Suara Zaizuli Lantang lagi…

“Apa sih yang adik-adik rasakan saat konflik?” tanya mbak Nur lagi usai mendengar pendapat anak-anak mengenai konflik.

”Takut,” dari beberapa mulut murid-murid SDN Indra Damai, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan ini.

”Sedih,” tanpa ditanyai mbak Nur lagi.

”Banyak kawan meninggal,” jawab spontan Muliadi yang duduk di deretan dekat tembok.

”Banyak orang meninggal, Buk.” Kali ini aku tidak tahu nama anak itu.

”Lari ke semak. Saya lari ke semak dengan nenek.” Semangat sekali Fajri berbagi pengalaman.

”Ada lagi?” tanya mbak Nur lagi. Selama penjajakan kebutuhan atau need assessment, pertanyaan mengenai konflik memang diajukan ke anak-anak kelas 4 dan 5 SD ini.

”Mengungsi. Saya ikut mengungsi.” Suaranya lantang, tak mau kalah dengan suara Fajri.

”Tidak bisa makan.”

”Apa lagi yang adik-adik rasakan saat konflik terjadi?” tanya mbak Nur lagi.

”Ayah saya kena tangkap…” suara yang awalnya lantang itu lambat laun pelan.

”Ayah kena tangkap?” mbak Nur seperti memastikan.

Lirih Zaizuli berkata lagi. ”Ayah saya kena tangkap sampai meninggal…”

Semua terdiam, begitupun mbak Nur. Zaizuli terisak. Dalam ia terisak. Sesak terasa di dada. Wajahnya makin menunduk, air mata membasahi baju dan celana seragamnya yang merah. Eva mendekat. Dielusnya punggung anak kelas lima itu dengan kasih.

Sesaat kemudian, mbak Nur mengajak teman-teman Zaizuli berdoa untuk ayah Zaizuli. Lalu bernyanyi bersama untuk menyemangati Zaizuli. Si muda yang telah kehilangan ayahnya saat konflik Gerakan Aceh Merdeka dan TNI itu mencoba tersenyum meski air mata masih meleleh.

Manakala mbak Nur kembali bertanya tentang perdamaian, Zaizuli menyahut lantang. ”Damai itu tidak ada orang yang berperang. Damai itu bisa bermain dengan teman-teman.”

Oleh-Oleh NA 4 oleh Ninuk

30 Januari 2010

Iklan

Aku Takut maka Aku Membunuh

“Takut ke gunung!” jawab beberapa anak. Jumlahnya lebih dari 10 anak. Sebagian besar acungan tangan tersebut adalah acungan tangan anak laki-laki. Aku belum tahu mengapa.

”Kenapa takut ke gunung?” tanya mbak Nur lagi. Sebelumnya, mbak Nur bertanya pada anak-anak kelas empat dan lima SDN 2 Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan ini, mengenai lokasi atau tempat yang tidak menyenangkan bagi mereka.

”Banyak binatang buas,” jawab Toni.

”Ada harimau buk,” jawab seorang anak yang belum kutahu namanya. Nama yang ditulis di metaplan warna hijau muda dan ditempel di dadanya tidak bisa kubaca. Terlalu kecil.

“Takut dimakan harimau.” Jawab anak yang lain.

”Saya takut di hutan. Takut, banyak binatang. Ada ularnya.” Kata seorang anak lagi.

Hutan, rimba, gunung untuk menyebut bukit, kerap menjadi momok menakutkan bagi anak-anak. Selama masa penjajakan kebutuhan atau istilah kerennya need assessment di beberapa SD di Aceh Selatan, bagian alam kita yang indah ini seringkali disebut sebagai tempat tidak menyenangkan. Umumnya, mereka takut pada harimau.

”Mengapa dengan harimau?” tanyaku lirih pada seorang anak perempuan di SDN Indra Damai, yang duduk dekat denganku.

”Dia binatang buas. Ular juga binatang buas,” ujar anak berwajah manis itu.

Takut harimau, barangkali jika aku bertemu mak jegagik di hutan belantara akan deg-degan juga. Namun, benarkah harimau buas atau jahat pada kita jika kita tidak mengganggunya?

Ranumnya bunga-bunga di rimba nan hijau menjadi tempat menakutkan untuk anak-anak. Sebab, sedari muda otak dan hati mereka nan bersih telah diisi, ”Awas kalau main ke gunung, nanti kamu bisa dimakan harimau!” atau ”Jangan main ke hutan, banyak binatang buas!”

Kala kuhidup bersama anak rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, tak pernah sekalipun mereka mengucapkan harimau itu binatang buas. Merego alias harimau adalah penghuni rimba seperti mereka. Anak-anak ini juga tidak pernah berpikir, harimau akan berbuat jahat pada mereka.

Jadi sah

”Aku bilang, ’Kalau manjat pagar, kuketapel kalian!’,” cerita seorang padaku beberapa bulan lalu. Terbersit bangga kala menceritakannya padaku saat ia menghardik anak-anak yang bermain di seputaran rumahnya.

Sama halnya ketika kita berkata, ”Hiiiii, kalau main ke hutan nanti ketemu harimau. Dia akan mencakarmu, menerkammu. Kamu bisa mati olehnya.”

Ketika otak anak-anak diisi dengan Awas, Jangan, Hiii, apa yang dipikirkannya?

Si Azwar dan Aris dari SDN 2 Menggamat mengatakannya padaku, ”Kalau sudah besar nanti, ketemu ular akan saya bunuh.”

Bagaimana jika semua binatang yang dianggap buas dibunuh? Membunuh, bukan saja pada binatang tetapi pada apapun benda atau makhluk yang ditakuti, menjadi sah ketika ketakutan telah ditanamkan sejak dini.

Jumat, 29 Januari 2010aku takut, aku membunuh

napak tilas bukit 12

”Belum tahu Nuk, jadi berangkat apa tidak. Aku masih googling cikungunya. Kalau memang berbahaya, mungkin aku tidak jadi berangkat,” kata Fery di ujung telpon. Posisi Fery masih di Palembang, rumahnya.

Ah, pasti tidak ’seru’ jika Fery yang kawan seangkatanku sesama Fasilitator Pendidikan ini tidak jadi berangkat. Ya, bang Abdi, kawanku di KKI Warsi yang kini menjadi Koordinator Unit Rimba memang mengatakan, Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD, Jambi, tengah diserang wabah cikungunya. Kata bang Abdi, sudah puluhan orang tumbang tidak bisa melakukan aktifitas karena serangan cikungunya. Bahkan kata bang Abdi, Tembuku, Sergi, Spintak, Berayat, Begendang, Kemetan yang pernah menjadi ’muridku’ dan kemudian menjadi kader pendidikan, juga telah kena wabah ini.

Berayat saat kutelpon mengatakan, ”Hopi bisa bejelon ibu, sakit galo podo tulangke (tidak bisa berjalan aku, sakit semua tulangku).”

Menurut bang Abdi, wabah ini memang sama sekali belum tersentuh dinas kesehatan. Meskipun teman-teman Warsi telah melaporkan kejadian yang dianggap luar biasa ini.

Pada malam sebelum aku berangkat, Fery menelpon lagi. ”Nuk, penting bawa lotion anti nyamuk. Jangan lupa juga bawa parasetamol karena hanya obat ini yang bisa diminum. Dia mampu mengurangi ngilu dan sakit di persendian jika kita kena.”

Ugh, kata-kata Fery ”..jika kita kena!” mengerikan juga. Tapi, sedikit lega juga ketika ia menjelaskan akan berangkat pada dua malam lagi, menyusul bersama temannya.

Hujan mengiringi perjalananku sepanjang perjalanan dari Pekanbaru ke desa Bukit Suban – Satuan Pemukiman I (SPI),  Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Heri Tarmizi yang berada di samping sopir telah terlelap, begitu pula Rahmad Adi alias Ucok. Dinginnya udara luar ditambah AC mobil membuat aku mabuk. Saking lelapnya mereka berdua, bahkan ketika kubanting pintu mobil untuk mengeluarkan isi perutku pun, mereka sama sekali tidak mendengar.

“Kita sudah masuk Sarolangun, Mbak,” ujar sopir travel Pekanbaru-Sarolangun itu. Perjalanan 9 jam ini belum kelar. Namun, TNBD sejengkal lagi.

Kami bertiga tidak diturunkan di terminal. Aih, akupun rupanya telah lupa dimana biasanya ’nyetop’ angkutan menuju Pauh. Heri turun bersamaku menanyakan pada seseorang yang tengah berada di pinggir jalan. Kami tanyakan sebaiknya kami turun dimana untuk menuju ke Pauh.

Warung lontong di simpang tiga menjadi tempat kami rehat sejenak. Selain sarapan, ada baiknya menunggu hujan reda. Walau pada akhirnya hujan harus diterabas setelah kammi usai makan.

Dari simpang yang telah kulupakan itu menuju Pauh lebih dari satu jam. Terasa membosankan karena kami tidak bisa leluasa memandang keluar. Mobil bak terbuka yang diberi tambahan tutup di atasnya ini pun bocor di sana-sini.

Rumah makan padang Pauh menjadi tempat pemberhentian. Beruntung Kurniawan yang kerap kami panggil Kur Pauh membantuku memesankan ojek. Yup, abangnya sendiri beserta dua tetangganya. Kur sampai saat ini masih bekerja di KKI Warsi.

”Seratus dua puluh mbak. Memang sekarang harganya segitu kalau sampai SPI,” kata abangnya Kur. Harga yang sangat dasyat mahalnya! Padahal tiga tahun lalu, harga ojek ke SPI dari sini (Pauh) hanya Rp. 40 ribu.

Jalanan sudah banyak yang diaspal halus. ”Sejak dua tahun lalu jalan ini diaspal, Mbak,” kata mas…(lupa namanya) yang ternyata dari Semarang ini.

Meskipun lebih bagus dibanding tiga tahun lalu, perjalanan yang dulu hanya memakan waktu tiga jam ini terasa lebih lama. Dan memang benar, hujan deras membuat perjalanan terhambat. Lambat dan bahkan harus berhenti sekitar setengah jam di sebuah bangunan kayu mirip pos siskamling di pinggir jalan.

Hujan deras juga membuat aku memutuskan untuk tidak mampir ke rumah pak Jul, kontak person di Desa Jernih, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun.

Kan kuceritakan sekelumit tentang pak Jul. Dulu pak Jul kerap mengantarkanku ke wilayah Kejasung Besar dan Kecil, di beberapa rombong di sana. Ia juga sangat akrap dengan rombong Marituha di Terap. Rombong ini terkenal dengan kurap yang sangat menjijikkan bagi kebanyakan orang. Rombong yang dipimpin Tumenggung Marituha ini pada ’jamanku dan Fery’ masih menolak keras masuknya pendidikan baca tulis hitung (BTH). Ya, sekalipun jika anak-anak di rombong itu tengah ke luar desa, mereka kerap meminta kami mengajar mereka. Tetapi apa boleh buat jika rerayo (orang tua) melarang mereka belajar.

Pak Jul selain tidak asing dengan rombong Marituha, ia juga kenal baik dengan rombong Tumenggung Celitay dan Tumenggung Meladang di Kejasung. Akses ke rombong  ini dari desa Jernih setidaknya memerlukan tenaga ekstra naik turun bukit dan menempuh perjalanan sekurangnya 10-12 jam berjalan kaki. Pak Jul yang berbadan tegap ini masih kuat berjalan mengantarkanku dan Fery, bahkan membawakan carrierku.

Oleh-olehku dari Solo untuk Pak Jul dan Emak akan kuberikan nanti jika kupulang dari Bukit Duabelas.

”Mbak Ninuk, mbak, mbak..” teriak istri Wahab. Eh, telah banyak yang kulupa. Juga rumah Wahab. Akhirnya kami balik arah ke rumah bang Wahab. Sebenarnya aku enggan mampir saat berangkat. Rencanaku, aku akan mampir jika pulang saja. Tapi si mbak yang orang Cilacap itu telah memanggilku. Tak enak juga.

Sampai akhirnya siang usai makan, belanja bahan pangan dan perlengkapan masuk rimba, kami bertiga dijemput Kemetan dan Tembuku. Keduanya tampak kuyu dan tidak sesigap biasanya.

Lagi mansi sakit kaki tangonke hambanye (kaki dan tanganku masih terasa sakit),” kata Kemetan. Ia masih merasakan tidak nyamannya gigitan nyamuk penyebab cikungunya.

Dari rumah Wahab di desa transmigrasi Satuan Pemukiman I (SPI), Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, kami berlima jalan kaki menuju bendungon. Butuh waktu lebih dari satu jam berjalan kaki menuju ke sana. Sayang, jalanan sangat buruk bahkan bagi pejalan kaki sekalipun, sehingga sepeda motor tidak bisa lewat. Jika tidak turun hujan deras, jalan menuju Bendungan bisa ditempuh dengan sepeda motor.

Sebuah bangunan rumah panggung kayu pada bagian lantai atas, berarsitektur Palembang berdiri megah. Rupanya ini bangunan yang pernah diwacanakan saat kumasih bekerja di Warsi. Pada bagian depan, sepetak tanah digunakan untuk lapangan volley. Sangat nyaman dengan dua buah kamar mandi pada bagian luar. Ehmmm…

Dulu, rencana pembuatan bangunan itu akan digunakan untuk pertemuan-pertemuan orang rimba. Namun, ketika kumasuk ke dalamnya, kesan bangunan itu untuk Orang Rimba ternyata meleset. Di dalamnya, kutangkap bahwa bangunan ini mirip ’kantor lapangan’ kawan-kawan Warsi sekarang. Lengkap dengan kasur busa, bantal yang telah dinamai masing-masing orang.

Aku berdecak lagi ketika kulihat peralatan ’modern’ yang dulu diajarkan padaku untuk ”Minimalisir membawa teknologi modern karena ini akan mempengaruhi kehidupan Orang Rimba secara cepat dan tidak wajar.” Sebuah pesawat tv, seperangkat komputer, kompor gas di dapur, tampungan air besar tentu menjadikan kawan-kawan yang bekerja di rimba sekarang ini sangat nyaman.

Dari bangunan besar ini, kudengar cerita dari mulut Berayat, Tembuku, dan Begendang. Mereka kini tidak menjadi kader pendidikan lagi, tidak lagi mengajar kawan-kawannya di dalam rimba lagi.

Hopi lagi ngajor kanti ke delom. Kami pula lah jerong belik podo rimba. Tiduk-tiduk bae sioa (kami tidak mengajar lagi teman-teman di dalam –rimba. Kami juga jarang masuk rimba. Di sini hanya tidur-tiduran saja),” kata Berayat sambil tertawa.

Lah bogolainon samo waketu ibuk samo Fery yoya. Kanti Warsi hopi melawon mumpa diria. Kinia kalu ngajor ke delom cuma dua malom bae. Nye betik di kantor nioma sampoi sepuluh malom lah (Sudah berbeda dengan ketika ibu dan Fery dulu. Sekarang kawan-kawan Warsi kurang tangguh, mereka hanya mengajar di dalam selama dua malam. Selebihnya hanya di kantor ini sampai sepuluha harian),” ujar Begendang. Kata-kata mereka kucatat rapi di buku tulis pemberian Heri.

Di lain kesempatan, kuberbincang dengan Abdi. Menurutnya, Warsi sudah tidak mendapat dana lagi dari Operation Dayweek (aku lupa persisnya tulisan ini). Kami hanya kerap menulisnya project OD. Dana ini didapat dari hasil anak-anak Norwegia yang bekerja satu hari, yang kemudian gaji mereka dikumpulkan pemerintah Norwegia untuk membiayai pemberantasan buta huruf di negara-negara dunia ketiga.

”Fokus pendidikan pun sekarang tidak lagi pada pendidikan dasar. Kami sekarang lebih fokus pada pendidikan yang berbasis ketrampilan yang menghasilkan,” tutur bang Abdi.

Kata bang Abdi, pendidikan dasar masih dilakukan tetapi sangat terbatas. Pernyataannya diperkuat dengan cerita Tembuku padaku.

”Guru (alm) Priyo cuman ngajor di Rombong Marituha. Rahman ngajor podo Rombong Tumenggung Nggrip. Tika sikuk rombong, tapi nye lah berenti dari Warsi.”

Benar juga jika Sekola dan adiknya, Bedewo mengatakan jika mereka sudah tidak sekolah lagi. ”Piado guru nang bepela’jo’ko podo kami. Kalu kamia ndok belajor disuruhnye hanggo kantor. Kanti nang lah tokang pula pindok detong ngajor podo rombong kamia…(Tidak ada guru yang memberi pelajaran pada kami. Jika ingin belajar, kami disuruhnya datang ke kantor. Sedangkan- kawan yang sudah pintar –kader- tidak mau datang mengajar ke kelompok kami),” kisah Sekola yang telah piatu dan ditinggal bapaknya kawin lagi ini.

Kakak beradik ini tinggal di rombong Selambai bepak Besirup. Dulu, ada sekitar tiga belas anak belajar bersamaku, baik laki-laki maupun gadis-gadis kecil.

Saat aku, Heri, dan Ucok diajak bejejelon ke rombong Bepak Betenda, Ninjo, di Sungoi Toruyon, aku terhenyak. Mereka kini tinggal di kebun sawit milik penduduk desa. Kata Begendang yang berasal dari rombong ini, rombongnya telah beberapa bulan tinggal di sawitan. Sebab, katanya di dalam beberapa anggota rombong meninggal sehingga mereka harus melangun (meninggalkan lokasi karena ada anggota kelompok yang meninggal).

Bepak Betenda yang masih mengingatku langsung menuju ke arahku dan menyalamiku. Kukenalkan Ucok dan Heri padanya, beserta bapak-bapak lain. Sebelumnya, pada Ucok dan Heri kuingatkan untuk menjaga jarak dengan para perempuan. Yup, sesuai dengan adat Orang Rimba karena mereka berdua baru kenal.

Eik, lah benyok nian budak sioa, Bepak? Yei, budak nioma lah godong pula! (Makin banyak anak-anak di rombong ini. E, anak ini sudah besar sekarang),” seruku pada Bepak Betenda dan anak-anak di sana.

Lebih lima belas anak usia sekolah di rombong ini. Saat kutanyakan anak-anak ini belajar pada siapa, Sergi, Orang Rimba yang asal Singkut menjawab, ”Yeik, piado guru nang bepelajo’ko sio, ibu. Piado budak sio nang belajor mumpa dulu (Tidak ada guru yang memberikan pelajaran ke sini. Tidak ada anak yang belajar lagi seperti dulu).”

Di rombong ini, dulu kuperoleh setidaknya lima kader pendidikan berbakat dan mau mengajar ke kelompok lain. Mereka adalah Tembuku, Bekinya adik Tembuku, Bekangga, Begendang, dan Mulau adik Begendang. Tiga di antaranya yaitu Bekinya, Bekangga, dan Mulau telah menikah. Seperti Gemambun, Jujur, Mulung, kakok Ejam, Gelincak dan kader lain yang telah menikah, mereka bertiga berhenti mengajar.

Kabar lain dari perjumpaan di rombong ini, Nenek baru saja diajak pulang dari rumah sakit. Malarianya telah parah. Yup, selain cikungunya, TBC, kurap, kematian juga disebabkan malaria. Perintis pendidikan untuk Orang Rimba, Yusak Hutapea meninggal karena malaria. Fasilitator pendidikan lainnya, serta teman-teman pendamping Orang Rimba bisa kusebut 90% terkena malaria.