Aku Takut maka Aku Membunuh


“Takut ke gunung!” jawab beberapa anak. Jumlahnya lebih dari 10 anak. Sebagian besar acungan tangan tersebut adalah acungan tangan anak laki-laki. Aku belum tahu mengapa.

”Kenapa takut ke gunung?” tanya mbak Nur lagi. Sebelumnya, mbak Nur bertanya pada anak-anak kelas empat dan lima SDN 2 Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan ini, mengenai lokasi atau tempat yang tidak menyenangkan bagi mereka.

”Banyak binatang buas,” jawab Toni.

”Ada harimau buk,” jawab seorang anak yang belum kutahu namanya. Nama yang ditulis di metaplan warna hijau muda dan ditempel di dadanya tidak bisa kubaca. Terlalu kecil.

“Takut dimakan harimau.” Jawab anak yang lain.

”Saya takut di hutan. Takut, banyak binatang. Ada ularnya.” Kata seorang anak lagi.

Hutan, rimba, gunung untuk menyebut bukit, kerap menjadi momok menakutkan bagi anak-anak. Selama masa penjajakan kebutuhan atau istilah kerennya need assessment di beberapa SD di Aceh Selatan, bagian alam kita yang indah ini seringkali disebut sebagai tempat tidak menyenangkan. Umumnya, mereka takut pada harimau.

”Mengapa dengan harimau?” tanyaku lirih pada seorang anak perempuan di SDN Indra Damai, yang duduk dekat denganku.

”Dia binatang buas. Ular juga binatang buas,” ujar anak berwajah manis itu.

Takut harimau, barangkali jika aku bertemu mak jegagik di hutan belantara akan deg-degan juga. Namun, benarkah harimau buas atau jahat pada kita jika kita tidak mengganggunya?

Ranumnya bunga-bunga di rimba nan hijau menjadi tempat menakutkan untuk anak-anak. Sebab, sedari muda otak dan hati mereka nan bersih telah diisi, ”Awas kalau main ke gunung, nanti kamu bisa dimakan harimau!” atau ”Jangan main ke hutan, banyak binatang buas!”

Kala kuhidup bersama anak rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, tak pernah sekalipun mereka mengucapkan harimau itu binatang buas. Merego alias harimau adalah penghuni rimba seperti mereka. Anak-anak ini juga tidak pernah berpikir, harimau akan berbuat jahat pada mereka.

Jadi sah

”Aku bilang, ’Kalau manjat pagar, kuketapel kalian!’,” cerita seorang padaku beberapa bulan lalu. Terbersit bangga kala menceritakannya padaku saat ia menghardik anak-anak yang bermain di seputaran rumahnya.

Sama halnya ketika kita berkata, ”Hiiiii, kalau main ke hutan nanti ketemu harimau. Dia akan mencakarmu, menerkammu. Kamu bisa mati olehnya.”

Ketika otak anak-anak diisi dengan Awas, Jangan, Hiii, apa yang dipikirkannya?

Si Azwar dan Aris dari SDN 2 Menggamat mengatakannya padaku, ”Kalau sudah besar nanti, ketemu ular akan saya bunuh.”

Bagaimana jika semua binatang yang dianggap buas dibunuh? Membunuh, bukan saja pada binatang tetapi pada apapun benda atau makhluk yang ditakuti, menjadi sah ketika ketakutan telah ditanamkan sejak dini.

Jumat, 29 Januari 2010aku takut, aku membunuh

Iklan

2 Komentar

  1. 27 Mei 2010 pada 5:30 am

    Mengapa harus takut

    Salam
    http://iklanbaeis-gratis.org

    • naribungo said,

      27 Mei 2010 pada 5:34 am

      mengapa harus takut? karena sejak kecil anak-anak dikotori dg pikiran “binatang itu buas…”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: