Tak Ada Saudara


Jangan pernah berharap sakit, terutama kala Anda tengah berada di Tapaktuan, Aceh Selatan. Terlebih jika Anda tak punya saudara di Rumah Sakit Umum Dr. H. Yuliddin Away.

Berawal pada Senin (14/12) lalu, ketika Dr (D-nya huruf besar) Junaidi SpPd ’memaksaku’ opname di rumah sakit milik pemerintah daerah ini. Aku dipaksa karena memang obat harus masuk secara injeksi, dua kali sehari. Maukupun karena Dr Jun berjanji, ada kamar VIP kosong.

Sembari menunggu aku diinfus, Ida dan Farida kawan sekantorku mencari kamar tersisa. Memang aturan main di sini, keluarga pasienlah yang mencari sendiri kamar yang akan digunakan. Mereka ke Ruang Rindu 2, ada dua kamar VIP kosong setengah. Mengapa kubilang setengah, karena dalam satu ruangan ada dua tempat tidur untuk dua pasien.

Kamar pertama berada di bibir ruangan dekat pintu masuk, pasiennya seorang perempuan. Kamar kosong lain dekat dengan tempat para suster, dengan seorang pasien lelaki. Ida dan Farida memesan kamar yang telah berisi seorang perempuan. ”Biar lebih enak kalau mau ganti-ganti,” kata Ida.

Kurang satu jam kemudian, infus belum juga dipasang, aku mencoba melihat ’calon’ kamarku. Memastikan lagi pesanan kamar dekat pintu masuk.

Tetapi, ”Sudah dipesan kak yang itu. Tinggal yang sama bapak di sini,” ujar seorang perawat perempuan muda.

”Lho, bukannya kami tadi sudah pesan di sana sebelum ada orang lain memesan kamar?  Kok tahu-tahu sudah ada yang pesan?!” kata Farida agak ketus.

”Iya kak, orang tu punya saudara di sini. Jadi dipesankan oleh saudaranya,” kata perawat itu lagi tanpa rasa bersalah.

”Oh, jadi untuk pesan kamar harus punya saudara orang rumah sakit ya,” kataku ringan. Sudah dipesan orang lainpun, jika punya saudara orang dalam, pesanan orang lain bisa didompleng seenak perutnya.

Anehnya, ”Iya,” jawab perempuan berpakaian serba putih itu. Owalah, tertawa campur kesal kami tinggalkan perawat itu.

Selain memesan kamar di Rindu 2, Ida dan Farida juga memesan kamar VIP di bangunan yang baru. Letaknya hanya di seberang bangunan Rindu 2. Di bangunan baru itu, namaku masuk di urutan ke 3.

Seingatku, pagi bangun tidur (15/11) Ida menyatroni lagi perawat di bangunan baru itu. Takut ada yang mendahului. Informasi yang diperolehnya, jam 9 pagi harus dikonfirmasi lagi.

Pada jam yang dijanjikan, mbak Nur yang tengah menungguiku kemudian ke bangunan baru itu. Dijanjikan untuk kembali jam 3 sore karena kamar yang kosong telah terisi.

Seorang perawat laki-laki siang itu datang saat kuasyik menulis.

”Jam 3 nanti, kakak bisa pindah ke sana,” kata dia sopan.

Ida datang jam setengah empat sore dengan muka masam. ”Masak aku dibilang nyinyi bana (cerewet banget). Ku tanya baik-baik ”Maaf ya kak, saya mau tanya..” kok dibilang cerewet. Kan aku baru datang, nggak tahu kalau sudah ada orang ngasitahu kamu,” kisahnya sangat kesal.

”Nggak tambah kesal gimana. Kamu urutan ketiga, sedangkan urutan ke 5, 6, 7 sudah masuk ditandai masuk kamar ini, kamar ini. Mereka sudah masuk hari ini, bisa-bisanya urutan di atasnya belum masuk. Orang itu bilang, mereka punya saudara yang bekerja di rumah sakit ini.”

Ia lalu berkisah, ”Oh, jadi sekedar pesan kamar saja harus punya saudara orang sini?” pada perawat yang mengatainya nyinyi bana itu.

Pada bang Syairul Basni yang kata temasn-teman merupakan Kepala Ruangan VIP Rindu 2 kutanyakan lagi, ”Apakah untuk mendapat perawatan, -baik- kamar maupun antrian pemeriksaan, harus punya saudara orang rumah sakit ya bang?”

Kawan lebih kukenal sebagai salah satu aktifis Palang Merah Aceh Selatan ini tertawa. Ia kemudia berkata dengan raut muka santun seperti biasanya, ”Biar nanti saya urus yang di sana.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: