kala malaria…


“Mat’ mlm ibu apa kbrnya., ake barusan pulng dr ruma sakit, drawat, 2 hari!”

Pesan pendek itu dikirim oleh Tembuku (17), saat kuasyik mengobrol dengan seseorang yang juga di ujung telpon. Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, ini memang telah akrab dengan teknologi modern bernama handphone. Jika ada kabar apapun, kala ada signal tersedia di beberapa tempat di sana, ia akan segera mengirimkan pesan.

Ia yang pernah bersamaku menjadi kader pendidikan ini mengatakan, kena malaria. Kutanyakan lagi bagaimana kondisinya saat ini. Dibalasnya, ”Labeik bolum, tapi agk mendngan,” Balasan yang bercampur bahasa Rimba dan bahasa Indonesia.

Cerewetku kutanyakan lagi padanya mengapa cepat pulang. Sebab pengalamanku yang pernah dirawat tujuh kali di rumah sakit karena malaria, sekurangnya lima hari harus opname.

”Ake hopi ado sn, jd ake cpat pulang.,& piado nang jego ake” jawabnya lagi. Sempat linglung dengan kata ”sn”. Hmm baru kuingat, ini pasti maksudnya sen atau uang.

Kudengar suaranya agak berat tak seperti biasanya. Remaja yang telah lulus paket A ini kini tengah berada di kantor. Ya kantor. Kantor yang dibuat oleh KKI Warsi di pinggiran TNBD. Lokasinya masih masuk desa transmigran Satuan Pemukiman (SP) I. Waktu dulu, kudengar kantor ini memang diperuntukkan untuk kegiatan-kegiatan pertemuan Orang Rimba.

Malam ini, Tembuku ditemani Sergi dan Berayat. Kedua temannya ini juga pernah menjadi kader pendidikan dasar Baca Tulis Hitung (BTH) Orang Rimba.

Tembuku berkisah, Rabu lalu, Berayat mengantarnya di Puskesmas Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun. Oleh dokter puskemas, ia diharuskan opname.

”Ake domom waketu dibewo Berayat. Losi nihan hambanye tapi awokkeh teruy menggigil (Saya demam ketika dibawa Berayat. Dingin sekali rasanya, meskipun badan terus menggigil),” ujar Tembuku di ujung hp.

Satu malam ia ditemani Berayat. Esoknya Berayat balik lagi ke ‘kantor’ dan belum balik ke puskesmas hingga malam menjelang. Sepi, sendiri, kesepian yang pasti dirasakan Tembuku. Terlebih, ia ‘hanya’ seOrang Rimba di antara orang-orang yang masih menganggap ia dan komunitasnya lebih rendah.

”Piado kanti, piado nang cecakop samokeh ibu (Tidak ada yang menemani, tidak ada yang ngobrol denganku),” kata dia pelan. Saat obrolan berlanjut, baru kutahu kemudian bahwa merasa sendiri dalam perawatan bukan perkara utama.

”Ubat-ubat yoya hopi beir ibu, tapi makonkeh sehari yoi lima puluh ribu. Ake piado sen segodong iyoi untuk bemakon (memang- obat-obatan tidak bayar, tetapi untuk makan sehari saya harus bayar Rp. 50 ribu. Saya tidak punya uang untuk membayar makanan semahal itu).”

Kata Tembuku lagi, uang harus diberikan setiap hari agar ia bisa diberikan makanan. Oh… ”Diria hopi telpon kanti Warsi?” tanyaku.

Biasanya, kawan-kawan fasilitator cepat tanggap jika mendengar kabar ada Orang Rimba sakit. Namun, Tembuku harus berbesar hati. Tanggapan yang diberikan padanya adalah para pedamping pun tengah tumbang di rumah sakit untuk penyakit yang sama. Malaria…

Jelang tahun baru, 30 Desember 2009 pukul 23.07

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: