hmmm, laiyo…he’em he’em,” begitu kudengar detail demi detail ceritanya. Ia tidak butuh nasehat, pendapat, atau apapun namanya. Ia hanya ingin mengeluarkan sampah-sampah dari hatinya, hingga tong ini penuh.

Sesaat kemudian kutanyai kabar ibunya. Jawaban singkat. Lalu, ia bilang, ”Yank, wes yo. Aku lagi sibuk ngurus…..” tanpa sempat menanyai kabarku.

Tak mengapa. Aku hanya ingin tidur. Mataku terasa panas lagi. Sebentar lagi, badanku akan merasakan hal yang sama seperti hari-hari lalu. Demam.

Seseorang menelponku di waktu yang salah. Entah menanyakan apa, aku lupa. Seingatku, aku hanya bilang aku masih ngantuk. Telpon singkat yang akhirnya benar-benar membangunkanku.

– – –

Hari ini sepi. Mbak Rita dan mbak Elis pergi ke Medan. Harusnya aku ikut ke sana untuk agenda yang telah lama dijadwalkan. Tapi tubuhku sendiri masih melarangku untuk ’angin-anginan’ jalan 10 jam ke Medan.

Sejak kuturun untuk makan siang, tak ada seorangpun di rumah besar ini. Mbak Nur mungkin lembur di kantor. Ida, entah kemana.

Hari ini sepi. Tanpa makian, tanpa lelucon, tanpa cerita. Hanya detak jam dinding dan sesekali raungan sepeda motor memekakkan telinga, tanpa kubisa ajak berbincang.

Sepi, ketika akhirnya aku hanya mendengar suara orang mengorok dari ujung telpon sana. Menelponku, puas bercerita, lantas pergi meninggalkanku ke mimpinya yang indah. Sepi, tak ada seorangpun mau berbincang denganku hari ini.

13 Desember 2009 ’20.56

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: