Tusukan Ke 9


“Kalau tiap hari bolak-balik ke rumah sakit atau ke sini (klinik) saja gimana dok?” tanyaku pada dokter Junaidi SPd. Dokter bermuka bening itu tak mempan kurayu.

Kata dia, “Sehari harus diinjeksi dua kali, Ninuk. Kalau tidak lewat infuse, habis nanti tempat nyuntiknya. Sudah kurus begini, habis nanti,” candanya. Ia tetap sabar menghadapi pasien bandel dan ngeyel sepertiku.

”Dokter, bukannya cepat sembuh kalau saya harus diopname di rumah sakit, tapi tambah sakit,” kataku lagi. Ingatanku melayang saat kudibawa ke rumah sakit oleh Didik, mbak Rita, seingatku lagi dengan mbak Oni. Tiga jam di Unit Gawat Darurat tanpa kepastian. Padahal saat itu hanya mau diambil darah. Akhirnya Didik memutuskan mengirimku ke Medan, ke Rumah Sakit Elisabeth.

”Kita tahu sama tahu lah bagaimana kondisi rumah sakit itu. Saya sudah capek membina. 15 tahun lebih, tidak ada perubahan. Tapi kupastikan ada kamar VIP kosong. Coba deh.  Kalau tidak lewat injeksi, panas terus timbul nanti.”

Berat hatiku mendengar kata rumah sakit di sini. Sangat berat. Tak hanya perlakukan pada diriku sendiri. Kuingat waktu mbak Elis terpaksa diopname karena plasmodium falcivarum alias malaria. Dokter yang tidak ramah, perawat yang tidak cekatan, infus salah tusuk hingga menyebabkan tangan mbak Elis bengkak.

Bahkan seprei, bantal, sendok, gelas pun harus bawa sendiri. Makanan diberikan tetapi tidak untuk alat makannya. Kalau ada sayur, bisa jadi harus disruput kuahnya.

Muntah mbak Elis bukan karena mualnya perut tetapi bau toilet yang ahkkkkk! Tak pantas rasanya disebut toilet untuk manusia! Terlebih bagi mereka yang tengah menderita sakit. Betul, bertambah sakit.

Ida yang mengantarku malah ambil bagian. Ia mengiyakan saja saran dokter Jun. Ok, akhirnya aku harus menuruti kata dokter. Ada kamar VIP.

Bang Tapun menunggui dengan sabar saat kami berkemas. Berdasarkan pengalaman, bantal, guling, selimut, sprei harus bawa sendiri, termasuk alat makan dan minum, water heater. Persis orang pindah rumah, teh dan gula pun bawa sendiri dari rumah.

Ida dan Farida mengingatkan untuk membawa kue-kue. Siapatau perutku yang kadang tak tahu aturan ini merintih meminta diisi. Donat dan bolu pandan dari Aceh Bakery, biskuit tiga macam, nasi plus telur mata sapi.

Hanya selang kurang dari l5 menit, mobil meluncur sampai Rumah Sakit Umum Dr. H. Yuliddin Away, Tapaktuan, Aceh Selatan. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 18.20. ramai orang di UGD. Lazimnya rumah sakit, seharusnya tidak ada asap rokok mengepul tetapi tidak di sini. Siapapun bebas merokok.

”Ini ruangan rumah sakit Dik, kok ngerokok,” kutegur seorang remaja tanggung. Ia lalu keluar.

Infus telah di tangan setelah bang Tapun meluncur kembali lagi ke Tapaktuan, mengejar apotek yang tetap buka di waktu maghrib. Sebagai warga non Aceh, aku merasa sangat aneh. Sempat kutanya ke Ida dan Farida, apakah syariat Islam di Serambi Mekah hingga mengatur wilayah sejauh ini. Maksudku, transaksi jual beli tutup bagi semua kalangan, termasuk wilayah yang sangat darurat sekalipun.

Pertanyaanku hanya sepele, jika apotek rumah sakit selalu tutup di waktu maghrib (kemarin sampai setelah Isya’), bagaimana dengan pasien gawat darurat? Sementara infus dan obat-obatan harus dibeli dulu oleh pasien atau keluarganya setelah proses panjang dokter menuliskan resepnya.

Jawaban Ida, bukan. Itu hanya perilaku manusia-manusianya. ”Kan bisa aplusan. Yang satu sholat, yang satu nunggu sebentar kan bisa.” Aku tidak bisa berkomentar lebih jauh. Bisa jadi Ida benar, bisa jadi keyakinan menjadi alasan untuk tidak melayani kondisi darurat sekalipun untuk melayaniNya lebih dulu. Entahlah.

Itu hanya sekelumit rasa kala berjam-jam aku harus menunggu infus menancap di tanganku.

Lalu, ”Dokter, kapan infus saya dipasang?” tanyaku pada dokter jaga UGD. Dokter perempuan berparas Aceh ini tengah hamil. Kuperkirakan usianya lima bulanan. Sejak tadi aku memang belum ’diapa-apakan’. Jam di hpku telah menunjukkan pukul 19.45.

Ia hanya mengatakan, ”Tunggu dulu ya kak, banyak kali pasien ni.”

Dokter tanpa berbaju atasan putih seperti lazimnya dokter yang kutemui saat bertugas itu menulis di sejumlah dokumen. Beberapa diantaranya resep. Tas putih di lengan dan menempel di ketiaknya tak lepas sedikitpun dari tubuhnya. ”Tidak risih pa ya nulis sambil nenteng tas gituan,” gumanku.

Aku mulai tak sabar. Entah berapa kali aku keluar masuk ruangan itu. Bahkan Ida dan Farida sampai selesai menanyakan ruangan yang tersisa, tak juga di’garap’ aku ini. tak sabar, begitu juga bang Tapun. Ia harus segera membukakan pintu untuk bang Adi yang sore tadi berangkat ke lapangan.

Menunggu lagi, kutanyakan lagi. Masih diminta menunggu lagi. Pukul 20.05, aku mendapat giliran. ”Mari kak,” ujar seorang perawat lelaki. Ia mengenakan kaos berkerah, warna biru garis-garis putih. Yup, tanpa seragam perawat.

Pada dipan warna hitam kuberbaring. Kupercayakan sepenuhnya infus itu kelak menancap di tanganku.

”Kecil sekali venanya kak,” kata dia berulang kali. Tusukan di tengah-tengah telapak tanganku bagian punggung keluar darah. Lalu ditusuknya lagi persis di pergelangan tangan.

”Pecah,” kata dia.

”Kecil sekali ni. Kurang cairan ni,” ujar lelaki yang kukira perawat senior ini. Kali ini tusukan ke tiga. Masih di telapak tangan sebelah kiri. Tusukan ketiga ini persis di sebelah tusukan pertama.

Ia mengatakan agar aku minum lebih banyak lagi, lalu pergi entah kemana.

Lebih sepuluh menit kemudian, setelah aku mondar-mandir bersama Ida, ia mengatakan untuk mencoba lagi. Satu lagi di tangan kiri, dua di tangan kanan.

Hasilnya, ”Kecil kali vena kakak. Kurang minum.” Waktu kubilang kurang minum seberapa banyak lagi, ia pergi. Enam tusukan tak ada satupun yang berhasil. Jarum ukuran 24 hingga 18 dicoba..

Lagi-lagi nasipku tak tentu. Kutegak, mencoba mengirimkan pesan pada dokter Jun. Harus bagaimana, apakah bisa diinfus di rumah dengan meminta tolong teman, bang Dedi atau Mustika. Belum ada balasan.

Seorang perawat perempuan berjilbab hijau bunga-bunga keluar dari ruangan tempat dokter jaga duduk di singgasananya. Ia yang kuperkirakan berusia tiga puluh lima tahunan itu. Kakinya menuju meja panjang ’resepsionis’. Belum juga duduk, jemarinya lincah memainkan tuts hp. Raut mukanya senyum-senyum. Sesaat matanya bertemu mataku, tapi kemudian kembali menatap layar mungil hp.

Lebih 10 menit kuberberdiri bersama Ida. Menunggu tak tahu yang ditunggu. Kudekati perawat yang masih asyik dengan hpnya itu.

”Vena kakak kecil kak, bukan salah tusuk.” Ia berdiri, mungkin risih kutunggui. Lalu masuk ruangan dokter jaga. Ternyata mengambil jarum. Mengajakku ke ruangan sebelah untuk pasien yang masuk untuk diinfus.

”Kecil kali ni. Kurang minum ni,” dan kubalas bahwa aku sudah minum banyak.

Tusukan di tangan kanan, berdarah. Dicabutnya lagi jarum itu dari tanganku. Perih, sedikit cenut-cenut terasa. ”Kakak takut ya?” tanyanya.

”Takut bagaimana? Enam kali tusukan kok masih takut,” kataku.

”Kecil kali vena kakak. Payah,” kata dia mencari-cari sisa tempat di tangan kananku. Entah mana lagi yang akan ditusuk.

Waktu kutanya, jika vena kecil, saran untuk minum sudah dilakukan, tidak juga ada rasa takut, lantas apa yang harus dilakukan. Ia tidak menjawab. Kutaktahu apakah dia tidak tahu jawabannya atau malas mendengar pertanyaanku yang sedikit bawel.

Tusukan ke delapan tidak berhasil. Ia ngeloyor pergi meninggalkanku tanpa berkata apapun.

Kata Ida, perawat pertama yang menusuk tangan kanan kiriku hingga enam kali menelpon seseorang.

”Ini pasiennya?” tanya seorang lelaki berpakaian serba coklat. Usianya kuperkirakan mendekati 40 tahun. Rambutnya cepak, hanya mengenakan sandal jepit merek Eager.

Lelaki yang kutahu kemudian adalah perawat senior mengatakan, ”Vena kelihatan begini kok dibilang takut. Kalau dikasih ukuran 24, 22, pecah lah. Itu untuk anak-anak.”

Tusukan ke sembilan itu akhirnya menancap di pergelangan tangan kiri agak ke dalam. Hanya sekali tetapi ke sembilan.

Tusukan satu hingga delapan masih terasa menyakitkan hingga saat ini. Di tangan kanan hasil tusukan perawat kedua masih meninggalkan lebam warna hijau kebiruan. Sakit tangan kanan dan kiri, terlebih jika usai kencing kupakai untuk menaikkan celanaku pada posisi yang tepat.

15 Desember 2009, 11.09

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: