Kocak-Kocok Petugas Rumah Sakit Umum


Demam tinggi lebih dari empat hari kembali memaksaku untuk melangkah kembali ke Rumah Sakit Umum Dr. H. Yuliddin Away, Tapaktuan, Aceh Selatan. Kali ini hanya check darah di laboratorium. Sore kemarin, dokter Junaidi spesialis penyakit dalam memberiku surat pengantar. Laboratorium di rumah sakit umum milik pemerintah ini adalah satu-satunya yang ada di kota Naga ini.

Seorang petugas perempuan yang tengah hamil, mengambil beberapa cc darahku. Ia mengatakan agar aku kembali lagi pukul 15. ”Dokternya datang jam tiga. Sekarang  listrik juga lagi mati. Nanti datang lagi aja ya,” dengan logat Taluak.

Hampir setengah empat sore aku datang lagi untuk mengambil hasil. Dian, teman sekantorku yang juga mengalami gejala yang sama, ikut mengantri. Sepi. ”Kakak yang tadi pagi ya?” tanya sang petugas laboratorium. Orang yang berbeda dengan waktu pengambilan darah.

”Dua-duanya enam puluh ribu,” katanya. Kamipun minta bukti pembayaran agar nanti bisa diklaim ke asuransi.

Dia yang tak kutahu namanya mengatakan, ”Boleh,” sambil berjalan ke arah belakang. Meja yang berserak kertas-kertas entah berisi apa saja. Di tangan kanannya terdapat kertas. Tangan kirinya memegang bolpen dan stippo warna merah jambu.

Dari balik kaca yang sepertinya jarang sekali dilap, ia akan memulai menulis. Tetapi tidak jadi. Mulutnya nerocos entah bicara apa pada tiga kawan yang duduk di meja belakang. Setengah badannya ditengokkan ke belakang seakan takut kawan-kawan tidak mendengarkan suaranya yang lantang.

”Mardianisah ya?” tiba-tiba ia bertanya. Nama Dian dituliskan di kolom sebelah kiri. Tak lama kemudian, ia ambil stipo, dikocok-kocok, lalu dioleskan pada nama Dian. Tulisan nama Dian hilang ditutup cat warna putih itu. Ia lalu menuliskan kembali nama Dian pada kolom sebelah kanan.

Pada kolom ”Darah Lengkap” ia tulis ”1 x”. Kembali badannya dibalikkan ke belakang, bicara panjang lebar pada kawan-kawannya. Aku sendiri kurang begitu tahu apa yang dibicarakan. Tapi dari suaranya, ia tengah membicarakan kawannya dengan nada marah.

Baris-baris di bawahnya ”Urine Lengkap” dan ”Golongan Darah” juga ditulisnya ”1 x”. Selesai menuliskan angka ”20.000” pada kolom pertama, mulutnya kembali bercerita lagi. Begitu selanjutnya hingga isian baris di bawahnya.

Tak berapa lama, stipo dikocok. Tulisan ”1 x” pada ”Urine Lengkap” dan ”Golongan Darah” dihapusnya. Begitu juga pada kolom sebelahnya yang tertuliskan angka-angka ”20.000”.

Perempuan berlipstik merah merona ini kembali bercerita pada kawan-kawannya. Lalu pada baris ke empat dan ke lima, ia tuliskan ”WIDAL” dan ”DDR (malaria)”. Proses berhenti dengan kembali ia bercerita, menengok ke belakang. Tangan kanannya yang masih memegang bolpen menunjuk-nunjuk arah dinding. Kawan-kawannya hanya sesekali menyahut.

Sekian detik usai ia menuliskan 60 ribu dalam huruf, stipo lagi-lagi kembali dikocok menutupi huruf tersebut.

”Kak, kak, bukan 12 bukan 9!” kutegur saat dia menandatangani bukti pembayaran ini.

”Oiya, untung kakak teliti,” kata dia ringan. Lalu stipo kembali dikocoknya. Sepuluh menit lebih hanya untuk mengisi secarik kertas ini.

”Kak, minta tolong ganti saja notanya daripada banyak stipo. Banyak pertanyaan kami nanti di kantor,” kataku.

”Boleh,” ujar dia singkat.

Tapi kemudian dia berkata lagi, ”E, sekali-kali lah kita diatur sama orang ni. Biasanya kita yang atur, sekarang dia yang ngatur kita.”

Mencoba sabar dengan kondisi badan yang masih tak karuan hanya kukatakan, ”Makanya kak, kalau kerja ya kerja dulu sampai selesai. Jangan banyak omong. Nulis segini aja nggak ada yang bener.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: