Selamat, selamet semua….


Acara tv masih seputar menyiarkan perayaan Natal. Dari kabar misa di berbagai gereja, misa unik agenda Natal para artis, hingga iklan-iklan berbau Natal.Yup, memang saatnya.

Kota Naga Tapaktuan tidak riuh tidak juga sepi. Biasa-biasa saja. Tak tampak satupun pesan Natal di kota kabupaten Aceh Selatan ini. Tidak kulihat toko atau rumah yang berhias pohon Natal dengan pernak-perniknya. Dulu kudengar dari seorang pejabat kota ini, 100% warga Tapaktuan adalah muslim. Oh, pantas…

Tapi kutaktahu apakah beberapa warga keturunan Tionghoa yang membuka toko di kawasan Pasar Baru muslim. Sepengalamanku, beberapa toko milik warga keturunan Tionghoa itu tutup saat imlek datang. Kudengar dari seorang kawan, mereka biasanya pergi ke Medan untuk merayakannya.

Natal, tak terasa di sini. Begitupun rasaku. Tahun-tahun lalu saat kuberada di ‘kota’, hadiah Natal sederhana untuk keponakanku hampir selalu kupaketkan beberapa hari menjelang Natal. Tetapi di sini, aku bingung juga mo cari hadiah Natal apa untuk tiga ponakanku yang Katholik.

Ohya, ada yang mengganjal saat kuikuti berita di tv tadi sore. Ada pemaksaan penutupan tempat ibadah lagi. Lagi-lagi di Bekasi. Dari liputan tadi, kata pihak yang memaksa gereja untuk ditutup karena tidak ada ijin pembangunan. Pihak gereja mengatakan, ijin itu telah diperoleh dari lurah setempat.

Kuheran, mengapa kejadian pemaksaan, pengrusakan pada umat lain, tempat ibadah apapun namanya akhir-akhir ini makin menjadi. Padahal pesan-pesan untuk berbuat kebaikan pada siapapun menggeliat hingga ujung otak. Terlebih dalam kitab suci, ajaran kemuliaan untuk semua umat tertera dengan jelas. Entah apa yang tidak jelas hingga perbuatan anarkis berulang kali terjadi. Katanya umat yang beriman, tapi mengapa menjadi perusak?

Kalau sudah begini, tutur kata orang-orang di pedalaman rimba Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi berputar-putar pada ingatku. Kata Tumenggung Meladang di Sungai Kejasung TNBD, pelangi indah karena warna itu tak hanya satu.

“Romong yoya olen dikolinye sebab nye benyok nian werna. Nye galo tekumpul tapi hopiado nang bunusi werna nang bogolainon. Nye benyok tapi hopi tebelah. Benyok tapi sikuk’a. Tapi nye hopi sikuk werna bae. Kalu sikuk werna, I’ai, jehat dikolinye. Hopi mungkin disobut romong kalu sikuk werna (Pelangi dilihat sangat indah karena warna-warna yang ada sangat banyak. Beragam warna yang ada berkumpul jadi satu tetapi tidak saling mematikan warna lainnya. Meski banyak warna, mereka tidak terpecah. Banyak tetapi menyatu. Namun, ia bukan hanya satu warna. Kalau hanya satu warna saja, ia tidak indah dilihatnya. Tidak mungkin pula disebut sebagai pelangi kalau cuma satu warna),” kata Tumenggung yang selalu kuingat.

Pelangi inilah yang ia ibaratkan sebagai perbedaan yang indah di bumi. Indah, tentu jika saling menghormati.

Di rumah seorang diri, 25 Desember 2009. ’19.28

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: